Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Berakhir
Simbol-simbol tersebut tidak benar-benar menghilang. Mereka telah berpindah dan muncul tepat di atas ketujuh menara Kota Tujuh Bintang. Masing-masing simbol berputar perlahan mengelilingi kristal bintang yang telah berubah merah kehitaman, kemudian ratusan rune kecil mulai menyebar seperti akar pohon yang tumbuh dengan kecepatan luar biasa.
Rune emas menutupi permukaan kristal.
KRAAAAK!
Kristal pada menara pertama memperlihatkan retakan, simbol mata hitam di langit bergetar.
Pada saat bersamaan, ribuan penduduk yang sedang menyerang Lin Xue dan yang lainnya mendadak menghentikan gerakan. Tubuh mereka kejang hebat, sementara benang-benang hitam yang menembus lautan kesadaran mereka mulai berkedip tidak stabil.
Yun Xi membelalakkan mata. "Dia berhasil mengganggu aliran energi formasi!"
"Belum."
Nova menggertakkan giginya.
Dantiannya mulai terasa kosong. Rune emas di dalam tubuhnya berputar semakin cepat untuk menyerap energi spiritual dari lingkungan, tetapi jumlah energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan tujuh titik Array secara bersamaan jauh melampaui kemampuan pemulihannya.
Di atas menara ketujuh, pemimpin Lembah Iblis Hitam mengangkat kedua tangannya dengan wajah penuh kemarahan. Energi hitam meledak dari tubuhnya dan memasuki kristal bintang di bawah kakinya, membuat simbol mata raksasa di langit kembali stabil.
"Bunuh dia!"
Perintah itu menggema seperti suara petir, puluhan ribu penduduk menjerit bersamaan.
AAAAARGHHH!
Gelombang manusia kembali bergerak. Kali ini kecepatan mereka meningkat hampir dua kali lipat, sementara energi kegelapan mulai membakar meridian mereka secara paksa.
Beberapa kultivator yang sebelumnya hanya berada di Ranah Mortal Bumi tiba-tiba memancarkan aura mendekati Mortal Langit, tetapi sebagai gantinya, pembuluh darah di seluruh tubuh mereka mulai pecah akibat energi yang melampaui batas fisik.
Wajah Yun Xi langsung memucat. "Mereka membakar kekuatan hidup para penduduk!"
Nova melihat semuanya melalui penglihatan emasnya. Setiap detik yang berlalu, denyut kehidupan puluhan ribu orang semakin melemah. Jika keadaan tersebut terus berlanjut, bahkan tanpa dibunuh oleh mereka, seluruh penduduk Kota Tujuh Bintang akan mati dalam waktu kurang dari satu jam.
"Brengsek!"
Nova mengepalkan tangannya.
Tian Long langsung menyadari perubahan emosinya. "Tenangkan pikiranmu! Seorang pengguna Array yang kehilangan ketenangan akan menghancurkan susunannya sendiri!"
"Aku tahu!"
Nova menarik napas panjang dan memaksa pikirannya kembali tenang. Tatapannya menyapu ketujuh menara sebelum berhenti pada menara ketujuh. Enam menara lainnya hanya berfungsi sebagai titik penyalur energi, sedangkan menara tempat pemimpin Lembah Iblis Hitam berdiri merupakan pusat yang mengendalikan seluruh formasi.
Jika ia menghancurkan menara itu...
Tidak.
Nova langsung membuang pikiran tersebut. Menghancurkan pusat formasi secara paksa dapat menyebabkan energi kegelapan kehilangan kendali dan meledakkan seluruh benang kesadaran yang tertanam di dalam kepala para penduduk.
Ia membutuhkan cara lain, sesuatu yang tidak menghancurkan, sesuatu yang dapat mengambil alih kendali.
Tatapan Nova perlahan berubah.
"Kakek tua."
Tian Long mengangkat alis. "Apa lagi?"
"Katamu Array adalah susunan hukum berdasarkan tujuan penciptanya."
"Benar."
"Kalau begitu..."
Senyuman tipis tiba-tiba muncul di wajah Nova.
"...bagaimana jika aku mencuri formasi mereka?"
Tian Long terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Nova, naga kuno itu benar-benar kehilangan kata-kata selama beberapa detik.
Kemudian kedua matanya perlahan membesar.
"Anak muda..."
"Kau tidak sedang berpikir untuk..."
Nova tidak menunggu Tian Long menyelesaikan perkataannya. Kedua tangannya langsung bergerak membentuk segel baru. Namun kali ini, segel yang ia gunakan sama sekali tidak berasal dari ingatan Batara Agung.
Gerakannya jauh lebih sederhana, bahkan terlihat sedikit kasar dan tidak sempurna, tetapi setiap perubahan posisi jarinya menyebabkan tujuh simbol emas yang menempel pada kristal menara ikut berubah.
Rune emas tidak lagi mencoba menghancurkan energi kegelapan, mereka mulai menirunya.
Satu rune hitam, satu rune emas.
Dua susunan energi yang saling bertolak belakang mulai bergerak mengikuti pola yang sama.
Tian Long menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. "Kau gila..."
Nova menyeringai tipis. "Terima kasih atas pujiannya."
"Aku tidak sedang memujimu, bocah bodoh! Jika susunan energinya bertabrakan, lautan jiwamu bisa ikut terkena dampaknya!"
"Terlambat."
WUUUUUNG!
Cahaya emas meledak dari ketujuh menara.
Pemimpin Lembah Iblis Hitam yang berdiri di pusat formasi langsung memuntahkan seteguk darah. Tubuhnya terhuyung beberapa langkah ke belakang, sementara ekspresi tidak percaya memenuhi wajah yang tersembunyi di balik topeng.
"Apa yang kau lakukan?!"
Nova mengangkat kepalanya.
Jarak mereka sangat jauh, tetapi melalui hubungan Array, keduanya seolah dapat melihat satu sama lain dengan jelas.
"Kau menggunakan puluhan ribu orang sebagai bagian dari formasi."
Nova membentuk segel terakhir. "Kesalahanmu..."
"...adalah menghubungkan seluruh formasi itu pada satu pusat kendali."
Cahaya keemasan di ketujuh menara mendadak berubah semakin terang. Rune-rune hitam yang sebelumnya mengalir menuju simbol mata raksasa mulai berhenti, kemudian secara perlahan membalikkan arah.
Mata pemimpin Lembah Iblis Hitam membesar.
"Tidak!"
"BERHENTI!"
Terlambat.
Nova menurunkan tangannya. "Array Sembilan Langit!"
BUUUUUUUUM!
Ledakan cahaya keemasan membubung dari ketujuh menara secara bersamaan. Simbol mata hitam raksasa di atas Kota Tujuh Bintang retak tepat di bagian tengahnya sebelum pecah menjadi jutaan serpihan energi yang memenuhi langit seperti hujan meteor hitam.
Benang-benang kegelapan yang terhubung dengan puluhan ribu penduduk bergetar hebat. Namun mereka tidak putus.
Energi emas mengalir melalui setiap benang tersebut, bergerak menuju lautan kesadaran para penduduk dan menyelimuti energi iblis yang tertanam di dalamnya. Sedikit demi sedikit, energi kegelapan dimurnikan tanpa merusak jiwa mereka.
Satu orang jatuh, kemudian sepuluh, dan perlahan semua orang ikut terjatuh.
Dalam beberapa tarikan napas, puluhan ribu penduduk Kota Tujuh Bintang roboh secara bersamaan seperti gelombang gandum yang diterpa angin besar.
Kesunyian menyelimuti seluruh kota.
Lin Xue berdiri dengan pedang masih terangkat. Gu Shen membeku dengan tombak di tangannya, Yan Mei bahkan masih mempertahankan posisi menarik tali busur, sementara Qin Yu menatap pemandangan di hadapannya tanpa mampu mengucapkan satu kata pun.
Yun Xi perlahan menurunkan pedangnya, tatapannya beralih kepada Nova.
Pemuda itu masih berdiri. Namun wajahnya telah berubah sangat pucat.
"Nova..."
Nova tersenyum kecil.
"Sepertinya..."
Tubuhnya bergoyang. "...aku menggunakan terlalu banyak energi lagi."
Mata Yun Xi langsung membesar.
"Jangan bilang..."
Bruk!
Nova jatuh ke arah depan. Namun kali ini, sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Yun Xi telah bergerak cepat dan menangkapnya. Kepala Nova jatuh tepat di bahu gadis itu, sementara kedua tangan Yun Xi secara refleks melingkari tubuhnya agar tidak terjatuh.
Yan Mei yang melihat kejadian tersebut terdiam selama beberapa detik.
Kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Ah..."
Yun Xi langsung menoleh tajam.
"Jangan."
Yan Mei menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
"Aku belum mengatakan apa pun."
"Tatapanmu sudah mengatakannya!"
Di dalam lautan jiwa, Tian Long memandang Nova yang kembali tergeletak di atas hamparan cahaya dengan ekspresi datar.
Naga kuno itu menghela napas panjang.
"Anak muda..."
Nova membuka satu mata.
"Apa?"
"Sepertinya aku mulai memahami pola perjalananmu."
Nova mengerutkan kening.
Tian Long mengangkat satu jari.
"Kau bertarung."
Jari kedua terangkat.
"Kau menggunakan teknik yang tidak mampu ditanggung tubuhmu."
Jari ketiga terangkat.
"Kau pingsan."
Kemudian senyum mengejek muncul di wajah tua Tian Long.
"Dan setiap kali kau pingsan..."
"...selalu ada gadis cantik yang menangkap tubuhmu."
Wajah Nova langsung menggelap.
"Kakek tua, sebaiknya kau diam."
"Hahahahahahaha!"
Tawa Tian Long menggema memenuhi seluruh lautan jiwa, sementara jauh di atas menara ketujuh Kota Tujuh Bintang, di antara serpihan formasi yang terus runtuh, pemimpin Lembah Iblis Hitam perlahan bangkit dari lantai batu dengan tubuh berlumuran darah.
Topeng di wajahnya telah retak. Namun ia masih hidup.
Tangannya gemetar ketika mengambil sebuah batu komunikasi berwarna hitam dari dalam jubah. Dengan sisa energi terakhirnya, ia menghancurkan batu tersebut hingga berubah menjadi kabut gelap.
Sebuah bayangan perlahan muncul di hadapannya, pemimpin Lembah Iblis Hitam langsung berlutut.
"Tuan..."
"Rencana di Kota Tujuh Bintang gagal."
Bayangan itu terdiam cukup lama, kemudian sebuah suara dingin terdengar dari dalam kegelapan.
"Apakah dia menggunakan cahaya emas itu lagi?"
Tubuh pria bertopeng bergetar.
"Benar."
"Dan dia..."
Pemimpin Lembah Iblis Hitam menelan ludah.
"...mampu mengambil alih Formasi Mata Iblis Tujuh Jiwa."
Hening beberapa saat. Namun beberapa saat kemudian, suara tawa rendah terdengar dari dalam bayangan.
Sepasang mata ungu perlahan terbuka di tengah kegelapan.
"Berhenti memburunya."
Pemimpin Lembah Iblis Hitam langsung mengangkat kepala dengan terkejut.
"T-Tuan?"
"Biarkan dia melanjutkan perjalanannya."
"Tapi..."
"Ini perintah."
Tekanan mengerikan langsung turun dari bayangan tersebut hingga membuat pria bertopeng memuntahkan darah.
"Karena sekarang aku akhirnya yakin..."
Suara itu berhenti sejenak. "...dia adalah orang yang selama ini dicari oleh Gerbang Abadi."
Di dalam pelukan Yun Xi, tubuh Nova yang tidak sadarkan diri tiba-tiba bergetar.
Jauh di kedalaman lautan jiwanya... sebuah gerbang raksasa yang selama ini tertutup rapat perlahan memperlihatkan retakan.
Kraaaak...
Dan dari balik retakan tersebut... seseorang memanggil namanya.
"Nova..."
Suara seorang wanita, suara yang begitu familiar.
Membuat Nova yang terbaring di lautan jiwanya langsung membuka kedua mata.
"Zira...?"