Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, hiduplah Arka, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Di mata rekan kerjanya, termasuk Dinda—wanita tulus yang diam-diam dicintainya—Arka hanyalah pegawai biasa yang hidup pas-pasan, tenang, dan tidak memiliki apa-apa. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik penampilan sederhana itu, Arka adalah pewaris tunggal dan pemilik sah Grup Wijaya, konglomerasi bisnis terbesar di negeri ini.
Atas pesan terakhir mendiang ayahnya, Arka sengaja menyembunyikan identitasnya selama dua tahun untuk merasakan getirnya kehidupan rakyat kecil dan memahami dunia dari bawah, sebelum memegang kendali penuh. Di siang hari ia mengurus berkas-berkas kantor, namun di malam hari, dari kamar apartemen sempitnya, ia mengendalikan kerajaan bisnisnya dan mengawasi gerak-gerik orang-orang yang berniat jahat merugikan perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menjadi penopang di tengah badai
Tahun ke-5 setelah kejatuhan Pak Surya, Indonesia dilanda krisis ekonomi terbesar dalam sejarahnya. Nilai mata uang anjlok, harga kebutuhan pokok melonjak tak terkendali, ribuan perusahaan gulung tikar, dan jutaan pekerja kehilangan mata pencaharian. Kepanikan melanda di mana-mana. Orang-orang berdesak-desakan di pasar, berusaha mendapatkan beras dan minyak goreng dengan harga yang semakin tidak masuk akal. Di tengah kekacauan itu, banyak pengusaha besar justru mengambil keuntungan, menimbun barang langka untuk dijual dengan harga selangit, atau memecat karyawan secara massal demi menyelamatkan keuntungan pribadi.
Namun di Grup Wijaya, hal yang sangat berbeda terjadi.
Pagi itu, Arka duduk di ruang rapat utama bersama seluruh direksi dan manajer senior. Wajah-wajah di ruangan itu tampak cemas dan tegang. Laporan ekonomi yang ada di meja mereka menunjukkan angka-angka yang mengerikan. Para penasihat keuangan menyarankan langkah-langkah penghematan ekstrem: mengurangi produksi, menaikkan harga jual produk, memberhentikan ribuan karyawan, dan menunda semua proyek sosial yang tidak menguntungkan.
"Pak Arka, jika kita tidak melakukan ini, perusahaan kita bisa hancur juga," ucap kepala divisi keuangan dengan suara bergetar. "Semua orang melakukannya. Ini cara bertahan hidup. Kita tidak bisa menjadi pahlawan jika kita sendiri bangkrut."
Arka mendengarkan dengan tenang, tangannya saling bertaut di bawah dagu, menatap peta Indonesia yang tergantung di dinding. Ia menghela napas panjang, lalu berdiri perlahan.
"Bertahan hidup?" ulangnya pelan namun tegas. "Apakah tujuan kita berdiri hanya untuk bertahan hidup? Dulu, saat keluarga Wijaya memiliki segalanya namun hidup dalam dosa dan ketakutan, apakah itu disebut hidup? Tidak. Kita hidup karena kita bermanfaat. Kita ada karena kita melayani rakyat. Jika di saat rakyat menderita kita justru memeras mereka, jika di saat orang-orang kehilangan pekerjaan kita justru membuang mereka... apa bedanya kita dengan para penguasa jahat masa lalu yang dulu kita lawan?"
Arka berjalan ke tengah ruangan, menatap satu per satu wajah bawahannya.
"Saya sudah mengambil keputusan. Mulai hari ini, Grup Wijaya tidak akan menaikkan harga satu pun produk kebutuhan pokok yang kita hasilkan atau kita jual. Justru sebaliknya, kita akan menstabilkan harga di bawah harga pasar saat ini agar rakyat tetap bisa membeli. Kita tidak akan memecat satu pun karyawan. Bahkan, kita akan membuka lowongan baru sebanyak-banyaknya untuk menyerap tenaga kerja yang dipecat perusahaan lain. Kita akan menggunakan seluruh cadangan dana sosial yang kita miliki, menjual sebagian aset investasi kita yang tidak mendesak, demi menjaga produksi tetap berjalan dan gaji tetap dibayarkan."
Kehebohan melanda ruangan. Beberapa direktur menggeleng tidak percaya.
"Tapi Pak Arka, itu akan menguras kas perusahaan sampai habis! Kita akan rugi miliaran, bahkan triliunan!" seru salah satu direktur.
"Biarkan," jawab Arka tenang. "Uang itu bisa dicari lagi, bisa dikumpulkan lagi di masa depan. Tapi kepercayaan rakyat, nyawa rakyat, dan kehormatan nama Wijaya... itu tidak bisa dibeli kembali jika hancur hari ini. Ingat pesan Kakek Buyut Baskara: Kekayaan sejati adalah kesejahteraan orang banyak."
Arka melanjutkan perintahnya dengan rinci dan tegas. Ia memerintahkan pembukaan dapur umum di setiap cabang perusahaan di seluruh provinsi. Dapur itu akan memasak ribuan bungkus nasi setiap harinya, dibagikan gratis kepada siapa saja yang membutuhkan, tanpa memandang latar belakang. Ia memerintahkan armada truk distribusi Wijaya untuk mengangkut beras, gula, minyak, dan obat-obatan langsung dari petani dan produsen, memotong rantai penimbun yang serakah, lalu menyalurkannya ke pasar-pasar tradisional dengan harga wajar.
"Kita akan menjadi penyangga," ucap Arka. "Biarlah pundak kita yang menanggung beban paling berat. Biarlah kita yang menjadi penahan agar bangsa ini tidak runtuh. Badai ini akan berlalu. Dan saat matahari bersinar kembali, rakyat akan ingat siapa yang ada di sisi mereka saat mereka jatuh."
Keputusan ini awalnya dianggap sebagai tindakan bunuh diri ekonomi. Media massa memprediksi kejatuhan Grup Wijaya dalam waktu enam bulan. Pesaing-pesaing mereka tertawa puas, menunggu momen mengambil alih aset Wijaya yang diperkirakan akan bangkrut.
Namun kenyataan berbicara lain. Saat perusahaan lain tutup dan menghilang, Grup Wijaya tetap berdiri tegak. Pabrik-pabriknya masih berasap, toko-tokonya masih buka, dan karyawannya masih bekerja dengan semangat luar biasa. Rakyat yang merasakan perlindungan itu membalas dengan kesetiaan yang tak ternilai. Mereka berbondong-bondong membeli produk Wijaya, mendukung setiap gerakan Wijaya, dan menjaga aset-aset Wijaya seolah itu milik mereka sendiri.
Di saat krisis paling parah, kepercayaan publik terhadap Grup Wijaya justru naik ke tingkat tertinggi dalam sejarah. Arka membuktikan teori yang selalu ia pegang: Bisnis yang berhati nurani tidak akan pernah mati, karena ia hidup di hati jutaan orang.
Setahun kemudian, badai ekonomi mereda. Banyak konglomerat lama yang runtuh dan hilang dari peta bisnis. Namun Grup Wijaya justru muncul lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengaruh dari sebelumnya. Mereka tidak hanya pulih, tapi berkembang pesat karena mereka kini memiliki akses ke seluruh lapisan masyarakat yang mencintai mereka.
Suatu sore, Arka berjalan di pasar tradisional yang ramai. Seorang ibu penjual sayur memanggilnya, lalu memberikan seikat bayam segar dengan mata berbinar bahagia.
"Terima kasih, Tuan Arka. Dulu saat kami hampir mati kelaparan, truk Wijaya yang membawa beras. Dulu saat kami tidak punya uang, toko Wijaya yang memberi utang atau menjual murah. Anda bukan sekadar pengusaha. Anda adalah penyelamat kami."
Arka menerima pemberian itu dengan mata berkaca-kaca, mencium tangan ibu itu dengan rendah hati. Di saat itulah ia sadar, ia tidak hanya menyelamatkan perusahaannya, tapi ia telah menyelamatkan harga diri dan harapan ribuan manusia. Dan itu jauh lebih berharga daripada segala keuntungan finansial apa pun.