"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguasa Baru Dinasti Arkananta
Suara deru mesin jet pribadi keluarga Arkananta perlahan mereda saat burung besi mewah itu berhenti sempurna di landasan pacu privat Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kepulangan mereka dari Paris disambut oleh cuaca hangat ibu kota dan barisan pengawal bersetelan hitam yang sudah bersiaga di sepanjang aspal bandara.
Arthur melangkah turun terlebih dahulu, dengan sigap mengulurkan tangannya untuk menuntun Elena. Di belakang mereka, Leon berjalan dengan wajah mengantuk namun tetap memeluk laptopnya erat, sementara Lia digendong oleh Evan sambil memeluk boneka kelinci barunya yang dibeli di Paris.
"Kita langsung kembali ke mansion utama, Arthur?" tanya Elena saat mereka sudah berada di dalam kabin mobil SUV anti-peluru yang nyaman.
"Ya. Kakek sudah menyiapkan jamuan makan malam privat untuk menyambut kepulangan kita atau lebih tepatnya, merayakan kemenangan besarmu di Paris," jawab Arthur, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman bangga. Tangan kekarnya bergerak menggenggam jemari Elena, mengusap cincin berlian baru yang melingkar manis di jari manis wanita itu.
Elena tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Arthur. Rasa lelah setelah penerbangan belasan jam seolah menguap begitu saja digantikan oleh rasa aman yang kini selalu dia rasakan setiap kali berada di dekat pria ini.
Mansion Utama Arkananta malam itu tampak berbeda. Seluruh lampu taman yang megah dinyalakan, dan aula perjamuan privat di lantai bawah telah ditata dengan sangat mewah. Di ujung meja makan panjang, Tuan Besar William Arkananta sudah duduk dengan anggun, menumpukan kedua tangannya di atas kepala tongkat peraknya.
"Selamat datang kembali, para pemenang," suara berat William menggema hangat saat melihat Arthur, Elena, dan si kembar melangkah masuk.
"Kakek!" Lia langsung melepaskan gandengan tangan Elena dan berlari kecil menghampiri pria tua itu. William, yang terkenal kejam dan ditakuti di dunia bisnis, seketika melunakkan wajahnya, mengangkat Lia ke atas pangkuannya dengan tawa renyah.
Makan malam penyambutan itu berlangsung dengan suasana yang sangat akrab. Elena menceritakan bagaimana kontrak global dengan tiga rumah mode terbesar di Paris berhasil ditandatangani. William mendengarkan dengan anggukan puas, sesekali melirik Arthur yang tidak pernah melepaskan pandangan memujanya dari Elena.
Setelah pelayan membersihkan meja dan menyajikan teh hangat, atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi lebih formal. William menurunkan Lia dari pangkuannya, memberi isyarat kepada pelayan untuk membawa Leon dan Lia ke kamar bermain mereka terlebih dahulu.
"Arthur, Eleanor," panggil William, raut wajah tuanya kembali memancarkan ketegasan seorang penguasa tertinggi. "Aku mengumpulkan kalian di sini bukan hanya untuk makan malam. Perjalanan ke Paris telah membuktikan satu hal mutlak: Eleanor bukan lagi sekadar menantu yang kembali, dia adalah aset terbesar yang dimiliki dinasti ini."
William mengetuk tongkatnya ke lantai marmer sekali. Evan yang berdiri di sudut ruangan langsung maju, menyerahkan dua map dokumen hukum berlogo emas kepada Arthur dan Elena.
Arthur mengernyitkan dahi saat membaca judul dokumen tersebut. "Akte Penyerahan Kekuasaan Mutlak dan Restrukturisasi Saham Dinasti Arkananta?" gumam Arthur, menatap kakeknya dengan pandangan bertanya.
"Benar," ucap William tenang. "Usiaku sudah terlalu tua untuk terus memegang kendali sebagai Chairman tertinggi di balik layar. Mulai besok pagi, aku resmi menyatakan pensiun total dari seluruh operasional Grup Arkananta."
Elena tertegun, namun kalimat William berikutnya membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Namun, aku tidak akan menyerahkan posisi Chairman itu sepenuhnya kepadamu sendirian, Arthur," lanjut William, matanya menatap tajam ke arah Elena. "Aku membagi kekuasaan tertinggi itu menjadi dua secara setara. Arthur akan tetap memimpin sebagai CEO dan Co-Chairman bidang operasional global, sementara kamu, Eleanor... aku mengangkatmu secara resmi sebagai Co-Chairman bidang Strategi Kreatif dan Pengembangan Aset Global Grup Arkananta, dengan kepemilikan lima belas persen saham mutlak atas namamu sendiri."
"Tuan Besar William..." Elena terpaku, napasnya tertahan. "Ini... ini terlalu besar. Saya seorang desainer, saya tidak memiliki latar belakang untuk memimpin sebuah imperium bisnis sebesar Arkananta di tingkat teratas."
"Bakatmu, ketenanganmu dalam menghadapi musuh, dan caramu mengunci pasar Eropa kemarin adalah bukti bahwa kamu memiliki insting singa di dalam darahmu, Eleanor," potong William tidak menerima bantahan. "Kamu adalah satu-satunya wanita yang layak berdiri sejajar di samping Arthur untuk memimpin dinasti ini."
Arthur tidak menunjukkan rasa terkejut atau keberatan sedikit pun. Sebaliknya, dia justru meraih tangan Elena, mengecup punggung tangannya dengan penuh rasa hormat dan cinta yang mendalam. "Aku sangat setuju dengan keputusan Kakek, Elena. Sejak awal, mansi ini, perusahaan ini, dan seluruh hidupku adalah milikmu. Mari kita pimpin imperium ini bersama-sama."
Keesokan paginya, berita tentang perombakan struktur tertinggi Grup Arkananta mengguncang seluruh papan atas dan dunia bisnis Asia Tenggara. Foto Elena dan Arthur yang bersanding bersama sebagai duo penguasa baru terpampang di halaman depan setiap media finansial utama.
Di lantai teratas Gedung Pusat Arkananta, Elena melangkah keluar dari lift privat, mengenakan setelan blazer kerja berwarna putih gading yang sangat tajam dan elegan. Hari ini adalah rapat perdana dewan direksi untuk memperkenalkan posisinya secara resmi.
Arthur berjalan di sampingnya, memancarkan aura dominasi yang luar biasa tegap. Namun, saat mereka berdua hendak memasuki ruang rapat besar yang dipenuhi oleh belasan direktur senior berwajah kaku, Arthur tiba-tiba menahan lengan Elena, menariknya sedikit menjauh ke sudut koridor yang sepi.
"Arthur, ada apa? Rapatnya akan segera dimulai," ucap Elena bingung.
Arthur tidak menjawab, dia justru merapatkan tubuhnya, mengunci Elena di antara tubuh tegapnya dan dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Pria itu merapikan kerah blazer Elena dengan gerakan sangat pelan, sebelum jemari kasarnya beralih mengusap bibir merah Elena dengan lembut.
"Di dalam ruang rapat itu, akan ada banyak pasang mata pria tua bangka yang menatapmu," bisik Arthur, suaranya terdengar rendah dan sarat akan nada posesif yang sangat pekat. "Aku hanya ingin mengingatkan mereka dan mengingatkanmu bahwa meskipun kamu adalah Co-Chairman yang berkuasa, kamu tetaplah milikku seutuhnya, Elena."
Elena tersenyum geli, menatap mata elang Arthur yang dipenuhi rasa cemburu yang menggemaskan. Wanita itu menjinjitkan kakinya sedikit, memberikan satu kecupan cepat namun intim di bibir Arthur. "Tuan CEO, fokuslah pada agenda rapat kita, bukan pada rasa cemburumu. Ayo masuk."
Rapat dewan direksi berlangsung dengan ketegangan yang cukup tinggi. Beberapa direktur senior yang beraliansi dengan kubu lama tampak menunjukkan raut wajah skeptis saat Elena memaparkan cetak biru penggabungan industri mode miliknya dengan lini properti mewah Arkananta.
"Nyonya Besar Eleanor," salah satu direktur senior berdehem dengan nada meremehkan yang halus. "Konsep Anda memang menarik di Paris, tapi pasar domestik jauh lebih kompleks. Kami khawatir investasi triliunan rupiah ini akan sia-sia jika Anda hanya mengandalkan popularitas sesaat."
Sebelum Arthur sempat meledak marah dan memecat direktur tersebut di tempat, pintu ruang rapat mendadak terbuka tanpa ketukan.
Leon melangkah masuk dengan santai, masih dengan topi hitamnya dan sebuah tablet mewah di tangannya. Di belakangnya, Evan tampak kewalahan mengikutinya. "Maaf, Tuan Besar, Tuan Muda Leon bersikeras ingin masuk," bisik Evan panik.
Leon berjalan langsung menuju kursi kosong di sebelah Elena, menaruh tabletnya di atas meja rapat besar dengan bunyi brak yang cukup keras untuk ukuran anak kecil.
"Tuan Direktur yang baru saja bicara," suara anak-anak Leon terdengar sangat dingin dan penuh penekanan yang meniru Arthur secara sempurna. "Anda bilang pasar domestik kompleks? Berdasarkan analisis data algoritma konsumsi yang aku retas dari server data kementerian perdagangan lima menit yang lalu, daya beli kelas atas untuk properti kreatif justru naik sebesar empat puluh persen dalam dua kuartal terakhir."
Leon mengetuk layar tabletnya, menampilkan grafik proyeksi keuntungan digital interaktif di layar proyektor ruang rapat. "Rencana Mama bukan mengandalkan popularitas, tapi mengunci monopoli pasar VVIP. Jika Anda tidak bisa membaca data sesederhana ini, aku sarankan Anda mengundurkan diri sekarang sebelum aku menghapus seluruh portofolio investasi pribadi Anda dari sistem perbankan utama."
Seluruh ruangan seketika hening senyap. Para direktur senior itu membelalakkan mata mereka dengan wajah pucat, tidak menyangka bahwa putra kecil Arthur yang baru berusia empat tahun memiliki kegeniusan digital yang sanggup mengancam eksistensi finansial mereka dalam satu kedipan mata.
Arthur bersandar di kursinya, melipat tangan di depan dada dengan senyuman miring yang penuh kepuasan. "Kalian sudah mendengar penjelasan dari perwakilan tim IT strategisku. Ada yang masih ingin mempertanyakan kapasitas istriku?"
Tidak ada satu pun direktur yang berani mengangkat kepala. Mereka semua serentak mengangguk setuju dengan wajah penuh ketakutan.
Rapat ditutup dengan kemenangan mutlak bagi Elena. Di bawah kepemimpinan duo singa besar dan kecil Arkananta yang menjaganya dari belakang, Elena kini telah resmi mengukuhkan posisinya sebagai penguasa baru yang tak tertandingi di puncak tertinggi dinasti kerajaan bisnis tersebut.