Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerbuan di Pelabuhan Barat
Deru baling-baling dari tiga helikopter serbu privat milik Alister Group membelah suara gemuruh guntur di langit malam yang gelap gulita. Hujan lebat yang mengguyur kawasan industri tua pelabuhan barat sama sekali tidak menyurutkan pergerakan pasukan elit berseragam hitam yang dipimpin langsung oleh Devan Alister.
Dari atas ketinggian, Devan menatap tajam ke arah sebuah gudang tua berkarat yang menjadi satu-satunya bangunan dengan aktivitas mencurigakan di area dermaga sepi tersebut. Detektor GPS khusus yang dipasang pada sistem siber Leon telah mengunci koordinat ponsel para penjaga Aliansi Naga Hitam yang berada di dalam sana.
"Tuan Muda, helikopter pertama sudah mengambil posisi blokade di jalur laut, sementara pasukan darat telah mengepung seluruh pintu keluar gudang," lapor Leon melalui alat komunikasi nirkabel yang terpasang di telinga Devan. "Tuan Besar Kenneth membawa sekitar tiga puluh orang bersenjata di dalam sana."
"Jangan sisakan satu pun dari mereka jika ada yang berani mengacungkan senjata," jawab Devan, suaranya terdengar begitu dingin, datar, namun sarat akan perintah pembantaian yang mutlak. Pria itu mengokang senjata api laras pendek berlogo elang emas di tangan kanannya. "Kita turun sekarang."
Dengan gerakan yang sangat terlatih, Devan melompat turun dari helikopter menggunakan tali seling, mendarat dengan sempurna di atas atap seng gudang yang basah. Hanya dalam hitungan detik, pasukan elit Alister Group berhasil menjebol pintu besi belakang gudang secara serentak menggunakan bom kejut.
Boom!
Suara ledakan keras menggema ke seluruh penjuru gudang tua tersebut, menghancurkan pintu besi hingga terlempar ke dalam dan menciptakan kepulan asap tebal. Ratusan pecahan kaca dan debu berterbangan di udara, mengejutkan tiga puluh orang anak buah Aliansi Naga Hitam yang sedang berjaga di dalam ruangan remang-remang itu.
"Serangan musuh! Lindungi Tuan Besar!" teriak salah seorang komandan pasukan Naga Hitam sembari mencoba mengangkat senjata apinya.
Namun, sebelum pria itu sempat menarik pelatuknya, sebuah timah panas yang dilesakkan secara akurat oleh Devan Alister telah lebih dulu menembus pundaknya, membuatnya ambruk bersimbah darah di atas lantai semen yang dingin. Baku tembak sengit pun pecah dalam sekejap di dalam gudang tua tersebut. Pasukan elit Alister Group yang memiliki taktik tempur jauh lebih unggul berhasil melumpuhkan belasan anak buah Kenneth hanya dalam waktu kurang dari lima menit.
Di sudut terdalam gudang, Keyra yang masih terikat kuat di atas kursi kayu tua tersentak kaget mendengarkan suara rentetan tembakan dan ledakan yang begitu memekakkan telinga. Detak jantungnya berdegup dengan sangat kencang di balik dadanya. Di tengah kepulan asap yang mulai memasuki ruangan, ia melihat sesosok pria bertubuh tegap melangkah masuk dengan sangat perkasa di bawah kawalan ketat pasukan bersenjata.
Pria itu adalah Devan. Setelan tuksedo pernikahan hitamnya kini tampak sedikit basah dan kotor karena air hujan, namun aura mengintimidasi dan kekejaman yang terpancar dari tubuhnya membuat seluruh ruangan terasa mencekam. Tatapan mata elang Devan yang tadinya begitu buas seketika melunak dan dipenuhi rasa khawatir yang luar biasa saat melihat sosok Keyra yang terduduk lemas dengan beberapa luka memar di lengannya.
"Keyra!" panggil Devan dengan nada suara yang bergetar menahan gejolak emosi. Ia mengabaikan situasi sekitar dan langsung berlari cepat mendekati Keyra, berniat memotong tali tambang yang mengikat tubuh wanita itu.
"Jangan bergerak, Devan Alister! Atau aku akan memastikan kepala wanitamu ini hancur detik ini juga!" sebuah bentakan serak menghentikan langkah kaki Devan tepat tiga meter di depan Keyra.
Dari balik pilar besi raksasa di samping kursi Keyra, Tuan Besar Kenneth melangkah keluar dengan wajah yang dipenuhi senyuman licik yang mengerikan. Pria tua bangka itu kini tengah menodongkan sebuah pistol hitam tepat di pelipis kanan Keyra. Jemarinya yang keriput sudah berada di atas pelatuk, siap melepaskan tembakan jika ada pergerakan mencurigakan dari pihak lawan.
Devan seketika menghentikan langkah kakinya. Senjata api di tangan kanannya perlahan diturunkan, namun sepasang matanya menatap Kenneth dengan pandangan yang teramat pekat, seolah siap mencabik-cabik tubuh pria tua itu menjadi serpihan tak berharga. "Lepaskan tangan kotormu dari wanitaku, Kenneth. Jika kamu menginginkan aset Alister Group, aku bisa memberikannya sekarang. Tapi jika kamu berani menarik pelatuk itu, aku bersumpah tidak akan ada satu pun keturunan Keluarga Kenneth yang akan tersisa hidup di dunia ini besok pagi."
Kenneth tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar sangat sinis di tengah deru suara hujan di luar. "Hahaha! Bocah sombong! Kamu pikir kamu bisa mengancamku di saat aku memegang kendali atas kehidupan wanita ini? Lihatlah dia, Devan! Dia bahkan tidak sudi menatap wajahmu karena dia tahu ayahmu adalah seorang pembunuh yang merenggut nyawa ibunya! Pernikahan agung kalian sudah hancur!"
Keyra perlahan membuka matanya yang berkaca-kaca. Ia menatap ke arah Devan yang berdiri tegap di hadapannya. Di bawah cahaya lampu gudang yang temaram, Keyra bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana sepasang mata elang Devan memancarkan rasa bersalah yang amat mendalam, sebuah ekspresi yang belum pernah diperlihatkan oleh sang penguasa kota kepada siapa pun di dunia ini.
"Devan..." bisik Keyra dengan suara yang teramat serak dan lemah. "Kenapa... kenapa kamu harus datang ke sini? Aku... aku membencimu karena kebohonganmu tentang ibuku..."
"Aku tahu, Keyra. Aku tahu kamu membenciku, dan aku pantas menerima kebencian itu," jawab Devan, suaranya terdengar begitu tulus dan sarat akan penderitaan emosional yang nyata. Pria itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari mata Keyra. "Kamu boleh menghukumku seumur hidupmu, kamu boleh pergi sejauh mungkin dari sisiku setelah ini. Tapi malam ini, aku mohon... biarkan aku menyelamatkan nyawamu terlebih dahulu. Hidupku sama sekali tidak ada artinya jika aku harus kehilangan dirimu."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan penuh kepasrahan dari seorang Devan Alister—pria yang biasanya menganggap harga dirinya di atas segala-galanya—lubuk hati Keyra kembali bergetar hebat. Rasa benci yang sempat membakar jiwanya perlahan mulai terkikis oleh besarnya pengorbanan cinta yang ditunjukkan oleh pria di hadapannya itu.
"Cukup dengan drama menjijikkan ini!" bentak Kenneth yang mulai kehilangan kesabaran. "Devan, letakkan senjatamu di lantai dan berlututlah di hadapanku sekarang juga, atau wanita ini—"
Dor!
Sebelum Kenneth sempat menyelesaikan kalimat ancamannya, sebuah tembakan jitu dari arah jendela atas gudang yang dilepaskan oleh Leon yang menyelinap sebagai penembak runduk tepat mengenai pergelangan tangan kanan Kenneth. Pistol di tangan pria tua itu seketika terlepas dan jatuh berdentang ke lantai bersamaan dengan lengkingan jeritan kesakitan Kenneth.
Melihat kesempatan emas itu, Devan bergerak secepat kilat. Ia menerjang maju, melepaskan satu tendangan keras ke arah dada Kenneth hingga pria tua itu terlempar menabrak tumpukan besi tua di belakangnya dan pingsan seketika.
Devan tidak memedulikan musuhnya lagi. Ia langsung berlutut di hadapan Keyra, menggunakan pisau lipat kecilnya untuk memotong tali tambang yang melilit kuat tubuh wanita itu dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Begitu ikatan tali terlepas, tubuh Keyra yang sudah terlampau lemas berangsur jatuh ke depan, dan Devan dengan sigap langsung menangkap tubuh rapuh itu ke dalam dekapan dadanya yang sangat hangat, erat, dan penuh dengan rasa protektif yang teramat dalam. Badai di pelabuhan barat akhirnya berhasil ditaklukkan, namun badai di dalam hubungan pernikahan mereka baru saja dimulai.