NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik yang Membatu

Waktu tidak lagi berjalan dengan semestinya bagi Adrian. Detik pertama setelah dokter mengucapkan kata "koma", dunia di sekitar penguasa Bukit Permai itu seakan membeku. Suara deru mobil di luar rumah sakit, hilir mudik para perawat, bahkan bisikan taktis dari Hendra di ambang pintu, semuanya teredam menjadi sunyi yang hampa.

Fokus dunianya menyusut drastis, menyisakan hanya garis hijau yang naik turun dengan lambat di layar monitor electrocardiogram (ECG) di samping ranjang Kirana.

Malam pertama berlalu seperti siksaan yang berjalan statis. Adrian menolak untuk beranjak dari kursi kayu di sisi ranjang. Jam dinding berdentang dua belas kali, menandakan pergantian hari, namun bagi Adrian, malam itu adalah kegelapan tanpa ujung.

Ia memandangi tangan Kirana yang tertancap jarum infus. Jemari yang biasanya dengan cekatan menata cangkir kopi jahe atau dengan lancang mengusap rahangnya, kini terasa begitu dingin dan ringkih. Adrian perlahan membawa jemari pucat itu ke dalam tangannya, membungkusnya dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat.

"Kau selalu tahu cara membuatku kehilangan kendali, Kirana," bisik Adrian rendah, suaranya parau memecah keheningan ruang ICU. Ia menundukkan kepala, menempelkan keningnya pada punggung tangan Kirana yang kaku. "Bangunlah. Kelancanganmu jauh lebih baik daripada keheningan ini."

 

Pada hari ketiga, fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram di balik jendela kaca lantai lima. Adrian masih mengenakan kemeja taktis hitam yang sama, meski noda darah Kirana di kain itu kini telah mengering dan menghitam—sebuah pengingat visual yang kejam tentang pengorbanan sang pelayan.

Ibu Maya datang pagi-pagi sekali membawa rantang makanan dan pakaian ganti untuk Adrian. Wanita tua itu menahan tangisnya melihat sang majikan yang angkuh kini tampak begitu rapuh di samping pelayan dapurnya.

"Tuan Muda, makanlah sedikit. Kirana pasti sedih jika melihat Anda seperti ini saat dia bangun nanti," bujuk Ibu Maya dengan suara bergetar.

Adrian tidak menjawab. Matanya tidak beralih dari wajah Kirana. Namun, setelah Ibu Maya meletakkan sisir dan minyak rambut milik Kirana yang sengaja dibawanya dari paviliun barat, Adrian mengulurkan tangan. Ia mengambil sisir kayu tersebut.

Dengan gerakan yang sangat kaku dan canggung—sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh seorang pembunuh berdarah dingin sepanjang hidupnya—Adrian mulai menyisir rambut hitam Kirana yang terurai di atas bantal. Ia melakukannya dengan sangat perlahan, helai demi helai, takut jika gerakan kasarnya akan menyakiti gadis yang sedang terlelap itu.

"Rambutmu selalu wangi Kirana," gumam Adrian pelan, menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga Kirana yang pucat. Jarinya sempat singgah di pipi dingin gadis itu, mengusapnya dengan kelembutan yang baru pertama kali lahir dari dalam hatinya. "Ibu Maya bilang kau suka menyanyi kecil saat menyisir rambut di dapur bawah. Mengapa sekarang kau begitu malas?"

Hari kelima dan keenam berlalu tanpa ada perubahan. Sifat taktis Adrian mulai terkikis oleh kecemasan yang murni. Setiap kali dokter masuk untuk memeriksa refleks pupil mata Kirana dan menggelengkan kepala, rahang Adrian akan mengetat hingga urat lehernya menonjol.

Rumah sakit itu menjadi saksi bagaimana seorang monster dunia bawah perlahan-lahan dijinakkan oleh rasa takut kehilangan seorang wanita.

---

Memasuki minggu kedua, Hendra terpaksa membawa beberapa dokumen penting ke ruang tunggu ICU karena Adrian secara mutlak menolak kembali ke Bukit Permai. Kerajaan bisnis Arseto harus tetap berjalan, meski sang raja sedang berlutut di samping ranjang rumah sakit.

"The Iron Wolves telah mengamankan distrik selatan sepenuhnya, Tuan Muda," lapor Hendra dengan suara rendah di dekat pintu kaca. "Rencana yang disusun oleh Kirana berjalan tanpa celah. Mereka menunggu perintah Anda selanjutnya."

Adrian melirik dokumen itu sekilas, lalu kembali menatap Kirana. "Katakan pada Leo untuk menjaga wilayah itu dengan baik. Jika... jika perancang strategi ini bangun, dia yang akan memeriksa hasilnya sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!