NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.

Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.

Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pertemuan yang Tak Disangka

Sejak hari itu, bayangan wajah lelah namun teguh milik Daffa tak pernah benar-benar hilang dari pikiran Laras. Setiap kali ia membuka buku kenangan leluhurnya, kalimat tentang menolong sesama tanpa pamrih terasa semakin nyata maknanya.

Tiga hari berlalu, namun Laras tak mendengar kabar sedikit pun dari pemuda itu. Hatinya mulai merasa gelisah—entah apakah Daffa sudah berhasil mengatasi masalahnya, atau justru semakin terjebak dalam kesulitan.

Sore harinya, Laras pergi ke pasar tradisional tidak jauh dari kampusnya. Ia ingin membeli beberapa bahan makanan untuk dibagikan kepada warga sekitar yang kurang mampu, sebagaimana yang sering dilakukan keluarganya. Di tengah keramaian orang yang lalu lalang, matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenali.

Di sudut pasar yang agak sepi, Daffa sedang sibuk mengangkat karung-karung beras yang berat ke atas truk. Kemejanya tampak lusuh dan berkeringat deras, keringat menetes membasahi wajahnya yang tampak sangat lelah namun tetap tak pernah berhenti bekerja. Sesekali ia mengusap keringat dengan punggung tangannya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tekun.

Hati Laras terasa teriris melihatnya. Ternyata untuk memenuhi kebutuhan dan biaya pengobatan adiknya, Daffa rela melakukan pekerjaan seberat itu dari pagi hingga sore hari.

Tanpa ragu, Laras berjalan mendekat.

“Daffa?”

Pemuda itu tertegun sejenak saat mendengar suara itu, lalu menoleh perlahan. Wajahnya tampak terkejut bukan main melihat Laras ada di hadapannya. Segera ia menurunkan karung yang sedang dipegangnya lalu membersihkan tangannya dengan gugup.

“Laras… Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya pelan, seolah merasa malu terlihat dalam keadaan seperti ini.

“Aku kebetulan lewat dan melihatmu. Kau bekerja di sini?” tanya Laras lembut, tidak sedikit pun terlihat meremehkan.

Daffa hanya mengangguk singkat sambil menundukkan pandangannya. “Ya. Ini satu-satunya pekerjaan yang bisa kucari untuk sementara waktu. Upahnya cukup untuk menutupi sebagian kebutuhan Sari.”

Laras menatapnya dengan penuh rasa hormat. “Kau hebat, Daffa. Tidak semua orang sanggup berjuang sekeras ini sendirian.”

Mendengar itu, dada Daffa terasa sesak. Sudah lama tidak ada yang memandang dirinya dengan pandangan begitu—bukan sebagai orang miskin yang kasihan, melainkan sebagai seseorang yang patut dihargai.

“Terima kasih,” ucapnya parau. “Tapi maafkan aku karena belum sempat mengucapkan terima kasih dengan benar atas apa yang kau lakukan hari itu. Aku juga tidak berani datang ke rumahmu, takut hanya akan menambah masalah bagimu.”

“Jangan berpikir begitu. Pintu rumahku selalu terbuka jika kau membutuhkan teman bicara,” jawab Laras tulus. “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Sari sekarang?”

“Sedikit lebih baik, meski biayanya masih sangat berat. Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga agar dia tetap bisa berobat,” jawab Daffa dengan tekad yang kuat.

Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba datang beberapa orang berpenampilan kasar menghampiri mereka. Mereka menatap Daffa dengan pandangan yang tidak ramah.

“Jadi kau ternyata ada di sini, Daffa. Kami sudah menunggumu dari tadi. Kapan utangmu akan dilunasi? Jangan berharap kau bisa menghindar terus-menerus,” ucap salah satu dari mereka dengan nada mengancam.

Wajah Daffa seketika berubah tegang. Ia segera berdiri di depan Laras seolah ingin melindunginya dari pandangan orang-orang itu.

“Beri aku waktu lagi sebentar. Aku sedang berusaha mengumpulkan uangnya,” ucap Daffa dengan suara yang berusaha tetap tenang.

“Kami tidak punya banyak waktu untuk menunggu. Besok sore adalah batas akhirnya. Jika belum lunas, kau sendiri yang akan menanggung akibatnya,” ancam orang itu lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka.

Suasana menjadi hening seketika. Laras bisa melihat betapa beratnya beban yang kini memikul pundak Daffa.

“Kau punya utang pada mereka?” tanya Laras pelan.

Daffa menghela napas panjang. “Ya. Dulu aku meminjam uang untuk biaya awal pengobatan Sari. Aku tidak menyangka bunganya akan tumbuh secepat ini. Aku benar-benar tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa lagi.”

Laras menatapnya lekat-lekat. “Kalau begitu, izinkan aku membantumu. Aku punya sedikit tabungan pribadi yang bisa kau gunakan dulu.”

Mata Daffa melebar mendengar tawaran itu. Segera ia menggeleng tegas. “Tidak, Laras. Aku tidak bisa meminta uang darimu. Aku sudah terlalu banyak berhutang budi padamu. Aku tidak mau menambah beban lagi.”

“Ini bukan pemberian cuma-cuma, melainkan pertolongan sampai kau bisa berdiri sendiri lagi. Kau bisa mengembalikannya kapan saja saat kau sudah mampu. Bagiku, melihatmu dan adikmu selamat jauh lebih berharga daripada apa pun,” ucap Laras dengan tegas namun tetap lembut.

Daffa terdiam. Hatinya bimbang antara harga diri yang tinggi dan kebutuhan yang mendesak. Di saat itu, ia menyadari bahwa pertemuan dengan gadis ini mungkin bukan sekadar kebetulan semata.

“Terima kasih,” ucapnya akhirnya dengan suara bergetar menahan haru. “Entah bagaimana caranya, aku akan membalas kebaikanmu ini suatu hari nanti.”

Matahari mulai terbenam, menyisakan cahaya keemasan yang menyelimuti mereka berdua. Di antara keramaian pasar itu, benih-benih rasa yang lebih dalam mulai tumbuh perlahan di hati mereka—tanpa mereka sadari, takdir sedang menyiapkan jalan yang semakin menyatukan langkah mereka berdua.

 

(Bersambung ke Bab 26) ✨

1
Alissia
hai thor🤭🤭
ayu ambara: hai juga kk😍
total 1 replies
Lisa
Ceritanya menarik Kak
ayu ambara: maksih kk😍
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: oke Kak Ayu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!