NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dewi Juwita Terkuat

Transmigrasi Dewi Juwita Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita
Popularitas:137.4k
Nilai: 5
Nama Author: oktiyan

Yuk jejak yang baik, like dan komentar yang membangun cerita Author lebih baik lagi.





ig : ny.fadli_
fb : ghassani




🌟🌟🌟


Dewi adalah wanita dengan jabatan khusus di agen BNN bisa terbilang orang kepercayaan kepala BNN.

Suatu hari dirinya ditugaskan menangkap, menggeledah bandar narkotika yang dimana targetnya adalah tunangannya yang saat itu Dewi kaget akan profesinya.

Suatu hari, Dewi berbicara empat mata pada tunangannya itu, namun tunangan nya menembak mati Dewi di sebuah ruangan, tepat di bagian dada tiga kali.

Mata Dewi masih melotot, memikirkan tunangannya itu untuk melepas profesinya, namun tidak menyangka dia memilih membunuhnya dan membuang dirinya ke laut.

Mata Dewi masih terbuka dan dendam ingin membalas semua perbuatan ini, Lalu ia bersumpah akan memberi perhitungan pada mantan tunangannya itu dan juga pemilik tubuh lemah ini, demi menjalani kehidupan baik di kesempatan hidupnya untuk tidak tertindas kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oktiyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Tiga

TURUNKAN HAK KARYAWAN.

TURUNKAN GAJI KAMI TIGA BULAN.

PERUSAHAAN BANGKRUT JANGAN LIBATKAN PEGAWAI, TURUNKAN HAK KAMI.

DAN MASIH BANYAK KATA KATA KASAR LAINNYA.

Spanduk yang Juwita lihat benar benar terpampang, supir menahan Juwita untuk tidak ke depan.

"Nona, jangan hampiri. Berbahaya jika .."

"Pak Bei tunggu di tempat lain aja, mereka tidak tahu saya anak atasannya bukan? Juwita harus tahu apa yang terjadi, Juwita harus bisa bereskan."

Juwita pun maju, disini ia ikut berkerumun pada keramaian yang terlihat wajah sedih, wajah kesal dan masih banyak lagi.

"Maaf bu, ada apa yang terjadi disini ya?"

Wajah ibu tua itu terlihat menoleh, lalu senyum miring melihat Juwita yang saat itu membawa map coklat.

"Kamu masih muda, apa mau melamar kerja di tempat ini. Saran ibu jangan dek! Perusahaan ini sudah koleps, bahkan pegawai tetap seperti kami belum di berikan hak nya selama 3 bulan, ada juga 4 bulan. Kami juga butuh makan, hutang sudah dimana mana kami hanya minta hak kami. Tapi alasan kepemimpinan bos sedang kritis dan dinyatakan terkendala keuangan, soal itu bukan masalah kami, kami hanya kerja sesuai prosedur."

Deg .. Juwita pun terdiam.

"Benar, tangan kanan perusahaan ini pasti tidak benar, apalagi Saya lihat sendiri, keluarga bos kami baru membeli mobil keluaran terbaru merek Singa. Apakah ini yang dinamakan koleps." pria paruh baya menyambar, membuat Juwita menelan saliva.

"Memang Adek ingin melamar kerja disini?"

"Hm .. Benar bu, ini kartu nama saya. Kelak tinggalkan nomor ponsel ibu untuk meninggalkan nomor saya, justru saya juga sedang mencari info dibalik kejadian ini. Jika nanti ada kelanjutan saya kabari, saya permisi!"

Juwita pergi, meninggalkan kerumunan pegawai yang Demo. Kini di dalam mobil ia berfikir sejenak untuk mencari cara akar dari permasalahan semua yang ia tidak paham.

'Apa pemilik tubuh ini di minta untuk kuliah bisnis karena kejadian ini akan terjadi.'

"Nona sebaiknya kita pulang!" supir menyadarkan.

"Pak, dimana paman Lorenzo. Apa dia di dalam ..?"

"Jika lihat keramaian seperti ini, pak Lorenzo pasti ada di kediamannya. Saya bisa antar Nona."

Juwita meminta supir Bei mengantarnya, lalu tak lupa meminta Bibi Lau melalui telepon, bagaimana keadaan di rumah dan berita apa saja yang di lakukan paman, Gwen, Viona, Meta dan David di kediamannya. Hal ini membuat Juwita ingin memberi keadilan kepada ratusan karyawan yang belum diberikan hak nya.

'Apa yang mereka rencanakan, apa mereka ingin memperkaya diri, lalu membuat papa tiada lebih cepat. Lalu membuat Juwita terusir bagai pasir .. Tidak! Mereka tidak bisa lakukan aku seperti ini, mereka tidak tahu tempat, dan salah menilai ku.'

Menarik nafas, Juwita yang kini rehat sejenak di perjalanan, ia melihat berkas dan email beberapa jam lalu, yang ada di pikiran Juwita adalah membawa papa berobat ke rumah sakit yang lebih baik, dan menyelesaikan semua masalah di keluarga ini agar misinya tidak terhambat.

"Sudah sampai Nona, saya hanya bisa menunggu di pintu pagar ini. Hubungi saya jika nona butuh bantuan!"

Juwita segera turun, ia masuk melewati pekarangan yang jaraknya cukup lumayan terlihat enak di pandang, banyak tanaman bunga sepanjang ia jalan menuju depan pintu rumah.

Ting Nong.

"Cari siapa ya dek?" bibi melihat anak remaja berpakaian sekolah.

"Paman Lorenzo ada di rumah?"

"Apa sudah buat janji dek, sebab ..?"

"Katakan saja Juwita datang ingin bertemu dan penting. Saya anak atasan pak Lorenzo."

Bibi tersebut menutup pintu, Juwita yang menunggu di depan teras, ia mundar mandir menunggu. Sekitar lebih sepuluh menitan, barulah pintu terbuka, padahal sebelumnya Juwita ingin menggedor gedor pintu tersebut kenapa bisa sampai lama sekali.

"Masuk lah Juwita, paman tahu kenapa kamu bisa datang kemari."

"Paman, ga ada yang harus Juwita untuk basa basi, Juwita minta dengan sangat. Dimana buku merah milik papa, dan Juwita harus tahu apa yang terjadi, paman ninggalin begitu aja, dan mereka yang Demo ingin menagih haknya. Kenapa bisa paman setega ini." teriak Juwita.

Sementara Lorenzo ia duduk menyilangkan satu kakinya, ia tertawa dengan nada masih tenang.

"Sebentar paman akan berikan! Tapi panggil saja Lorz. Agar tidak kaku, seorang pria di depan kamu ini juga sama sedang mendalami masalahnya."

"Hem .. ga masuk akal, paman itu tangan kanan papa. Selain Arman saksi kuncinya, .. Ah Jangan bilang .. Paman terlibat dari kasus Arman bukan? Apa begini cara orang serakah yang sudah di bantu papa, di percayai malah menghancurkan diam diam."

"Jangan sembarang bicara Juwita!"

"Lantas kenapa kabur dan ada disini LORENZO." mata Juwita mendelik, sebab ia benar benar tidak tahan akan orang yang keterlaluan.

Posisi yang Demo, itu mengingatkannya pada dirinya saat usia 7 tahun ikut bersama sang ayah, sementara ibu saat itu sakit karena ingin melahirkan, nahas adiknya tidak bisa diselamatkan karena penanganan medis lambat. Saat itu ayahnya meminta hak dari kantor yang tidak dibayarkan untuk membayar rumah sakit, hingga saat itu ayah jatuh sakit karena keadaan yang semakin terpuruk, ibunya sedih hingga dirinya saat kecil harus mandiri.

"Lebih baik kamu pulang Juwita! Seorang Lorenzo bukan kabur, tapi yang kamu pikirkan saat ini sama. Kamu pikir saya tidak kehilangan seorang pak Steven. Saya bisa dipuncak seperti ini karenanya, jika beliau meninggal saya harus apa, saya memang orang kepercayaan papa kamu, tapi saya tidak memegang aset dan keuangan perusahaan papa kamu."

DEG

Hah .. Juwita memijit keningnya, lalu meminta pamannya mencari solusi, setidaknya hak karyawan harus dibayarkan jika perusahaan terancam bangkrut.

"Apa kantor bisa jadi jaminan untuk semua nya beres ..?"

"Sayang nya aset kantor tidak sebanding dengan kerugian investor yang menarik dana, bahkan pinjaman tidak akan disetujui jika keadaan sulit seperti ini. Surat perusahaan tidak ada di paman, papa mu yang menaruhnya. Dan kas kantor habis untuk pengobatan Arman di luar negri, penyakit kakak mu itu tidak di cover asuransi seperti papamu saat ini. Seorang Lorenzo hanya mengurus berkas, bukan mengelola keuangan."

Lorenzo menjelaskan, Juwita juga diberikan satu map, dan sebuah laptop untuk dilihatnya.

"Kemari Lah! Saya bisa jelaskan intinya, dan kamu harus bantu juga mencari bukti bukti."

Juwita yang melihat jam, ia segera mungkin menghubungi supir untuk pulang lebih dulu, sebab dirinya harus berada di rumah Lorenzo terkait hal lebih penting.

🪻🪻🪻

Beberapa jam kemudian, Juwita yang haus, ia diberikan sebuah minimun dan snack. Waktu juga sudah menunjukan pukul 7 malam, lewat 14 menit.

Satu persatu sejak beberapa jam lalu ia mengecek beberapa file berkas untuk di cocokan, mulai dari pembukuan dan mutasi serta rekening koran yang tidak masuk akal pengeluaran, bahkan beberapa video tidak jelas siapa yang datang ke kantor rahasia papa dengan pakaian penutup rapat.

"Kenapa penarikan besar ini atas nama Young Zak." Juwita mengerenyitkan alisnya, nama itu seolah tidak asing membuat nya terus berpikir untuk mengingat.

Aduh ..

Kepala Juwita sakit, namun reflek Lorenzo meraih tangan punggung Juwita yang hampir jatuh dari tempat duduknya.

"Maaf .. Lain kali hati hati, jika lelah. Istirahat sejenak, ini kacamata bisa di pakai agar tidak sakit melihat semuanya, satu persatu saja dilihat, jika lelah rehat sejenak agar tidak sakit, saya berharap Tuan Bos segera sembuh dan segera siuman."

Juwita pun meraih kacamata tersebut tanpa berkata kata.

BERSAMBUNG ..

1
kriwil
udah pindah jiwa otak nya malah tambah lemot
Nola
ok
Yura-Chan!
👣👍
Lestari
thor sebenarnya umur Juwita berapa pertama 17 terus 18 lah sekarang kok jadi 19
mB€|6€D€§
masa intel, sekretaris ketua bnn kok insting & pola fikirnya lemot..? 😇
Hikam Sairi
nyimak
MashMellow🍭
memang satu pun tiada ingatan juwita yang tinggal thor ?
sikit2 pun xda ke, payahlah macam nie😪
Nurwana
kok pemerannya lembek dan lambat sekaligus loading????
Dewi Ansyari
Juwita di lawan🤣🤣🤣🤣🤣 Dasar ornag2 bodoh
Dewi Ansyari
Juwita adalah jiwa Dewi jadi tentu saja harus tegas
devi aryana
Luar biasa
neng ade
hadir thor .. salam kenal .. penasaran dan kaget juga nama ku jadi judul novel ini meski terbalik
IndraAsya
👣👣👣
Bintang Juing
Luar biasa
Binti
Bagus next 💪
Yurniati
tetap semangat terus update nya thorr
Yurniati
apa yang di keluarkan pisau kah atau pistol,,,
Mercy Clara
ceritanya kok kyk TRANSMIGRASI GRAMEISYA yah??
Fadila1973 Akbar: perasaan beda de kk
saya jga pernah baca
total 2 replies
Mr Azusi
berung kedinginan alias lorenzo harus di kasih apa kasiah juwita
obiz
weleh weleh ampun lah ketemu emak tiri gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!