NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Telpon Dari Chensi

Malam semakin larut, angin di luar berhembus lebih dingin, menyentuh kaca jendela kamar Annisa yang masih terbuka sedikit. Gadis itu masih duduk bersandar di kepala tempat tidur, matanya sedikit bengkak dan basah, dadanya sesak menahan perasaan yang campur aduk antara rindu, kecewa, dan keraguan. Rasanya ia sangat benci dengan perasaannya sendiri.

Annisa terus meyakinkan diri bahwa ia tidak berhak menuntut apa pun, namun hatinya tetap tidak bisa dibohongi. Kehadiran Chensi sudah menjadi kebiasaan yang tak tergantikan—tanpa sadar, lelaki itu telah mengisi ruang kosong dalam hidupnya yang ia kira sudah tertutup rapat.

Tepat saat jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, suara dering ponsel yang di meja samping tempat tidur berbunyi tiba‑tiba. Suaranya yang nyaring memecah keheningan kamar, membuat Annisa terkejut dan segera meraih benda pipih itu. Jantungnya seketika berdegup kencang. Dengan tangan yang masih gemetar.

“Halo…” jawabnya lirih, suaranya masih terdengar serak karena menangis.

Dari seberang saluran, terdengar suara yang sudah sangat ia kenal—suara Chensi, yang terdengar lelah namun juga penuh rasa khawatir.

“Annisa… maafkan aku baru bisa menelepon sekarang,” ucapnya dengan nada lembut. “Aku baru saja tiba di tempat tujuan dan baru sempat pegang ponsel. Penerbangan mendadak, ada masalah serius di salah satu cabang perusahaan yang tidak bisa ditunda. Aku berangkat begitu saja tanpa sempat berpamitan, bahkan tidak sempat meninggalkan pesan yang jelas untukmu.”

Mendengar suara itu, seketika beban di dada Annisa terasa sedikit berkurang, namun rasa kecewa masih tersisa. Ia menelan ludah, berusaha menjawab dengan nada biasa.

“Tidak apa‑apa, Tuan. Saya hanya menanyakan pada pelayan, mereka bilang Tuan pergi ke luar kota. Saya hanya khawatir… itu saja,” jawabnya berusaha tenang, meski air matanya kembali menetes perlahan.

Chensi terdiam sejenak, seolah bisa merasakan nada bicara yang berbeda dari wanita itu. “Kau menangis, kan? Suaramu terdengar berbeda,” tanyanya lembut namun tegas.

Annisa tertegun, tidak bisa menyangkal. Ia hanya bisa menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara yang lebih pelan. “Saya hanya merasa sepi saja… seharian tidak melihat Tuan, tidak mendengar kabar apa pun. Rasanya ada yang hilang, padahal saya tahu kita hanya terikat perjanjian dan saya tidak berhak merasa seperti ini.”

Di ujung telepon, Chensi tersenyum tipis sambil mengusap wajahnya yang lelah. Ia sendiri juga merasakan hal yang sama—sepanjang perjalanan dan rapat yang berlangsung tegang, pikirannya selalu melayang ke kediaman, memikirkan apakah Annisa sudah makan, apakah ia merasa nyaman, apakah ia bertanya ke mana perginya.

“Dengarkan aku, Annisa,” ucapnya dengan nada yang lebih dalam dan tulus. “Selama ini aku juga bertanya‑tanya pada diriku sendiri—apakah aku mampu menjaga jarak yang kita sepakati? Apakah aku bisa hidup berdampingan tanpa memiliki sepenuhnya? Hari ini, saat aku terbang jauh, saat sibuk menangani masalah, aku sadar satu hal. Yaitu kehadiranmu sudah bukan lagi sekadar tanggung jawab. Kehadiranmu sudah menjadi kebutuhan bagi hatiku sendiri.”

Ia berhenti sejenak, suaranya menjadi lebih lembut.

“Aku pergi tanpa pamit bukan karena tidak memikirkanmu, tapi karena keberangkatan itu terlalu mendadak dan aku takut jika aku sempat melihatmu, aku justru akan ragu untuk pergi. Aku juga merasakan kekosongan yang sama seperti yang kau rasakan. Aku ingin segera menyelesaikan urusan ini dan pulang secepatnya hanya untuk melihat wajahmu, memastikan kau dan anak kita baik‑baik saja.”

Annisa tertegun mendengar pengakuan itu. Jantungnya berdebar kencang, rasa kecewa berubah menjadi rasa haru yang meluap. Air matanya kini mengalir karena kebahagiaan dan rasa lega.

“Jadi… saya bukan satu‑satunya yang merasa seperti ini?” tanyanya lirih.

“Bukan, Sayang… kita sama‑sama terjebak dalam perasaan yang tumbuh di tengah batas yang kita buat sendiri,” jawab Chensi lembut. “Dan kita harus terus belajar menjalaninya—mencintai dengan cara yang tidak melanggar prinsip masing‑masing, menjaga tanpa menguasai, dan saling melengkapi tanpa harus menjadi satu kesatuan secara sempurna.”

Keduanya terdiam sejenak, hanya mendengarkan napas satu sama lain melalui saluran telepon. Di tengah jarak yang memisahkan mereka, justru perasaan itu terasa semakin nyata dan mengikat.

“Berapa lama Tuan akan tinggal di sana?” tanya Annisa akhirnya, suaranya sudah lebih tenang dan hangat.

“Paling lama tiga hari. Aku akan pulang secepat mungkin. Sementara itu, jangan banyak pikiran, makan teratur, dan istirahat yang cukup. Ingat, ada aku yang selalu memikirkanmu di sini,” jawab Chensi meyakinkan.

Annisa mengangguk dan tersenyum senang mendengar kalimat terakhir dari lelaki yang ia cintai itu.

Setelah mengucapkan salam dan mengakhiri percakapan, Annisa meletakkan gagang telepon dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Rasa hampa tadi sudah tergantikan dengan rasa tenang dan kehangatan yang menyelimuti hatinya. Ia menyadari bahwa meski jalan mereka tidak mudah, dan meski banyak batas yang harus dijaga, perasaan yang tumbuh di antara mereka adalah hal yang nyata dan tulus.

Ia membelai lembut perutnya yang mulai membesar, membisikkan lirih.“Kita akan menunggu Ayah pulang, ya… dan semoga Tuhan memberi kita kekuatan untuk terus berjalan di jalan yang benar.”

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!