Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberanikan Diri
Saat Ophelia tiba di kastil, matahari sudah terbenam. Dia disambut oleh Salvatore di pintu masuk.
"Selamat malam, Nyonya Russo," kata Salvatore dengan hormat.
"Kau di sini, Salvatore? Di mana Bleiz?"
"Ya, aku ada urusan sedikit tadi. Tuan Russo masih di ruang kerjanya. Dia ada rapat dengan beberapa klien baru saja."
“Dia sudah makan malam?” tanya Ophelia.
“Sudah, Nyonya. Tadi pelayan mengantar makanan ke ruang kerja.”
Ophelia terdiam sejenak. “Hmm … apakah ada masalah dengan pekerjaannya? Dia baik-baik saja, kan?”
“Tuan Bleiz baik-baik saja dan tak ada masalah. Tenang saja.”
Ophelia mengangguk. Dia berjalan menyusuri lorong menuju kamar tidurnya. Di tangannya, dia masih memegang paperbag merah dari Chloe.
*
*
Setelah mandi dan berganti pakaian, Ophelia berdiri di depan cermin. Dia mengenakan lingerie sutra merah itu. Kain itu jatuh dengan sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuhnya tapi tetap elegan meskipun sangat menggoda.
"Aku tidak percaya aku melakukan ini," gumamnya pada bayangannya sendiri.
Dia mengambil kimono sutra berwarna hitam dan menutup tubuhnya sebelum keluar kamar. Langkahnya ragu saat dia berjalan menuju ruang kerja Bleiz.
Di depan pintu, dia berhenti. Dia bisa mendengar suara Bleiz berbicara dengan seseorang di telepon. Ophelia hampir membatalkan niatnya, tapi dia ingat kata-kata Chloe tadi. ‘Sudah tidak ada tamu lagi, kan?’ pikirnya.
Ophelia mengetuk pintu.
Suara Bleiz di dalam berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan Bleiz muncul di hadapannya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku, memperlihatkan lengan kekarnya.
Matanya yang abu-abu menatap Ophelia dengan ekspresi terkejut karena tak biasanya Ophelia menemuinya di ruangan kerjanya.
"Ophelia? Ada apa?" tanyanya.
"Aku ..." Ophelia ragu dan gugup. Lalu Ophelia melihat sekilas ke belakang Bleiz dan melihat ada dua pria berpakaian rapi duduk di sofa.
Ophelia melebarkan matanya dan merapatkan kimono sutranya. Dia tak tahu jika masih ada rekan bisnisnya di sana. "Oh, kau sedang ada tamu. Maafkan aku. Aku akan tunggu nanti."
Sebelum dia bisa pergi, Bleiz meraih tangannya. "Tidak, tunggu. Mereka sudah mau pergi."
Bleiz menoleh ke dalam. "Kita lanjutkan besok."
Dua pria itu segera berdiri dan meninggalkan ruangan dengan cepat, tidak berani menatap Ophelia.
*
*
Setelah mereka pergi, Bleiz menarik Ophelia masuk ke dalam, lalu menutup pintu dan menatap Ophelia. "Ada apa? Ada masalah tadi? Bagaimana ibumu?”
Ophelia menelan ludah. “Tidak … dia baik-baik saja. Chloe menjaganya dengan baik. Aku .. senang bertemu mereka. Terima kasih. Aku … hanya ingin mengatakan itu saja.”
Mata Bleiz menyipit. “Kau gugup. Aku sangat mengenal semua reaksimu. Ada apa? Kau punya kesalahan yang ingin kau ungkapkan padaku?”
Ophelia mengernyitkan keningnya. “Kesalahan? Aku tak melakukan apa pun. Kau terlihat sibuk. Jadi … aku tak akan mengganggumu. Bekerjalah,” sahut Ophelia dan kemudian berbalik pergi.
Namun Bleiz menarik lengannya, tapi yang tertarik justru kimono sutranya. Kimono itu otomatis terlepas karena talinya longgar.
Bleiz melihat apa yang dikenakan oleh Ophelia saa ini. Mata Bleiz berbinar tentu saja. Pupil matanya melebar saat dia melihat Ophelia dalam pakaian tipis itu. Dia terdiam beberapa saat, napasnya terdengar lebih berat.
"Kau ..." suaranya serak.
Ophelia terkejut dan segera mengambil kimononya, namun Bleiz merengkuh pinggangnya dan merapatkannya ke tubuhnya.
“Kau tak akan kulepas jika sudah seperti ini,” bisik Bleiz dengan senyuman miringnya.
Bleiz menatapnya lama. Matanya gelap dengan gairah yang tiba-tiba menyala karena pancingan seksi itu. Kemudian dia mengangkat tangan untuk menyentuh bibir Ophelia.
“Bleiz … aku … aku …”
Bleiz menunduk dan mengecup bibir Ophelia dengan lembut. Lalu dia menarik napas dalam-dalam.
"Lanjutkan apa yang ingin kau lakukan. Jangan mundur lagi.” Bleiz berbisik lagi dan menjilat cuping telinga Ophelia hingga membuat tubuh wanita itu berdesir.
(AYOOO BANYAKIN KOMENNYA KALO MAU LANJUUUUTTT)
kesel akuu🤭