Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 24.
Kaisar mencoba mengingat wanita yang bicara dengannya, dan itu hanya Kikan. Ia menahan senyumnya, ternyata Leya salah paham padanya.
“Oh, Bu Kikan.“
Nada santai saat Kaisar bicara membuat Leya menghela nafas pelan. “Sepertinya, kalian akrab sekali."
“Dia cuma menanyakan sesuatu padaku tadi.“ Kaisar menyandarkan pinggulnya ke meja, dia menahan senyumnya.
“Haruskah tertawa dan bercanda seperti itu? Dia atasan kita, Kai. Tapi kau—“
“Kamu cemburu?" potong Kaisar.
Leya sontak menatap pria itu dengan kesal. “Kita sudahi saja, jangan ganggu aku. Pergilah... aku mau baca catatanku."
Kaisar hampir tertawa, tapi ia menahannya.
“Leya, kalau kamu mau tahu apa yang kami bicarakan... Bu Kikan tadi cuma bilang, sidang kode etik Arkana akan dilakukan hari ini. Kemungkinan, dia akan dipecat.“
Leya tak menanggapi, baginya semua itu adalah akibat perbuatan Arkana sendiri. Pria itu harus mempertanggungjawabkannya.
Siangnya, di ruang sidang disiplin beberapa orang duduk di meja panjang. Mereka adalah anggota dewan kode etik maskapai.
Di ujung meja, Kikan duduk dengan sikap tegak. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya tajam dan profesional. Tak ada sedikitpun senyum di wajah wanita itu. Berbeda sekali dengan sikap cerianya bersama Kaisar di lorong tadi.
Pintu ruangan terbuka, Arkana berjalan masuk. Matanya terlihat lelah, semalaman dia hampir tidak tidur. Ia mengenakan seragam pilot lengkap, tetapi tanpa kebanggaan yang biasanya terpancar dari dirinya. Hari ini, ia datang bukan sebagai kapten yang dihormati. Ia datang sebagai seseorang yang akan di adili.
Di kursi saksi, duduk Dokter Tama. Pria itu tampak gelisah. Beberapa staf hukum maskapai juga turut hadir. Sidang ini bersifat internal, tetapi konsekuensinya bisa menentukan masa depan karier seseorang.
Kikan membuka berkas di depannya.
“Sidang kode etik ini akan membahas beberapa pelanggaran serius yang dilakukan oleh Kapten Arkana.“ Nada suaranya tenang, namun sangat tegas.
“Manipulasi hasil tes kesehatan salah satu trainee di akademi saat menjabat menjadi instruktur.“
“Pemberian suap kepada tenaga medis.“
“Pelanggaran etika profesi."
“Dan tindakan yang merusak reputasi maskapai.“
Kikan membaca satu persatu kesalahan yang dilakukan oleh Arkana.
Suasana hening.
Arkana berdiri tegak, tetapi tangannya di belakang punggungnya mengepal erat.
Kikan menatapnya dengan tatapan tegas. “Kapten Arkana, apakah Anda memahami semua tuduhan yang dibacakan?"
“Saya memahami.“ Jawab Arkana dengan suara pelan.
“Apakah Anda membantah?“
Arkana terdiam, semua mata tertuju padanya. Akhirnya ia kembali menjawab. “Saya... tidak membantah soal pemberian uang."
Beberapa anggota dewan kode etik langsung mencatat pengakuan Arkana.
“Jadi Anda mengakui telah menyuap Dokter Tama?“
Arkana manarik nafas. “Ya."
Di kursinya, Dokter Tama menunduk semakin dalam karena merasa sangat malu.
“Apakah tujuan Anda melakukan itu untuk menjatuhkan Kapten Kataleya? Karena Anda sedang berkonflik secara pribadi dengannya?“
Arkana menggeleng. “Saya tidak berniat menjatuhkan."
“Lalu?"
"Saya hanya ingin menunda kariernya.“
Beberapa orang di ruangan saling berpandangan, jawaban itu terdengar sama buruknya.
“Menunda dengan cara memalsukan data medis?“
Kali ini, Arkana tak menjawab dan itu artinya ia membenarkan.
“Kapten Arkana, Anda pilot senior di maskapai ini. Anda seharusnya memahami bahwa keselamatan penerbangan dimulai dari integritas. Memalsukan data kesehatan adalah pelanggaran berat.“ Kikan menutup berkas.
Di kursi-kursi yang hadir, ada pilot senior sebagai pengamat. Bisik-bisik mulai terdengar, karier Arkana yang dulu cemerlang, kini dipertaruhkan.
Kikan menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan. “Kami juga menerima laporan terkait hubungan pribadi Anda dengan pramugari di maskapai ini bernama Shanaz, yang kemudian memicu penyebaran fitnah terhadap Kapten Kataleya. Yang saat itu... Kapten Kataleya masih sah menjadi istri Anda, ketika Anda menjalin hubungan terlarang dengan Shanaz.“
Bisik-bisik terdengar di ruangan, beberapa pilot senior tampak terkejut karena baru mengetahui hal itu. Selama ini citra Arkana sangat baik di mata mereka. Beberapa dari mereka memang tahu Arkana sudah menikah, tetapi tidak pernah tahu siapa istrinya.
“Saya tidak menyuruh Shanaz menyebarkan foto atau rekaman video itu. Saya juga tidak pernah memfitnah mantan istri saya, Kapten Kataleya," kata Arkana membela diri.
Kikan mengangguk, karena jawaban Arkana jujur. Masalah itu hanya perbuatan Shanaz sendiri.
“Namun hubungan Anda dengannya menjadi salah satu pemicu kejadian tersebut, bukan?"
Kikan teringat ucapan Shanaz sebelumnya, wanita itu mengatakan semua terjadi karena Arkana meminta memutuskan hubungan mereka.
Arkana hanya diam, tak ada bantahan darinya.
Kikan memberi isyarat kepada staf hukum. “Panggil saksi.“
Dokter Tama diminta berdiri, pria itu terlihat gugup.
“Apakah benar, Anda menerima uang dari Kapten Arkana?"
Dokter Tama menelan ludah. “Benar."
"Apakah Kapten Arkana meminta Anda mengubah hasil tes kesehatan Kapten Kataleya?"
“Ya."
“Apakah Anda menerima uang sebagai imbalan?"
“Ya." Dokter Tama menundukkan kepalanya.
Ruangan kembali sunyi, bukti-bukti dan saksi sudah jelas.
Kikan menatap Arkana, “Dewan kode etik akan melakukan pertimbangan akhir.“
Para anggota dewan kode etik berdiskusi pelan, Arkana berdiri sendirian di tengah ruangan dengan tangan masih di belakang. Pria itu teringat masa lalu, saat pertama kali menjadi pilot. Saat kariernya naik cepat setelah mendapatkan kuota kapten pilot yang diberikan oleh Leya. Kini semuanya... hampir hancur.
“Kapten Arkana,“ Kikan akhirnya bicara kembali.
Arkana mengangkat kepala.
“Keputusan final akan diumumkan setelah pemeriksaan tambahan selesai.“ Kikan berhenti sejenak. “Namun untuk sementara, Anda resmi dibebastugaskan dari semua jadwal penerbangan.“
Kalimat itu seperti palu yang jatuh, karena dalam dunia penerbangan pembebastugasan biasanya menjadi langkah awal menuju akhir karier.
Arkana menutup matanya sebentar, ia kembali membukanya. “Saya mengerti.“
Sidang belum selesai, namun Arkana sudah mengerti... hidupnya sebagai Kapten Pilot tidak akan pernah sama lagi.
tapi awas bikin gosip yg gak bener tentang Leya atau Kaisar, Bu wa bahaya untuk mu sendiri itu
kak author gx sxan di basmi aj si rafi ini ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁
krn di balik suami yg sukses pasti ad istri hebat yg berkorban ,,
bukan pelakor yg berkibar oleh angin sesaat ,,
saat angin berhenti ia akan mencoba trap berkibar dg cara apa aja Sekali pun dg cara yg kotor/Smile//Smile//Smile/