NovelToon NovelToon
Gadis Culun Milik Tuan Marco

Gadis Culun Milik Tuan Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤

"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"

"MarcoI—itu apa?"

"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."

"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"

"Ssstttt, Cobalah... "

"Ini sakit!"

"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"

"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"

Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.

Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Jarum jam antik di dinding utama mansion berdentang pelan, menandakan pukul sepuluh malam. Alunan musik perlahan mengecil, sementara lampu-lampu kristal di aula utama menjadi sedikit lebih terang.

Seluruh tamu yang semula larut dalam obrolan dan tarian mulai mengalihkan perhatian ke arah panggung kecil yang telah dipersiapkan sejak awal acara.

Seorang pembawa acara melangkah maju sambil membawa mikrofon.

"Selamat malam, para tamu yang terhormat. Terima kasih atas kehadiran Anda semua di kediaman keluarga Collins. Kini, tibalah saat yang paling dinantikan malam ini. Saya persilakan Nyonya Mauren Collins untuk memberikan sambutan."

Tepuk tangan menggema memenuhi aula.

Mauren melangkah naik ke atas panggung dengan anggun. Gaun biru safir yang dikenakannya berkilau lembut diterpa cahaya lampu. Senyumnya tampak hangat, meski kedua matanya sedikit berkaca-kaca.

Ia menerima mikrofon, lalu memandang satu per satu wajah para tamu yang hadir.

"Malam ini adalah malam yang sangat berarti bagi saya."

Suasana menjadi hening.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga, sahabat, dan seluruh rekan bisnis yang telah meluangkan waktu untuk hadir. Kehadiran kalian semua adalah sebuah kehormatan bagi keluarga Collins."

Para tamu kembali bertepuk tangan pelan. Mauren menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Alasan terbesar saya mengadakan pesta malam ini bukanlah untuk merayakan keberhasilan perusahaan ataupun pencapaian bisnis."

Tatapannya perlahan beralih ke arah Liora. "Malam ini, aku ingin memperkenalkan kembali seseorang yang selama bertahun-tahun selalu saya rindukan."

Semua mata mengikuti arah pandang Mauren.

Liora yang berdiri di antara para tamu tampak sedikit gugup.

"Beberapa tahun lalu, hidup kami berubah karena sebuah peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan. Kami harus berpisah dalam waktu yang sangat lama."

Suara Mauren mulai bergetar. "Setiap hari saya berdoa agar Tuhan mempertemukan kami kembali."

Ia tersenyum, sementara air mata tipis mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dan hari ini, doa itu akhirnya dijawab."

Mauren mengulurkan tangannya ke arah putrinya. "Liora, kemarilah, Sayang."

Seluruh aula dipenuhi tepuk tangan yang semakin meriah.

Dengan langkah perlahan, Liora berjalan menuju panggung. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga seolah bisa didengar semua orang. Sesampainya di atas panggung, Mauren langsung menggenggam kedua tangan putrinya.

Tatapan mereka bertemu. Tanpa mampu menahan perasaan, Mauren memeluk Liora erat.

Sesaat kemudian, tepuk tangan para tamu terdengar semakin keras. Beberapa tamu bahkan tampak menyeka sudut mata mereka yang mulai basah. Mauren melepaskan pelukannya perlahan, lalu kembali menghadap para tamu.

"Dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan, izinkan saya memperkenalkan putri saya... Liora Collins."

Sorak sorai tepuk tangan memenuhi seluruh aula.

"Selamat datang kembali, Nona Collins!"

"Selamat!"

"Semoga selalu bahagia!"

Ucapan selamat datang dari berbagai arah silih berganti terdengar.

Liora tersenyum haru sambil sedikit membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan.

"Terima kasih... Terima kasih banyak atas sambutan hangat kalian."

Mauren menggenggam tangan putrinya dengan bangga.

"Mulai malam ini, Liora bukan hanya kembali menjadi bagian dari keluarga Collins, tetapi juga akan menempati kembali tempat yang memang selalu menjadi miliknya."

Para tamu kembali bertepuk tangan. Di antara kerumunan, Elijah ikut bertepuk tangan dengan senyum tulus. Tatapannya beralih kepada Mauren yang kini terlihat jauh lebih tenang dan bahagia dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Sementara itu, Marco meniup peluit kecil dengan jahil hingga mengundang tawa beberapa tamu.

"Itu keponakanku!" serunya bangga. "Cantik, pintar, dan tentu saja... mewarisi wajah tampanku."

"Yang benar Marco, Kau sok tampan, yang jelas dia mewarisi wajah Mauren," celetuk seseorang, disambut gelak tawa para tamu.

Marco pura-pura menghela napas panjang.

"Kalian memang tidak pernah menghargai kejujuranku."

Suasana aula kembali dipenuhi tawa hangat.

Senyum Liora semakin lebar. Setelah sekian lama, ia benar-benar merasakan arti pulang.

Di tengah gemuruh tepuk tangan dan ucapan selamat yang terus mengalir, ia menyadari bahwa malam ini bukan sekadar pesta penyambutan.

Malam ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya sebagai Liora Collins, putri yang akhirnya kembali ke rumah, dikelilingi oleh keluarga, sahabat, dan orang-orang yang dengan tulus menerimanya.

Setelah tepuk tangan perlahan mereda, para tamu mulai bergantian menghampiri Liora.

"Selamat datang kembali, Nona Collins."

"Semoga masa depanmu selalu dipenuhi kebahagiaan."

"Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan putri Mauren."

Satu per satu mereka menyalami Liora. Beberapa bahkan memeluknya hangat. Liora membalas setiap ucapan dengan senyum tulus, meski sesekali rasa gugup masih tampak di wajahnya.

Di sampingnya, Mauren terus mendampingi sang putri, memperkenalkannya kepada para sahabat lama dan rekan bisnis yang selama ini hanya mengenal nama Liora.

"Ini putriku, Liora."

Kalimat itu berkali-kali keluar dari bibir Mauren, dan setiap kali mengucapkannya, senyum bangga selalu menghiasi wajahnya.

Elijah yang berdiri tidak jauh dari sana ikut memperhatikan momen tersebut. Senyumnya tak pernah lepas.

Marco menyenggol pelan lengan pria itu.

"Aku belum pernah melihat Kak Mauren sebahagia ini."

Elijah mengangguk pelan. "Karena bagian hidupnya yang hilang akhirnya kembali."

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berpakaian jas abu-abu menghampiri Mauren.

"Selamat, Mauren. Putrimu sangat cantik."

"Terima kasih, Tuan Richard."

Richard kemudian menoleh kepada Liora.

"Perkenalkan, saya Richard Van Houten. Saya sudah menjadi rekan bisnis ibumu selama hampir dua puluh tahun."

Liora mengulurkan tangan dengan sopan. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan Richard."

"Sama-sama. Kudengar kau baru kembali ke Amsterdam. Semoga kau betah tinggal di sini."

"Terima kasih."

Tak lama, tamu-tamu lain ikut mengantre untuk berkenalan. Suasana aula kembali dipenuhi obrolan hangat. Namun, di tengah keramaian itu, terdengar suara gelas diketuk pelan menggunakan sendok.

Ting...

Ting...

Semua orang kembali menoleh.

Marco berdiri sambil membawa segelas sampanye. Senyum jahilnya membuat Mauren langsung menghela napas pasrah.

"Astaga... dia mau bicara apa lagi?" gumam Mauren.

Marco berdeham dramatis. "Karena semua orang sudah memberikan ucapan selamat..."

Ia berhenti sejenak, membuat seluruh perhatian tertuju kepadanya.

"Izinkan aku sebagai paman paling tampan di keluarga Collins memberikan sedikit sambutan."

Gelak tawa langsung memenuhi aula. "Boleh saja, asal jangan terlalu lama," sahut Mauren.

Marco mengangguk mantap. "Pertama, aku ingin mengucapkan selamat datang kepada keponakanku yang culun."

Ia menatap Liora dengan senyum tulus.

"Liora, mungkin kita baru bertemu lagi setelah sekian lama. Tapi, aku sangat bahagia melihatmu kembali."

"Yatuhan, kenapa harus membawa gadis culun!" Liora terkekeh. "Paman aneh."

Tawa para tamu kembali pecah.

"Tapi ketahuilah satu hal." Nada suara Marco berubah lebih lembut.

"Sejak hari kau kembali ke keluarga ini, kau bukan lagi berjalan sendirian. Kau punya ibu yang sangat mencintaimu, punya keluarga besar Collins, dan... kau juga punya aku."

Ia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

"Paman paling tampan sekaligus paling menyenangkan sedunia."

"Dasar tidak tahu malu," celetuk Mauren, membuat aula kembali riuh oleh tawa.

Marco hanya mengangkat bahu. "Aku hanya berkata jujur."

Lalu ia kembali menatap Liora.

"Kalau suatu hari ada yang membuatmu menangis..." Ia mengepalkan tangan. "Katakan saja padaku. Akan kupastikan orang itu menyesali perbuatannya."

Kalimat terakhir itu disampaikan dengan nada bercanda, tetapi sorot mata Marco memperlihatkan kesungguhan.

Liora merasakan dadanya menghangat.

Selama bertahun-tahun ia hidup tanpa merasakan kehangatan keluarga sebesar ini.

Kini, untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa diterima.

Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Liora tersenyum. "Terima kasih... Paman."

Ucapan sederhana itu membuat senyum Marco melebar. "Nah, begitu dong. Baru terdengar manis."

Tepuk tangan kembali menggema.

Di tengah kebahagiaan itu, tidak seorang pun menyadari bahwa dari lantai dua mansion, sepasang mata sedang mengawasi seluruh jalannya pesta melalui celah balkon.

Sorot matanya dingin, penuh perhitungan.

Tatapannya berhenti tepat pada sosok Liora yang menjadi pusat perhatian malam itu.

"Bersiaplah, Nona Collins..."

Suara lirih itu nyaris tenggelam oleh musik dan tawa para tamu.

"Karena kebahagiaanmu malam ini tidak akan berlangsung selamanya."

1
Lilyyy
HALLO GUYS, JANGAN LUPA BERIKAN ULASAN YA JIKA BERKENAN TRIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAMPIR 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!