Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Di Balik Layar
Seminar akademik UI pada minggu keempat seharusnya menjadi panggung Albert.
Di poster awal yang sudah beredar sebulan lalu, namanya tercetak sebagai salah satu moderator panel utama. Topiknya tentang etika penelitian dan tata kelola kampus. Ironis, tetapi saat itu belum ada yang berani menertawakannya.
Pagi itu, poster baru dipasang di depan auditorium.
Nama Albert masih ada, tetapi turun ke sesi paralel kecil setelah makan siang. Bukan moderator utama. Bukan pembicara pembuka. Hanya "penanggap".
Albert berdiri di depan poster itu selama beberapa detik, tangan memegang map seminar terlalu kuat sampai ujung kertas melengkung.
Beberapa mahasiswa lewat. Salah satu dari mereka melihat poster, lalu melihat Albert. Ia cepat-cepat menunduk, tetapi sudut bibirnya sempat naik.
Albert masuk auditorium dengan wajah kaku.
Di dalam, kursi barisan depan sudah diisi dosen senior dan tamu luar kampus. Profesor Linus Yang tidak datang, tetapi bayangannya terasa di setiap perubahan susunan acara. Tidak ada yang menyebut namanya. Justru karena tidak disebut, Albert makin yakin siapa yang menggerakkan semua ini.
Ketika sesi utama dimulai, Albert duduk di baris ketiga. Ia mendengar moderator baru berbicara lancar tentang integritas akademik. Setiap kata integritas terdengar seperti ditujukan ke wajahnya.
Ponselnya bergetar.
Yuni: Aku sudah sampai parkiran.
Albert langsung mengetik: Jangan masuk. Aku sedang acara kampus.
Balasan datang cepat.
Yuni: Aku cuma mau dukung Ko Albert.
Albert menggertakkan gigi. Ia sudah memperingatkan Yuni sejak malam sebelumnya. Kampus sedang penuh mata. Isu rumah tangganya belum reda. Kehadiran Yuni hanya akan membuat semuanya menjadi tontonan.
Namun sepuluh menit kemudian, pintu samping auditorium terbuka.
Yuni masuk dengan blouse satin warna merah muda yang terlalu mengilap untuk seminar akademik pagi hari. Roknya pas badan, parfum manisnya tertinggal di udara, dan langkahnya tidak berusaha pelan. Beberapa kepala menoleh.
Albert merasa darahnya turun ke kaki.
Yuni melihatnya dari jauh, tersenyum, lalu melambai kecil.
Ia tidak duduk di belakang. Ia berjalan ke sisi kanan, sengaja melewati dua dosen perempuan yang Albert kenal dekat. Ketika salah satu bertanya dengan wajah sopan siapa dirinya, Yuni menjawab cukup keras untuk didengar orang di dekat mereka.
"Saya Yuni. Calon istri Ko Albert."
Kalimat itu jatuh di ruang seminar seperti gelas pecah.
Albert berdiri setengah, lalu duduk lagi karena pembicara sedang bicara di podium. Ia tidak bisa menyeret Yuni keluar tanpa membuat adegan lebih buruk.
Dosen perempuan itu tersenyum kaku. "Oh."
Yuni menambahkan dengan nada manis, "Kami memang sedang menunggu proses selesai. Kasihan Ko Albert, belakangan banyak yang salah paham."
Salah paham.
Di belakang Yuni, dua mahasiswa saling melirik. Seseorang mengetik cepat di ponsel. Albert tahu, sebelum sesi makan siang, kalimat itu akan sampai ke grup WhatsApp fakultas.
Ketika jeda tiba, Albert menarik Yuni ke koridor samping.
"Kamu gila?" bisiknya tajam.
Yuni melepaskan tangannya. "Jangan pegang aku seperti itu."
"Aku bilang jangan masuk."
"Aku tidak selingkuh sendirian, Ko." Senyum Yuni hilang. "Sebelas tahun aku disembunyikan. Sekarang kamu malu karena orang tahu aku ada?"
"Ini kampus."
"Justru bagus. Biar semua orang tahu aku bukan perempuan gelap lagi."
Albert menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat dengan jelas bahwa Yuni tidak peduli pada posisinya, selama posisinya bisa dipakai untuk menaikkan dirinya sendiri.
"Pulang," katanya.
Yuni merapikan rambutnya dengan gerakan lambat. "Aku pulang kalau kamu janji minggu ini bicara dengan pengacara. Aku mau tanggal yang jelas."
"Yuni."
"Tanggal, Ko Albert. Bukan alasan."
Ia berjalan pergi sebelum Albert menjawab, meninggalkan parfum dan bisikan orang-orang di koridor.
Malam itu, di Apartemen Golden Crown, Yuni duduk di sofa sambil menggulir layar ponsel. Ia membaca beberapa pesan di grup kenalannya. Sebagian mengejek Albert, sebagian menyebut Liana sebagai istri tua yang tiba-tiba berani melawan.
Yuni tidak marah karena Liana dihina. Ia marah karena komentar masih menempatkan Liana sebagai pihak yang dikasihani.
Ia ingin Liana kotor.
Jari Yuni berhenti di satu nama lama.
Boonwen Phang.
Teman SMA itu dulu pernah membanggakan diri karena menjadi murid Profesor Linus Yang. Bertahun-tahun kemudian, namanya tenggelam setelah kasus manipulasi data penelitian. Profesor Linus mengeluarkannya dari tim dan menolak semua rekomendasinya. Sejak itu Boonwen hidup dari proyek kecil, jasa tulis artikel bayangan, dan kebencian yang dipelihara rapi.
Yuni menelepon.
"Boonwen, masih ingat Profesor Linus?"
Di seberang, suara pria itu tertawa pendek. "Orang tua itu? Apa dia mati?"
"Belum. Sayangnya masih kuat. Dan sekarang dia ikut campur urusan Ko Albert."
"Aku tidak peduli suamimu."
"Belum suami." Yuni tersenyum tipis. "Tapi kamu mungkin peduli kalau aku bilang ada cara membuat nama Profesor Linus kotor."
Hening sebentar.
"Lanjut."
Yuni menyandarkan punggung ke sofa. "Ada perempuan bernama Liana Liem. Mantan istri Albert. Umurnya lima puluh. Dekat dengan Profesor Linus sejak muda. Sekarang tiba-tiba Profesor Linus turun tangan membela dia, lalu karier Ko Albert jatuh."
"Kamu mau aku menulis apa?"
"Tidak perlu bukti. Cukup pertanyaan. Di forum akademik, orang lebih suka tanda tanya daripada fakta."
Boonwen tertawa lebih jelas kali ini. "Kamu masih pintar memancing lumpur."
"Kamu masih benci dia, kan?"
"Benci?" Suara Boonwen merendah. "Dia menghancurkan karierku hanya karena beberapa angka di data."
Yuni tidak peduli apakah Boonwen bersalah. Yang ia butuhkan hanya pria yang cukup dendam untuk menulis.
"Kirim ke forum anonim dan beberapa grup WhatsApp akademik. Jangan pakai namaku."
"Aku tidak sebodoh itu."
Pukul sebelas lewat tiga puluh tujuh malam, Boonwen duduk di kamar kontrakan sempit dengan laptop tua di meja. Di sampingnya ada gelas kopi instan dan asbak penuh. Layar forum akademik anonim terbuka.
Ia mengetik pelan, menikmati setiap kata.
Judul: Ada apa antara mantan istri dosen UI dan Profesor Linus Yang?
Isi postingan pertama tidak panjang.
Mantan istri seorang profesor UI, perempuan 50 tahun, mendadak dekat lagi dengan Profesor Linus Yang setelah proses cerai. Tidak lama kemudian, karier mantan suaminya jatuh. Kebetulan?
Boonwen membaca ulang, lalu menambahkan kalimat terakhir.
Akademisi senior seharusnya menjaga etika, bukan memakai pengaruh untuk urusan pribadi.
Ia menekan tombol unggah.
Sepuluh menit kemudian, angka di pojok bawah berubah.
47 kali dilihat.
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/