Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari bantuan : 13
Ia perhatikan sekali lagi kamar sebelumnya rapi, sering disemprot parfum wangi Mawar, kini bak kapal pecah. ”Aku harus mencari solusi, bantuan agar banyaknya rencana balas dendam tersusun di otak bisa terealisasikan.”
Helyara berjalan seperti tidak menginjak lantai, belum sanggup masuk ke kamar adiknya, kembali dipungut telepon tergeletak di lantai.
Kali ini Helya duduk di sofa, menekan nomor di hafal luar kepala. Tak peduli pada tagihan akan membengkak atau bakalan ketahuan, semua itu bisa dipikirkan dan diselesaikan nanti.
Sambungan terhubung keluar negeri, saudara paling dekat dan mau saling membantu.
“Halo ….” sapanya parau.
“Helyara, ini kamu, kan?” balas suara nan jauh di sana, merasakan kejanggalan.
“Kinan, mas Prayoga ada?” Helya lelah hanya untuk sekedar basa-basi. Selagi pikirannya masih fokus, tak ingin menyia-nyiakan barang sedetik pun.
Kinan menjawab, dalam hati timbul tanya. “Ada, aku panggilkan sebentar ya?”
Dalam penantian, sepasang netra sendu memandang ruangan luas sampai terlihat lemari sekat dengan ruang makan dan dapur. Hunian yang dulu penuh canda tawa, gudang rasa bahagia, sekarang udara sekitar terasa mencekik leher.
“Helyara, ada apa Dek?” tanya suara ramah, penuh perhatian. Dia dan Helya saudara sepupu.
Kata 'Dek', terasa sejuk layaknya embun pagi, membuatnya merasa tak sendirian di dunia ini, hatinya langsung lemah, dan ia menangis histeris.
“Mas ….” Helya membekap mulut, suaranya tersumbat di tenggorokan.
“Helya, kamu baik-baik saja, kan?” Kinan mengkhawatirkan sahabat sedari masa putih biru hingga kini.
“Kalau mau nangis, tumpahkan lah supaya hatimu sedikit lega, baru sesudahnya ceritakan apa yang membuatmu gundah,” suara Prayoga persis ayahnya Helya.
“Aku, Helya … dicurangi, dikhianati. Alan dan keluarganya melakukan konspirasi membodohi dan entah apa lagi rencana mereka. Yang jelas belum selesai atau sudah berjalan hampir mencapai garis finish,” akhirnya dia bisa mengadu, dan berhasil keluar dari kebiasaan selalu diam, tertutup.
“Sejak kapan, Helya? Kenapa kamu gak ada cerita? Terus sekarang gimana keadaanmu, baik-baik saja, kan? Gak dicelaki mereka, kan?” Kinan mencecar, dia paham kepribadian sahabat sekarang jadi sepupu ipar.
“Sayang, kasih kesempatan untuk Helya bercerita dulu,” teguran lembut dari sang suami.
“Maaf, aku kelepasan saking terkejut dan marah.”
Helyara dapat mendengar jelas percakapan sahabat dan kakak sepupu lebih tua empat tahun darinya.
Dengan suara serak, sesekali kalimat terjeda disebabkan sedu sedan, Helyara menceritakan fakta yang baru saja diketahui lewat petunjuk dan pengakuan bi Mirma.
Tangis Kinan tak kalah keras dari sahabatnya. “Astaga Helya, kenapa sampai begitu lama kamu baru tau?”
Kinan emosi, gemas, kesal, dan sedih. Sifat tertutup Helya, enggan bersosialisasi, memilih menjaga jarak dan sangat mandiri, membuatnya sulit didekati.
“Gapapa, masih belum terlambat, Dek. Setidaknya kamu baik-baik saja, kesehatan juga harus disyukuri agar bisa berdiri tegar, membalas setiap rasa sakit yang mereka torehkan. Mas dan Kinan pulang ya, kita hadapi sama-sama. Boleh?”
Ingin sekali dia mengatakan 'iya', tapi urung karena sama saja memupuskan harapan sebuah keluarga kecil.
Prayoga dan Kinan sama-sama tengah berkuliah ke jenjang pendidikan tinggi lanjutan. Sudah 7 tahun mereka tinggal di luar negeri, sedari Helyara belum menikah.
Sewaktu orang tua dan adik Helya meninggal dunia, mereka tidak bisa pulang dikarenakan masa pandemi. Pun pas pernikahan dengan Alandi, juga tak dapat hadir.
Selain kuliah, Prayoga juga menjalankan bisnis jam tangan milik keluarga. Memintanya pulang sama halnya mengacaukan rencana yang pasti sudah tersusun rapi.
“Jangan, Mas. Biar kuhadapi sendiri saja —”
“Jangan nekat, Helyara! Kamu bisa celaka kalau gak hati-hati! Niat mereka sudah jelas mau menguasai hartamu!” Kinan memperingati.
“Aku tau, Kinan. Tapi keadaan gak sesimpel itu. Aku juga belum tau sampai mana tindakan mereka, sebanyak apa uangku dikuras,” Helya paham akan kecemasan sahabatnya.
“Helya maunya bagaimana? Katakan saja! Biar Mas bantu semaksimal mungkin.”
“Tolong carikan pengacara terpercaya, dan seorang detektif profesional, Mas. Aku mau mengetahui sampai hal terkecil tentang para manusia durjana itu,” pintanya yakin.
Helya bisa dibilang tidak akrab dengan dunia hukum, pertama kali dia berhadapan dengan seorang pengacara sewaktu menerima warisan kedua orang tuanya setelah kepergian mereka. Dia adalah ahli waris tunggal, hak adiknya juga jatuh kepadanya.
“Baik, mas tanyakan sebentar ke lembaga firma hukum terpercaya dan telah memiliki nama. Soal gender gak masalah mau wanita atau pria, kan?” Yoga tetap ingin mengusahakan kenyamanan agar Helya bisa berpikir jernih menghadapi masalah pelik.
“Bisa Mas. Mau perempuan atau laki-laki sama saja, asal mereka bisa membalikkan keadaan,” ujarnya tegas.
“Baik. Apa ada lagi yang bisa Mas bantu?”
“Minta tolong ke pengacara atau detektif untuk membelikan Helya ponsel sekaligus kartunya, Mas?” setelah dipikir-pikir, dia harus memiliki handphone rahasia.
“Nanti Mas bilang ke pengacara yang ditunjuk lembaganya.”
“Terima kasih, Mas,” ucapnya tulus penuh rasa syukur.
“Kita saudara, jangan sungkan bicara, ungkapkan jika ada masalah, butuh bantuan,” balas pria berumur 31 tahun, sedang menanti kelahiran anak pertamanya.
“Helya, gitu nanti kamu udah punya hp baru, wajib video call. Aku yakin ada yang kamu sembunyikan, iya kan?” permintaan Kinan diiringi nada paksaan dan prasangka.
“Iya, Nan. Banyak hal aku rahasiakan. Maaf, bukan gak mau berbagi cerita, tapi aku merasa selama ini hidup di lingkungan nyaman, punya suami pengertian meskipun ibunya bermulut pedas,” ia sesalkan sikap kelewat tertutup.
“Gapapa, aku ngerti. Gak mudah bagi orang introvert akut kayak kamu untuk cerita secara gamblang. Sekarang yang harus dirimu lakukan, belajar tenang, perbaiki suasana hati sambil menunggu tim pengacara datang,” Kinan memberikan saran.
Prayoga menimpali. “Dek, nanti usahakan jujur ke pengacara, biar mereka lebih mudah membelamu, mencari bukti yang memberatkan Alan berserta keluarganya.”
“Aku usahakan. Mas Yoga, Kinan, terima kasih,” ia sangat bersyukur masih ada orang mau mengulurkan tangan disaat seperti ini.
“Kami akan selalu mendukung, berada di pihakmu. Apa Helya butuh tambahan dana —”
Cepat-cepat Helyara memotong kalimat kakak sepupunya. “Kalau uang, aku gak kekurangan, Mas. Masih ada tabungan lain selain pendapatan dari dua toko emas Ayah.”
Prayoga dan istrinya menasehati, menyemangati, lalu mereka memutuskan sambungan telepon seluler, nanti akan disambung lagi kalau Helya sudah memakai ponsel baru.
Selagi menunggu pengacara yang ditunjuk kakak sepupunya, Helya termenung duduk di sofa, pikirannya berkelana teringat masa lalu.
Alandi yang selalu ada menemaninya disaat berduka, membantu semaksimal mungkin menyelesaikan urusan pemakaman kala itu rumit dikarenakan protokol kesehatan.
Tak terasa hampir dua jam lamanya Helyara melamun, sampai terdengar suara bel terletak di tembok pagar bagian dalam, bisa dimasuki sebuah lengan.
.
.
Bersambung.
mau minta duitmu itu, Hel...
tabok aja mukanya...bilang aja, reflek karena kaget 🤭
mobil udah di jual..
abis ini cari rumah baru.
rumah lama mau di apain nih?
kan umumnya yg dtang ke toko emas,orang yg punya duit 🤭