NovelToon NovelToon
Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Ibu Tiri
Popularitas:56.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"

Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.

"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?

Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...

Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Tamu dari Bandara

Di dalam ruang kelas yang ber-AC sejuk, dosen killer yang terkenal hobi memotong nilai mahasiswa akhirnya masuk dan mulai menyalakan proyektor. Suasana mendadak hening seketika. Semua mahasiswa, termasuk Yeyen dan Hilma, langsung sibuk membuka buku catatan mereka dengan rapi. Rendra di sebelah kiri Keisha juga sudah fokus menatap ke depan, sesekali mencatat poin penting yang tertera di slide presentasi.

Hanya Keisha yang fokusnya buyar total. Di bawah kolong meja kuliah, tangannya meraba tas ransel, memastikan ponsel pintarnya berada dalam mode getar.

Drrrt ....

Ponselnya bergetar pendek di dalam genggaman. Keisha sedikit menundukkan kepalanya, mengintip layar di balik punggung Rendra agar tidak dicurigai oleh dosen. Begitu melihat nama kontak "Kak Satria" muncul di bilah notifikasi dengan balasan status WhatsApp, jantung Keisha langsung berdegup dua kali lebih cepat secara tidak sah.

Ia membuka pesan itu dan membaca baris kalimatnya.

Kak Satria:

Kakak bisa belikan cokelat buat kamu, Dek. Mau yang merek apa? Bilang sekarang, nanti sore Kakak antarkan ke rumah.

Keisha melongo di kursinya, hampir saja menjatuhkan ponselnya ke lantai. Matanya mengerjap-ngerjap menatap layar, membaca tulisan itu berulang kali untuk memastikan ia tidak sedang berhalusinasi akibat kurang tidur.

Hah? Ini si Kanebo Kering beneran lagi memantau status WhatsApp aku? Sejak kapan seorang Mayor TNI AD punya waktu luang buat patroli medsos?! batin Keisha berteriak frustrasi, campur aduk antara rasa baper yang mendadak menyerang pertahanannya dan rasa geregetan setengah mati.

Apalagi, kalimat itu diakhiri dengan panggilan 'Dek' yang belakangan ini sukses membuat hatinya morat-marit. Keisha bisa merasakan dengan sangat jelas intensitas kepemilikan dan nada cemburu yang kaku dari balik ketikan teks yang dikirimkan oleh kakak iparnya. Pria itu seolah tidak rela ada laki-laki lain yang memberikan barang kesukaannya.

Dengan emosi yang mendadak naik ke ubun-ubun, jiwa barbar Keisha langsung terpancing untuk membalas dengan ketikan yang tak kalah sengit.

Keisha:

Nggak usah, Kak! Makasih banyak atas tawarannya yang terhormat! Cokelat dari Rendra udah manis banget kok, pas takarannya di lidah aku. Kakak mending fokus dinas aja, jangan hobi mantau status anak kuliahan. Nanti lencana Mayor Kakak bisa luntur! 😜

Setelah menekan tombol kirim, Keisha langsung mematikan layar ponselnya dengan kasar dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia bersandar pada kursi dengan napas yang sedikit memburu, wajahnya terasa sangat panas dan memerah padam.

Yeyen yang duduk di sebelah kanan Keisha menyadari perubahan drastis pada wajah sahabatnya. Ia menyenggol lengan Keisha dengan pulpennya sembari berbisik lirih. "Kei, lu kenapa? Muka lu merah banget kayak kepiting rebus. AC-nya kurang dingin ya?"

"Enggak, Yen. Ini ... otak gue lagi kena radiasi materi metopen aja. Pusing," bohong Keisha asal, menutupi kegilaan yang sedang bergejolak di dalam dadanya.

***

Sementara itu, beberapa jam kemudian di tempat yang berbeda, deru mesin pesawat yang mendarat terdengar silih berganti di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sore itu, bandara tampak sangat padat oleh lalu lalang penumpang. Gerimis tipis yang mengguyur area luar bandara menambah sejuk suasana udara Jakarta.

Satria melangkah tegap menyusuri koridor area kedatangan domestik. Pria itu masih mengenakan seragam dinas harian (PDH) Mayor TNI AD lengkap dengan baret hijau yang terpasang rapi di kepalanya, mengingat ia langsung meluncur ke bandara begitu jam kantornya usai tanpa sempat pulang untuk berganti pakaian. Postur tubuhnya yang tinggi bidang dan gagah berani seketika menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata di area ruang tunggu.

Dari kejauhan, sepasang matanya yang tajam langsung menangkap sosok dua orang paruh baya yang sangat ia hormati berjalan keluar dari pintu pembatas bagasi. Itu Bu Reni, ibunya, dan Ayah Isa, ayahnya. Namun, ada satu hal yang membuat langkah kaki Satria sempat tertahan sejenak. Kedua orang tuanya tidak datang berdua saja. Di belakang mereka, berjalan seorang gadis muda yang membawa koper kecil.

"Satria!" seru Bu Reni riang begitu melihat anak laki-lakinya berdiri tegap menyambut mereka.

Satria melangkah maju, lalu segera meraih tangan ibunya dan ayahnya bergantian untuk dicium dengan takzim penuh hormat. "Bagaimana penerbangannya, Ibu, Ayah? Lancar?"

"Alhamdulillah lancar, Nak. Wah, anak Ibu makin gagah saja pakai seragam begini," puji Bu Reni sembari mengusap lengan kemeja dinas Satria dengan bangga.

Ayah Isa menepuk pundak tegap anaknya sembari tersenyum berwibawa. "Rafka tidak ikut menjemput, Satria?"

"Rafka di rumah bersama Eyang Utinya, Ayah. Tadi siang sudah dijemput dari sekolah," jawab Satria dengan nada suaranya yang berat dan formal seperti biasa.

Mata Satria kemudian bergulir lambat, menatap lurus ke arah gadis muda yang berdiri di samping ibunya. Gadis itu memiliki paras yang sangat ayu, berambut hitam legam yang dikuncir rapi, dengan gaya pakaian kasual yang sangat sopan dan anggun.

Bu Reni yang menyadari arah pandang anaknya langsung menepuk dahinya pelan sembari tertawa kecil. "Oh iya, Satria, Ibu sampai lupa mengenalkan. Kamu masih ingat kan? Ini Ingrid, anak dari sepupu Ibu di kampung. Kamu terakhir ketemu ia waktu masih remaja dulu."

Satria hanya memberikan anggukan kecil yang sangat kaku sebagai respons.

"Ingrid ini sengaja ikut Ibu sama Bapak ke Jakarta karena ia ingin mencari pekerjaan di sini, Nak," lanjut Bu Reni menjelaskan skenario kedatangan mereka. "Jadi, untuk sementara waktu selama ia belum dapat tempat kos atau mes, Ibu minta dia tinggal dulu di rumah kamu. Kebetulan kan rumah kamu besar dan kosong sejak kamu kembali dari rumah mertuamu. Jadi, selain cari kerja, Ingrid nanti bisa sekalian bantu-bantu menjaga Rafka kalau kamu sedang dinas malam atau latihan."

Mendengar penuturan dari ibunya, rahang tegas Satria mengetat samar selama beberapa detik. Pikirannya langsung melayang pada draf rencana lamaran tak kasat mata yang sedang ia siapkan untuk Keisha. Kehadiran orang baru di rumah pribadinya tentu saja sedikit banyak akan mengubah dinamika yang ada. Namun, sebagai anak yang sangat patuh, Satria tidak mungkin membantah perintah ibunya di depan umum.

"Baik, Ibu. Rumah selalu terbuka untuk keluarga," jawab Satria tenang, suaranya terdengar datar tanpa riak emosi sedikit pun.

Gadis berparas ayu itu, Ingrid, melangkah maju satu langkah ke hadapan Satria. Sepasang mata indahnya menatap wajah tegas sang Mayor dengan binar kagum yang tidak bisa disembunyikan. Dengan gerakan yang teramat anggun dan sopan, Ingrid mengulurkan tangan kanannya yang halus ke arah Satria, bermaksud menyapa hangat sepupu jauhnya yang kini telah menjadi seorang perwira tinggi militer.

"Selamat sore, Kak Satria. Apa kabar? Mohon bantuannya ya selama Ingrid menumpang di Jakarta," sapa Ingrid dengan nada suara yang teramat lembut dan mendayu-dayu, sangat kontras dengan gaya bicara Keisha yang biasanya melengking barbar.

Bersambung...

1
Wiek Soen
kayaknya Satria mw bilang klo sdh melamar Keisha
Wiek Soen
ternyata oh ternyata ada niat terselubung Ingrid,semoga Satria konsisten dg Keisha
Naufal Affiq
ngomong aja satria,kalau kau sudah punya pilihan calon istri,biar orang tua mu tau
Fa Yun
totalitas sekali carmuk mu Astrid
Teh Euis Tea
wahh bibit ulat bulu nih si inggrit
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut mak ghin 🥰🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🤣🤣🤣Ingrid caper niiih
Mutaharotin Rotin
makasih 🥰🥰🥰🥰maj ghin 🙏🙏
Ruwi Yah
Ingrid tebar pesona nih,, jangan harap satria tergoda ya
Ruwi Yah
jelas banget kalau Ingrid terpesona secara satria paket komplit
iqha_24
ulat bulu carmuk
Nar Sih
jgn bersandiwara sok rajin ingrid ,hnya untuk cari perhatiaan satria ,ngk mempan
merry yuliana
beuhhh nongol dah si ulet keket ayo key libas semua
Dcy Sukma
Mo mondar-mandir kayak setrikaan ya gkan ngaruh ke pak mayor,lawong mata hatinya udah nancep ke hati Keisha seorang🤭..
🌷Vnyjkb🌷
niat mu welekkkkkk tenan cah 🤮🤮😜😜
Nar Sih
pasti ingrid tergoda dgn satria dan pasti punya rencana yg aneh,,
Nunung Elasari
spek perempuan idaman mayor adalah neng kei 🤭
Titik Subekti
wah klihatan nich uler keket mulai aksinya
murni ali
Lanjut up nya mbak penulis makin pinisirin nihhh para emak" berdaster.
Gimana yaaa sikap ayah ibunya satria 🤭

Semangat terus author sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹
Rarik Srihastuty
ternyata inggrid datang membawa misi untuk menggaet pak duda kaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!