Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Jalan Menuju Kebebasan
Malam itu menjadi malam terpanjang bagi Ryosuke Tagawa.
Setelah Hana berhasil melewati celah kecil di antara gudang tua dan tembok luar Kota Garnisun Valen, Ryosuke tetap berdiri di tengah halaman kompleks militer Empire Krusador. Suara langkah kaki para prajurit semakin mendekat dari berbagai arah, sementara cahaya obor membuat seluruh area terlihat seperti lautan api.
Namun Ryosuke tidak bergerak mundur.
Ia tahu keputusan yang ia ambil berarti dirinya harus menghadapi pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Tetapi selama perhatian mereka tertuju kepadanya, Hana memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
Dan itu sudah cukup.
"Kau benar-benar memilih jalan yang sulit."
Komandan Krusador berjalan mendekat sambil memperhatikan Ryosuke yang masih memegang kedua pedangnya.
"Biasanya seseorang akan memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri."
Ryosuke tidak menjawab.
Tatapannya tetap mengarah ke jalan yang tadi digunakan Hana.
Ia hanya ingin memastikan tidak ada prajurit yang mengejar adiknya.
Komandan itu tersenyum tipis.
"Jadi gadis itu sangat penting bagimu."
"Menarik."
"Orang-orang seperti kalian selalu sama."
"Berpikir bahwa ikatan kecil dapat melawan kekuatan sebuah kerajaan."
Kata-kata itu membuat Ryosuke perlahan mengangkat Tenkū Matō.
"Aku tidak melawan kerajaan."
"Aku hanya melawan orang yang mengambil keluargaku."
Angin malam melewati halaman benteng.
Kemudian Ryosuke bergerak.
Pasukan Krusador langsung maju.
Pertarungan kembali terjadi.
Kali ini Ryosuke tidak lagi berusaha mencari jalan untuk membawa Hana bersamanya. Ia hanya perlu bertahan selama mungkin, mengulur waktu sampai jarak antara mereka cukup jauh.
Hyoho Niten Ichi-ryū kembali mengalir.
Gerakan dua pedangnya berbeda dari sebelumnya.
Nichirin-gatana bergerak cepat seperti cahaya yang membelah kegelapan, sementara Tenkū Matō mengikuti dengan gerakan berat yang memberikan tekanan besar kepada lawan.
Beberapa prajurit menyerang bersamaan.
Ryosuke memutar tubuhnya, menghindari serangan tombak, lalu menggunakan sisi pedangnya untuk menjatuhkan lawan tanpa membuang tenaga.
Ia tidak memiliki kemewahan untuk bertarung lama.
Setiap gerakan harus memiliki arti.
Namun pasukan Krusador tidak berhenti.
Mereka terus datang.
Dari belakang barisan utama, beberapa prajurit mulai mengangkat kristal Rune.
Ryosuke langsung menyadari perubahan itu.
Meriam Rune.
Senjata yang menggunakan kristal sihir untuk melepaskan energi elemen.
Api.
Angin.
Petir.
Bahkan sihir bumi yang dapat menghancurkan pertahanan.
Jika mereka menembakkannya di tempat sempit seperti ini, bukan hanya dirinya yang akan terluka.
Seluruh bangunan di sekitar mereka dapat hancur.
Ryosuke bergerak sebelum mereka selesai mengisi energi.
Ia menerobos barisan depan.
Satu langkah.
Satu tebasan.
Dua prajurit pengguna kristal jatuh sebelum sempat menyerang.
Namun gerakannya mulai melambat.
Luka yang ia dapatkan sejak memasuki kompleks mulai terasa.
Bahu kirinya terluka.
Napasnya semakin berat.
Tetapi ia tetap berdiri.
Di luar tembok kota, Hana terus berlari.
Ia tidak tahu berapa lama ia telah berjalan.
Kakinya mulai lelah, tetapi ia tidak berhenti.
Setiap kali ingin memperlambat langkah, bayangan Ryosuke yang berdiri sendirian menghadapi pasukan Krusador kembali muncul di pikirannya.
"Kak Ryosuke..."
Hana menggenggam pakaian di dadanya.
Ia takut.
Tetapi ia juga tahu pengorbanan kakaknya tidak boleh sia-sia.
Sementara itu, di dalam kota, keadaan mulai berubah.
Komandan Krusador menyadari bahwa pengejaran mereka terlalu lama tertahan.
"Dia hanya satu orang."
"Kenapa belum jatuh?"
Para prajurit mulai ragu.
Mereka menghadapi seseorang yang tidak menyerang karena kebencian.
Tidak menyerang karena ingin membalas.
Tetapi seseorang yang hanya memiliki satu tujuan.
Bertahan.
Dan itu membuat Ryosuke jauh lebih sulit dihentikan.
Namun akhirnya, komandan mengangkat tangannya.
"Gunakan Beast Crust Rune."
Beberapa prajurit terdiam.
Senjata itu bukan senjata biasa.
Beast Crust Rune Cannon adalah teknologi rahasia Empire Krusador yang menggunakan manipulasi mana dan inti monster untuk menghasilkan kekuatan yang jauh lebih mengerikan daripada meriam Rune biasa.
Tetapi perintah komandan tidak bisa dibantah.
Kristal mulai dipasang.
Ryosuke melihat perubahan itu.
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah.
Ia tahu senjata seperti itu bukan sesuatu yang boleh diremehkan.
Dan saat energi gelap mulai berkumpul dari senjata tersebut, Ryosuke menyadari satu hal.
Ia tidak bisa terus bertahan di sini.
Ia harus keluar.
Bukan untuk dirinya.
Tetapi agar suatu hari nanti ia bisa kembali melindungi Hana.
Energi gelap mulai berkumpul di dalam Beast Crust Rune.
Suara getaran dari senjata itu berbeda dari meriam Rune biasa. Jika meriam Rune menggunakan kekuatan elemen yang berasal dari kristal sihir, maka Beast Crust Rune menggunakan sesuatu yang jauh lebih tidak stabil. Mana dipaksa menyatu dengan inti makhluk buas, menciptakan energi liar yang sulit dikendalikan.
Bahkan para prajurit Krusador yang berada di dekatnya terlihat menjaga jarak.
Mereka mengetahui kekuatan senjata tersebut.
Mereka juga mengetahui bahayanya.
Ryosuke berdiri di tengah halaman sambil menatap senjata itu.
Bayangan tragedi desanya kembali muncul dalam pikirannya.
Malam ketika cahaya kehancuran turun.
Rumah-rumah runtuh.
Penduduk berubah menjadi monster karena pengaruh kekuatan yang tidak seharusnya digunakan manusia.
Dan sekarang, senjata yang sama berdiri di hadapannya.
Tetapi kali ini Ryosuke tidak memiliki Tenkū Matō yang sepenuhnya terbuka.
Ia tidak memiliki pasukan.
Ia hanya memiliki dirinya sendiri.
"Menyerah."
Suara komandan terdengar.
"Kau tidak akan menang melawan kekuatan ini."
Ryosuke menggenggam kedua pedangnya lebih erat.
"Aku tidak datang untuk menang."
"Aku hanya datang untuk mengambil kembali apa yang kalian ambil."
Komandan memberi isyarat.
Beast Crust Rune siap ditembakkan.
Namun sebelum energi itu dilepaskan, Ryosuke bergerak.
Ia tidak menuju arah senjata.
Ia menuju arah pasukan yang menjaga sisi belakang kompleks.
Para prajurit terkejut.
Mereka mengira ronin itu akan mencoba menghancurkan meriam.
Tetapi Ryosuke tahu itu mustahil.
Satu-satunya cara adalah membuka jalan.
Dengan teknik Hyoho Niten Ichi-ryū, ia menyerang celah terkecil di antara barisan musuh.
Nichirin-gatana menangkis serangan pertama.
Tenkū Matō menghantam tanah di depan beberapa prajurit, menciptakan tekanan yang membuat formasi mereka kacau.
Untuk sesaat, jalan terbuka.
Dan itu cukup.
Ryosuke berlari.
"Kejar dia!"
Teriakan komandan menggema.
Pasukan langsung mengejar.
Namun Ryosuke sudah melewati tembok belakang kompleks dan masuk ke area luar kota.
Ia tidak berhenti.
Ia terus bergerak melewati hutan kecil di luar garnisun.
Napasnya semakin berat.
Tubuhnya mulai kehilangan tenaga.
Tetapi ia tahu jika berhenti sekarang, semua pengorbanan Hana akan sia-sia.
Beberapa jam kemudian, suara kota mulai menghilang.
Ryosuke akhirnya berhenti di bawah pohon besar.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia membiarkan tubuhnya beristirahat.
Ia melihat kedua pedangnya.
Nichirin-gatana.
Tenkū Matō.
Dua pedang dengan kekuatan berbeda.
Cahaya dan kegelapan.
Sama seperti jalan yang harus ia jalani.
Ia menutup mata.
Dalam pikirannya, ia melihat wajah Hana sebelum berpisah.
Wajah seorang adik yang ketakutan, tetapi tetap percaya kepadanya.
"Aku akan menemukanmu lagi."
Bisikan itu keluar perlahan.
Sementara itu, jauh dari sana, Hana akhirnya mencapai sebuah jalur kecil menuju wilayah perbatasan.
Namun tubuhnya sudah tidak kuat.
Ia berhenti di bawah pohon dan mencoba mengatur napas.
Ia berhasil keluar.
Tetapi sekarang ia sendirian.
Tidak ada Ryosuke.
Tidak ada rumah.
Tidak ada tempat untuk kembali.
Hanya ada jalan panjang di depannya.
Tetapi sebelum ia menyerah, ia melihat sesuatu dari kejauhan.
Sebuah tanda.
Bendera yang berkibar di dekat jalan perbatasan.
Lambang Green Continent.
Hana tidak tahu siapa yang berada di sana.
Ia hanya tahu itu adalah satu-satunya harapan yang tersisa.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia berjalan menuju arah tersebut.
Kembali ke sisi Ryosuke, pagi mulai tiba.
Cahaya matahari perlahan muncul di antara pepohonan.
Ryosuke berdiri.
Luka di tubuhnya masih terasa.
Namun pikirannya telah berubah.
Ia tidak lagi hanya seorang ronin yang berjalan tanpa tujuan.
Ia memiliki seseorang yang harus ia lindungi.
Ia memiliki alasan untuk terus maju.
Dan perang yang dimulai dari kehancuran desanya kini telah membawa dirinya menuju sesuatu yang jauh lebih besar.
Tanpa Ryosuke sadari, keputusan malam itu akan menjadi awal dari perjalanan yang mempertemukannya dengan orang-orang yang kelak berdiri di sisinya.
Namun sebelum itu terjadi, ia masih harus menemukan kembali Hana.
Dan menghadapi dunia yang perlahan terbakar oleh ambisi Empire Krusador.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉