Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Setelah memastikan para pelayan mulai menyiapkan makan malam sesuai perintahnya, Arabelle memutuskan berkeliling rumah. Rumah keluarga Anderson memang sangat besar. Bahkan, menurut Ara, terlalu besar untuk ditinggali empat orang.
Ditambah beberapa pelayan. Gadis itu berjalan menyusuri ruang keluarga. Kemudian berhenti di depan sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding.
"Ini lukisan atau harga satu rumah kontrakanku?" Gumamnya pelan berlagak seperti orang susah, tentu saja Ara tahu berapa harga lukisan itu.
Beberapa pelayan yang mendengar langsung menundukkan kepala menahan senyum. Ara lalu kembali berjalan, matanya mengamati.
Sampai akhirnya seorang pelayan mendekatinya.
"Nyonya Ara."
Ara menoleh. "Hm?"
"Barang-barang Nyonya sudah dipindahkan."
"Oh?"
"Semua koper dan barang pribadi sudah berada di kamar."
Ara mengangguk santai. "Cepat juga."
"Apakah Nyonya ingin diantar ke kamar sekarang?"
Ara berpikir sejenak.
Memang sejak datang tadi ia belum sempat melihat kamarnya.
"Baiklah."
Pelayan itu langsung tersenyum lega.
"Silakan ikuti saya."
Ara mengangguk lalu mengikuti pelayan tersebut. Mereka menaiki tangga utama menuju lantai dua. Ara memperhatikan koridor panjang yang dipenuhi pintu-pintu besar.
Rumah ini benar-benar seperti hotel.
"Lantai dua semuanya kamar?" tanyanya.
"Sebagian besar, Nyonya."
Ara mengangguk. Lalu kembali mengikuti pelayan itu. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan pintu terbesar di ujung koridor.
Ara mengangkat alis.
"Kamar saya?"
"Benar, Nyonya."
Ara mengangguk, tanpa curiga sedikit pun. Bahwa, kamar yang dimaksud pelayan itu bukan kamar tamu melainkan kamar utama milik Nathan Anderson. Pelayan itu kemudian membuka pintu.
Pintu terbuka perlahan dan seketika Ara membelalak. Ruangan itu sangat besar dana sangat mewah untuk ukuran seorang tamu seperti dia. Bahkan, mungkin lebih besar daripada seluruh rumah kontrakannya.
"Astaga..." Gumam Ara matanya menyapu tempat tidur king size.
Kamar mandi yang bahkan lebih besar dari dapurnya. Ara langsung menunjuk ke dalam ruangan.
"Itu kamar?"
"Ya, Nyonya."
"Itu kamar mandi?"
"Ya, Nyonya."
Ara kembali menunjuk.
"Itu balkon?"
"Ya, Nyonya."
Ara terdiam lama.
Kemudian berkata dengan wajah serius.
"Rumah orang kaya memang tidak masuk akal."
Pelayan itu hanya tersenyum sinis, lalu dalam hati berkata, 'dasar udik, pantesan mau menikah dengan Tuan Nathan, pasti demi uang. Kasian Tuan muda,'
Ara lalu melangkah masuk. Sementara para pelayan saling bertukar pandang. Tidak ada satu pun yang berani menjelaskan. Bahwa kamar tersebut adalah kamar Nathan.
Setelah memastikan Arabelle sudah berada di dalam kamar, para pelayan berpamitan.
"Kalau Nyonya membutuhkan sesuatu, silakan panggil kami."
Ara mengangguk. "Baik."
Tak lama kemudian pintu ditutup. Kini hanya Arabelle seorang diri di dalam kamar besar itu. Gadis itu berjalan mengelilingi ruangan.
"Ini kamar atau apartemen?" Gumamnya.
Saat hendak membuka salah satu koper, telinganya menangkap suara dari luar. Suara seseorang yang sedang berdebat, Ara mengernyit, lalu mendekat ke pintu.
Suaranya berasal dari kamar lain yang tidak terlalu jauh. Theo sedang mondar-mandir seperti orang stres.
"Aku nggak suka dia!"
Elang yang duduk di sofa langsung mendengus.
"Siapa yang suka?"
Theo menunjuk ke luar kamar.
"Wanita warung itu!"
"Namanya Arabelle." Kesal Elang.
"Aku tahu namanya!" Theo kembali mengacak rambutnya.
"Tapi aku tetap nggak suka. Dia mirip boneka Anabel,"
Alya yang duduk di atas tempat tidur ikut mengangguk.
"Aku juga ... dia seperti preman pasar,"
Meskipun dalam hati gadis itu sebenarnya lebih takut Arabelle membocorkan rahasia tentang Reno. Namun, tentu saja ia tidak akan mengatakannya. Elang menyandarkan tubuh ke sofa. Tatapannya dingin, sejak awal ia memang tidak menyetujui pernikahan ayahnya. Apalagi dengan wanita yang usianya bahkan lebih dekat kepada mereka dibanding kepada Nathan.
Theo menjatuhkan diri ke kursi.
"Kita harus melakukan sesuatu."
"Apa?" Tanya Elang.
"Mengusirnya." Jawaban Theo terdengar cepat. Seolah sudah dipikirkan berkali-kali, Elang terdiam Jujur saja dia sendiri juga memikirkan hal yang sama. Menurutnya Arabelle bukan wanita yang tepat untuk keluarga mereka. Wanita itu terlalu berisik dan terlalu suka mengatur. Dan baru beberapa jam datang sudah membuat mereka membersihkan rumah sendiri.
Theo kembali bersuara. "Kak..."
"Hm?"
"Lakukan sesuatu."
Elang menghela napas panjang. Tatapannya menerawang ke arah jendela.
"Aku juga sedang memikirkan itu."
Theo langsung bersemangat.
"Nah kan!"
Alya ikut duduk tegak. "Lalu apa rencananya?"
Elang menyipitkan mata. "Pertama ... kita cari kelemahannya."
Theo langsung mengangguk. "Benar."
"Aku yakin dia punya banyak kelemahan."
Alya ikut menimpali. "Dia juga kelihatan galak."
"Dan menyebalkan," tambah Theo.
"Dan suka mengatur," sambung Alya.
Elang menyilangkan tangan. "Selain itu..."
Theo menunggu dan Alya juga, Elang mendengus pelan.
"Aku tidak percaya dia menikahi Ayah tanpa alasan."
Theo langsung mengangguk keras.
"Setuju!"
"Normalnya wanita muda tidak akan menikah dengan duda yang punya tiga anak."
Alya berkedip. "Jadi?"
Theo langsung menjawab lebih dulu. "Karena uang."
Elang tidak membantah, menurutnya kemungkinan itu cukup besar.
"Ara itu wanita matre." Ucap Theo penuh keyakinan.
"Dan ibu tiri jahat." Tambah Alya.
Elang terdiam sesaat, kemudian mengangguk pelan.
"Apa lagi dia jelas tidak suka pada kita."
Mereka bertiga sama sekali tidak menyadari. Bahwa, wanita yang sedang mereka tuduh matre itu sebenarnya berasal dari keluarga yang jauh lebih kaya daripada keluarga Anderson. Seseorang sedang berdiri sambil mendengarkan semuanya. Arabelle menyandarkan tubuh ke dinding.
Alisnya terangkat tinggi. "Matre?" Gumamnya pelan, kemudian ia terkekeh kecil. Kalau kedua kakaknya mendengar tuduhan itu Kenzo dan Kenzi mungkin akan tertawa selama seminggu penuh.
Namun, satu hal yang berhasil menarik perhatian Ara. Ketiga anak itu belum menyerah. Mereka masih berencana mengusirnya dari rumah ini.
Senyum tipis muncul di bibir Arabelle.
"Baiklah." Bisiknya pelan.
"Kita lihat siapa yang menyerah lebih dulu anak-anak nakal,"
Arabelle, berkacak pinggang di depan kama itu, lalu berteriak.
"Sepuluh menit lagi waktu makan malam! Tidak ada yang tidak keluar untuk makan. Kalau sampai ada yang berani mogok makan, akan ku seret kalian semua ke meja makan!" Tegas Arabelle.
"Kalian dengar?!" Bentaknya dari luar kamar sembari mengetuk pintu kamar itu dengan keras tiga kali.
"Kakak..." Rengek Alya langsung memeluk pinggang Elang.
"Kak, Anabel sudah beraksi lagi," ujar Theo.
"Kalau dia jadi Anabel, kita siap jadi Sumala!" Teriak Elang.
"Hah?!" Alya dan Theo langsung menatap kakak tertuanya.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣