NovelToon NovelToon
Legenda Mutiara Yin-Yang Primordial

Legenda Mutiara Yin-Yang Primordial

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Tiga tahun lalu, Lin Tian adalah jenius nomor satu di Kota Daun Merah sebelum takdir menghancurkan seluruh meridiannya. Menjadi sampah yang diinjak-injak semua orang tidak membuat pemuda ini menyerah pada nasib buruknya.
Keberuntungan berubah saat darahnya membangkitkan Mutiara Yin-Yang Primordial, pusaka kuno yang menyimpan jiwa Permaisuri Iblis seksi bernama Yue Chan. Di bawah bimbingan sang permaisuri, Lin Tian memulai jalan kultivasi ekstrem melalui pembantaian dan kultivasi ganda.
Dia bukan pahlawan suci, melainkan kultivator bermuka tebal yang sangat realistis. Jika musuh terlalu kuat, dia akan melarikan diri, menyebarkan racun, atau menikam dari belakang.
Namun, siapa pun yang berani menyentuh wanitanya akan menghadapi pembalasan paling kejam. Saksikan kisah Lin Tian menghancurkan surga dan menjadi penguasa tertinggi alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Tuan Muda yang Sial

Lin Tian membuka kedua matanya perlahan-lahan saat seberkas cahaya matahari pagi menembus celah-celah lubang pohon tempatnya bersembunyi. Tubuhnya terasa jauh lebih segar setelah menghabiskan sepanjang malam untuk menyerap sisa-sisa esensi darah dari kawanan serigala kemarin.

Luka-luka robek di permukaan kulitnya kini telah menutup sepenuhnya dan menyisakan lapisan kulit baru yang samar-samar berkilau. Dia meregangkan kedua lengannya hingga mengeluarkan suara letupan kecil yang cukup renyah di dalam kesunyian pagi.

‘Bocah, energi spiritual di tempat ini mulai menipis karena ketamakan teknik kultivasimu semalam,’ suara Yue Chan terdengar malas dari dalam kesadaran jiwanya. Wanita iblis itu tampaknya baru saja terbangun dari tidur spiritualnya yang panjang di dalam mutiara pusaka.

Lin Tian tersenyum konyol sambil mengusap liontin hitam yang melingkar di lehernya dengan gerakan santai. ‘Yue Chan yang seksi, jika aku tidak rakus menyerap energi, bagaimana mungkin aku bisa melindungimu dari kejaran orang-orang jahat nanti?’

Yue Chan hanya mendengus sinis mendengar gombalan murah dari pemuda bermuka tebal yang menjadi wadah barunya tersebut. Namun, dia tidak bisa memungkiri bahwa kecepatan adaptasi fisik Lin Tian terhadap energi iblis memang sangat luar biasa.

Lin Tian melompat turun dari atas lubang pohon pinus raksasa dengan gerakan yang sangat ringan dan presisi. Dia membersihkan sisa-sisa daun kering yang menempel pada jubah kain kasarnya yang kini sudah dipenuhi noda darah mengering.

Tiba-tiba, sebuah suara ledakan yang sangat keras terdengar menggema dari arah area dalam hutan belantara tersebut. Getaran dari ledakan itu bahkan membuat beberapa burung malam yang sedang tertidur langsung terbang berhamburan ke langit.

Lin Tian segera merendahkan posisi tubuhnya dan menempelkan telinga kirinya ke atas permukaan tanah batu yang dingin. Melalui getaran tanah, dia bisa merasakan adanya pergerakan massa yang cukup besar dan benturan energi spiritual yang kuat.

‘Ada pertempuran besar yang sedang terjadi sekitar satu mil dari posisi kita saat ini,’ ucap Lin Tian dengan nada suara yang perlahan-lahan berubah menjadi serius. Sifat pragmatisnya segera bekerja, menimbang-nimbang keuntungan apa yang bisa didapatkannya dari situasi mendadak tersebut.

‘Energi spiritual yang berbenturan cukup kacau, tampaknya ada sekelompok manusia yang sedang memburu siluman tingkat tinggi,’ Yue Chan memberikan analisis taktisnya dari dalam ruang kesadaran. Wanita iblis itu bisa merasakan fluktuasi elemen tanah dan api yang sangat dominan di udara terbuka.

Lin Tian menyipitkan kedua matanya sambil menampilkan sebuah senyuman licik yang dipenuhi oleh rencana-rencana kotor. ‘Sempurna sekali, mari kita pergi ke sana untuk melihat apakah ada peluang bagi seekor nelayan cerdas untuk mengambil keuntungan.’

Dengan gerakan yang sangat gesit, Lin Tian mulai menyelinap di antara semak-semak belukar yang lebat menuju ke arah sumber suara. Dia sengaja menekan seluruh hawa keberadaan dan aliran energi spiritual dalam tubuhnya agar tidak terdeteksi oleh radar indra musuh.

Setiap sepuluh langkah, dia akan berhenti sejenak di balik batang pohon besar untuk memastikan situasi di sekitarnya tetap aman. Prinsip utamanya adalah keselamatan diri, jadi jika musuh yang dihadapi ternyata terlalu kuat, dia akan langsung berbalik arah untuk melarikan diri.

Semakin dekat dia dengan pusat pertempuran, aroma hangus dan bau darah segar tercium menjadi semakin menyengat di hidungnya. Daun-daun pohon di sekitar jalur setapak tampak hancur berantakan akibat hantaman gelombang kejut dari energi spiritual luar yang liar.

Lin Tian memanjat sebuah pohon beringin kuno yang dipenuhi oleh lilitan akar gantung yang sangat tebal untuk mendapatkan sudut pandang terbaik. Dari atas dahan pohon yang rimbun, dia bisa melihat sebuah area kliring luas yang telah rata dengan tanah di bawah sana.

Di tengah kliring tersebut, sekelompok kultivator berbaju zirah perak dengan sulaman kepala harimau sedang bertarung dengan sangat sengit. Lin Tian langsung mengenali lambang tersebut sebagai simbol resmi dari Klan Zhao, klan rival terbesar dari keluarganya sendiri di Kota Daun Merah.

‘Ternyata anjing-anjing dari Klan Zhao yang sedang bermain di dalam hutan ini,’ pikir Lin Tian sambil memperhatikan formasi tempur mereka dengan saksama. Matanya yang tajam segera mengunci sosok seorang pemuda berbaju sutra mewah yang berdiri di barisan paling belakang.

Pemuda itu mengenakan jubah perak dengan berbagai macam perhiasan giok yang menggantung di sepanjang ikat pinggang kulitnya yang mahal. Wajahnya yang tampan tampak dipenuhi oleh rona kepanikan meskipun dia terus berteriak memberikan perintah dengan nada suara yang sangat angkuh.

Sosok tersebut tidak lain adalah Zhao Kun, Tuan Muda kedua dari Klan Zhao yang terkenal memiliki sifat sangat sombong dan kejam. Zhao Kun memiliki kultivasi di tingkat keenam ranah pengumpulan Qi, sebuah pencapaian yang cukup lumayan untuk pemuda seusianya di kota kecil.

Namun, saat ini kelompok Zhao Kun yang terdiri dari delapan orang pengawal terlatih sedang berada di dalam situasi yang sangat kritis. Lawan yang sedang mereka hadapi adalah seekor Kera Lengan Baja yang merupakan siluman tingkat kedua ranah awal.

Kera raksasa itu memiliki tinggi hampir empat meter dengan seluruh permukaan tubuhnya dilapisi oleh bulu-bulu abu-abu yang sekeras lempengan besi baja. Sepasang lengan depannya berukuran sangat besar dan proporsional, mampu menghancurkan batu gunung hanya dengan sekali hantaman mentah.

“Kalian para bajingan tidak berguna, cepat tahan kera sialan itu jangan sampai dia mendekat ke arahku!” teriak Zhao Kun dengan suara yang melengking tinggi karena ketakutan yang mendalam.

Dua orang pengawal tingkat kelima pengumpulan Qi mencoba maju ke depan sambil mengayunkan tombak panjang mereka yang dilapisi energi spiritual kuning. Mereka mencoba menusuk bagian mata dari kera raksasa itu untuk menghentikan laju gerakannya yang sangat destruktif.

Namun, Kera Lengan Baja itu hanya mendengus dingin dan langsung mengayunkan lengan kanannya dengan kecepatan yang sangat mengejutkan untuk ukuran tubuhnya. Hantaman lengan baja tersebut langsung mematahkan kedua tombak besi pengawal itu menjadi potongan-potongan kecil dalam sekejap mata.

Tidak berhenti di situ, sapuan angin dari lengan kera itu juga membuat kedua pengawal tersebut terbang ke belakang dengan dada yang hancur melesat ke dalam. Mereka menghantam batu besar hingga memuntahkan seteguk darah segar sebelum akhirnya pingsan kehilangan kesadaran diri sepenuhnya.

Melihat dua rekannya tumbang dengan sangat mudah, seorang pria tua yang bertindak sebagai kapten pengawal langsung melompat maju ke depan arena. Pria tua ini memiliki kultivasi di tingkat ketujuh ranah pengumpulan Qi, menjadikannya petarung terkuat di dalam kelompok bentukan Zhao Kun tersebut.

Pria tua itu mencabut sebuah pedang panjang yang memancarkan kilatan cahaya merah menyala, menandakan senjata tersebut telah dilapisi oleh elemen api. “Tuan Muda Kedua, siluman ini terlalu kuat untuk kita, harap segera mundur sementara saya menahan pergerakannya di sini!”

“Sialan! Aku sudah menghabiskan banyak obat herbal untuk melacak kera ini, aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan inti energinya!” balas Zhao Kun dengan penuh ketamakan yang membutakan akal sehatnya. Sifat kepemimpinannya yang buruk membuat dia mengabaikan peringatan taktis dari pengawal seniornya sendiri demi sebuah keuntungan instan.

Pria tua itu hanya bisa mendesah pasrah lalu mengalirkan seluruh energi spiritualnya ke dalam mata pedang untuk melancarkan teknik tebasan api. Gelombang api berbentuk bulan sabit langsung meluncur dengan cepat menuju ke arah leher Kera Lengan Baja yang sedang meraung keras.

Kera raksasa itu merasakan adanya bahaya maut dari serangan tersebut lalu menyilangkan kedua lengan bajanya di depan dada sebagai perisai alami. Benturan antara tebasan api dan lengan kera menciptakan ledakan suara dentuman yang sangat keras disertai percikan bunga api yang beterbangan.

Meskipun berhasil menahan serangan tebasan api, lapisan bulu keras di lengan kera tersebut tampak hangus terbakar dan mengeluarkan bau gosong yang menyengat. Rasa sakit yang membakar itu langsung memicu amarah liar dari sang siluman hingga sepasang mata besarnya berubah menjadi merah darah.

Kera Lengan Baja itu memukul-mukul dadanya sendiri dengan sangat keras hingga menciptakan suara seperti tabuhan genderang perang yang bertalu-talu. Tubuh besarnya langsung melesat maju ke depan, mengabaikan serangan dari pengawal lain demi mengincar kepala dari pria tua berpedang api tersebut.

Lin Tian yang sedang menonton dari atas dahan pohon beringin kuno tampak tersenyum geli melihat kebodohan yang dipertontonkan kelompok klan rivalnya. ‘Wah, Tuan Muda Zhao Kun ini benar-benar seorang pemimpin yang sangat jenius dalam mengantarkan nyawa anak buahnya ke dalam lubang kubur.’

‘Bocah bermuka tebal, perhatikan pergerakan kera itu karena dia akan segera mengeluarkan teknik bawaan dari garis keturunan silumannya,’ ucap Yue Chan memberikan peringatan spiritual. Sebagai mantan permaisuri iblis, dia memiliki pengetahuan yang sangat luas mengenai struktur anatomi dan kebiasaan dari berbagai jenis makhluk supranatural.

Benar saja apa yang dikatakan oleh Yue Chan, Kera Lengan Baja itu tiba-tiba menghentikan langkah kakinya lalu menghentakkan kedua tangan besarnya ke atas permukaan tanah. Aliran energi spiritual elemen bumi berwarna cokelat tua langsung menjalar dengan sangat cepat di bawah permukaan tanah kliring tersebut.

Bumi di sekitar tempat berdiri pria tua berpedang api itu tiba-tiba bergetar hebat dan memunculkan beberapa tombak batu tajam yang mencuat ke atas. Pria tua itu terkejut setengah mati lalu terpaksa melompat ke udara terbuka untuk menghindari tusukan tombak batu yang mematikan itu.

Namun, melompat ke udara di hadapan seekor siluman kera yang memiliki kelincahan tinggi adalah sebuah kesalahan taktis yang sangat fatal bagi seorang kultivator. Kera Lengan Baja itu sudah memprediksi gerakan tersebut lalu ikut melompat ke atas dengan tangan kanan yang sudah mengepal sangat besar.

Sebelum pria tua itu sempat mengubah posisi tubuhnya di udara, tinju raksasa kera itu sudah mendarat dengan sangat telak tepat di atas perutnya. Suara hantaman yang sangat tumpul menggema, dan tubuh pria tua itu langsung melesat jatuh menghantam tanah laksana sebuah meteor jatuh.

Hantaman itu menciptakan sebuah lubang kawah kecil berdiameter dua meter di tengah kliring dengan tubuh sang kapten pengawal yang terkapar tak berdaya di dalamnya. Pedang api miliknya terlempar jauh dan tertancap di dekat akar pohon tempat Lin Tian sedang bersembunyi saat ini.

Melihat pelindung terkuatnya telah dikalahkan dengan sangat brutal, seluruh keberanian yang tersisa di dalam diri Zhao Kun langsung menguap tanpa bekas. Wajah tampannya kini dipenuhi oleh keringat dingin yang mengalir deras, dan kakinya mulai bergetar hebat hingga dia hampir terjatuh ke atas tanah berdebu.

Tiga orang pengawal yang masih tersisa segera mundur ke belakang untuk melindungi tubuh tuan muda mereka dengan wajah yang sama pucatnya laksana mayat hidup. Mereka menyadari bahwa tanpa adanya kapten pengawal, mereka hanyalah sekumpulan makanan ringan bagi kera raksasa yang sedang mengamuk tersebut.

“Tuan Muda Kedua, kita harus segera melarikan diri dari tempat ini sekarang juga atau kita semua akan mati di sini!” teriak salah satu pengawal dengan penuh kepanikan yang mendalam.

“Benar, benar, cepat bawa aku pergi dari tempat sialan ini!” jawab Zhao Kun dengan suara yang gemetar hebat sambil berbalik arah untuk melarikan diri menuju jalur luar hutan.

Namun, Kera Lengan Baja itu sama sekali tidak berniat untuk melepaskan sekelompok manusia yang telah merusak wilayah kekuasaannya dan melukai lengannya ini begitu saja. Dengan satu lompatan besar yang sangat bertenaga, kera raksasa itu mendarat tepat di depan jalur pelarian kelompok Zhao Kun, menutup jalan pulang mereka sepenuhnya.

Kera itu meraung sangat keras di depan wajah Zhao Kun, menyemburkan bau napas yang sangat busuk bercampur dengan aroma darah yang menyengat indra penciuman. Semburan angin dari raungan kera tersebut bahkan membuat jubah perak mewah yang dikenakan oleh Zhao Kun menjadi robek di beberapa bagian.

Salah satu pengawal yang ketakutan mencoba menusukkan belatinya ke arah paha kera dengan gerakan yang sangat tidak teratur karena kepanikan yang luar biasa. Kera Lengan Baja itu hanya mengibaskan tangan kirinya dengan santai, memukul kepala pengawal tersebut hingga berputar seratus delapan puluh derajat ke belakang.

Pengawal itu langsung tewas seketika di tempat dengan mata melotot tanpa sempat mengeluarkan suara teriakan sedikit pun dari mulutnya yang berdarah. Dua pengawal terakhir yang melihat kematian tragis rekan mereka langsung kehilangan seluruh semangat juang mereka dan menjatuhkan senjata mereka ke atas tanah.

Mereka berlutut dan mencoba memohon ampun kepada siluman kera tersebut laksana seorang budak yang memohon belas kasihan dari sang raja malam. Namun, siluman tingkat kedua tidak memiliki konsep belas kasihan terhadap manusia fana yang dianggap mereka sebagai musuh alami.

Kera raksasa itu mengangkat kedua kaki besarnya lalu menginjak tubuh kedua pengawal yang sedang berlutut itu secara bersamaan dengan kekuatan penuh yang sangat masif. Suara hancurnya jaringan daging dan tulang manusia kembali terdengar memecah keheningan hutan belantara yang mencekam tersebut.

Kini, hanya tersisa Zhao Kun seorang diri yang berdiri di tengah lingkaran mayat para pengawalnya dengan tubuh yang sudah basah oleh air seninya sendiri karena ketakutan yang teramat sangat. Tuan Muda kedua yang biasanya sangat angkuh di Kota Daun Merah itu kini tampak tidak lebih dari seekor anak ayam yang siap disembelih.

Kera Lengan Baja itu mengalihkan pandangan mata merahnya yang besar tepat ke arah wajah pucat milik Zhao Kun dengan ekspresi yang penuh dengan niat membunuh. Namun, kera itu juga tampak sudah mencapai batas kekuatannya karena luka bakar dari tebasan api pria tua tadi terus mengeluarkan darah segar yang cukup banyak.

Langkah kaki kera raksasa itu menjadi sedikit goyah saat dia berjalan mendekati Zhao Kun yang sedang merangkak mundur di atas tanah dengan tangan gemetar. Energi spiritual elemen bumi di sekitar tubuh kera itu juga perlahan-lahan mulai memudar, menandakan dantian miliknya sudah hampir terkuras habis dari pertempuran panjang tadi.

Lin Tian yang menyaksikan seluruh jalannya pertempuran dari atas dahan pohon beringin kuno langsung menyipitkan matanya dengan penuh kalkulasi taktis yang sangat matang. ‘Yue Chan, kera itu sudah berada di titik terlemahnya saat ini, dan Tuan Muda Zhao Kun juga sudah kehilangan seluruh kemampuan bertarungnya.’

‘Bocah licik, saat ini adalah momen emas bagi seekor nelayan sepertimu untuk keluar dan memanen seluruh keuntungan tanpa perlu mengeluarkan banyak keringat,’ jawab Yue Chan dengan sebuah senyuman penuh kelicikan yang sangat selaras dengan pemikiran Lin Tian.

Lin Tian meraba saku jubahnya untuk memastikan pisau belati kecil hasil rampasan dari pengawal Lin Biao semalam masih berada di posisinya yang siap digunakan setiap saat. Sifatnya yang sangat realistis membuat dia tahu bahwa dia harus bergerak dengan sangat cepat dan akurat sebelum kera itu sempat memulihkan energinya atau sebelum Zhao Kun berhasil mengeluarkan harta penyelamat jiwa dari klan keluarganya.

Dengan gerakan yang sangat halus menyerupai seekor kucing malam yang sedang mengincar mangsanya, Lin Tian mulai meluncur turun dari atas dahan pohon beringin kuno menuju ke permukaan tanah tersembunyi. Dia berjalan memutari area kliring dengan memanfaatkan semak-semak belukar yang lebat sebagai pelindung alami bagi tubuh tegapnya.

Matanya terus mengunci pergerakan Kera Lengan Baja yang kini sudah mengangkat tangan kanannya yang besar tinggi-high di udara bersiap untuk menghancurkan kepala Zhao Kun menjadi bubur daging. Zhao Kun sendiri hanya bisa memejamkan kedua matanya dengan rapat sambil menangis histeris meratapi nasib buruknya yang harus berakhir di dalam hutan belantara yang sangat kejam ini.

‘Nikmati saja detik-detik terakhir ketakutanmu, Tuan Muda Zhao, karena setelah kera ini selesai denganmu, giliran aku yang akan mengambil alih seluruh harta simpanan yang berada di dalam cincin penyimpan milikmu itu,’ batin Lin Tian dengan senyuman yang memancarkan kilatan sadis yang sangat dingin di balik kegelapan malam hutan.

1
septian arista
bersikap dingin dan acuh tak acuh boleh saja
tapi ini kok aku rasa keterlaluan bersikap dingin kepada semuanya walaupun orang itu baik dan benar-benar setia kepada dia
septian arista
terlalu dingin
bahkan terhadap orang yang berbuat baik kepadanya
septian arista
bagus
tak perlu membuang-buang energi hanya untuk menyelamatkan orang yang pernah mencampakkanmu dan memandang rendah pada dirimu👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
MC nya kebanyakan makan, di ulang2 mulu membahas makan buah doang
Sutono jijien 1976 Sugeng
jurus petarung jalanan
Arinto Ario Triharyanto
harusnya kultivasi ganda dulu bentar biar tambah joss 🤭
Blue Manusia Biasa
terlalu sombong kau Lin Tian
Arinto Ario Triharyanto
demen dah kalo kultivasi ganda 😎
septian arista
trik yang sangat licik namun memberikan hasil yang sangat apik👍👍👍🤣🤣🤣
septian arista
habis sih sampai ke akarnya jangan Sisakan satupun👍👍👍
yos helmi
tiba2 kakek sakit ??? cerita mulai ngawur.. thor jgn terlalu tolol
Bahari: Iya, saya tolol. maapin ya🙏
total 1 replies
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!