"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 - Perjanjian Tiga Tahun
Musim hujan datang lebih cepat.
Dalam tiga hari, jalan menuju dua desa berubah menjadi lumpur. Pos kesehatan penuh pasien batuk, demam, diare, luka infeksi, dan satu ibu hamil dengan tekanan darah tinggi yang membuat Alya tidak tenang.
Namanya Maria.
Usia kehamilan tiga puluh enam minggu. Anak kedua. Rumahnya di desa yang aksesnya sering terputus kalau hujan turun deras. Alya meminta suaminya membawa Maria lebih dekat ke pos atau RSUD sebelum hari perkiraan lahir.
Suaminya, Anton, mengangguk terus.
Tapi Alya tahu anggukan orang yang setuju dan anggukan orang yang tidak punya biaya perjalanan itu berbeda.
"Pak Anton," kata Alya pelan, "kalau masalahnya biaya, bilang. Kita cari jalan. Jangan tunggu pecah ketuban di rumah."
Anton menunduk.
"Saya pikir masih ada waktu, Dok."
"Masalah persalinan itu justru sering datang saat orang pikir masih ada waktu."
Maria memegang perutnya, wajahnya cemas.
"Saya takut ke rumah sakit, Dok."
Alya duduk di hadapannya.
"Takut apa?"
"Takut dimarahi. Takut biaya. Takut operasi."
"Tidak semua yang ke rumah sakit langsung operasi. Tapi kalau ada perdarahan atau tekanan darah naik, terlambat datang bisa lebih berbahaya."
Maria mengangguk pelan.
Alya membuat catatan rujukan dan meminta Rina membantu menghubungi kader desa.
Sore itu, Damar datang ke pos membawa laporan distribusi bantuan.
Alya sedang menulis di meja, wajahnya serius.
"Ada masalah?" tanya Damar.
"Ibu hamil risiko tinggi. Kalau hujan menutup jalan, rujukan bisa terlambat."
Damar melihat peta kecil di dinding.
"Desa mana?"
"Fatukoa bawah."
"Jalur sungai?"
"Mulai naik."
Damar mengambil ponsel.
"Aku minta pos tiga pantau. Kalau perlu, kita pindahkan dia besok pagi."
Alya menatapnya.
"Terima kasih."
"Jangan terlihat kaget setiap aku melakukan sesuatu yang masuk akal."
"Saya masih menyesuaikan."
Damar duduk di kursi seberang meja.
"Lukamu?"
"Membaik."
"Boleh kulihat?"
Alya berhenti menulis.
Pertanyaan itu sopan.
Bukan perintah.
Dia menggulung lengan bajunya sedikit. Balutan sudah kecil. Luka jahitan mulai mengering.
Damar mencondongkan tubuh, melihat tanpa menyentuh.
"Tidak merah."
"Observasi Anda berkembang."
"Aku belajar dari dokter galak."
Alya menahan senyum.
Rina yang masuk membawa map langsung berhenti melihat mereka.
"Eh. Maaf. Saya taruh nanti."
"Masuk saja, Rin," kata Alya cepat.
Rina masuk dengan wajah sangat berusaha netral. Gagal.
Setelah Rina keluar, Alya berkata, "Lihat? Gosip baru."
"Kita hanya melihat luka."
"Di kompleks ini, melihat luka bisa berubah jadi rencana punya anak."
Damar terdiam.
Kata anak membuat udara berubah.
Alya sadar terlambat.
Perjanjian tiga tahun.
Kalimat Damar malam akad.
Jika dalam tiga tahun pernikahan ini tidak membawa apa pun selain masalah, kita berpisah.
Dulu kata itu berdiri di antara mereka seperti tembok. Dua tahun sudah lewat. Sisa satu tahun.
Damar menatapnya.
"Alya."
"Lupakan. Saya hanya bercanda."
"Aku tidak."
Dia berdiri dan menutup pintu pos kesehatan setengah, cukup agar suara mereka tidak terdengar dari luar.
Alya menegang.
"Apa yang Anda lakukan?"
"Membicarakan hal yang seharusnya sudah lama kubicarakan."
"Kalau soal anak, saya sedang bekerja."
"Bukan soal anak."
Damar kembali duduk.
"Soal perjanjian tiga tahun."
Alya menatap meja.
"Masih ada satu tahun."
"Tidak ada."
Dia mengangkat wajah.
Damar berkata dengan jelas, "Aku membatalkannya."
Alya tidak bergerak.
"Anda tidak bisa membatalkan sesuatu yang sejak awal Anda buat sendiri?"
"Justru karena aku yang membuatnya, aku yang pertama harus mengatakan itu tidak berlaku lagi."
Alya tertawa pelan, tanpa humor.
"Mudah sekali."
"Tidak mudah."
"Bagi Anda mungkin hanya kalimat. Bagi saya, dua tahun ini saya hidup dengan hitungan mundur."
Wajah Damar berubah.
Alya tidak berniat bicara sejauh itu, tapi pintu sudah terbuka.
"Setiap kali keluarga bertanya kenapa saya tidak tinggal bersama Anda, saya ingat tiga tahun. Setiap kali Tante Nadia bicara soal cucu, saya ingat tiga tahun. Setiap kali Anda bersikap sedikit baik, saya mengingatkan diri sendiri bahwa ada batas waktunya."
Damar menunduk.
"Aku tidak tahu."
"Tentu. Anda tidak pernah tanya."
Kalimat itu jatuh berat.
Di luar, hujan mulai turun. Suaranya menghantam atap seng pos kesehatan.
Damar mengangkat wajah.
"Aku salah."
Alya terdiam.
Itu kalimat yang dia tidak pernah dengar.
Damar melanjutkan, "Aku salah menilaimu. Salah memperlakukanmu. Salah membuat pernikahan kita seperti hukuman untuk sesuatu yang bahkan belum tentu kamu lakukan."
Mata Alya panas.
Dia benci karena kalimat itu datang saat hatinya sudah terlalu lelah untuk menerimanya dengan mudah.
"Kenapa sekarang?"
"Karena aku tidak ingin kamu hidup satu tahun lagi dengan hitungan mundur."
"Dan setelah itu?"
"Setelah itu... kalau kamu tetap ingin pergi, aku tidak akan menahan dengan perjanjian bodoh itu."
Alya menatapnya.
"Tapi kalau kamu bersedia tinggal, aku ingin mencoba."
Suara hujan makin deras.
"Mencoba apa?"
Damar menatapnya lama.
"Menjadi suami yang tidak hanya ada di buku nikah."
Napas Alya tercekat.
Dia ingin percaya.
Sangat ingin.
Dan justru karena itu, dia takut.
"Damar," katanya pelan, "saya tidak bisa berubah hanya karena Anda akhirnya ingin mencoba."
"Aku tahu."
"Saya tidak bisa tiba-tiba melupakan."
"Aku tidak minta kamu melupakan."
"Saya juga tidak mau berhenti jadi dokter hanya karena Anda takut."
"Aku tidak akan memintamu berhenti."
"Kalau saya pergi ke daerah bencana, ikut operasi medis, masuk IGD malam-malam..."
"Aku akan takut."
Alya menatapnya.
Damar tidak menghindar.
"Aku akan takut," ulangnya. "Tapi aku akan belajar berdiri di sampingmu, bukan mengurungmu."
Hujan, bau antiseptik, map pasien, suara radio dari ruang sebelah. Semua hal biasa itu menjadi saksi kalimat yang tidak biasa.
Alya tidak menjawab.
Pintu tiba-tiba diketuk keras.
"Dokter!" suara Joko panik. "Maria kontraksi di rumah. Jalur desa mulai banjir. Suaminya baru telepon!"
Alya langsung berdiri.
Damar juga.
Percakapan mereka belum selesai.
Tapi hidup tidak pernah menunggu hati selesai bicara.
Alya mengambil tas emergensi.
"Kita jemput dia."
Damar sudah membuka radio.
"Rendra, siapkan kendaraan tinggi. Dua prajurit ikut. Hubungi pos tiga."
Alya menatapnya sekali.
Damar membalas tatapan itu.
Tidak ada perintah agar dia tinggal.
Tidak ada larangan.
Hanya kesiapan bergerak bersama.
Untuk saat itu, jawaban itu cukup.
Di kendaraan menuju desa, Alya duduk diam sambil memeriksa ulang tas obat.
Damar tidak mengganggunya.
Tapi setelah beberapa menit, dia berkata, "Aku tidak berharap kamu menjawab sekarang."
Alya menoleh.
"Soal tadi," lanjutnya. "Aku tahu satu percakapan tidak cukup untuk memperbaiki dua tahun."
Alya menatap wajahnya yang diterangi cahaya radio.
"Bagus kalau Anda tahu."
"Aku tahu. Aku hanya ingin kamu mendengar dari mulutku dulu. Tidak ada lagi hitungan mundur."
Alya menunduk pada tas di pangkuannya.
"Bagi saya, hitungan mundur tidak hilang hanya karena Anda mencabutnya."
"Apa yang bisa kulakukan?"
Pertanyaan itu pelan. Tidak menuntut.
Alya lama tidak menjawab.
Di luar, hujan memukul kaca.
"Jangan mengambil keputusan untuk saya," katanya akhirnya. "Bahkan kalau Anda pikir itu demi saya."
Damar mengangguk.
"Baik."
"Jangan menebak perasaan saya lalu menghukum saya berdasarkan tebakan itu."
"Baik."
"Dan kalau suatu hari Anda ragu, tanya. Jangan langsung memutuskan saya salah."
Damar menggenggam setir lebih kuat.
"Baik."
Alya mengira tiga jawaban itu akan terasa kecil.
Ternyata tidak.
Di tengah hujan dan jalan berlumpur, tiga kata "baik" itu terdengar seperti awal dari sesuatu yang belum berani dia namai.
Radio kembali berbunyi sebelum mereka sempat bicara lebih jauh.
"Dan, air di jembatan kecil naik. Kalau lewat terlalu lambat, kita bisa terjebak."
Damar menjawab, "Kita terus. Pos dua siapkan jalur alternatif."
Alya memasukkan buku catatannya ke tas tahan air.
"Kalau nanti harus memilih antara saya dan pasien, pilih pasien."
Damar menatap jalan, wajahnya mengeras.
"Jangan mulai dengan kalimat seperti itu."
"Saya serius."
"Aku juga. Tugasku memastikan tidak perlu memilih."
Alya menatap profilnya yang tegang.
Dulu, Damar akan memerintahnya tinggal.
Malam itu, dia memilih mencari jalan agar Alya tetap bisa maju tanpa mati sia-sia.
Perbedaan kecil.
Tapi Alya merasakannya.