Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : Perintah ke Tanah Wetan
Waktu terus bergulir tanpa pernah menunggu siap atau tidaknya manusia dalam menerima takdir. Dua bulan lamanya telah berlalu sejak badai spiritual yang mencekam di kediaman Kyai Ahmad mereda. Kini, kehidupan baru seorang Bagus sebagai marbot di lingkungan pesantren berjalan dengan sangat damai, tenang, dan tertata rapi. Gema suara adzannya yang merdu dan menggetarkan hati setiap kali fajar menyingsing telah menjadi penyejuk spiritual tersendiri bagi para santri dan warga sekitar desa. Rasa gengsi yang dulu meninggi, dendam materi yang membakar dada, serta luka batin akibat caci maki Sri di area parkiran Sudirman kini telah benar-benar menguap runtuh tak bersisa. Semuanya telah digantikan oleh rasa keikhlasan murni untuk mengabdi dan membersihkan lantai rumah Allah. Bagus merasa jiwanya yang sempat retak dan hampir gila karena hantaman balik energi magis, kini telah tersambung kembali dengan kokoh melalui jalur pertobatan yang suci.
Namun, kedamaian yang melingkupi keseharian Bagus di dalam pondok pesantren tersebut rupanya bukanlah garis akhir yang diinginkan oleh semesta. Pada suatu sore yang cerah, tepat setelah selesai menunaikan ibadah sholat Ashar berjamaah, Kyai Ahmad memanggil Bagus secara khusus untuk menghadap ke dalam ruang pribadi beliau di gedung utama pesantren.
Bagus melangkah masuk dengan takzim, lalu duduk bersila dengan kepala sedikit menunduk di atas karpet hijau tua yang bersih. Di hadapannya, Kyai Ahmad sudah duduk menunggu dengan pembawaan yang sangat karismatik. Ulama paruh baya itu menatap Bagus dengan sepasang mata yang sangat teduh, memancarkan kebijaksanaan, namun sekaligus menyiratkan sebuah rencana besar yang telah matang dipersiapkan untuk masa depan pemuda tersebut.
"Nak Bagus," buka Kyai Ahmad dengan nada suara yang sangat lembut namun berwibawa, memecah keheningan ruangan yang berbau harum kayu gaharu itu. "Masa pemulihan batin dan mentalmu di tempat ini sudah selesai dengan sangat baik. Jiwa dan rohanimu sudah kembali bersih, tenang, dan siap menghadapi dunia. Namun, ketahuilah bahwa hidup ini adalah sebuah madrasah panjang yang tidak pernah berhenti menguji manusia. Pertobatanmu yang indah tidak boleh berhenti dan mandek hanya sampai di sini, di dalam lingkungan pesantren yang aman dan nyaman ini."
Bagus perlahan mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang guru dengan rasa hormat yang teramat mendalam, namun ada sebersit rasa cemas yang mendadak menyelip di dadanya. "Maksud perkataan Kyai bagaimana? Apakah saya sudah tidak diperbolehkan lagi untuk tinggal dan mengabdi sebagai marbot di masjid pesantren ini, Kyai?" tanya Bagus dengan suara yang sedikit bergetar ragu.
Kyai Ahmad tersenyum bijak penuh arti, sebuah senyuman kebapakan yang seketika meredakan ketegangan di dada Bagus. Beliau menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Bukan begitu maksudku, Nak. Kamu adalah seorang pemuda yang cerdas, memiliki potensi besar, dan punya tekad baja yang jarang dimiliki orang lain. Justru karena itulah, sekarang sudah saatnya kamu menaikkan derajat jiwamu ke tingkatan yang lebih tinggi. Kamu harus belajar berdiri di atas kakimu sendiri, menempa mentalmu agar siap menghadapi ujian dunia yang sesungguhnya di luar sana secara nyata, tanpa harus terus-menerus bersembunyi di bawah ketiak perlindunganku."
Beliau kemudian merogoh saku jubah putihnya yang panjang, lalu mengeluarkan selembar kertas resi usang yang pinggirannya sudah mulai menguning dimakan usia. Di atas kertas tersebut, tertera sebuah alamat yang ditulis dengan guratan tinta hitam yang tebal namun estetik. Kyai Ahmad mengulurkan tangannya, menyerahkan kertas rahasia tersebut tepat ke atas telapak tangan Bagus.
"Pergilah merantau menuju ke arah tanah Wetan," perintah Kyai Ahmad dengan nada yang sangat tegas namun penuh rasa kasih sayang. "Pergilah sejauh mungkin hingga kamu menemukan sebuah desa terpencil yang tersembunyi di balik perbukitan, bernama Desa Pagedongan, yang terletak jauh di dalam wilayah Tegal Pelosok. Di sana, hidup seorang guru besar spiritual yang sangat mumpuni. Beliau adalah sahabat lama seperjuangan sekaligus guruku sendiri di masa muda dulu. Temuilah beliau, sampaikan salamku, dan katakan pada beliau bahwa aku sendirilah yang mengutusmu datang ke tempatnya."
Bagus menerima kertas resi usang itu dengan kedua tangan yang bergetar halus. Ada rasa haru yang membuncah hebat di dalam dadanya, berbaur dengan rasa penasaran yang teramat sangat tinggi. Nama 'Desa Pagedongan, Tegal Pelosok' dan sosok misterius bernama 'Ki Ageng Buana' seketika bergema kuat di dalam tempurung kepalanya, membuka lembaran babak baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Di sana, di bawah bimbingan Ki Ageng Buana, kamu tidak hanya sekedar menumpang hidup atau bersembunyi dari hiruk-pikuk kota," jelas Kyai Ahmad sembari memajukan tubuhnya, menepuk-nepuk pelan pundak Bagus dengan penuh keyakinan. "Kamu akan digembleng untuk menimba ilmu spiritual yang jauh lebih dalam dan hakiki. Kamu akan diajarkan untuk memahami ilmu syariat yang kokoh sebagai pondasi hidup, ilmu hikmah yang sejati untuk memahami rahasia alam gaib, serta ilmu tasawuf yang mendalam untuk mengikis habis sisa-sisa ego kesombongan manusiawimu. Itu semua adalah bekal benteng terbaik dari jalur langit, agar sukmamu tidak akan pernah bisa lagi ditembus oleh tipu daya sihir atau godaan pelet hitam mana pun, sebelum akhirnya kamu dinyatakan lulus untuk kembali mengamalkan hidupmu di kerasnya kota nanti."
Malam itu juga, setelah gema sholat Isya berakhir, Bagus segera kembali ke kamar marbotnya yang sempit. Ia mengemasi beberapa helai pakaian setelan baju koko dan sarungnya ke dalam sebuah tas ransel usang yang kainnya sudah mulai menipis. Niat di dalam dadanya sudah bulat penuh, terkunci mati tanpa ada keraguan lagi.
Di bawah naungan langit malam tanah Jawa yang bertabur bintang berkerlap-kerlip indah, Bagus berdiri di selasar pelataran pesantren untuk berpamitan. Ia membungkukkan badannya dengan sangat takzim, lalu mencium punggung tangan Kyai Ahmad dengan khusyuk, memohon untaian doa restu terbaik untuk memulai perjalanan panjang merantau menembus batas tanah Wetan. Langkah kakinya malam itu melangkah keluar dari gerbang pesantren dengan mantap. Langkahnya kini tidak lagi digerakkan oleh rasa takut akan serangan balik khodam, ataupun dendam kesumat seorang kurir ojol yang dihina materi, melainkan oleh sebuah tekad suci untuk menuntut ilmu luhur demi menjemput keridhoan Tuhan Sang Pemilik Semesta. Petualangan spiritual yang sesungguhnya di Desa Pagedongan, Tegal Pelosok, resmi dimulai malam ini.
“Pertobatan yang sejati tidak akan pernah membiarkan jiwamu diam terlena di dalam zona yang nyaman. Ia akan terus mendukungmu melangkah lebih jauh, merantau menembus pekatnya ketidaktahuan, demi menempa diri menjadi lentera batin yang sesungguhnya di bawah langit takdir-Nya.”
— Sang Alifas Yang Merumput