"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Mobil SUV hitam itu membelah jalanan kecepatan konstan. Di dalam kabin, keheningan terasa begitu pekat, seolah udara pun enggan berdesir.
Tangan Bita gemetar di atas pangkuannya. Ia meremas ujung gamisnya hingga kusut.
"Bita," panggil Ibra lembut. Tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, tangan kirinya berpindah, menggenggam erat tangan Bita yang dingin. "Tarik napas dalam-dalam. Jangan biarkan ketakutan itu menguasai dirimu."
Bita menoleh, menatap profil wajah suaminya yang tetap tenang, meski ia tahu di balik ketenangan itu, Ibra menanggung beban yang jauh lebih berat. "Gus... kalau nanti santri-santri melihat gue dengan pandangan jijik, atau Umi menolak bicara sama gue... gue harus gimana?"
Ibra memarkir mobil di depan kediaman utama. Ia mematikan mesin, lalu berbalik sepenuhnya menatap istrinya. "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa selain berdiri di samping saya. Biarkan saya yang menghadapinya. Jika mereka ingin menyalahkan seseorang, salahkan saya karena saya yang memilihmu sebagai istri. Kamu paham?"
"Tapi itu gak adil buat lo..."
"Adil atau tidak, itu keputusan saya," potong Ibra tegas namun penuh kelembutan. "Ingat, Tsabita. Kamu adalah tanggung jawab saya di hadapan Allah. Saya tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan dunia sekalipun, membuatmu merasa tidak layak."
Bita menunduk, air mata yang sejak tadi ia tahan kembali menggenang. Ibra meraih dagu Bita, mengangkat wajah istrinya agar menatap matanya. "Hapus air matamu. Kita masuk dengan kepala tegak. Kita ke sini untuk menyelesaikan, bukan untuk bersembunyi."
Mereka turun dari mobil. Suasana pesantren yang biasanya riuh dengan suara santri menghafal Al-Qur'an dan tawa riang, kali ini terasa aneh. Saat Bita dan Ibra berjalan menuju rumah utama, sepasang demi sepasang mata santri tertuju pada mereka. Ada tatapan kasihan, namun tak sedikit pula yang menatap dengan selidik, berbisik-bisik di balik punggung teman mereka.
Setiap langkah terasa seberat satu ton. Bita ingin berlari, ingin bersembunyi, tapi genggaman tangan Ibra yang kuat di jemarinya seolah menjadi jangkar yang menahannya agar tetap berpijak.
Di ruang tamu kediaman Kiai, suasana sudah mencekam. Abi duduk di kursi jati dengan tasbih di tangannya yang bergerak cepat. Umi duduk di sampingnya dengan bahu merosot, tatapannya kosong. Begitu melihat Bita dan Ibra masuk, Umi perlahan mengalihkan pandangannya, tidak ada senyum hangat yang biasanya menyambut mereka.
"Assalamualaikum," ucap Ibra dan Bita bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Abi berat. Umi hanya mengangguk pelan tanpa suara.
"Duduk," perintah Abi singkat.
Setelah mereka duduk, keheningan mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit. Umi yang akhirnya membuka suara. "Ibra, Umi tidak menyangka hal seperti ini bisa sampai tersebar luas. Ponsel Umi sejak kemarin tidak berhenti berbunyi. Wali santri, rekan sejawat menuntut penjelasan."
Bita merasa dadanya sesak. Ia ingin bicara, ingin meminta maaf, tapi suaranya tercekat.
"Umi kecewa?" tanya Ibra tenang.
Umi menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Umi tidak kecewa pada Bita karena masa lalunya, Le. Setiap manusia punya masa lalu. Umi kecewa... karena Umi merasa gagal melindungi kalian dari fitnah ini. Umi merasa gagal menjaga marwah pesantren saat berita ini mencoreng nama baik keluarga kita."
Bita tidak tahan lagi. Ia melepaskan genggaman Ibra dan bersimpuh di depan kaki Umi. "Umi... maafkan Bita. Bita tahu Bita belum pantas untuk menjadi menantu keluarga ini, apalagi istri seorang Gus. Bita yang salah, Bita yang bodoh di masa lalu. Bita rela kalau... kalau Umi mau Ibra menceraikan Bita supaya nama baik pesantren tidak tercemar."
"Bita!" Ibra berdiri, suaranya naik satu oktaf, terkejut dengan ucapan istrinya.
Abi meletakkan tasbihnya di meja dengan dentuman pelan yang membuat seisi ruangan membeku. "Siapa yang mengajarimu bicara tentang perceraian, Bita? Pernikahan kalian bukan untuk dipermainkan oleh jari-jari orang di dunia maya."
Abi menatap Bita lekat-lekat. "Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Meminta cerai hanya akan membenarkan tuduhan mereka bahwa kamu memang tidak layak. Ibra, jelaskan pada Abi. Apa langkah yang akan kalian ambil?"
Ibra kembali duduk, menatap ayahnya dengan pandangan mantap. "Besok pagi ada rapat dewan pengurus yayasan. Ibra akan hadir bersama Bita. Ibra tidak akan menyembunyikan apa pun. Kami akan jujur bahwa foto itu adalah masa lalu sebelum pernikahan, dan Bita saat ini sedang berproses. Siapa pun yang tidak terima, Ibra siap menerima konsekuensinya, termasuk melepaskan jabatan Ibra di yayasan."
"Ibra, kamu jangan gegabah!" Umi memprotes.
"Ini bukan gegabah, Umi. Ini tentang integritas," jawab Ibra. "Kalau saya sebagai pemimpin saja tidak bisa membela istri saya sendiri, bagaimana saya bisa memimpin santri ribuan orang?"
...****************...
Keesokan paginya, ruang pertemuan utama sudah dipenuhi oleh para pengurus yayasan dan beberapa tokoh sepuh pesantren. Wajah mereka terlihat kaku, duduk dengan menyilangkan tangan di dada, memandang Ibra dan Bita yang baru masuk dengan tatapan menghakimi.
Ibra berdiri di tengah ruangan, tangannya merangkul bahu Bita dengan protektif.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu," Ibra membuka suara. Suaranya tenang namun bergema. "Saya tahu kalian semua sudah melihat apa yang tersebar di internet. Saya tidak akan membantah bahwa foto-foto itu memang Bita. Itu adalah masa lalunya."
Seorang pria paruh baya, Pak Haji Salim, angkat bicara dengan nada tinggi. "Gus Ibra, di sini kami punya standar moral. Bagaimana mungkin istri seorang Gus, simbol kesucian pesantren, punya rekam jejak seperti itu? Apa kata masyarakat? Apa kata wali santri?"
Bita merasakan lututnya lemas. Ia ingin mundur, tapi Ibra justru merapatkan rangkulannya.
"Pak Haji," jawab Ibra tanpa rasa gentar. "Apakah kita adalah tempat untuk menghukum pendosa, atau tempat untuk membimbing mereka kembali ke jalan-Nya? Istri saya telah bertobat, dia berusaha menjadi lebih baik setiap harinya. Jika kita mengusirnya sekarang, ke mana dia harus pergi? Ke masa lalunya kembali? Apakah itu yang kita inginkan sebagai lembaga pendidikan Islam?"
"Tapi martabat kita hancur!" sahut pengurus lain.
Kali ini, Bita tidak bisa diam. Ia melepaskan rangkulan Ibra dan melangkah maju satu langkah. Hening seketika. Semua mata tertuju padanya.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu," suara Bita sedikit bergetar, tapi matanya menatap lurus ke arah para pengurus. "Saya tidak akan membela diri. Foto itu benar. Saya memang pernah menjadi orang yang jauh dari agama. Tapi, saya tidak pernah sekali pun melakukan hal-hal keji seperti yang dituduhkan dalam utas tersebut. Semua itu fitnah."
Bita menarik napas panjang. "Saya sadar saya belum sempurna untuk menjadi istri Gus Ibra. Tapi saya sedang berjuang, setiap hari, untuk memperbaiki diri. Jika kehadiran saya dianggap sebagai noda bagi pesantren ini, saya tidak akan membiarkan Gus Ibra, suami saya, yang menanggung beban karena kesalahan masa lalu saya."
Bita menoleh ke arah Ibra sejenak, lalu kembali menatap dewan pengurus. "Tapi saya ingin kalian tahu satu hal: pertobatan saya adalah nyata. Jika kalian mengusir saya hari ini, kalian tidak hanya mengusir seorang menantu, kalian sedang mengirim pesan kepada ribuan orang di luar sana bahwa tidak ada ruang bagi mereka yang ingin berubah."
Ruangan itu sunyi senyap. Kiai, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya berdiri. Beliau berjalan mendekati Bita dan Ibra, lalu meletakkan tangannya di bahu Ibra.
"Sudah cukup," suara Kiai yang berat menghentikan perdebatan. "Dewan pengurus, tugas kita di sini bukan untuk menghakimi masa lalu menantu saya, tapi untuk memastikan masa depan pesantren ini tetap berjalan di atas nilai-nilai Islam. Islam yang memaafkan, Islam yang membimbing. Jika ada di antara kalian yang ingin memecat Gus Ibra hanya karena dia membela istrinya yang sedang berhijrah, maka saya sebagai pimpinan yayasan yang akan mundur terlebih dahulu."
Suasana mendadak hening total. Tidak ada yang berani membantah Kiai.
Pak Haji Salim yang tadi paling keras menentang, kini hanya tertunduk. "Bukan maksud kami begitu, Kiai..."
"Maksud kalian jelas. Kalian takut pada suara netizen lebih dari kalian takut pada tanggung jawab moral untuk membimbing umat," tegas Kiai. Beliau menoleh ke arah Bita. "Bita, tetaplah di sini. Buktikan pada mereka melalui perbuatanmu, bukan hanya kata-kata. Jadilah istri yang baik untuk Ibra."
Kiai kemudian menatap Ibra. "Dan kamu, Ibra. Lanjutkan tanggung jawabmu. Jangan biarkan keraguan orang lain melumpuhkan langkahmu."
Ibra mengangguk. Begitu Kiai keluar ruangan diikuti para pengurus yang mulai membubarkan diri dengan kikuk, Bita merasa kakinya tidak sanggup lagi berdiri. Ia jatuh terduduk di lantai, napasnya memburu karena lega yang luar biasa.
Ibra langsung berlutut di depannya, menangkup wajah Bita dengan kedua tangannya. "Kamu luar biasa, Tsabita. Kamu sangat berani tadi."
Bita menangis, tapi kali ini bukan karena takut. "Gus... aku takut banget tadi. Aku pikir mereka bakal beneran ngusir kita."
Ibra menyeka air mata Bita dengan ibu jarinya, senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya. "Selama kita bersama, badai apa pun akan kita lewati. Dunia mungkin melihat masa lalumu, tapi saya... saya melihat wanita hebat yang sedang berjuang di depan mata saya setiap hari."
Bita tersenyum, meski wajahnya masih basah. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar diterima, bukan karena dia sempurna, tapi karena dia diperjuangkan. Di pesantren yang tenang itu, di tengah cobaan yang sempat mengguncang, ikatan mereka justru semakin menguat, mengunci janji untuk tetap berdiri teguh, apa pun yang akan terjadi di depan sana.