Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM ISTRI YANG DIMADU
Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah-celah tirai jendela besar di ruang makan, memantulkan kilau di atas permukaan meja kayu jati panjang yang dipoles rapi. Di atasnya, berbagai hidangan sarapan telah tersaji lengkap nasi goreng seafood hangat yang mengepulkan aroma gurih, telur mata sapi dengan tingkat kematangan sempurna, potongan buah segar, hingga kopi hitam kesukaan Mas Hanif. Namun, bagi siapa saja yang berada di ruangan itu, kehangatan makanan sama sekali tidak mampu mencairkan atmosfer dingin yang mendadak membeku di antara aku dan pria yang duduk di ujung meja.
Aku duduk dengan anggun, mengenakan gamis rumah berwarna lavender dengan hijab instan katun premium yang kasual namun tetap rapi. Tanganku bergerak dengan tenang, mengoleskan selai cokelat ke atas selembar roti gandum untuk Kayla, lalu beralih menuangkan susu ke gelas Kenzie. Seluruh perhatianku tercurah sepenuhnya untuk sepasang anak kembarku yang berusia sembilan tahun itu. Aku mendengarkan celoteh riang Kenzie tentang rencana latihan sepak bolanya hari ini, dan menanggapi tawa manja Kayla dengan senyuman tulus.
Bagi anak-anakku, aku adalah Bunda yang penuh kasih seperti biasa. Namun bagi Mas Hanif, aku adalah tembok es yang tidak tertembus.
Sejak dia turun ke ruang makan dengan kemeja kasualnya, aku tidak sekali pun menginisiasi obrolan dengannya. Aku tidak menuangkan kopinya, tidak mengambilkan nasinya, dan tidak menanyakan bagaimana tidurnya semalam hal-hal kecil yang selama sepuluh tahun ini selalu menjadi ritual baktiku sebagai seorang istri. Ketika dia mencoba menyapa atau memuji rasa nasi gorengnya, aku hanya merespons dengan anggukan formal atau jawaban satu-dua kata yang sangat datar. "Iya, Mas," atau "Silakan dihabiskan."
Perlakuan itu begitu halus, namun dampaknya luar biasa nyata. Mas Hanif berkali-kali berdeham, menggeser posisi duduknya dengan tidak nyaman, dan menatapku dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa frustrasi yang tertahan. Dia merasa diabaikan, merasa eksistensinya sebagai kepala rumah tangga mendadak dikerdilkan menjadi sekadar pajangan di sudut meja makan. Sarapan yang seharusnya terasa nikmat itu seketika berubah menjadi hambar dan dingin di tenggorokannya.
"Bunda, Kenzie sama Kayla main ke taman depan ya? Tadi Janu sudah panggil-panggil dari luar," pamit Kenzie setelah menghabiskan susunya, menyela keheningan yang mencekam itu.
"Iya, Bunda. Kayla juga mau bawa rumah-rumahan barbie yang kemarin dibelikan Bunda," sahut Kayla sambil bangkit dari kursinya.
Aku tersenyum lembut, mengusap pipi mereka bergantian. "Iya, sayang. Boleh main di depan, tapi jangan dekat-dekat pagar jalan raya, ya? Kalau capai, langsung masuk rumah dan minum air putih."
"Siap, Bunda!" seru keduanya kompak. Mereka bergantian mencium punggung tanganku dengan takzim, lalu beralih mencium tangan Mas Hanif sebelum akhirnya berlarian riang keluar menuju halaman depan.
Begitu pintu jati besar di depan tertutup dan suara tawa anak-anak mulai menjauh, keheningan di ruang makan mendadak jatuh dengan bobot yang berkali-kali lipat lebih berat. Sunyi yang mencekam.
KLANG.
Mas Hanif meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring porselen dengan sedikit menghentak, menimbulkan denting nyaring yang memecah kesunyian. Dia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di atas meja, menatapku lurus-lurus dengan urat-urat halus yang mulai menegang di sekitar pelipisnya. Kelegaan yang dia rasakan semalam tampaknya telah menguap total, digantikan oleh ego kelelaki-annya yang terusik karena merasa tidak dipedulikan.
"Hanum, kita perlu bicara," ucapnya, suaranya terdengar berat, dalam, dan sarat akan tuntutan.
Aku tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang, kutarik selembar tisu kain, menyeka sudut bibirku yang bersih dengan anggun, lalu melipatnya kembali dengan rapi. Baru setelah itu, aku mengangkat wajahku dan membalas tatapan matanya dengan pandangan yang sedatar permukaan telaga di musim dingin.
"Bicara soal apa lagi, Mas? Bukankah semuanya sudah jelas semalam?" tanyaku, suaranya begitu tenang tanpa ada getaran emosi sedikit pun.
Mas Hanif mengembuskan napas kasar melalui hidung, menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tidak puas. "Jelas apanya, Num? Sikapmu sejak tadi pagi sama sekali tidak menunjukkan kalau semuanya sudah jelas! Kamu mendiamkan Mas, kamu mengabaikan Mas seolah-olah Mas ini tidak ada di meja makan ini. Bahkan kamu tidak mengambilkan kopi untuk Mas!"
Dia menjeda kalimatnya, dadanya naik turun menahan dongkol. "Mas mau tanya langsung sama kamu... Apakah kamu sebenarnya tidak ikhlas di madu, Hanum? Kalau memang dari awal kamu tidak ikhlas, kenapa semalam kamu memberikan izin dan tersenyum seolah tidak ada masalah? Tolong jangan hukum Mas dengan sikap dingin yang kekanak-kanakan seperti ini!"
Kekanak-kanakan?
Kata itu hampir saja memancing tawa sarkas dari bibirku. Betapa lucunya pria ini. Dia menghancurkan fondasi sakral pernikahan kami demi wanita lain, tapi dia melabeli perlindungan logisku sebagai sikap yang kekanak-kanakan. Dia ingin menancapkan belati ke dadaku, namun menuntut agar aku tidak boleh mengeluarkan darah dan harus tetap melayaninya dengan senyuman hangat.
Ketenanganku tidak goyah. Alih-alih terpancing untuk berteriak atau membalikkan meja makan mewah ini, aku justru memperbaiki posisi dudukku agar semakin tegap. Kutatap bola matanya yang mulai diselimuti amarah, menembus langsung ke dalam rasa bersalah yang mati-matian dia sembunyikan di balik topeng kemarahannya.
"Mas Hanif," panggilku, suaraku mengalun perlahan namun memiliki tekanan yang sanggup membuat bulu kuduk meremang. "Mari kita bicarakan ini dengan kepala dingin, layaknya dua orang dewasa yang rasional."
Aku memajukan sedikit tubuhku, menaruh kedua telapak tanganku yang saling bertautan di atas meja. "Kamu bertanya apakah aku ikhlas? Ikhlas atau tidaknya aku, bukankah tidak akan mengubah keputusanmu? Semalam kamu datang bukan untuk berdiskusi, Mas. Kamu datang untuk memberikan pengumuman bahwa kamu dan Ibumu sudah menentukan pilihan. Mengizinkanmu adalah bentuk kedewasaanku untuk tidak memperpanjang drama yang tidak perlu."
Aku menatapnya tajam, membuat Mas Hanif sedikit tersentak di kursinya. "Tapi, karena kamu menuntut penjelasan atas sikapku, mari kita evaluasi pernikahan sepuluh tahun ini. Aku ingin bertanya langsung padamu, Mas... Apa aku punya kekurangan selama ini? Apa ada kewajibanku sebagai istri yang lalai kujalankan? Apa ada kebutuhan lahir dan batinmu yang tidak kupenuhi, sehingga... sampai kamu memilih untuk mencari madu di luar sana?"
Pertanyaan yang kuajukan dengan nada tenang namun menusuk itu seketika membuat Mas Hanif membeku. Mulutnya sempat terbuka, namun tidak ada satu kata pun yang mampu lolos dari tenggorokannya. Wajah suamiku perlahan memerah, dihantam telak oleh kenyataan nyata bahwa aku adalah istri yang nyaris tanpa cela. Aku mengurus bisnis hingga sukses besar, merawat anak-anak kembarnya menjadi anak yang luar biasa, menjaga kehormatan keluarganya, dan tidak pernah sekali pun menuntut hal-hal yang di luar batas kemampuannya. Pabrik tekstil miliknya pun bisa menikmati masa kejayaannya saat ini karena aku yang terus memasok kontrak-kontrak kerja sama bernilai miliaran rupiah dari merek hijabku.
"Num... bukan begitu," gagap Mas Hanif, suaranya mendadak melemah, kehilangan taring kemarahannya yang tadi sempat menggebu-gebu. "Kamu... kamu tidak punya kekurangan. Mas sudah bilang semalam, kamu istri yang sempurna. Tapi ini soal... soal keinginan Ibu, soal takdir dan Mas hanya ingin membangun ibadah yang lebih luas..."
"Cukup, Mas. Jangan bawa-bawa istilah ibadah untuk menutupi keegoisanmu. Itu terdengar sangat murah di telingaku," potongku dengan lambaian tangan halus, menghentikan kalimat manipulatifnya sebelum sempat selesai. Setiap kata yang dia ucapkan tentang wanita itu hanya mempertegas posisinya sebagai seorang pengkhianat dan orang asing di mataku.
Aku menyandarkan kembali tubuhku ke kursi, mengambil jeda sejenak untuk membiarkan keheningan kembali menguasai ruangan. Aku membiarkan Mas Hanif tenggelam dalam rasa bersalahnya yang pekat. Namun, serangan utamaku belum selesai. Ada satu kartu as yang sengaja kusimpan untuk kuhantamkan ke atas egonya pagi ini sebuah kartu yang kutahu pasti akan mengguncang seluruh keberaniannya hingga ke akar-akar.
Kutatap wajah tampan suamiku yang kini tampak kuyu, lalu melontarkan pertanyaan berikutnya dengan nada yang sengaja kubuat seringan angin lalu, namun memiliki efek seperti hantaman bom waktu.
"Satu hal lagi, Mas... Apakah Papa sudah tahu soal hal ini?"
DEG.
Dalam hitungan detik, aku bisa melihat bagaimana warna kulit di wajah Mas Hanif berubah drastis dari kemerahan menjadi pucat pasi. Matanya melebar, dan jakunnya naik turun dengan cepat saat dia menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya yang tadi condong ke depan, seketika menegak kaku seolah baru saja disengat aliran listrik bertegangan tinggi.
Papa Hanif Papa mertuaku. Pria paruh baya bertangan dingin yang mengelola lini bisnis utama keluarga besar mereka. Dia memang bukan Papa kandung Mas Hanif dia adalah suami kedua dari Ibu mertuaku yang dinikahi setelah ayah kandung Mas Hanif tiada sejak Mas Hanif kecil. Namun, meskipun tidak memiliki ikatan darah, Papa mertuaku adalah pria yang luar biasa bijaksana dan sangat dihormati.
Dan yang paling krusial adalah... Papa sangat menyayangiku. Karena dia tidak pernah dikaruniai anak perempuan sepanjang hidupnya, sejak hari pertama Mas Hanif membawaku ke rumah keluarga mereka, Papa sudah menganggapku dan memperlakukanku persis seperti putri kandungnya sendiri. Papalah yang selalu membelaku saat Ibu mertuaku mulai melontarkan sindiran-sindiran tidak penting tentang kesibukan karierku. Papalah yang selalu bangga memamerkan kesuksesan merek hijabku kepada kolega-kolega bisnisnya. Bagiku, Papa adalah sosok ayah sejati yang kehadirannya sangat kuhormati dalam hidup ini.
"Num... kenapa... kenapa kamu harus membawa-bawa Papa dalam urusan ini?" suara Mas Hanif mendadak bergetar, ada ketakutan yang teramat nyata tersembunyi di balik nadanya.
"Tentu saja aku harus bertanya, Mas," balasku, menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Pernikahan kita sepuluh tahun lalu direstui oleh Papa. Kehidupan bisnis pabrikmu saat ini juga tidak lepas dari pengawasan dan bimbingan Papa. Jadi, wajar bukan kalau aku bertanya apakah pria yang paling kuhormati di keluarga ini sudah mengetahui keputusan besarmu untuk memadu pernikahan kita?"
Mas Hanif mengalihkan pandangannya dari mataku, tidak berani lagi membalas tatapanku. Jemari tangannya yang berada di atas meja tampak saling meremas satu sama lain dengan gelisah. Ketakutannya sangat beralasan. Dia tahu betul bagaimana tabiat Papanya. Jika Papa sampai tahu bahwa anak tiri yang sudah dibesarkan dan didukungnya hingga sukses ini berniat mengkhianati menantu kesayangannya demi wanita lain pilihan sang Ibu, Papa tidak akan tinggal diam. Papa bisa saja menarik seluruh dukungan finansial, memotong akses jaringan bisnis, atau bahkan mencoret nama Mas Hanif dari daftar ahli waris lini bisnis utama keluarga.
"Mas... Mas belum bicara dengan Papa," aku Mas Hanif akhirnya dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan yang sarat akan kepasrahan. "Kamu tahu sendiri bagaimana watak Papa, Num. Dia... dia pasti tidak akan mengerti situasi ini dengan mudah. Ibu yang melarang Mas untuk bicara dengan Papa dulu. Ibu bilang, ini urusan internal Mas, kamu dan Ibu."
Aku mendengarkan pengakuannya dengan rasa jijik yang semakin membuncah di dalam hati. Benar-benar anak mama yang penurut di jalan yang salah. Mereka berdua Mas Hanif dan ibunya diam-diam menyusun rencana ini di belakang Papa, karena mereka tahu mereka akan menghadapi tembok besar kemarahan Papa jika bertindak terang-terangan. Mereka sengaja menungguku memberikan izin terlebih dahulu, berharap jika aku sudah setuju, Papa tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.
"Begitu ya..." ucapku pelan, mengangguk-angguk kecil seolah memahami posisinya. "Kalian merencanakan ini di belakang Papa karena kalian takut."
"Bukan takut, Num! Mas hanya mencari waktu yang tepat!" potong Mas Hanif cepat, mencoba membela sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur berantakan di atas meja sarapan ini. "Mas pasti akan bicara dengan Papa, tapi nanti... setelah semuanya sudah berjalan. Mas mohon sama kamu, jangan bicarakan hal ini dengan Papa dulu. Mas tidak ingin ada keributan besar di keluarga kita yang bisa mengganggu kesehatan Papa."
"Mengganggu kesehatan Papa, atau mengganggu posisi amanmu di bawah ketiak bisnis Papa?." batalku mencibir dalam hati.
Aku bangkit dari kursi makan, berdiri dengan tegak dan anggun, memandang suamiku yang masih duduk termenung dengan wajah pucatnya dari atas. Keheningan di antara kami kini terasa mutlak.
"Aku tidak akan mengadu pada Papa, Mas. Tenang saja," ucapku tenang, memberikan kepastian palsu yang langsung membuat Mas Hanif mendongak dengan binar lega yang kembali muncul di matanya. Pria bodoh ini benar-benar berpikir aku akan melindunginya.
"Terima kasih, Num. Kamu memang istri yang..."
"Aku tidak akan bicara dengan Papa sekarang," potongku, menatapnya dengan senyuman manis yang paling misterius yang pernah kulihat di cermin. "Biarkan saja semuanya berjalan sesuai dengan skenario yang sudah kamu dan Ibumu susun. Menikahlah dengan Sarah-mu itu. Antarkan dia ke dalam kehidupanmu."
Aku berbalik, melangkah meninggalkan ruang makan dengan konstan. Di setiap langkahku menuju ruang kerja pribadi di lantai bawah, logikaku bekerja dengan kepuasan yang dingin. Aku memang tidak akan memberi tahu Papa sekarang. Mengadu seperti wanita lemah yang teraniaya bukanlah gayaku. Aku akan membiarkan Mas Hanif melangsungkan pernikahannya, membiarkan dia mengikat dirinya sendiri dalam jebakan hukum gono-gini rahasia yang akan kusiapkan bersama Pak Baskara besok pagi.
Nanti, saat semua aset perusahaannya sudah resmi beralih ke tanganku dan anak-anakku, dan saat aku melayangkan gugatan cerai resmi ke pengadilan... di situlah aku akan membawa seluruh bukti pengkhianatannya ke hadapan Papa. Aku akan memastikan Papa melihat sendiri bagaimana rupa asli anak tiri yang sudah dibanggakannya ini. Saat hari itu tiba, Mas Hanif tidak hanya akan kehilangan aku dan harta kekayaannya, tetapi dia juga akan kehilangan perlindungan dan rasa hormat dari satu-satunya pria yang paling dia takuti di dunia ini.
Nikmatilah sarapan dinginmu hari ini, Mas Hanif, karena sebentar lagi, seluruh hidupmu akan membeku tanpa ada sisa kehangatan sedikit pun dari dunia yang pernah kuberikan untukmu.
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....