NovelToon NovelToon
DI BALIK LUKA

DI BALIK LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nathasya90

Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DBL31

SESUATU YANG MULAI BERUBAH

Pagi datang terlalu cepat. Namun satu hal tidak berubah sejak malam tadi: pikiran Romi masih dipenuhi pertanyaan yang sama.

Alarm di atas nakas berbunyi tepat pukul enam. Romi mematikannya tanpa banyak bergerak. Matanya masih menatap langit-langit kamar beberapa saat, seolah berharap pikirannya bisa ikut berhenti bersama bunyi alarm yang sudah dimatikan. Namun tidurnya semalam memang tidak benar-benar nyenyak. Beberapa kali ia terbangun tanpa alasan yang jelas, lalu kembali memejamkan mata sambil berusaha mengabaikan hal-hal yang terus berputar di kepalanya.

Pesan Jelita, tawa wanita itu, hingga perhatian-perhatian kecil yang datang tanpa pernah ia minta.

Romi mengembuskan napas pelan lalu bangkit dari ranjang.

"Kenapa malah kepikiran begitu..."

Romi menggeleng pelan, seolah ingin membuang pikirannya sendiri.

"Cuma karena kebanyakan ngobrol."

Romi memilih menghentikan pikirannya sendiri. Tidak semua hal harus dicari alasannya. Tidak semua perubahan kecil harus dipertanyakan. Setidaknya, begitu yang berusaha ia yakini pagi itu.

Setelah mandi dan berpakaian rapi, Romi mengambil tas kerja yang sudah disiapkan sejak malam. Kemeja putih yang dikenakannya membuatnya kembali terlihat seperti biasanya. Tenang, rapi, dan sulit ditebak. Tidak ada yang menyangka bahwa beberapa menit sebelumnya ia masih sibuk mencari alasan atas pikirannya sendiri.

Baru saja ia hendak mengambil kunci mobil ketika ponsel di atas meja bergetar.

Nama Hannah muncul di layar.

Tanpa menunggu lama, Romi langsung mengangkatnya.

"Halo, Na."

"Selamat pagi, Mas." Suara Hannah terdengar ringan. Berbeda dengan nada penuh rasa bersalah yang ia dengar tadi malam.

"Selamat pagi. Udah sarapan?"

"Belum. Ini baru mau turun ke restoran hotel."

Romi melirik jam di tangannya. "Masih sempat?"

"Masih kok. Meeting pertama mundur setengah jam."

Romi mengangguk kecil. "Syukurlah."

Hannah terkekeh pelan.

"Mas sendiri gimana? Udah siap berangkat?"

"Iya. Tinggal berangkat."

"Jangan lupa sarapan, lho ya."

Romi tersenyum tipis.

"Pesan kamu kayaknya nggak berubah-ubah ya."

"Ya gimana mau berubah kalau Mas aja masih suka lupa."

Romi tersenyum tipis mendengar jawaban Hannah.

"Beneran lho, Mas, nanti sarapan."

"Iya, Bu Hannah." 

"Kamu ketawa lagi."

"Soalnya kamu cerewet."

"Biarin."

Suasana di antara mereka terasa nyaman. Tidak ada percakapan besar, hanya hal-hal sederhana yang selama ini sudah menjadi kebiasaan. Sampai akhirnya Hannah kembali membuka pembicaraan.

"Oh iya, Mas."

"Hm?"

"Tadi malam aku dapat kabar lagi."

Romi yang sedang mengambil kunci mobil menghentikan gerakannya.

"Kabar apa?"

"Pekerjaan yang kemarin ternyata selesai lebih cepat dari perkiraan."

"Terus?"

"Kalau nggak ada perubahan lagi, besok sore aku udah sampai Jakarta."

Romi terdiam.

"Besok?"

"Iya."

"Bukannya katanya masih beberapa hari lagi?"

"Harusnya begitu. Tapi sebagian pembahasan sisanya bisa dilakukan lewat daring. Jadi aku dan beberapa orang dari tim boleh pulang dulu."

Tanpa sadar Romi mengembuskan napas lega.

"Syukurlah."

Hannah tertawa kecil.

"Kedengarannya ada yang senang nih."

"Ya jelas."

"Aku juga senang."

"Oh iya. Mau Mas jemput nggak?"

"Nggak usah, Mas. Nanti mobil kantor pasti antar aku pulang."

"Nggak apa-apa. Sekalian Mas pengin jemput."

Beberapa detik Hannah tidak menjawab.

"Boleh?"

"Ya udah deh, boleh."

"Ya udah. Besok aku kirim nomor penerbangannya."

"Iya."

Terdengar suara seseorang memanggil Hannah dari kejauhan.

"Bu Hannah, kita berangkat lima menit lagi."

"Iya, sebentar!"

Hannah kembali mendekatkan ponselnya.

"Mas, aku harus jalan dulu."

"Ya udah, hati-hati."

"Iya."

"Habis meeting kabarin."

"Pasti."

"Semangat!"

"Kamu juga."

Beberapa detik mereka sama-sama diam.

"I miss you, Mas."

Romi tersenyum kecil.

"Aku juga."

"Nggak sabar buat besok."

"Iya, Mas juga nggak sabar."

Sambungan telepon berakhir.

Romi masih memegang ponselnya beberapa saat. Ada rasa lega karena Hannah akan segera pulang. Seharusnya setelah mendengar kabar itu, pikirannya menjadi lebih tenang. Namun anehnya, rasa lega itu tidak datang sendirian. Ada hal lain yang ikut muncul, sesuatu yang membuatnya kembali mengingat percakapannya dengan Jelita malam sebelumnya.

Romi menurunkan ponselnya perlahan. Ia tidak ingin memikirkan apa pun selain kepulangan istrinya. Besok Hannah akan kembali. Rumah yang beberapa hari terakhir terasa kosong akan kembali memiliki suara, dan itu seharusnya cukup.

Ia mengambil kunci mobil, lalu keluar rumah. Sepanjang perjalanan menuju kantor, Romi berusaha memusatkan pikirannya pada pekerjaan. Jadwal rapat, laporan proyek, dan beberapa keputusan yang harus ia ambil hari ini memenuhi kepalanya. Namun setiap kali pikirannya mulai tenang, sosok Jelita kembali muncul. Senyum usil wanita itu, caranya berbicara tanpa takut membuatnya kesal, hingga pesan-pesan kecil yang sebenarnya tidak penting, tetapi entah kenapa masih ia ingat.

Romi menggeleng pelan.

"Kenapa jadi kepikiran lagi..."

Ia menaikkan volume radio, mencoba mengalihkan perhatian. Untuk beberapa saat, cara itu berhasil. Sampai akhirnya mobilnya berhenti di area parkir kantor, Romi mematikan mesin lalu mengambil ponselnya yang berada di konsol tengah.

Layar kembali menyala dan nama terakhir yang muncul di daftar percakapan masih berada di posisi paling atas.

Jelita.

Tatapannya berhenti beberapa detik. Ia tidak tahu kenapa masih melihat nama itu. Jempolnya bahkan sudah bergerak membuka ruang percakapan, tetapi berhenti sebelum benar-benar menekan.

"Ada apa sih..."

Romi mengembuskan napas. Namun sebelum sempat memikirkan kembali apa yang sedang ia lakukan, jarinya sudah lebih dulu menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dan baru saat panggilan itu tersambung, Romi menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

"Halo?"

Suara Jelita langsung terdengar dari seberang.

"Mas Romi?"

Romi terdiam sebentar.

"Hm."

"Lho... beneran Mas Romi?"

"Emangnya kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa." Terdengar tawa kecil. "Aku cuma lagi mikir, ini jangan-jangan aku masih ngantuk."

Romi mengernyit.

"Apa hubungannya?"

"Ya soalnya tumben Mas yang nelepon duluan."

Romi terdiam sejenak.

"Iya juga ya," gumamnya namun masih bisa didengar Jelita dari seberang telepon.

Jelita langsung tertawa mendengarnya.

"Nah, kan. Berarti memang ada yang aneh."

Romi mengusap tengkuknya pelan.

"Kamu lagi ngapain?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Lagi di kantor."

"Sepagi ini?"

"Iya. Banyak yang harus dicek sebelum meeting nanti."

"Oh."

Setelah menunggu beberapa detik tanpa mendapat jawaban, Jelita akhirnya mengernyitkan kening.

"Lho, Mas nelepon cuma mau nanya itu?"

Romi tidak langsung menjawab. Memang, ia tidak punya alasan yang jelas. Ia hanya ingin menelepon, dan justru hal itu yang membuatnya semakin bingung.

"Nggak juga."

"Terus?"

"Hmm..." 

Jelita menunggu beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Mas Romi."

Terdengar suara deheman dari seberang.

"Kayaknya Mas sendiri nggak tahu deh ya kenapa nelepon aku?"

Romi tersenyum kecil.

"Hmm… mungkin."

"Nah, berarti feelingku bener dong!"

"Benar apa?"

"Bener kalau sebenarnya Mas itu lagi kangen digodain sama aku. Iya kan?"

Romi terkekeh pelan.

"Percaya diri banget."

"Ya habisnya... selama ini kalau aku nggak ganggu, yang nyari duluan juga Mas itu aku."

"Kapan?"

"Baru aja sekarang."

Romi hanya bisa menggeleng.

"Kamu memang nggak ada obatnya ya."

"Iya dong!"

Jelita terdengar begitu bangga dengan kesimpulannya sendiri. Dalam beberapa hari terakhir, Romi mulai memahami satu hal kecil. Percakapannya dengan Jelita tidak membuatnya merasa terbebani. Justru sebaliknya, ada rasa ringan yang sulit ia jelaskan setiap kali berbicara dengan wanita itu. Ada rasa ringan yang sulit ia jelaskan setiap kali berbicara dengan wanita itu. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan, tetapi semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin sulit pula ia menyangkal keberadaannya.

Tanpa sadar, Jelita mulai menjadi bagian dari hari-harinya.

Dan yang paling membuat Romi takut bukanlah kehadiran wanita itu, melainkan kenyataan bahwa ia mulai terbiasa dengannya.

1
Eneng Farida
cari sana romi s jelitamu itu kalian sma mandul jd cocok banget jgn nanti nyesel hanna kalau sdh pergi
Susi Yanti
jalan untk selingkuh memang lebih mulus dan terasa indah,untk mempertahankan kesetiaan butuh pengorbanan yg tdk semua org bisa
Nathasya90
rakus sih ini. mau dua-duanya 🤣
Nathasya90
nggak sabar juga pengen ketok pala Romi/Hammer/🤣
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
iih ternyata jelita nih maksa ya orgnya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
wah enak ini makan siangnya
Eneng Farida
romi sm jelita memang cocok sm2 busuk nya hanna wanita baik cocoknya sm laki2 baik jga buruan cepat ketahuan atuh thor perselingkuhan romi laki2 tak thu dri
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga pasti mikir yg ngga2 kalau jadi hannah
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lihat jelita nih
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga. lebih milih kerja drpd masak. 😄
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku jd hannah pasti mikir macam2 liat reaksi suami begitu
Nathasya90: nah iya kk, kentara banget sih itu.
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
kok aku jd deg2an ya. lanjut deh
Nathasya90: lanjut ka bacanya😍
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lantas.. hanna yg dihujat terus masa ga kasian😞
Nathasya90: lalu tega gitu namanya dong ya. lebih milih jaga biar dia nggak terluka tapi nggak apa2 kalau istrinya yang terluka?
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
swmoga selalu baik2 aja seterusnya
Nick: mampir kk ke cerita aku 🙏🗿
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
memang begitu harusnya. menikah itu krn untuk mendapatkan pendamping hidup. senang dan susah bersama. hanya saja ada saja kerikil2 yg mengganggu. seperti pertanyaan mertua atau org2 disekitar kita. yang tadinya hati kita tidak apa2 lama kelamaan menjadi gelisah dan merasa minder
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ayo romi.. periksa.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lelah sih kalau berjuang sendirian. lanjut
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
pasti lama kelamaan tekanan batin rasanya
Eneng Farida
romi laki2 tak tau dri udh untung ada istri yg mau nerima apa adanya ini mlh kesemsem sm org naru pantes nanti d tinggal hanna
Nathasya90
Haii guys... othor kembali lagi dengan judul buku baru. Semoga suka ya dengan anak baru aku🫰🏻❤️🥰

Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.

Ditunggu semua komenannya.

Love sekeboon buat kalian💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!