"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang ke Semarang
Author Pov
Setelah menemukan kalimat yang tepat untuk bertanya kepada Fajar, Raina kemudian berani untuk menghampiri pria yang sedang sibuk dengan gadget ditangannya itu.
“Abang.. Bang Fajar, kemarin lihat baju ana di sofa ndak?” Saat ini, posisi bertanya Raina adalah sambil memicingkan matanya. Ia takut melihat mimik wajah Fajar yang dinilainya datar tanpa sentuhan ekspresi apapun.
Namun, masih belum ada juga jawaban dari mulut Fajar.
Kemudian, dengan penuh kelembutan Raina kembali bertanya, pada pria dipojok ruangan yang masih bergeming dengan suaranya itu, “Abang.. Bang Fajar marah ya, karena ana ndak bisa ikut bareng Abang?”
Namun nihil, Fajar agaknya ingin menguji Raina sekali lagi.
Ini berubah lagi kah? Bang Fajar tampak seperti dulu, ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Ok deh.. aku bisa pakai baju yang di Semarang aja. Lagian.. aku belum tahu bagaimana caranya membujuk Bang Fajar ketika marah – batin Raina yang masih heran dengan sifat dan sikap Fajar yang berubah-ubah.
Kemudian Raina langsung memilih untuk pergi keluar, ia ingin bertanya pada Mbok Asih. Mungkin saja Mbok Asih yang merapihkan pakaian miliknya, begitulah pikirnya.
Belum juga sampai keluar kamar, suara berat Fajar kembali mencegat langkah Raina. “Raina.. Abang mau ke Semarang juga, Abang nggak akan biarin kamu pergi sendiri kesana. Seorang menantu Admajaya tidak akan dibiarkan pergi sendiri tanpa makhrom yang menemani.”
Kemudian Raina yang mendengar ucapan Fajar, dengan senyuman yang mengembang langsung membalikan badannya. Ia melihat bahwa Fajar tengah mengambil ransel yang berada di dalam lemarinya.
“Abang.. biar ana aja yang siapin," ucap Raina yang langsung mengambil alih pekerjaan bang Fajar.
“Kemarin, pakaian kamu Abang masukin ke dalam lemari, disini," katanya sambil menunjuk bagian lemari untuk menyimpan pakaian Raina.
“Maafin ya.. sikap Abang terkadang masih suka kekanak-kanakan,” ucap Fajar sambil membantu Raina untuk menyiapkan pakaian mereka.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Fajar, Raina langsung tersenyum dan mengangguk pelan sebagai tanda ia memaafkan Fajar.
Setelah selesai menyiapkan pakaian mereka, kemudian Raina pergi untuk menemui Mbok Asih, sedangkan Fajar menelpon sang Ibunda untuk meminta izin pergi ke Semarang bersama Raina.
Setelah meminta izin, kemudian mereka langsung tancap gas dengan menggunakan motor milik Fajar.
Setiap perjalanan panjang, terasa aneh mereka rasakan. Bagaimana tidak, Raina tampak mengeratkan pegangangannya di perut six pack Fajar.
Gadis bercadar ini tampak sedikit takut, lantaran Fajar yang mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.
“Kamu takut? Atau Abang pelankan saja kecepatannya?” ucap Fajar pelan, setelah melihat gadis yang sedang berada di boncengannya itu tampak memicingkan mata.
“Nggak.. nggak usah Bang, ini seru kok," ucap Raina yang terlihat berbeda dengan apa yang ia lakukan, gadis ini memang tak pandai menutupi rasa takutnya.
Melihat Raina yang seperti itu dari kaca spionnya, Fajar tampak terkekeh. Ia hanya heran, bagaimana mungkin Raina tidak takut? Sedangkan dari wajahnya saja Raina tampak menahan rasa takutnya.
Perlahan.. kemudian Fajar sedikit mengurangi kecepatan motornya. Kembali ia melihat, bagaimana ekspresi Raina dari kaca spion motornya.
Gadis itu tersenyum, sambil membentangkan tangannya, ia tampak seperti gadis yang tidak memiliki beban berat dipundaknya.
Bawalah aku terbang bersamamu Raina - batin Fajar.
Seketika senyuman penuh kebahagiaan juga menyelimuti Fajar. Ia seolah menemukan titik ternyaman dalam memandang, matanya seolah tak ingin beralih dari Raina. Tapi mau bagaimana lagi, ia masih harus fokus pada jalan yang mereka lalui.
Jika saja.. dari awal dulu aku tidak bersikap dingin padamu. Mungkin.. hari ini akan mudah bagiku dandirimu – batin Fajar lirih sambil masih fokus menatap kearah depan.
****
Semarang, pukul 17.00 WIB
Setelah menempuh perjalanan sangat panjang dari Jakarta ke Semarang, akhirnya Fajar dan Raina tiba juga, di kediaman keluarga Abdullah.
Setelah motor mereka terparkir dengan sempurna. Raina tanpa aba-aba dan pemberitahuan, langsung pergi meninggalkan Fajar dan berlari untuk menemui sang Umi, yang ia lihat sedang sibuk bersantai sambil menyirami bunga di taman.
Kali ini Raina sangat bahagia, betapa tidak? setelah tiga hari menjadi istri seorang Fajar. Kemudian harus tinggal di rumah keluarga Admajaya, akhirnya ia bisa kembali dan menemui Umi, Abi juga Masnya, Arkan di Semarang dan lebih istimewanya lagi Fajar juga ikut bersama dengannya.
Raina tampaknya sudah tidak sabar menceritakan segalanya pada sang Umi.
Sedangkan Fajar, ia hanya menatap Raina yang baru saja turun dari motor, yang langsung berlari tanpa berbicara terlebih dulu padanya.
Senyuman lebar juga merekah di wajah tampan Fajar, kali ini ia sangat-sangat tampak manis dan tambah berkarisma.
Ia bahagia melihat gadis, yang beberapa hari ini menjadi istrinya itu bahagia.
Aku berharap.. dibalik kebahagiaanmu itu, ada aku yang menjadi salah satu alasanya, Raina – batin Fajar yang kemudian menyusul Raina dengan berjalan santai, tidak seperti Raina.
...*****...
Umi Fatma yang tengah asyik dengan aktivitas menyirami tanamannya, dibuat kaget dengan kehadiran buah hati tercintanya. Raina, putri yang sangat dirindukannya.
“Assalamu’alaikum Umi..” sapa Raina dengan senyuman yang mengembang di balik cadarnya, kemudian langsung memeluk sang Umi.
“Wa’alaikumussallam warahmatullahi wabarakatuh.. Raina sayang, kapan kamu sampai?” tanya Umi Fatma sambil mengurai pelukan Raina.
“Ana baru aja sampai Mi..” jawabnya sedikit celingukan. Ia baru sadar, Fajar tertinggal di parkiran.
“Kamu sama siapa kesini, dan ini baru hari ketigamu menikah loh nduk.” Kali ini Umi Fatma tampak khawatir dengan pernikahan dan hubungan Raina.
Yang Umi Fatma tahu, bahwa Fajar tidak menyukai pernikahan ini. Juga, Fajar memiliki sifat yang dingin.
Sebagai seorang Ibu, tentu saja Umi Fatma memiliki banyak dugaan negatif di dalam kepalanya. Namun, penjelasan dari Raina menepis segala fikiran buruknya.
“Kamu sama Fajar baik-baik saja kan nduk? Dia apain kamu? sampai kamu pulang ke Semarang?” katanya sambil membolak-balikkan tubuh Raina, untuk memastikan Fajar tidak menyakiti putrinya itu.
“Umi.. pusing loh ini Mi, kok dibolak balik gini toh?” ucap Raina sambil menstabilkan posisi berdirinya.
“Umi kira, kamu dilukai sama suamimu nduk..”
“Ndak kok Mi. Umi tahu? Kekuatan yang Umi miliki juga mengalir di dalam jiwa ana. Ana ndak akan mudah disakiti oleh siapapun itu Umi,” ucap Raina untuk menenangkan kekhawatiran sang Umi.
“Jadi.. Fajar bagaimana?” kali ini Umi Fatma ingin mengetahui Fajar.
Raina cukup paham, saat ini sang Umi bukanlah bertanya mengenai kabar Fajar. Lebih tepatnya, Umi Fatma ingin mengetahui bagaimana Fajar bersikap pada Raina.
“Umi.. tempo hari, Umi pernah bilang ke ana, bahwa ana harus bisa untuk membalikkan sisi buruk dari sebuah koin bukan?”
“Iya, terus?” tampak sekali rasa penasaran menghinggapi raut wajah Umi Fatma kali ini.
Bahkan, sangking penasarannya ia sampai menatap lekat mata Raina, untuk memastikan apakah putrinya jujur atau tidak padanya mengenai Fajar.
“Koin itu yang meminta Raina untuk membalikkannya Umi. Kemarin malam.. bahkan dua hari ini, kami sangat dekat Mi. Awalnya Bang Fajar---” kata Raina yang langsung dipotong oleh Umi Fatma.
“Tunggu dulu, kamu panggil mantu Umi Abang? Dan, bukannya dia itu---” Kini giliran Raina yang memotong perkataan sang Umi.
“Bang Fajar yang minta ana untuk memanggilnya Abang, katanya panggilan Abang itu indah Mi,” ucap Raina sambil sedikit terkekeh.
Pikirannya memutar kembali memori diwaktu Fajar memintanya memanggil Abang. Bahkan rasanya gadis bercadar itu sedang di mabuk cinta, layaknya anak yang baru mengalami masa puber.
Tapi, kehadiran Fajar yang secara tiba-tiba membuyarkan lamunan Raina. Sampai-sampai jantung gadis itu tampak semakin berdetak kencang dan hampir membuatnya oleng seperti habis berputar seratus kali.
Bang Fajar, sejak kapan disini? Semoga dia tidak mendengar pembicaraanku dengan Umi tadi– batin Raina. Ia malah tampak tercengang dan membuka lebar mulutnya yang tertutup cadar.
Saat ini rasanya Raina seperti seorang maling yang tertangkap basah, oleh sang tuan rumah. Iya.. Raina adalah maling hatinya Fajar. Hehehe.
“Assalamu’alaikum Mi..” sapa Fajar, kemudian mencium punggung tangan Umi Fatma.
“Wa’alaikumusallam warahmatullahi wabarakatuh nak Fajar. Nah.. berhubung kalian baru tiba, ayo kita masuk. Abi ada di dalam sama Mas Arkan lagi diskusi katanya,” titah Umi Fatma yang membuat Raina kikuk dan langsung mengikuti sang Umi dari belakang, tepatnya berjalan berdampingan dengan Fajar.
“Abi.. Arkan.. Raina sama Fajar datang nih," ucap Umi Fatma sedikit berteriak, untuk memberi tahukan kedatangan Raina dan Fajar kepada suami dan putranya.
Mendengar teriakan sang Umi, Arkan langsung bangkit, jiwa mudanya seakan kembali dan ia sudah tidak sabar bercengkrama dengan Raina.
“Bi.. Raina sama Fajar datang Bi,” katanya untuk memperingatkan sang Abi, yang mungkin tidak mendengar teriakan dari Umi Fatma.
Segera dengan sedikit berlari, Arkan pergi menghampiri sosok adik yang sangat dirindukannya itu.
“Adek.. Fajar.. sejak kapan sampai?” katanya untuk memastikan kedatangan sang adik.
Tanpa menjawab pertanyaan Arkan, Raina dengan senyumannya yang mengembang kemudian menghampri Arkan.
“Assalamu’alaikum mas Arkan, kami baru aja sampai mas,” ucap Raina sambil mencium punggung tangan Arkan, diikuti dengan Fajar yang juga bersalaman dengan Arkan.
“Wa’alaikumussallam, kok datang gak kasih kabar sih? Dan seharusnya kalian kan honeymoon dulu baru kesini,” ucap Arkan dengan tatapan yang menelisik dalam mata Raina.
“Ihh.. mas Arkan. Nggak boleh tau.. jomblo ngomongin honeymoon, entar dosa loh,” ejek Raina pada Arkan dengan kekehan.
Namun, kekehannya seketika terhenti ketika sang Abi datang dari arah belakang.
“Rame banget.. ternyata ada tamu jauh toh,” katanya dengan senyuman khas seorang ayah yang merindukan putrinya.
“Assalamu’alaikum Abi.. Abi sehat?”
“Wa’alaikumussallam warahmatullahi wabarakatuh.. Alhamdulillah kalau kamu sehat Abi juga sehat,” ucap Abi Abdullah sambil mencium ujung kepala Raina.
Kemudian ia mengarahkan tatapan dan senyumannya pada Fajar.
Menyadari ia di tatap oleh sang Ayah mertua, langsung saja Fajar berjalan menghampiri Abi Abdullah, dengan mengucapkan salam dan juga mencium punggung tangan Abi Abdullah.
“Nak Fajar sehat?” tanya Abi Abdullah sambil mengusap punggung kekar Fajar sambil tersenyum.
“Alhamdulillah sehat Bi..” jawab Fajar dengan senyumannya yang tampak ramah pada Ayah mertuanya itu.
“Kalau gitu.. gih ajak Fajar masuk ke kamar nduk. Kalian bersih-bersih dan istirahat saja sebentar,” titah Umi Fatma kepada Raina, yang langsung di iyakan oleh Raina.
Setelah sampai di dalam kamar, Raina langsung mempersilahkan Fajar untuk masuk. Karena bagaimanapun, kamar Raina adalah kamar Fajar juga.
Namun.. ada satu masalah yang baru Raina ingat ketika memasuki kamarnya, yaitu kasur miliknya adalah tipe singgle bed atau hanya muat untuk tidur sendiri.
Aduh.. nanti malam gimana? Kasurku hanya muat untuk satu orang - batin Raina sambil termenung memikirkan bagaimana tidur mereka nanti malam.
“Kamu dulu aja lah ya yang mandi, Abang capek banget. Pengen istirahat sebentar dulu, nanti kalau udah selesai bangunin ya..” ucap Fajar yang langsung merebahkan tubunya di singgle bed Raina.
Kak Fajar gak sadar atau bagaimana ya? Kasurku dan kasur di rumahnya sangat berbeda, tapi.. kok dia gak protes? – batin Raina lagi yang heran dengan sikap Fajar.
Kemudian Raina menghampiri Fajar, ia melihat Fajar yang baru saja merebahkan tubuhnya di kasur tampak sudah terlelap.
Raina tersenyum, kemudian segera ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang ia rasa lengket karena keringat.
...-----♡●♡-----...
Alhamdulillah bisa Up hari ini😁
Terimakasih banyak, buat teman-teman yang sudah mendukung cerita ini yah😘
Bagaimana ya.. menurut teman-teman episode kali ini?🤔
Hemm.. kalau gitu jangan lupa untuk tekan jempolnya🖒tulis komentarnya😉dan berikan vote dan ratenya yah✔
Jazakillah Khair 💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa