Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.
Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.
Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."
Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.
Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Tetapi di samping Rolls-Royce Phantom hitam milik Arka, Porsche 718 itu tiba-tiba terlihat seperti mainan.
Video itu benar-benar menyebar sebelum jam makan siang.
Di grup kelas, nama Arka muncul berkali-kali. Ada yang mengirim foto Phantom dari depan. Ada yang memperbesar wajah Arka saat turun dari pintu pengemudi. Ada juga yang memotong bagian ketika Nala Putri Rahayu meminta nomor WA-nya, lalu menambahkan stiker api di pojok video.
Arka melihat semua itu sekali, lalu menutup layar.
Ia sudah menduga keributan akan terjadi. Justru kalau kampus tetap tenang setelah sebuah Phantom masuk lewat gerbang utama, ia akan lebih curiga. Namun bagi Arka, semua sorotan itu hanya suara di permukaan.
Yang lebih penting ada di dalam kotak hitam di atas meja Galeri Permata.
Malam sebelumnya, saat kesadarannya berada di Planet Biru, Arka membawa Shadow dan Elang menyusuri kawasan ritel mewah yang sudah lama ditinggalkan. Tidak ada pertempuran besar. Mereka hanya bergerak cepat, mengambil jalur yang sudah ditandai, lalu membuka ruang penyimpanan kecil di belakang toko perhiasan kelas atas.
Di dunia yang hancur, benda-benda itu tidak bisa dimakan.
Di dunia ini, satu benda saja bisa mengubah angka rekening seseorang.
Pagi berikutnya, Arka datang ke Galeri Permata lewat pintu samping. Hendry Wibisana sudah menunggu di ruang evaluasi pribadi. Steven Wibisana duduk di sofa, memegang kopi hitam, tetapi sejak Arka meletakkan kotak itu, kopi di tangannya tidak pernah tersentuh lagi.
"Pak Arka," kata Hendry pelan, "kali ini apa lagi?"
Arka membuka kotak.
Cahaya biru tua muncul dari balik lapisan kain beludru. Kilauannya dalam, seperti potongan laut malam yang dipadatkan menjadi batu permata. Di tengah kotak, sebuah kalung safir terletak rapi, dikelilingi berlian kecil yang membuat warna birunya semakin hidup.
Hendry tidak langsung bicara.
Tangannya, yang biasa stabil saat memegang giok dan emas bernilai puluhan miliar, berhenti beberapa sentimeter di atas kalung itu.
Steven mencondongkan tubuh. "Om Hendry?"
"Jangan sentuh dulu," kata Hendry cepat.
Suasana ruangan berubah.
Hendry memakai sarung tangan, mengambil kaca pembesar, lalu memeriksa setiap sudut batu utama. Ia menyalakan lampu khusus, mengubah sudut cahaya, membaca pantulan, kemudian memanggil satu staf senior untuk membawa alat uji portabel. Tidak ada yang berbicara selama hampir dua puluh menit.
Arka duduk tenang.
Steven tidak.
"Bos," bisiknya kepada Arka, "kalau sampai Om Hendry diam selama ini, biasanya barangnya antara palsu sempurna atau terlalu mahal untuk disebut keras-keras."
"Menurut Om Steven yang mana?"
Steven menelan ludah. "Saya harap yang kedua."
Hendry akhirnya melepas kaca pembesar. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, tetapi matanya menyala seperti pedagang yang baru menemukan pintu menuju pasar yang tidak pernah ia bayangkan.
"Ini..." Suaranya tertahan. "Ini harta karun tingkat dunia."
Steven langsung duduk tegak.
Hendry menunjuk batu biru itu dengan hati-hati, seolah jarinya pun bisa menurunkan nilainya. "Safir biru natural, kejernihan luar biasa, potongan lama tapi sangat presisi. Desain kalungnya bukan produksi massal. Ini kemungkinan koleksi pribadi keluarga besar atau rumah lelang internasional sebelum... sebelum sampai ke tangan Anda."
Ia berhenti, memilih kata.
"Nilainya... setidaknya Rp 100 Miliar."
Angka itu jatuh di ruangan seperti palu lelang.
Steven mengembuskan napas panjang. "Seratus miliar untuk satu kalung. Bos, saya jual seratus rumah pun belum tentu setenang Anda sekarang."
Arka menatap Hati Samudra.
Di Planet Biru, kalung itu tergeletak di laci keamanan yang dingin dan gelap. Tidak ada yang memperebutkannya. Tidak ada yang menangis karena kehilangannya. Orang-orang di sana lebih membutuhkan beras, air, obat, baterai, dan tempat tidur yang tidak membuat mereka membeku.
Tetapi di dunia modern, batu biru itu bisa menjadi tiket masuk ke lingkaran yang jauh lebih tinggi dari sekadar showroom mobil.
"Bisa dijual?" tanya Arka.
Hendry langsung mengangguk, lalu menggeleng. "Bisa, tapi tidak seharusnya dijual sembarangan. Barang seperti ini butuh jalur private auction, asuransi khusus, sertifikat laboratorium internasional, dan pembeli yang tidak banyak bertanya. Kalau salah langkah, PPATK bisa tertarik. Media juga bisa ikut mencium."
"Berapa lama?"
"Kalau ingin aman, beberapa minggu untuk persiapan dokumen dan calon pembeli. Kalau ingin harga maksimal, mungkin lebih lama."
Steven menambahkan, "Dan kalau ingin dipakai sebagai jaminan reputasi, jangan dijual dulu. Satu kalung ini bisa membuka pintu ke kolektor, bankir private, bahkan klub bisnis yang biasanya tidak peduli anak muda."
Arka tersenyum tipis.
Itulah alasan ia datang.
Uang tunai penting. Setelah Rp 10 Miliar, 128 properti, Villa WD8, dan Phantom, akses menjadi senjata yang lebih tajam daripada saldo rekening. Nama yang membuat pintu terbuka tanpa mengetuk, itu jauh lebih berguna.
"Simpan dulu," kata Arka.
Hendry mengangkat wajah. "Anda yakin?"
"Kalau saya butuh uang cepat, saya bawa barang lain. Hati Samudra jangan keluar sebelum jalurnya benar. Om Hendry urus sertifikasi. Om Steven bantu pikirkan jaringan yang cocok. Tidak perlu ramai."
Hendry dan Steven saling pandang.
Ada rasa hormat baru di sana.
Mereka sudah tahu Arka kaya. Yang membuat mereka hormat adalah keputusannya menahan benda Rp 100 Miliar saat kebanyakan orang akan gemetar menunggu transfer. Anak muda di depan mereka jelas tidak sedang kebetulan beruntung.
Ia sedang membangun sesuatu.
"Baik, Pak Arka," kata Hendry. "Saya urus dengan sangat hati-hati."
"Bos," kata Steven sambil tertawa pendek, "saya mulai merasa pekerjaan saya bukan cari properti lagi. Ini sudah masuk wilayah mengurus legenda."
"Jangan lebay seperti Dimas."
"Berarti Dimas orang bijak."
Arka berdiri. "Sore ini saya ada janji. Kirim update lewat WA saja."
Steven mengangkat alis. "Janji bisnis?"
"Kampus."
Hendry pura-pura tidak mendengar. Steven tidak sebaik itu.
"Ah," katanya, senyum melebar. "Mahasiswa baru yang di video itu?"
Arka memasukkan ponsel ke saku. "Om Steven terlalu sering lihat grup gosip."
"Saya investor properti, Bos. Informasi lapangan itu aset."
Arka tidak membalas lagi. Ia hanya membawa satu kotak kecil berisi beberapa perhiasan biasa untuk dijual bertahap, sementara Hati Samudra tetap di ruang aman Galeri Permata. Saat keluar dari toko, ia sudah mengirim pesan singkat kepada Nala.
Kelas selesai jam empat. Kalau masih mau, kita makan sore.
Balasannya masuk kurang dari satu menit.
Masih. Tapi jangan tempat yang bikin aku harus pura-pura ngerti menu Prancis.
Arka membaca pesan itu dua kali, lalu tersenyum.
Sore itu, ia tidak membawa Nala ke restoran yang terlalu mencolok. Pilihannya jatuh pada restoran modern di kawasan Jakarta Selatan, cukup nyaman, cukup privat, tetapi tidak membuat seorang mahasiswa baru merasa sedang diuji. Meja mereka berada dekat jendela. Di luar, lampu jalan mulai menyala. Di dalam, suara piring dan percakapan rendah bercampur dengan aroma makanan panggang.
Nala datang tepat waktu.
Ia mengenakan atasan putih sederhana dan celana jeans gelap. Tidak berusaha terlihat seperti sosialita. Tidak juga berpura-pura cuek terhadap suasana restoran. Ia melihat sekeliling, mengangguk kecil, lalu duduk di depan Arka.
"Tempatnya aman," katanya.
"Aman?"
"Menu masih bisa kubaca tanpa kamus."
Arka hampir tertawa. "Aku sengaja pilih yang tidak terlalu aneh."
"Bagus. Kalau kamu langsung bawa aku ke tempat yang harga air mineralnya setara uang makan seminggu, aku mungkin tetap duduk, tapi aku akan menilai kamu kurang peka."
"Berarti aku lolos?"
"Sementara."
Percakapan mereka berjalan ringan. Nala bertanya tentang jurusan, dosen yang paling menyebalkan, dan kenapa Dimas terlihat seperti komentator pertandingan setiap kali bicara. Arka menjawab secukupnya, kadang pendek, kadang memberi satu kalimat yang membuat Nala tertawa.
Ia tidak menceritakan Planet Biru.
Tidak menceritakan Kristal.
Tidak menceritakan bagaimana kalung bernilai Rp 100 Miliar pagi tadi hampir membuat Hendry Wibisana kehilangan suara.
Rahasia terbesar tetap berada di tempatnya.
Namun untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan dimulai, Arka merasa duduk di dunia modern tidak selalu berarti menunggu serangan berikutnya.
"Kamu sebenarnya siapa, sih?" tanya Nala akhirnya.
Pertanyaan itu keluar tanpa tekanan. Ia tidak menyipitkan mata seperti penyidik. Ia hanya penasaran, seperti seseorang yang melihat potongan puzzle terlalu banyak hilang.
Arka mengaduk es di gelasnya. "Cuma mahasiswa biasa."
Nala menatapnya datar.
"Mahasiswa biasa yang turun dari Rolls-Royce Phantom?"
"Kadang mahasiswa biasa juga butuh kendaraan."
"Dan kendaraan biasa menurutmu adalah Rolls?"
"Hari ini kebetulan itu yang tersedia."
Nala tertawa, kali ini lebih lepas. "Oke. Kamu tidak mau jawab. Aku catat."
"Marah?"
"Tidak. Setiap orang punya bagian hidup yang belum perlu dibuka ke orang baru." Nala menyandarkan dagu pada punggung tangannya. "Aku cuma mau tahu, kamu berubah karena ingin membuktikan sesuatu ke Viona, atau karena memang kamu sudah selesai dengan dia."
Nama itu membuat udara di meja mereka turun sedikit.
Arka tidak menghindar.
"Sudah selesai."
"Yakin?"
"Kalau seseorang membuangmu saat kamu paling rendah, jangan anggap dia berhak kembali saat kamu mulai berdiri."
Nala diam beberapa detik.
Lalu ia mengangguk. "Itu jawaban yang bagus. Sedikit dingin, tapi bagus."
"Aku belajar dari tempat yang dingin."
"Maksudnya?"
Arka tersenyum tipis. "Kost lama. AC-nya bocor."
Nala menyipitkan mata, jelas tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia tidak memaksa. Itulah yang membuat Arka semakin yakin bahwa gadis di depannya berbeda dari kerumunan tadi pagi. Nala ingin tahu, tetapi tidak merampas.
Makan sore itu berakhir tanpa adegan berlebihan. Arka membayar, Nala tidak ribut soal harga tetapi tetap mengucapkan terima kasih dengan jelas. Saat keluar, ia menolak ketika Arka menawarkan untuk mengantar sampai depan rumah.
"Turunkan aku di minimarket depan kompleks saja," katanya. "Ayahku punya mata seperti CCTV kalau ada mobil mahal berhenti terlalu dekat. Aku belum siap diinterogasi keluarga."
Arka mengangguk. "Baik."
Di depan minimarket, Nala turun dari Phantom dan merapikan tas kecilnya.
"Kamu benar-benar akan kirim pesan lagi, kan?" tanyanya.
"Iya."
"Bagus. Karena kalau tidak, besok aku tagih di kampus. Di depan orang."
"Ancaman?"
"Pengingat sosial."
Arka tersenyum. "Sampai besok, Nala."
"Sampai besok, Arka."
Nala masuk ke minimarket lebih dulu, memberi ruang agar mobil itu tidak terlalu lama terlihat di depan kompleks. Sikap kecil itu membuat Arka menatapnya sebentar lebih lama sebelum menyalakan mesin.
Malam sudah turun ketika ia kembali ke Villa WD8.
Rumah itu tenang. Kolam renang memantulkan lampu taman. Di ruang kerja, Arka meletakkan ponsel di meja, membuka catatan singkat tentang kebutuhan Markas Masa Depan, lalu menambahkan daftar baru: baterai, radio komunikasi, obat demam, jaket termal, dan beras tambahan.
Hati Samudra sudah diamankan.
Nala sudah masuk ke hidupnya sebagai pertanyaan baru.
Dan Planet Biru masih menunggu.
Saat ia hendak menyimpan catatan, layar ponsel menyala.
Nama yang muncul membuat gerakan tangannya berhenti sejenak.
Viona.
Arka menatap layar itu tanpa emosi. Dulu, satu panggilan dari nama itu bisa membuatnya meninggalkan tugas, hujan, bahkan harga dirinya sendiri. Dulu, ia akan menjawab sebelum dering kedua.
Sekarang, ia hanya melihat tombol merah di layar.
Lalu menekannya.
Panggilan itu terputus.