NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedamaian di Dalam Kegelapan

Guncangan keras itu terjadi dalam sekejap mata. Suara gemertak besi memotong keheningan kabin lift privat executive, disusul terputusnya aliran listrik secara mendadak. BLEK! Lampu indikator lantai padam total, menyisakan kegelapan yang pekat, pekat, dan tak menembus mata.

Suhu di dalam ruang sempit berdinding cermin itu langsung melonjak naik. Sistem pendingin udara mati seketika, menggantikannya dengan hening yang teramat mencengangkan.

"Aran?!" jerit Shanum. Suaranya melengking panik, kehilangan seluruh ketenangan yang biasanya ia miliki sebagai pimpinan Al-Maktoum Group. Dalam kegelapan gulita itu, indranya seolah dilumpuhkan. Shanum meraba udara secara liar, napasnya mulai terengah-engah dan memburu. Dinding lift yang mendadak terasa menyempit memicu ketakutannya akan ruang tertutup yang pekat.

Sebelum rasa panik itu menguasai pikirannya sepenuhnya, sepasang lengan yang kokoh dan hangat menangkap jemarinya.

Dengan gerakan reflektif yang luput dari perhitungan formalitas, Aran menarik Shanum mendekat ke sudut kabin yang paling stabil. Aran tidak memposisikan dirinya seperti komandan taktis yang bersiap menembak, melainkan sebagai seorang pria yang secara instingtif memasang tubuhnya sendiri sebagai perisai. Ia membelakangi dinding baja lift, melingkupi posisi Shanum agar jika terjadi guncangan susulan, tubuhnyalah yang akan menyerap benturan keras tersebut.

Namun, Aran sangat paham batas. Meski dalam keadan darurat dan kegelapan pekat, ia menjaga jarak fisiknya dengan amat terukur. Ia tidak memeluk Shanum secara tidak sopan. Jemari tangannya hanya menggenggam lembut pergelangan tangan kemeja Shanum melalui kain bahannya, memberi tumpuan tanpa melanggar kehormatan wanita sholehah itu.

"Mbak Shanum... tenang. Jangan panik," bisik Aran. Suaranya terdengar begitu rendah, lembut, dan teratur. Tidak ada intonasi komando yang kaku, yang ada hanyalah ketenangan alami seorang pria yang ingin menenangkan jiwa yang sedang terguncang. "Ada saya di sini. Napas perlahan... tarik, lalu hembuskan."

"Aran... ini gelap sekali... pendingin udaranya mati," cicit Shanum, suaranya bergetar hebat. Kedua tangannya yang gemetar tanpa sadar meremas ujung lengan jas hitam yang dikenakan Aran. Rasa takut akan kegelapan membuat genggamannya begitu erat, seolah jas Aran adalah satu-satunya jangkar penyeimbang di dunia yang runtuh.

Aran merasakan getaran hebat dari tubuh wanita di depannya. Dalam remang yang hampir tak berwujud, matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan dapat menangkap bayangan siluet Shanum. Ada desakan aneh yang menyusup ke dalam relung dada Aran—sebuah perasaan hangat yang tidak pernah ia pelajari dari teori mana pun. Itu bukan sekadar rasa tanggung jawab seorang pengawal kepada atasannya, melainkan sebuah dorongan murni seorang pria yang ingin melindungi senyum dan kedamaian wanita ini dari kemalangan apa pun.

Benih-benih perasaan itu telah tumbuh, bertunas pelan di balik dada kaku sang mantan pemburu bayaran, menjelma menjadi rasa kasih yang begitu dalam namun sangat ia hormati batas-batasnya.

"Genggam tangan saya lewat lengan jas ini, Mbak," tutur Aran pelan, suaranya seperti bisikan angin di malam yang sunyi. "Saya tidak akan bergeser satu senti pun. Dengarkan napas saya. Kita aman di sini."

Shanum memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengikuti instruksi Aran. Ia mencoba mendengarkan hembusan napas Aran yang sangat teratur dan tenang. Di tengah ruang isolasi yang memanas itu, kehadiran Aran terasa begitu nyata, begitu kokoh, dan menghadirkan rasa aman yang tak pernah ia rasakan dari siapa pun sebelumnya. Shanum tahu Aran adalah pria yang menjaga pandangan dan kehormatannya; bahkan di dalam kegelapan tanpa pengawasan siapa pun, Aran tetap menjadi sosok yang amat menghormati dirinya sebagai seorang muslimah.

"Kenapa listriknya bisa padam?" bisik Shanum mulai bisa menguasai napasnya, walau jemarinya masih meremas kain jas Aran.

Aran menatap ke arah langit-langit kabin, memasang telinganya tajam-tajam. "Sepertinya ada gangguan pada panel distribusi utama gedung. Tapi kabel penahan darurat lift ini bekerja secara otomatis. Mekanismenya mengunci dengan sempurna di antara lantai empat belas dan tiga belas. Kabin ini sangat aman, Mbak."

Aran sengaja tidak membagikan dugaan atau analisis kerincian lain yang bisa menambah beban pikiran Shanum. Ia menyembunyikan kewaspadaannya di balik tutur kata yang menyejukkan, fokus sepenuhnya pada kenyamanan emosional Shanum.

Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang rapat. Suhu di dalam lift semakin hangat, membuat bulir-bulir keringat tipis mulai menetes di pelipis Shanum.

"Aran..." panggil Shanum pelan.

"Iya, Mbak ?"

"Maafkan saya..." tutur Shanum tulus. Wajahnya menunduk dalam kegelapan. "Soal kekesalan saya dari tadi pagi. Soal saya yang sering menggerutu karena kamu terlalu ketat menjaga saya. Saya... saya hanya merasa terkekang, tapi saya sadar kamu melakukan semua ini demi keselamatan saya."

Aran tersenyum tipis di dalam kegelapan—sebuah senyuman tulus yang tak terlihat oleh Shanum, namun terpancar dari nada bicaranya yang teramat lembut. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mbak Shanum. Sangat wajar jika Anda merasa tidak nyaman. Saya yang seharusnya meminta maaf karena cara saya menjaga Anda mungkin sering kali berlebihan dan membuat Anda tidak bebas."

Aran mereda, lalu melanjutkan dengan nada yang begitu jujur. "Bagi saya... keselamatan Anda adalah hal yang paling berharga. Bukan sekadar karena tugas, tapi karena Anda adalah orang baik yang mengajari saya arti kedamaian yang belum pernah saya miliki."

Kalimat itu terucap begitu polos dan murni dari mulut Aran. Shanum tertegun di tempatnya. Jantungnya berdesir hebat, menghantarkan gelombang hangat yang menyapu bersih sisa-sisa rasa takutnya. Kata-kata Aran bukan rayuan murah, melainkan ketulusan seorang pria yang telah menemukan arah hidup baru di dekatnya. Shanum semakin menyadari betapa dalam rasa hormat pria ini terhadapnya, sebuah nilai yang jarang ia temui pada pria lain.

"Terima kasih, Aran," bisik Shanum lirih, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis di balik kegelapan. "Kamu... selalu membuat saya merasa dilindungi."

Tiba-tiba, dari arah luar atas kabin lift, terdengar gema suara samar-samar yang mengetuk dinding lorong.

TAK! TAK! TAK!

"Bu Shanum?! Mas Aran?! Apakah Anda berada di dalam?!" suara teriakan dari teknisi gedung dan tim keamanan internal Al-Maktoum Group terdengar memanggil melalui celah poros lift dari lantai empat belas.

Aran mendongak, lalu menjawab dengan suara yang lantang dan tenang agar terdengar ke atas. "Kami di dalam! Kondisi aman! Tolong lakukan pembukaan pintu secara manual dari lantai empat belas!"

"Baik, Mas! Tahan sebentar, kami sedang memasang kunci tuas manual!" balas suara teknisi dari luar.

Aran kembali menatap Shanum yang berdiri di dekatnya. Ia secara perlahan merenggangkan posisi berdirinya, memberi ruang yang lebih luas bagi Shanum seiring dengan bersiap dilakukannya proses evakuasi. Namun, sebelum ia benar-benar melangkah mundur satu cangkulan kaki, Shanum menahan pergerakan lengan jas Aran sebentar.

"Aran," panggil Shanum, menatap lurus ke arah siluet wajah pengawalnya.

"Ya, Mbak?"

"Jangan pernah lepaskan tanggung jawabmu untuk menjaga saya," ujar Shanum halus namun tegas, menyaratkan rasa percaya yang kini telah utuh sepenuhnya.

Aran menundukkan kepalanya sedikit, merapatkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda hormat yang teramat dalam. "Selama Anda mengizinkan, saya akan selalu ada untuk melindungi Anda, Mbak Shanum."

KLAK!

Suara tuas mekanis dari luar terdengar bergeser keras. Celah Pintu baja lift di lantai empat belas perlahan-lahan ditarik terbuka secara manual oleh tim teknisi. Cahaya lampu darurat dari lorong luar menerobos masuk, membelah kegelapan kabin dan menerangi wajah mereka berdua.

Shanum mengernyitkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya yang mendadak hadir. Di depannya, Aran berdiri tegap dengan raut wajah yang begitu tenang, sopan, dan penuh rasa hormat. Tidak ada sedikit pun sikap melampaui batas yang ditunjukkan pria itu selama terkurung dalam kegelapan.

"Bu Shanum! Mari, silakan naik pelan-pelan!" panggil petugas keamanan dari celah pintu yang terbuka separuh di atas mereka.

Aran mengulurkan siku tangannya—tetap menjaga jarak tanpa menyentuh kulit—memberikan tumpuan bagi Shanum untuk memanjat celah evakuasi dengan aman. Shanum bertumpu pada lengan Aran, melangkah keluar dari kabin lift yang terjebak dengan hati yang jauh lebih tenang dan dibalut rasa percaya yang tak tergoyahkan lagi pada sang pelindung.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!