Dipaksa menjadi pengantin pengganti demi melunasi utang lima miliar keluarga angkatnya, Kiyora Aleena pasrah dibawa oleh penguasa mafia Italia yang paling ditakuti—Salvatore.
Namun, alih-alih dijadikan tawanan atau simpanan, pria dingin nan kejam itu justru memperlakukannya bagai seorang ratu. Puncaknya terjadi saat sebuah bisikan misterual membakar ingatan masa lalunya.
"Aku tidak pernah salah mengenali milikku," bisik Salvatore rendah, menatap gelang perak berbandul merah di pergelangan tangan Kiyora.
"Kamu adalah Istriku. Ratu dari seluruh kerajaanku ... Alaura."
"N-Nama aku Kiyora, Om Tuan Mafia! Salah orang kali!" pekik Kiyora panik dengan mata bulatnya yang berbinar kaget.
Siapa sebenarnya Alaura? Dan mengapa takdir mempertemukannya kembali dengan Salvatore di tengah ancaman perang berdarah antar-klan mafia yang siap membongkar rahasia besar tentang identitas aslinya?
Terlebih, ada bocil cadel menggemaskan yang merecoki kisah percintaan mereka.
"Ini Mama Milooo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Di dalam kabin mobil lapis baja yang meluncur membelah kegelapan malam, suasana terasa amat hening. Thomas melirik melalui kaca spion tengah, menatap cemas ke arah sang Tuan yang duduk bersandar di kursi belakang. Salvatore tampak memejamkan mata dengan napas yang teratur, tetapi noda darah segar yang mengalir halus di ujung bibirnya serta goresan dalam di lengan yang terbebat kain tak bisa menyembunyikan dahsyatnya pertarungan tadi.
Thomas merogoh saku jasnya, mengambil selembar kain sapu tangan bersih lalu mengulurkannya ke belakang.
"Tuan, pakailah ini untuk menyeka darah Anda," ucap Thomas pelan dan penuh hormat.
Salvatore membuka kelopak matanya perlahan, menyambut kain tersebut tanpa bersuara. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah dengan gerakan santai, seolah rasa nyeri di tubuhnya hanyalah bisikan angin lalu.
Melihat ketenangan atasannya, Thomas menyuarakan rasa penasaran yang sejak lama mengusik pikirannya.
"Tuan ... jika boleh saya bertanya," Thomas berdehem pelan, menata kata-katanya agar tetap sopan. "Keluarga D'Alterio, khususnya Tuan Leon adalah pihak yang telah membesarkan dan mengasuh Anda hingga menjadi sosok sekuat ini. Lantas, mengapa Anda memilih untuk melancarkan serangan berdarah kepada keluarga angkat Anda sendiri? Mengapa kita tidak mengembalikan Nona Kiyora saja jika kelak ia memang terbukti sebagai Nona Alaura yang hilang?"
Salvatore terkekeh tipis, sebuah tawa dingin tanpa buaian kehangatan. Ia menatap keluar jendela, mengamati lampu-lampu kota yang memudar di balik kegelapan.
"Thomas," panggil Salvatore dengan suara bass yang berat. "Seandainya aku menyerahkan Kiyora sekarang dan dia benar-benar Alaura ... apakah kau pikir akan ada jalan bagi kami berdua untuk bersama? Tentu saja tidak."
Salvatore jeda sejenak, mengusap bekas goresan luka di tangannya. "Sejak aku masih kecil, Leon D'Alterio tidak pernah sungguh-sungguh menginginkanku menjadi bagian dari keluarganya. Aku hanyalah bidak yang dibentuk untuk kepentingan organisasinya. Dan kau harus ingat satu hukum abadi di dunia bawah, tidak ada kata persahabatan atau utang budi yang abadi. Perang tetaplah perang."
Tatapan Salvatore berubah tajam dan membeku. "Aku sudah membalas seluruh budi masa lalu atas apa yang pernah Leon lakukan padaku melalui darah, keringat, dan kemenangan yang kuberikan untuk klan itu selama bertahun-tahun. Kini, Kiyora adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya kembali, bahkan jika itu keluarga kandungnya sendiri."
Thomas membisu. Ia paham betul, di balik kejamnya logika sang Don Mafia, ada kepemilikan dan tekad protektif yang tak tergoyahkan untuk mempertahankan Kiyora di sisinya.
.
.
.
.
Sementara itu di mansion, waktu seolah berjalan begitu lambat bagi Kiyora. Gadis itu duduk di tepi ranjang kamar utama dengan sebuah buku tebal di pangkuannya. Namun, tak satu pun kalimat di halaman kertas itu yang berhasil ia serap. Matanya terus melirik ke arah pintu, hatinya dilanda gelisah yang tak menentu memikirkan keselamatan Salvatore di medan perang.
Cklek.
Pintu kamar mendadak terbuka! Kiyora tersentak kaget hingga buku di tangannya terjatuh ke lantai.
Ia berdiri seketika, dan matanya membulat sempurna saat melihat Salvatore melangkah masuk. Pria tegap itu berjalan agak tertatih dengan jas hitam yang terkoyak, darah kering menyelimuti kemejanya, serta sisa darah segar yang masih membekas di sudut bibir dan lengan kanannya.
"Om!" pekik Kiyora panik, rasa takutnya menguap berganti kekhawatiran yang membuncah.
Kiyora berlari mendekat, langsung menyangga tubuh tegap Salvatore yang kelelahan. Tanpa membuang waktu, ia menuntun pria itu untuk duduk di tepi ranjang. Jemari gemetar Kiyora bergegas mengambil kotak P3K yang memang selalu bersedia di kamar tersebut.
"Kenapa bisa sampai terluka begini? Banyak banget darahnya ...," cicit Kiyora dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dengan penuh kehati-hatian, Kiyora mulai membasahi kapas dengan cairan antiseptik. Ia menyapu lembut sisa darah di sudut bibir Salvatore. Setiap kali Salvatore menggeram pelan menahan perih, Kiyora refleks menatap matanya lalu meniup-niup luka itu dengan penuh kepolosan.
"Tahan sebentar ya, Om ... ini biar gak infeksi," bisik Kiyora sangat lembut, fokus mengobati goresan di lengan tegap sang Don Mafia.
Salvatore tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ia menatap lekat raut wajah Kiyora yang begitu cemas merawatnya. Rasa hangat yang asing perlahan menjalar dan memenuhi dada sang Don Mafia yang biasanya dingin.
Tanpa peringatan, tangan kiri Salvatore yang tidak terluka terangkat, merengkuh pinggang halus Kiyora dan menarik tubuh mungil gadis itu hingga terduduk rapat di atas pangkuannya.
"Eh—Om!" Kiyora kaget, tangannya yang memegang perban mengudara seketika.
"Diamlah sebentar ... biarkan aku seperti ini," gumam Salvatore serak.
Pria tegap itu menyandarkan kepalanya di dada Kiyora, menghirup aroma wangi alami tubuh gadis itu yang selalu berhasil menenangkan gejolak liar di kepalanya. Dekapan itu begitu erat, seolah-olah Salvatore sedang mengisi kembali energi kekuatannya yang terkuras habis setelah peperangan.
Kiyora yang awalnya membeku perlahan melunak. Ia menurunkan tangannya, lalu dengan ragu-ragu mengusap lembut rambut hitam Salvatore yang sedikit berantakan.
"Jangan terluka lagi ...," cicit Kiyora pelan, jujur dari dalam lubuk hatinya. "Aku ... aku takut kalau Om kenapa-napa."
Salvatore menegakkan kepalanya kembali. Manik mata hitam pekatnya mengunci tatapan Kiyora yang polos nan bening. Keheningan magis tercipta di antara mereka, mengikis sisa-sisa trauma pertempuran di luar sana.
Salvatore mengulurkan jemarinya, mengelus pipi halus Kiyora sebelum akhirnya mengikis jarak dan mendaratkan ciuman yang amat dalam, hangat, dan lembut di bibir gadis itu. Ciuman kali ini tidak menuntut atau kasar, melainkan sarat akan rasa memiliki yang begitu protektif. Kiyora memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pelan bahu Salvatore dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan sang Don Mafia yang berjanji akan melindunginya dari marabahaya dunia luar.
"Om, besok boleh izinkan aku keluar?"
"Heuh?"
"DENGAN MILOOOO, KITA MAU CALII MAKANAN PILAAAAAL!" sambung Milo yang entah kapan sudah berada di kamar.
Kiyora menyengir, menatap pada Salvatore yang memandangnya datar.
"Enggak boleh!" tegas Salvatore yang membuat senyuman Kiyora luntur.
"Yaaah ...,"
"Kalau tanpaku,"
"Eh?"
_______________
kiyora 😭