Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pagi itu, suasana Rumah Sakit Medika Utama terasa lebih tegang dari biasanya.
Bima Aditya melangkah masuk melewati lobi utama dengan langkah tenang.
Dia mengenakan kemeja putih sederhana yang sedikit pudar warnanya.
Begitu dia muncul, tatapan semua perawat dan staf langsung tertuju padanya.
Terdengar bisik-bisik dari setiap sudut lorong rumah sakit.
"Itu dia Dokter Bima, orang yang membedah pasien pakai pisau dapur semalam."
"Kudengar Dokter Surya sangat marah dan akan memecatnya hari ini."
Bima mengabaikan semua omongan miring itu dan terus berjalan menuju ruang ganti.
Baru saja dia membuka lokernya, seorang perawat wanita berlari menghampirinya.
"Dokter Bima, Anda ditunggu di Ruang Komite Medis sekarang juga."
Perawat itu menatap Bima dengan sorot mata kasihan.
"Direktur Wira dan jajaran dokter senior sudah berkumpul di sana."
Bima mengangguk pelan.
"Terima kasih atas informasinya, Suster."
Tap tap tap.
Bima berjalan menyusuri lorong menuju Ruang Komite Medis di lantai tiga.
Dia tahu persis apa yang menunggunya di balik pintu itu.
Tok tok tok.
Bima mengetuk pintu sebelum mendorongnya terbuka.
Cklek.
Begitu pintu terbuka, hawa dingin dari AC ruangan langsung menyambutnya.
Di dalam ruangan itu, lima orang dokter senior duduk mengelilingi meja oval yang besar.
Di ujung meja, duduk Direktur Wira, seorang pria paruh baya dengan wajah tegas dan berwibawa.
Di sebelah kanannya, Dokter Surya tersenyum sinis melihat kedatangan Bima.
"Akhirnya sang pembuat masalah kita datang juga."
Dokter Surya melipat tangannya di dada dengan gaya angkuh.
"Duduklah, Dokter Magang."
Bima menarik kursi di ujung meja yang berlawanan dan duduk dengan tenang.
Direktur Wira menatap Bima dengan pandangan menilai.
"Bima Aditya, kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?"
"Saya tahu, Direktur," jawab Bima lugas.
Brak!
Dokter Surya tiba-tiba menggebrak meja dengan keras.
"Bagus kalau kamu tahu!"
"Tindakanmu semalam adalah aib besar bagi Rumah Sakit Medika Utama!"
"Membedah perut korban kecelakaan di jalanan berdebu menggunakan pisau dapur kotor!"
"Kamu pikir kamu sedang syuting film aksi, hah?!"
Dokter Surya menunjuk wajah Bima dengan jarinya yang gemetar karena marah.
"Kamu telah melanggar seluruh standar operasional prosedur rumah sakit."
"Direktur, saya menuntut agar anak ini segera dipecat tidak hormat."
"Kita juga harus melaporkannya ke konsil kedokteran agar izin praktiknya dicabut permanen!"
Beberapa dokter senior lainnya tampak mengangguk setuju dengan ucapan Dokter Surya.
Mereka merasa tindakan Bima terlalu gegabah dan bisa merusak nama baik rumah sakit jika beritanya menyebar.
Direktur Wira menghela napas panjang.
"Apa pembelaanmu mengenai tuduhan ini, Bima?"
Bima menatap langsung ke mata Direktur Wira tanpa rasa takut sedikit pun.
"Pasien semalam mengalami ruptur arteri hepatika yang menyebabkan pendarahan masif."
"Dalam kondisi itu, pasien akan meninggal dalam waktu kurang dari lima menit jika tidak segera ditangani."
"Saya mengambil tindakan darurat murni untuk menyelamatkan nyawanya."
Dokter Surya tertawa keras mendengar penjelasan Bima.
"Menyelamatkan nyawa?"
"Kamu justru membahayakan nyawanya dengan risiko infeksi fatal!"
"Lagipula, bagaimana kamu bisa tahu itu ruptur arteri hepatika tanpa bantuan CT Scan atau USG?"
"Kamu pasti hanya menebak-nebak dan kebetulan saja beruntung!"
Bima tersenyum tipis merespons ejekan itu.
"Dokter Surya, bukankah tugas utama seorang dokter adalah menyelamatkan pasien dengan segala cara?"
"Jika saya menunggu ambulans Anda datang, pasien itu sudah berada di kamar mayat sekarang."
Wajah Dokter Surya langsung memerah menahan marah.
"Bocah kurang ajar!"
"Kamu berani mengguruiku?!"
Cklek.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan kasar.
Seorang pria berkacamata dengan jas dokter bergegas masuk sambil membawa sebuah tablet medis.
Dia adalah Dokter Hendra, kepala departemen bedah yang terkenal sangat teliti dan objektif.
"Maaf saya terlambat, Direktur Wira," ucap Dokter Hendra dengan napas sedikit terengah-engah.
"Saya baru saja keluar dari ruang operasi untuk menangani pasien kecelakaan semalam."
Perhatian semua orang di ruangan itu langsung tertuju pada Dokter Hendra.
"Bagaimana kondisi pasiennya, Hendra?" tanya Direktur Wira.
Dokter Surya mendengus pelan.
"Pasti pasien itu mengalami infeksi parah atau pembuluh darahnya nekrosis karena ulah bocah ini kan?"
Dokter Hendra menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, Dokter Surya, tebakan Anda salah besar."
Dokter Hendra meletakkan tablet medisnya di tengah meja agar semua orang bisa melihatnya.
Layar tablet itu menampilkan hasil pindaian dan foto kondisi organ dalam pasien paska operasi.
"Ini adalah hal paling gila dan menakjubkan yang pernah saya lihat selama dua puluh tahun berkarir."
Dokter Hendra menatap Bima dengan pandangan penuh kekaguman.
"Ikatan benang pada arteri hepatika pasien itu dilakukan dengan sangat sempurna."
"Tekanannya pas, tidak terlalu longgar untuk bocor, dan tidak terlalu ketat yang bisa merusak jaringan."
"Bahkan saya sendiri tidak yakin bisa membuat ikatan sepresisi itu dalam kondisi darurat tanpa alat medis yang memadai."
Ruang Komite Medis itu tiba-tiba menjadi sangat hening.
Dokter Surya membelalakkan matanya dan merebut tablet itu dari meja.
Dia memperbesar gambar hasil pindaian itu berulang kali.
"Ini tidak mungkin."
"Bocah magang ini pasti hanya kebetulan!" bantah Dokter Surya dengan suara bergetar.
"Kebetulan atau tidak, faktanya tindakan Bima semalam telah menyelamatkan nyawa pasien," tegas Dokter Hendra.
"Pasien sekarang sudah melewati masa kritis dan kondisinya stabil."
Direktur Wira bersandar di kursinya dengan ekspresi berpikir keras.
Fakta baru ini benar-benar mengubah situasi.
Jika tindakan Bima berhasil, memecatnya akan menjadi keputusan yang salah bagi rumah sakit.
"Direktur, kita tidak bisa membiarkan pelanggaran prosedur ini begitu saja!" protes Dokter Surya tidak mau kalah.
"Jika kita membiarkannya, semua dokter magang akan berbuat seenaknya!"
Belum sempat Direktur Wira memberikan keputusannya, pintu ruangan kembali terbuka.
Seorang perawat gawat darurat masuk dengan wajah pucat pasi.
"Direktur! Dokter Hendra! Gawat!"
"Tuan Besar Pratama dari Grup Pratama Nusantara baru saja pingsan di lobi VIP!"
Mendengar nama Grup Pratama Nusantara, wajah semua petinggi rumah sakit langsung berubah tegang.
Itu adalah keluarga konglomerat paling berpengaruh di kota ini sekaligus donatur terbesar rumah sakit.
"Apa yang terjadi?!" Direktur Wira langsung berdiri dari kursinya.
"Kami tidak tahu, Direktur!"
"Beliau mendadak kejang dan sekarang batuk darah tanpa henti!"
"Semua tanda vitalnya menurun drastis!"
"Ayo kita ke sana sekarang!" perintah Direktur Wira.
Sidang disipliner itu seketika dibubarkan.
Dokter Surya, Dokter Hendra, dan Direktur Wira berlari keluar ruangan menuju IGD VIP.
Bima tidak ikut berlari, tetapi dia melangkah keluar dengan tenang mengikuti mereka dari belakang.
Suara mekanis dari sistem tiba-tiba berbunyi di dalam kepalanya.
[Peringatan Sistem.]
[Mendeteksi pasien dengan kelainan patologis yang sangat langka dalam radius lima puluh meter.]
[Misi Darurat Baru diaktifkan.]
[Selamatkan Tuan Besar Pratama dan dapatkan kepercayaan dari keluarga Pratama.]
[Hadiah: Peningkatan Level Pandangan Sinar-X menjadi Permanen dan Resep Obat Penawar Racun Tingkat Lanjut.]
Bima tersenyum tipis mendengar hadiah yang ditawarkan sistem.
Pandangan Sinar-X permanen adalah kemampuan dewa yang sangat dia butuhkan saat ini.
Sesampainya di ruang IGD VIP, suasana sudah sangat kacau.
Seorang pria tua terbaring di ranjang dengan tubuh kejang-kejang.
Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga menodai seprai putih.
Di samping ranjang, seorang wanita muda cantik berpakaian elegan sedang menangis tersedu-sedu.
"Kakek! Bertahanlah, Kek!"
Wanita itu adalah Kiara Pratama, cucu tunggal dari Tuan Besar Pratama.
Dokter Surya segera mengambil alih komando.
"Cepat siapkan alat kejut jantung dan suntikkan epinefrin dosis tinggi!"
"Dokter Surya, tekanan darah pasien terus anjlok!" lapor perawat yang memonitor layar.
"Apa penyebabnya?! Hasil labnya mana?!" teriak Dokter Surya panik.
"Kakek saya selama ini sehat, dia hanya sering mengeluh sakit perut ringan seminggu terakhir!" tangis Kiara.
Dokter Hendra memeriksa perut Tuan Besar Pratama dan wajahnya langsung memucat.
"Perutnya sangat keras seperti papan."
"Ini pendarahan internal organ dalam, tapi dari mana asalnya?!"
Dokter Surya mulai berkeringat dingin.
Menangani pasien biasa saja berisiko, apalagi orang paling berkuasa di kota ini.
Jika orang tua ini mati di tangannya, karirnya akan benar-benar tamat.
"Kita harus segera membuka perutnya di ruang operasi!" putus Dokter Surya dengan ragu.
"Tidak bisa, Dok!"
"Jantung pasien terlalu lemah untuk dibius total, dia akan mati di meja operasi!" potong Dokter Hendra.
Semua dokter senior terdiam membeku.
Mereka dihadapkan pada jalan buntu.
Di saat semua orang putus asa, sebuah suara tenang memecah kepanikan itu.
"Jangan sentuh perutnya."
"Dia tidak mengalami pendarahan internal organ."
Semua mata langsung menoleh ke arah sumber suara.
Bima Aditya melangkah maju menerobos kerumunan dokter spesialis itu.
"Bima! Apa yang kamu lakukan di sini?!" bentak Dokter Surya.
"Ini bukan tempat untuk dokter magang sepertimu, keluar!"
Bima sama sekali tidak mempedulikan Dokter Surya.
Mata Bima sudah berubah fokus karena dia mengaktifkan sisa waktu Pandangan Sinar-X miliknya.
Di matanya, tubuh Tuan Besar Pratama menjadi transparan.
Bima bisa melihat sesuatu yang menggeliat di dalam saluran pencernaan pria tua itu.
"Tuan Besar Pratama sedang mengalami reaksi anafilaksis berat akibat parasit langka."
Bima menunjuk tepat ke bagian ulu hati pasien.
"Ada koloni parasit Toxocara canis yang bermutasi menempel di dinding ususnya."
"Parasit itu sedang melepaskan neurotoksin yang menyebabkan kejang dan batuk darah."
Ruangan itu kembali hening selama beberapa detik.
Dokter Surya kembali tertawa keras, namun kali ini terdengar sangat dipaksakan.
"Parasit? Bermutasi? Neurotoksin?"
"Kamu benar-benar sudah gila, Bima!"
"Bahkan CT scan pun belum dilakukan, dari mana kamu dapat dongeng konyol seperti itu?!"
Kiara menatap Bima dengan mata sembap penuh keraguan.
"Dokter... apakah Anda yakin?" tanya Kiara pelan.
"Jika Anda salah mendiagnosis kakek saya, keluarga Pratama akan menghancurkan hidup Anda."
Bima menatap lurus ke mata Kiara dengan keyakinan absolut.
"Nona Kiara, jika kalian melakukan pembedahan sekarang, kakek Anda dipastikan meninggal."
"Beri saya waktu lima menit dan sebuah alat endoskopi."
"Saya akan buktikan bahwa apa yang saya katakan adalah kebenaran."