NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Vivi memejamkan mata sesaat. Lalu menarik napas panjang.Tidak. Ia tidak akan menangis. Sudah cukup. Ia sudah terlalu lama menangis untuk hal yang satu itu. Bertahun-tahun lalu, saat pertama kali menerima diagnosis itu. Saat melihat ibunya diam-diam menangis di kamar. Saat lelaki yang pernah mendekatinya memilih mundur. Saat mendengar bisikan orang-orang yang menganggap perempuan tidak lengkap jika tidak bisa melahirkan. Ia sudah melewati semua itu. Sudah berjuang menerima. Sudah belajar ikhlas. Sudah belajar mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh rahimnya. Jadi hari ini Ia tidak akan menangis. Tidak untuk Helda. Tidak untuk siapa pun. Namun meskipun tidak menangis Bukan berarti tidak sakit. Karena sakit tetaplah sakit. Terutama ketika luka lama disentuh begitu saja oleh orang yang bahkan tidak mengenalnya. Seolah kisah hidupnya hanya sebuah informasi yang bisa dibahas di ruang tamu. Seolah perjuangan bertahun-tahun itu tidak ada artinya.

Vivi mematikan keran. Lalu bersandar sebentar di meja dapur. Matanya menatap halaman belakang. Kosong. Yang membuatnya sedih sebenarnya bukan pertanyaan Helda. Bukan kata mandul yang diucapkan begitu saja. Bukan pula tatapan ingin tahu yang muncul sesudahnya. Yang membuatnya sedih adalah kenyataan bahwa hal itu terjadi di depan anak-anak. Di depan keluarga yang sedang berusaha ia cintai.

Keluarga.bKata itu terasa aneh. Karena beberapa bulan lalu ia bahkan tidak pernah membayangkan akan memiliki keluarga seperti ini. Suami. Lima anak. Rumah yang ramai. Makan malam yang berisik. Pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Lalu entah kapan Tanpa ia sadari Mereka mulai berarti.

Sean yang keras kepala. Yuan yang terlalu pintar. Saka yang selalu membuat kekacauan. Ella yang sensitif. Dan Lili yang selalu mencari dirinya. Mereka semua mulai mengambil tempat di hatinya. Sedikit demi sedikit. Tanpa izin. Tanpa pemberitahuan. Dan mungkin itulah masalahnya.

Vivi tersenyum pahit. Karena semakin menyayangi seseorang Semakin besar pula ketakutan untuk tidak dicintai kembali. Ia menunduk. Untuk pertama kalinya hari itu, pertanyaan yang selama ini berusaha diabaikannya muncul kembali. Apa mereka akan pernah menerima aku? Bukan sebagai pengganti ibu mereka. Bukan sebagai wanita yang dinikahi ayah mereka. Bukan sebagai guru yang tinggal serumah. Tetapi sebagai seseorang yang benar-benar menjadi bagian dari hidup mereka. Vivi tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu menakutkan.bKarena ia sudah memberikan begitu banyak ruang di hatinya untuk keluarga ini. Namun ia tidak tahu apakah di hati mereka ada ruang yang sama untuk dirinya.

Di saat itulah terdengar langkah kaki kecil mendekat. Pelan. Ragu-ragu. Tidak seperti biasanya. Vivi menoleh. Sean berdiri di ambang pintu dapur. Sendirian. Tanpa Yuan. Tanpa adik-adiknya. Tanpa siapa pun.

Anak itu tampak canggung. Seolah tidak tahu bagaimana memulai percakapan. Dan untuk pertama kalinya sejak Vivi mengenalnya, Sean terlihat seperti anak sepuluh tahun. Bukan pemimpin kecil yang selalu berusaha kuat. Bukan penjaga adik-adiknya. Hanya seorang anak yang sedang menyesal. Mereka saling menatap beberapa detik. Tak satu pun berbicara. Sampai akhirnya Sean menunduk. Lalu berkata pelan. Sangat pelan. Hampir tidak terdengar. "Maaf."

Vivi membeku.

"Aku nggak tahu itu rahasia." Sean masih menunduk. "Aku cerita ke Bibi. Aku pikir nggak apa-apa. Aku nggak tahu dia akan ngomong seperti itu." Suara Sean mulai bergetar.

Dan untuk pertama kalinya Vivi melihat rasa bersalah yang tulus di wajah anak itu. Sesaat, hati Vivi terasa hangat. Bukan karena masalahnya selesai. Bukan karena luka itu hilang. Tetapi karena mungkin, Mungkin, Di tengah semua konflik ini, satu anak yang paling melawannya, mulai peduli pada perasaannya. Dan mungkin itu adalah awal yang lebih berharga daripada kemenangan apa pun. Vivi menatap Sean beberapa saat. Anak itu masih berdiri di ambang pintu dapur. Kepalanya tertunduk. Jarinya saling bertaut gelisah. Seolah sedang menunggu dimarahi. Atau setidaknya ditegur. Namun Vivi justru menghela napas pelan. Lalu tersenyum tipis. Bukan senyum yang dipaksakan. Bukan juga senyum orang yang tidak terluka. Melainkan senyum seseorang yang memilih untuk mengerti. "Tak apa."

Sean perlahan mengangkat kepala. "Hah, tak apa?"

"Aku mengerti perasaanmu."

Anak itu tampak bingung. "Mengerti?"

Vivi mengangguk. "Iya. Aku juga pernah takut." Sean terdiam. "Waktu pertama kali datang ke rumah ini, aku takut sekali."

"Takut?"

"Ya, aku takut Sean, takut ditolak." Sean tidak menyangka jawaban itu. Vivi tersenyum kecil. "Aku bahkan tidak tahu apakah kalian mau bicara denganku. Aku tidak tahu apakah kalian akan membenciku. Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan."

Sean menunduk lagi. Karena ia tahu Sebagian ketakutan itu memang berasal darinya.

"Jadi aku mengerti." Vivi melanjutkan. "Kalau kamu takut kehilangan ibumu. Kalau kamu takut ayahmu berubah. Kalau kamu takut keluargamu berubah." Mata Sean mulai memerah lagi. "Perasaan itu tidak salah."

"Benarkah?"

"Ya, benar. Karena itu artinya kamu sangat menyayangi mereka."

Sean menggigit bibirnya. Lalu berkata pelan. "Tapi aku sudah membuatmu sedih."

Vivi tidak langsung menjawab. Karena itu memang benar. Ia memang sedih. Dan tidak ada gunanya berpura-pura tidak. Akhirnya ia berkata jujur. "Iya." Sean langsung semakin menunduk. Namun Vivi melanjutkan sebelum anak itu tenggelam dalam rasa bersalah. "Aku sedih. Tapi aku tidak marah." Sean mengangkat kepala lagi. "Karena aku tahu kamu tidak sengaja. Dan karena aku tahu kamu masih belajar. Juga aku yakin, sebenarnya kamu tak bermaksud membuatku sedih, kan?"

Lalu Sean menarik napas dalam-dalam. Seolah sedang mengumpulkan keberanian. Keberanian yang jauh lebih besar daripada saat melawan Vivi selama ini. Kemudian ia berkata, "Maaf karena aku tak memahamimu."

Kalimat itu sederhana. Namun membuat Vivi membeku sesaat. Karena selama ini semua orang meminta Sean memahami dirinya. Mematuhi orang dewasa. Bersikap baik. Menerima keadaan. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa Sean juga sedang berusaha memahami sesuatu yang bahkan orang dewasa pun sering gagal memahaminya. Kehilangan. Perubahan. Dan keluarga yang bentuknya tidak lagi sama.

Vivi merasakan dadanya menghangat. Pelan. Ia lalu agak berjongkok hingga sejajar dengan Sean. "Dan maaf karena aku juga belum selalu memahami perasaanmu."

Sean berkedip. "Kamu juga?"

"Tentu." Vivi tersenyum. "Aku bukan guru yang selalu benar. Eh, maksudku, aku bukan ibu tiri yang selalu benar."

Untuk pertama kalinya hari itu, Sean tertawa kecil.

Lalu tanpa banyak berpikir, Vivi mengusap rambutnya. Dan untuk pertama kalinya Sean tidak menghindar. Tidak menepis. Tidak mundur. Mereka masih belum menjadi keluarga yang sempurna. Masih ada Helda dan Nenek Ema. Masih ada luka lama. Masih ada banyak masalah yang menunggu di depan. Namun pagi itu, di dapur sederhana yang jauh dari sempurna Sesuatu akhirnya berubah. Bukan karena Sean menerima Vivi sebagai ibu. Bukan pula karena Vivi menggantikan siapa pun. Melainkan karena untuk pertama kalinya. Mereka berdua saling melihat sebagai manusia yang sama-sama terluka. Dan dari situlah hubungan yang sesungguhnya sering kali dimulai.

1
sryharty
aneh si bas ini
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
Ulfa Iin
kasian vivi Thor
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik
Cheer Pramudya
kereeeen kak... semangat Teruus ya
Ulfa Iin
bagus 👍
Anonim
Makasih y thor cerita nya menguras air mata sekali cerita nya 😍
Trie Broto
ceritanya enak dibaca...lanjut dan ttp semangat.
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Pahtrool
bagus ceritanya semangat buat autornya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!