Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 15: Gilang Mundur
Penyelidikannya telah dimulai.
Namun sebelum Sinta bergerak lebih jauh, masalah lain datang lebih dulu.
Jumat sore, Kirana menemukan Gilang menunggu di dekat papan pengumuman nilai kuis. Ia sudah jarang muncul sejak pertandingan basket, tetapi kali ini berdiri dengan wajah kusut dan lembar nilai di tangan.
Pagi sebelumnya, Winda sebenarnya sudah menunjukkan percakapan dengan petugas keamanan apartemen. Gilang tercatat datang enam kali dalam dua minggu dan dua kali menunggu lebih dari satu jam.
“Gue yang kirim kronologi ke bagian kemahasiswaan,” kata Winda. “Bukan buat bikin dia dikeluarkan. Biar ada orang resmi yang bilang berhenti.”
Kirana menatap daftar waktu di layar. “Kenapa lo nggak bilang dari awal?”
“Karena lo selalu bilang bisa menangani sendiri.” Winda meraih tangannya. “Bisa menangani bukan berarti harus sendirian.”
Kalimat itu mengingatkan Kirana pada Arya. Ia tidak suka ketika orang lain mengambil keputusan atas namanya, tetapi bukti di layar menunjukkan Gilang menganggap penolakan sebagai tantangan. Membiarkannya tidak akan membuat keadaan membaik.
“Saya mau prosesnya sebatas teguran dan aturan tidak menghubungi,” putus Kirana. “Kalau dia berhenti, jangan diteruskan.”
Winda mengangguk. “Gue sampaikan.”
Karena itulah, ketika Gilang muncul sore ini dengan tuduhan soal nilai, Kirana tidak lagi merasa bersalah karena meminta bantuan.
“Kirana, kita perlu bicara.”
“Tentang apa?”
“Prof. Arya.” Gilang menurunkan suara. “Lo tahu dia sengaja kasih nilai rendah ke gue?”
Kirana melihat kertasnya. Nilai enam puluh dua, dengan catatan bahwa dua jawaban tidak menyertakan langkah perhitungan.
“Jawaban lo memang nggak lengkap.”
“Dia cari alasan karena gue dekat sama lo.”
“Kita nggak dekat.”
Gilang mengabaikan kalimat itu. “Dosen misterius datang tiba-tiba, pakai mobil mahal, terus ngatur siapa yang boleh mendekati mahasiswi. Lo nggak merasa aneh?”
“Yang saya rasa aneh adalah kamu masih bicara seolah saya hadiah yang bisa diperebutkan.”
“Gue cuma mau melindungi lo.”
“Dengan merendahkan orang yang saya pilih untuk percaya?”
Gilang terdiam sesaat. “Jadi benar kalian pacaran?”
“Itu bukan urusan kamu.”
Pintu ruang dosen terbuka. Arya keluar bersama Prof. Hartono, membawa tumpukan rubrik kuis.
“Kalau ada keberatan nilai, masuk,” katanya kepada Gilang. “Kita periksa bersama.”
Gilang tampak tidak menyangka. Ia mengikuti keduanya ke ruang terbuka dekat administrasi. Kirana ikut berdiri di ambang pintu.
Prof. Hartono meletakkan salinan jawaban dan rubrik. “Penilaian saya dan Prof. Arya sama. Kamu kehilangan poin di langkah dua dan empat.”
Gilang membaca, wajahnya berubah merah. “Tapi kenapa saya dipanggil bagian kemahasiswaan?”
Arya menyandarkan punggung. “Karena ada tiga laporan bahwa kamu menunggu Kirana di depan apartemen, mengikuti rute jalannya, dan terus menawarkan antar-jemput setelah ditolak.”
“Saya nggak mengganggu.”
“Kirana sudah bilang tidak nyaman.”
“Ini urusan pribadi.”
“Kalau perilakumu membuat mahasiswa lain merasa tidak aman, kampus berhak memproses laporan.” Arya mendorong formulir ke arahnya. “Tidak ada hubungannya dengan nilai. Kamu boleh banding melalui program studi. Tetapi kalau kamu terus melanggar batasnya, catatan disiplin bisa memengaruhi beasiswa dan keikutsertaan kegiatan kampus.”
Gilang menatap Kirana. “Lo yang lapor?”
“Saya memberi tahu Winda. Petugas keamanan apartemen dan dua teman kelas melihat sendiri.”
Arya mencondongkan badan sedikit. Suaranya tetap rendah. “Kamu punya pilihan. Berhenti, minta maaf, dan fokus pada kuliah. Atau teruskan sampai ada keputusan disiplin resmi.”
“Prof mengancam saya?”
“Saya menjelaskan konsekuensi.”
Prof. Hartono mengetuk meja. “Dan untuk nilai, kerjakan remedial seperti mahasiswa lain. Jangan mencampuradukkan kegagalan akademik dengan masalah perilaku.”
Kesombongan Gilang perlahan runtuh. Ia menarik napas, lalu menghadap Kirana.
“Maaf. Gue pikir kalau terus berusaha, lo bakal lihat gue serius.”
“Saya sudah melihat. Dan saya tetap nggak mau.”
“Iya.” Gilang mengangguk kaku. “Gue berhenti.”
Beberapa mahasiswa di koridor menyaksikan saat ia mengembalikan formulir dan pergi. Tidak ada sorakan, tidak ada penghinaan. Hanya akhir yang seharusnya terjadi sejak penolakan pertama.
Winda yang menunggu di dekat tangga mendekat setelah Gilang hilang dari pandangan. “Dia benar-benar mundur?”
“Katanya begitu.”
“Kalau dia balik lagi, gue cetak kronologinya ukuran spanduk.”
Kirana tertawa kecil. “Nggak perlu. Kasih dia kesempatan menepati ucapan.”
“Lo terlalu baik.”
“Bukan. Saya cuma nggak mau hidup orang dihancurkan kalau satu batas resmi sudah cukup.”
Arya mendengar kalimat itu dari belakang. Tatapannya pada Kirana mengandung sesuatu yang sulit dibaca, mungkin kagum, mungkin tidak setuju dengan belas kasihnya. Namun ia tidak membantah keputusan Kirana.
Prof. Hartono membawa berkas kembali ke ruangannya. Kirana dan Arya berjalan keluar menuju taman kampus.
“Mas mengumpulkan laporan soal dia?”
“Rian membantu meminta rekaman keamanan. Winda memberi kronologi.”
“Kenapa nggak bilang ke saya?”
“Karena saya ingin memberimu pilihan untuk menghentikan proses jika kamu tidak nyaman.”
“Tapi Mas tadi kelihatan seperti mau menghancurkan hidupnya.”
“Saya hanya menunjukkan batas.”
Kirana berhenti di bawah pohon. “Kalau saya tidak meminta, jangan pakai nilai atau pekerjaan untuk menghukum orang yang mendekati saya.”
“Saya tidak akan menyentuh nilai siapa pun.”
“Dan jangan menganggap semua laki-laki gangguan.”
Arya menatapnya. “Kalau mereka menghormati kata tidak, saya tidak peduli.”
“Kalau tidak?”
Mata gelapnya menjadi dingin.
“Pengganggu harus disingkirkan.”
Angin sore menyentuh tengkuk Kirana. Di sore itu, ia merasa aman di samping lelaki tersebut, sekaligus baru melihat seberapa tajam perlindungan Arya bisa berubah.