NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Siksaan dari Bisa Kobra Mahkota Hitam berlangsung bagai ribuan kilat panas yang menghantam langsung ke dalam sumsum tulang Mu Jin. Selama tiga hari berturut-turut, tubuhnya bergetar hebat di atas meja batu, memuntahkan cairan lendir kehitaman saat tulang-tulangnya dipaksa menyerap racun pekat tersebut.

Kini, ruangan bawah tanah itu kembali lengang. Tetua Du Kang telah pergi untuk mengobati luka lehernya yang membusuk, meninggalkan Mu Jin yang terkulai kaku pada empat rantai besi hitam.

Sisa-sisa jahitan kasar di pipi kirinya membengkak kebiruan, menarik sudut bibirnya hingga membentuk ukiran senyum cacat yang mengerikan. Kulitnya yang bertransformasi menyerupai batu cadas kini dingin berselimutkan embun racun.

Srekk... srekk...

Sebuah suara gesekan pelan terdengar dari celah saluran pembuangan air di balik dinding batu.

Sebuah papan kayu lapuk terdorong pelan, dan dari dalam lubang sempit itu, merayap keluar seorang anak gadis kecil. Pakaian linen tebalnya yang dulu bersiap dijual di festival kini kusam, penuh noda lumpur dan lendir selokan. Anak kecil penjual lentera itu berhasil menyelinap menembus lorong pembuangan air yang mematikan demi mencari sosok yang telah menyelamatkan nyawanya.

Dengan langkah gemetar dan napas tertahan, anak itu mendekati meja pembedahan.

Namun, saat matanya menangkap sosok yang tergantung di hadapannya, langkah kakinya mendadak terhenti kaku.

“Pa... Paman?” bisik anak itu halus, suaranya tercekat di tenggorokan.

Anak kecil itu menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya yang gemetar hebat. Air mata seketika merebak hangat, menetes membasahi pipinya yang kotor. Sosok pria tegap berselimutkan mantel hitam yang dulu memberinya koin perunggu di tengah festival kini telah hancur total.

Wajah Mu Jin dipenuhi parut jahitan benang hitam kasar dari sudut bibir hingga ke dekat telinga. Kulitnya tak lagi berwarna manusia, melainkan abu-abu kusam dengan urat-urat hijau menonjol. Bau busuk racun dan tembaga terpancar sangat kuat dari tubuhnya.

“Paman... maafkan aku... ini semua gara-gara aku...” Isak tangis anak gadis itu akhirnya pecah, bergema pelan dalam keheningan dungeon.

Dia merayap mendekat, mengabaikan bau racun yang menyengat matanya. Tangannya yang mungil meraba-raba meja batu, menyambar sebuah pahat besi tumpul bekas alat pembedahan Du Kang. Dengan sisa tenaga kecilnya, anak itu memukulkan pahat tersebut ke pasak penekan yang mengunci rantai di pergelangan tangan kiri Mu Jin.

TANG! TANG!

Pukulan kecil itu sama sekali tidak menggores besi hitam, melainkan justru membuat jemari anak itu berdarah dan memar. Namun, dia terus memukul sambil menangis sesenggukan. “Bangun, Paman... Ayo kita keluar... Tolong bangun...”

Tetesan air mata anak kecil itu jatuh tepat di atas permukaan jemari Mu Jin yang kaku bagai batu.

Szzzt.

Sentuhan air mata yang hangat itu mendadak menjadi oasis kecil di tengah lautan neraka racun yang membakar kesadaran Mu Jin.

Di dalam kegelapan jiwa sang tukang kayu yang telah hancur dan membatu, sebuah denyut kehidupan murni merayap naik. Kelopak matanya yang terbalut kerak darah perlahan-lahan terbuka.

Pupil mata hitam pekatnya yang mati bergulir turun, menatap sosok anak kecil yang sedang memukuli rantainya dengan tangan berdarah.

Mu Jin membisu. Jahitan kasar di pipinya menegang saat rahangnya bergetar tipis. Dia tidak bisa bersuara, namun pendar di dalam matanya yang sempat padam kini memercikkan kembali seberkas niat membunuh yang jauh lebih pekat dari sebelumnya. Bukan lagi murni untuk dirinya sendiri, melainkan untuk meremukkan rantai yang mengurungnya di neraka ini.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!