NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Viral, Pemuda Misterius

"BANG! Lima juta views!"

Fajar masuk ke kantor Menara Langit tanpa mengetuk, mengangkat tablet seperti membawa piala. Di layar, video Lamborghini kuning melewati Porsche Reno di S cepat diputar ulang ribuan kali oleh akun berbeda. Judulnya makin lama makin liar: Pemuda Misterius Hancurkan Pewaris Sawit, Anak Baru Setengah Lap di Depan, Supercar Kuning Bikin Sirkuit Surabaya Gila.

Raka menutup laporan aset. "Pintu itu ada fungsinya, Jar."

"Aku sudah pakai. Aku membukanya dengan semangat."

Di sofa, Bayu yang sedang membaca kontrak mendengus. "Kalau semangat bisa jadi alasan melanggar etika kantor, negara ini selesai."

Fajar tidak peduli. "Boss, media minta wawancara. Tiga podcast, dua stasiun TV lokal, satu majalah otomotif. Aku sebagai PR Manager sementara menyarankan kita pilih yang paling mahal."

"Sejak kapan kamu PR Manager?"

"Sejak aku punya password akun resmi."

Raka mengambil tablet. Video itu memang bersih. Reno mengakui kekalahan, tidak ada drama buruk. Publik menyukai narasi seperti itu. Orang muda yang dulu tidak dikenal tiba-tiba membeli supercar, menang balapan, tetapi tetap bicara pendek.

Namun bagian komentar mulai berbau busuk.

Fajar menunjuk satu utas.

Akun anonim menulis: Saya kenal orang ini. Dulu cuma tukang cuci piring di Restoran Taman. Uang mendadak begini pasti dari judi online atau penipuan.

Balasan pertama masih biasa. Balasan kedua mulai menyebut nama Herman. Balasan ketiga membongkar foto lama Herman sebagai supervisor. Dalam satu jam, mantan karyawan Restoran Taman ikut bicara: potongan gaji, lembur tidak dibayar, ancaman laporan palsu, dapur kotor, service charge yang tidak jelas.

Internet mencium darah.

Rating Restoran Taman turun dari 4,2 menjadi 2,7 sebelum makan siang. Menjelang sore menyentuh 1,8.

Bayu membaca komentar dan tersenyum dingin. "Herman melakukan satu hal yang selalu saya hargai dari orang bodoh: menyerahkan bukti sendiri."

"Kita balas?" tanya Fajar.

Raka menggeleng. "Tidak dengan amarah."

Ia menulis pernyataan singkat di akun resmi PT Langit Sembilan.

Terima kasih atas dukungannya. Saya pernah bekerja di restoran dan tidak malu dengan itu. Masa lalu mengajarinya berjalan lebih dingin. Saya berharap semua pekerja mendapat haknya dengan layak.

Fajar membaca, lalu mengangkat alis. "Halus sekali."

Bayu tertawa. "Halus? Ini pisau. Dia tidak menyebut Herman, tapi semua mantan karyawan akan merasa diberi ruang untuk bicara."

Benar. Setelah pernyataan itu naik, komentar berubah dari gosip menjadi kesaksian. Orang-orang mulai membahas perlakuan terhadap pekerja restoran dan asal uang Raka. Herman kehilangan kendali atas narasi yang ia mulai sendiri.

[Mimpi: reputasi publik meningkat. Risiko doxing naik. Disarankan membeli Perisai Digital Dasar. Harga 2.000 poin.]

"Beli."

[Perisai Digital Dasar aktif. Perlindungan data pribadi keluarga inti, alamat vila, dan nomor kontak utama ditingkatkan.]

Fajar melihat Raka diam beberapa detik. "Sistem?"

"Perlindungan digital. Mulai sekarang jangan unggah lokasi real-time."

"Siap. Aku masih mau hidup."

Sore itu, Hendra Salim menelepon.

"Raka, kamu benar-benar membuat Surabaya tidak bisa tidur. Video balapmu sampai masuk grup pengusaha tua."

"Mereka tertawa?"

"Sebagian. Sebagian lagi mulai bertanya kamu anak siapa. Itu tanda mereka takut mengabaikanmu."

Raka berdiri di depan jendela kantor. Di bawah, kota bergerak seperti papan permainan yang mulai terbuka.

Hendra melanjutkan, "Aku mendapat undangan ke Balai Lelang Pusaka Nusantara. Bukan permata biasa. Antik, lukisan, aset lama. Pesertanya keluarga uang lama. Aku butuh partner yang punya mata tajam dan dompet tebal. Kamu tertarik?"

Mimpi langsung menampilkan respons.

[Potensi tinggi. Kemampuan Penilaian Menengah dapat digunakan untuk mendeteksi nilai tersembunyi antik.]

Raka menjawab, "Kapan?"

"Besok pagi. Tapi hati-hati. Di sana, uang baru sering diperlakukan seperti bau cat basah. Mereka akan bertanya keluarga, garis darah, sejarah."

"Mereka boleh bertanya. Saya datang untuk membeli."

Hendra tertawa puas. "Itu jawaban yang aku tunggu."

Setelah telepon ditutup, Fajar mulai menyiapkan pakaian, dokumen, kartu nama, dan daftar protokol. Bayu meminta ikut dari jarak jauh untuk memeriksa dokumen jika ada transaksi besar.

"Dunia yang berbeda, ya?" kata Fajar.

"Selama ini kita bermain di kota," jawab Raka. "Besok kita lihat meja yang lebih tua."

Mimpi berbicara pelan di kepala Raka.

[Host, old money tidak selalu menyerang dengan hinaan langsung. Mereka memakai tatapan, aturan, dan jaringan.]

Raka juga meminta Fajar memisahkan perhatian publik dari kehidupan Bibi dan Bintang. Foto sekolah Bintang yang mulai beredar di satu akun gosip kecil segera dilaporkan. Perisai Digital menurunkan penyebaran, tetapi Raka tetap merasa dingin di perut. Menjadi terkenal ternyata bukan hanya membuat musuh lama panik. Itu juga membuka jendela rumah bagi orang yang tidak pernah diundang.

Bayu menyiapkan peringatan hukum untuk akun yang menyebarkan alamat pribadi. "Kita tidak perlu menggugat semua orang," katanya. "Cukup buat tiga akun paling keras menerima surat, sisanya biasanya mendadak paham etika."

Fajar mengirim klarifikasi resmi tanpa menyebut ancaman. Ia juga menolak undangan podcast yang meminta Raka membahas Vera dan kehamilannya. "Tidak ada eksploitasi keluarga orang untuk engagement," kata Raka. Fajar mencatat kalimat itu sebagai aturan media pertama PT Langit Sembilan.

Menjelang malam, Herman muncul lagi lewat akun baru, menuduh semua mantan karyawan dibayar. Kali ini seorang mantan kasir mengunggah foto slip gaji dan potongan yang tidak pernah dijelaskan. Wulan, dari akun pribadinya, menulis singkat: Saya pernah bekerja satu lantai dengan Raka. Dia tidak mencuri. Dia hanya terlalu lama diam.

Kalimat itu membuat utas makin kuat. Raka tidak meminta Wulan membela, tetapi ia mengirim pesan terima kasih. Wulan membalas: Dulu Mas Raka memberi saya kesempatan melayani dengan benar. Sekarang saya cuma mengembalikan sedikit.

Saat itulah Raka sadar reputasi bukan hanya dibangun dari kemenangan besar. Ia juga lahir dari orang-orang kecil yang pernah melihat kita saat belum punya kuasa.

Raka juga memerintahkan laporan mingguan reputasi publik agar serangan bisa dideteksi lebih awal. Fajar membuat dashboard sederhana: kata kunci Raka, PT Langit Sembilan, Restoran Taman, Vera, Herman, Menara Langit. Setiap lonjakan negatif harus punya sumber.

"Kita jadi tim media beneran?" tanya Fajar.

"Kita jadi tim yang tidak tidur saat orang lain menyebar fitnah."

Bayu menambahkan, "Dan semua fitnah yang bernilai hukum masuk folder saya. Saya bosan membaca kontrak. Sedikit gugatan bisa menyegarkan hidup."

Dengan begitu, viral tidak lagi terasa seperti badai liar. Ia berubah menjadi radar. Raka tidak mengejar panggung, tetapi ketika panggung datang, ia memasang pagar di sekelilingnya.

Malam itu, nama Herman tidak lagi menjadi luka. Ia menjadi contoh.

"Bagus," kata Raka. "Berarti kalau mereka kalah, sakitnya lebih dalam dan lebih lama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!