Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Bersama
Lift terbuka. Cassia melangkah keluar dan matanya langsung membulat.
Apartemen itu mewah, nyaman, dan elegan tentunya. Meskipun Cassia tahu ada apartemen ini di atas gedun kantornya, tapi dia baru kali ini memasukinya.
"Tuan ... ini terlalu indah. Aku tidak—"
"Kamar tidur utama di ujung koridor," Max memotongnya sambil membawa kopernya masuk. "Kamar tidur kedua bisa untuk tamu atau bisa kau jadikan ruang kerja pribadi. Pilih mana yang kau suka."
Cassia berjalan perlahan, seperti takut merusak lantai yang mengkilap itu. Dia menyentuh ujung sofa dengan ujung jarinya, lalu melihat ke arah dapur dengan peralatan modern yang masih terbungkus plastik bening.
"Tuan, berapa lama aku boleh tinggal di sini?"
"Selama kau masih bekerja untukku. Dan bahkan setelah itu, kita bicarakan nanti."
Max meletakkan kedua koper di dekat pintu kamar tidur utama lalu berbalik.
"Kau lapar?" tanya Max tiba-tiba.
Cassia menggeleng. "Tidak, Tuan. Aku masih kenyang dari makan siang tadi."
"Bohong. Aku lihat kau tidak menyentuh makan siangmu karena terlalu sibuk menyiapkan dokumen untuk pertemuan besok. Aku pesan makanan. Kau mau apa?"
Cassia terdiam sesaat. Dia tidak terbiasa ada orang yang memperhatikan hal-hal kecil seperti ini—apalagi bosnya sendiri, pria yang diam-diam dia sukai. "Apa saja, Tuan. Aku tidak pilih-pilih."
Max mengeluarkan ponselnya. Jarinya bergerak cepat memesan dari restoran Italia langganannya.
Lalu dia berjalan ke jendela besar, menatap ke bawah ke arah lampu kota.
"Pemandangan bagus dari sini," katanya. "Aku dulu sering datang ke unit ini kalau ingin menghilang sebentar dari kesibukan. Untuk sekadar menenangkan pikiran."
Cassia berjalan dan kemudian berdiri di sampingnya, agak menjaga jarak sopan. "Tuan ... kenapa Tuan begitu baik kepadaku malam ini?"
Max tidak menjawab segera.
"Karena aku sadar sudah lama memperlakukanmu seperti perabotan kantor," ucap Max akhirnya. "Ada di sana, bekerja, tapi tidak pernah benar-benar kulihat. Maafkan aku, Cass. Kau pantas mendapatkan lebih dari itu."
Cassia menunduk. Ada rasa haru di sana. Tapi dia sedikit penasaran kenapa sang bos tiba-tiba perhatian padanya. Apakah karena kehadidan Bryan? Cassia menggelengkan kepalanya. ‘Tidak mungkin karena Bryan.’
"Tuan ... terima kasih. Aku ... aku tidak tahu harus berkata apa."
"Tidak usah berkata apa-apa.”
Mereka berdiri diam di hadapan jendela itu. Malam semakin larut. Di kejauhan, Max samar-samar mendengar ponselnya bergetar berkali-kali—pastilah Julian yang menanyakan keberadaannya.
Tapi dia tidak peduli. Pesta private di penthouse Julian tidak ada artinya lagi baginya.
Ketika makanan pesanan tiba, Max justru memakannya bersama Cassia di meja makan apartemen itu—bukan sebagai bos dan sekretaris, tapi sebagai dua manusia yang baru saja memulai sesuatu yang tidak bisa mereka beri nama.
Perasaan Cassia? Seperti sedang terbang karena terlalu bahagia. Tapi dia tetap harus mengendalikan dirinya.
Dia tak boleh bersikap berlebihan dan tetap harus profesional meskipun ini di luar pekerjaan.
“Tuan, ponsel anda bergetar sejak tadi. Mungkin itu penting,” kata Cassia ketika mereka menikmati makan malam bersama.
Max menghela napasnya lalu mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk. Ada beberapa pesan masuk, paling banyak dari Julian.
Tapi, Max justru membuka pesan dari anak buahnya yang tadi pagi disuruhnya mencari tahu tentang Bryan dan Cassia di pesta kemarin.
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭