Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGISAN PALSU
Jam dinding di ruang rapat menunjukkan pukul satu siang. Cahaya matahari terik menyelinap lewat celah tirai, menciptakan garis-garis cahaya di atas meja marmer hitam. Di hadapanku, Arya sedang menyelesaikan panggilan telepon terakhir dengan kepala divisi PR PT Mitra Sejahtera. Suaranya rendah, tegas, dan tidak memberi ruang untuk negosiasi.
"Pastikan rilis pers dikirim ke semua portal berita utama dalam lima belas menit," ucap Arya menutup pembicaraan. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatapku.
"Sudah. Narasi kita aman. Fokusnya murni pada pelanggaran keamanan data. Tidak ada celah untuk dikaitkan dengan urusan pribadi."
Aku menghela napas lega, bahu ku turun sedikit.
"Bagus. Sekarang tinggal menunggu reaksi Nia ketika dia melihat namanya terpampang di headline sebagai pelaku cybercrime."
"Reaksinya akan datang lebih cepat dari yang kamu kira," jawab Arya, mendorong laptopnya ke arahku. Layarnya menampilkan feed media sosial real-time. Dan benar saja—baru tiga menit sejak rilis pers dipublikasikan, kolom komentar sudah dibanjiri ribuan respons. Tapi bukan simpati. Bukan dukungan. Melainkan kecaman, ejekan, dan tagar #NiaPenipu yang mulai trending.
"Dia mencoba membela diri," ucap Arya, menunjuk sebuah postingan yang baru saja muncul dari akun pribadi Nia. Isinya panjang lebar, penuh tangisan emoji dan klaim bahwa ia adalah korban fitnah korporat.
"Tapi lihat bagaimana publik merespons."
Aku membaca komentar-komentar di bawah postingan itu. Satu per satu, narasi Nia hancur lebur. Karyawan PT Mitra Sejahtera yang pernah menjadi rekan kerjanya memposting screenshot chat internal yang membuktikan Nia sering memanipulasi data laporan keuangan. Mantan pacar Nia mengunggah foto-foto lama yang menunjukkan gaya hidup mewahnya yang tidak sesuai dengan gaji seorang asisten pribadi. Bahkan ibu Nia sendiri—yang selama ini digambarkan sebagai wanita tua malang oleh Nia—turut berkomentar:
"Anakku memang suka berbohong sejak kecil. Maafkan saya sebagai orang tua yang gagal mendidiknya."
Aku tertawa kecil. Tawa yang renyah, bebas, dan penuh kepuasan.
"Dia pikir bisa mengendalikan narasi dengan air mata palsu. Tapi dia lupa satu hal: di era digital, kebohongan tidak punya tempat berlindung."
"Tepat," konfirmasi Arya, matanya berbinar bangga.
"Dan sekarang, saatnya kita memberikan pukulan terakhir. Laporan kepolisian cybercrime sudah saya serahkan tadi pagi. Petugas akan menjemput Nia di kantornya dalam waktu kurang dari satu jam."
Aku mengangguk, merasakan adrenalin mengalir deras. Ini bukan sekadar kemenangan strategis. Ini adalah keadilan yang наконец tiba. Setelah lima tahun menderita dalam diam, setelah mati di lantai kamar mandi yang dingin, setelah dibuang seperti sampah tak berharga—kini, pengkhianat itu akhirnya merasakan beratnya konsekuensi.
Ponselku bergetar. Nama Fadli muncul di layar. Kali ini, aku tidak membiarkannya berdering lama. Aku mengangkatnya segera, suaraku tenang namun mengandung peringatan tajam.
"Halo, Fadli."
"Siren! Kamu lihat kan? Mereka menyerang Nia! Itu nggak adil! Dia cuma anak muda yang butuh bantuan! Kamu harus hentikan ini!"
Suara Fadli terdengar panik, marah, dan putus asa. Nada suaranya sama persis seperti lima tahun lalu—nada suami yang merasa berhak mengatur istri, meski kini posisinya telah berbalik seratus delapan puluh derajat.
"Fadli," potongku, suaraku datar tanpa emosi.
"Saya tidak menyerang siapa pun. Saya hanya memastikan hukum berjalan sebagaimana mestinya. Nia melanggar undang-undang cybercrime. Itu fakta. Bukan opini. Bukan balas dendam. Fakta."
"Tapi dia hamil! Kamu nggak punya hati!" teriaknya, suaranya pecah.
"Bayi itu nggak bersalah! Kamu mau bunuh masa depan anak itu?"
"Bayi itu bukan milikmu, Fadli," balasku, nadaku tetap stabil meski jantungku berdegup kencang mendengar kata 'bayi'.
"Dan bahkan jika itu anakmu, kehamilan bukan lisensi untuk melakukan kejahatan. Nia memilih jalan ini. Dia memilih meretas server perusahaan. Dia memilih memalsukan dokumen pinjaman. Dan sekarang, dia harus menghadapi pilihannya sendiri."
"Kamu Berengsek!" desisnya, napasnya tersengal-sengal. "Aku akan laporin kamu! Aku akan—"
"Lapor apa, Fadli?" tanyaku, suaraku kini mengandung baja.
"Lapor bahwa mantan istrimu memastikan penjahat dihukum sesuai hukum? Lapor bahwa kamu masih membela wanita yang mencoba mencuri asetmu dan merusak reputasimu? Silakan. Tapi ingat, setiap langkah ceroboh yang kamu ambil hari ini akan menjadi bukti tambahan di pengadilan nanti. Bahwa kamu tidak layak mendapatkan hak asuh, tidak layak mendapatkan kompensasi, dan tidak layak mendapatkan simpati hakim."
Ada keheningan di seberang sana. Napas Fadli terdengar berat, seperti pria yang baru saja menyadari bahwa semua pintunya telah tertutup rapat.
"...Kamu menang, Siren," bisiknya akhirnya, suaranya hancur sepenuhnya. "Kamu benar-benar menang."
"Aku tidak menang, Fadli," jawabku pelan, jujur. "Aku hanya akhirnya berhenti kalah."
Aku menutup telepon. Tanpa rasa puas sadis. Tanpa kebanggaan sombong. Hanya kelegaan yang dalam dan jernih. Seperti beban yang akhirnya diangkat dari pundak setelah bertahun-tahun dipikul sendirian.
Arya menatapku dari seberang meja. Matanya lembut, penuh pengertian. Ia tidak perlu bertanya apakah aku baik-baik saja. Ia tahu. Karena ia ada di sini. Menyaksikan setiap langkahku. Mendukung setiap keputusan. Tanpa menghakimi. Tanpa mendominasi.
"Siren," ucapnya pelan, suaranya hangat seperti selimut di malam dingin.
"Kamu hebat. Bukan karena kamu menghancurkan mereka. Tapi karena kamu tetap utuh di tengah badai."
Aku menatapnya, mataku berkaca-kaca. Bukan karena sedih. Tapi karena melihatku—bukan sebagai korban, bukan sebagai senjata, tapi sebagai manusia yang layak dicintai apa adanya.
"Terima kasih, Arya," bisikku, suaraku bergetar.
"Bukan hanya untuk strategimu. Tapi untuk... keberadaanmu. Untuk mengingatkan bahwa setelah semua kehancuran, masih ada ruang untuk sesuatu yang nyata."
Ia tersenyum. Senyum yang hanya dành untukku. Senyum yang menjanjikan bahwa badai akan berakhir, dan matahari akan finally terbit untuk kita berdua.
Permainan baru saja memasuki babak kesembilan. Dan kali ini, aku tidak hanya bermain untuk bertahan. Aku bermain untuk membangun. Bersama seseorang yang finally mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah tentang memiliki, tapi tentang saling menguatkan di tengah reruntuhan.