Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.
This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.
Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.
Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Tamu Tak Diundang
Pagi sebelum Lebaran datang dengan suara sapu lidi di halaman dan aroma bawang putih dari dapur.
Bima sudah bangun sejak subuh. Tubuh yang baru diperkuat Kapsul Penguatan Tubuh (Dasar) seolah tidak membutuhkan banyak tidur. Ia membantu Pak Harto mengangkat galon, memindahkan kursi plastik ke teras, lalu membawa dua karung beras dari warung kecil di depan gang tanpa napasnya berubah.
Pak Harto memperhatikan dari dekat pintu.
"Bima," katanya pelan, "itu karung dua puluh lima kilo. Kamu angkat dua sekaligus?"
Bima menurunkannya di samping dapur. "Biar cepat, Pak."
Ratna yang sedang mengelap meja langsung menunjuk. "Nah! Aku bilang juga apa. Mas Bima pulang dari Bandung bawa mode rahasia. Kemarin koper ringan, sekarang beras dua karung. Jangan-jangan kamu ikut latihan bela diri?"
"Latihan antre di toko kelontong," jawab Bima.
Ratna mendengus. "Jawabanmu makin ngeselin sejak viral."
"Ratna," Bu Sri menegur dari dapur, tapi suaranya tidak benar-benar marah. "Jangan sebut-sebut video itu. Nanti kalau Papa dengar, kepalanya tambah penuh."
Pak Harto menoleh. "Video apa?"
Ratna membeku.
Bima menatap adiknya.
Ratna langsung mengangkat lap meja seperti bendera putih. "Video resep kue, Pa. Aku mau belajar bikin nastar."
Pak Harto jelas tidak percaya, tapi ia memilih tidak mengejar. Mungkin karena hari itu sudah cukup berat. Sejak telepon Tante Lina semalam, rumah kecil itu bergerak dengan semacam kegugupan yang ditutup-tutupi. Bu Sri menyapu ulang lantai yang sudah bersih. Pak Harto memeriksa kursi tamu tiga kali. Ratna mengganti taplak meja, lalu menggantinya lagi karena menurutnya yang pertama "terlalu kelihatan miskin".
Kalimat itu ia ucapkan sambil bercanda, tapi Bima melihat Bu Sri berhenti mengaduk kuah beberapa detik.
Di rumah ini, Tante Lina belum datang saja sudah membuat orang memilih taplak meja seperti memilih baju perang.
Sekitar pukul sepuluh, suara klakson pendek terdengar dari depan gang.
Suaranya berbeda dari klakson motor tetangga atau mobil bak pengantar galon.
Bunyi itu terlalu percaya diri.
Ratna mengintip dari jendela. Wajahnya langsung berubah. "Mereka sudah datang."
Sebuah Fortuner hitam berhenti di depan rumah, mengambil hampir seluruh ruang gang. Catnya mengilap seperti sengaja dicuci di tempat mahal sebelum masuk kampung. Pintu depan terbuka lebih dulu. Seorang pria bertubuh besar turun sambil merapikan kacamata hitam di kepalanya.
Om Darmawan.
Kemejanya putih, jam tangannya besar, sepatunya terlalu mengilap untuk tanah gang. Ia melihat rumah Harto seolah sedang menilai bangunan proyek yang gagal tender.
Pintu belakang terbuka.
Tante Lina turun dengan tas tangan krem yang logonya sengaja menghadap keluar. Senyumnya lebar, tapi matanya bergerak cepat: pagar kusam, teras sempit, kursi plastik, sandal murah di depan pintu.
Di belakangnya, Siska Kurniawan keluar sambil menatap layar ponsel. Ia memakai blouse mahal dan rok pendek yang rapi, wajahnya cantik dengan gaya orang yang terbiasa difoto dari sudut terbaik. Ketika melihat Ratna di jendela, ia tersenyum tipis.
Senyum itu terlalu rapi untuk seorang sepupu.
Senyum orang yang sudah merasa menang bahkan sebelum masuk rumah.
"Mas Harto!" Tante Lina berseru manis. "Aduh, rumahnya masih sama ya. Nostalgia sekali."
Pak Harto tersenyum dan berjalan menyambut. "Lina, Darmawan. Ayo masuk. Perjalanan lancar?"
"Lancar, Mas," jawab Tante Lina sambil memeluk udara di dekat bahu Pak Harto, tidak benar-benar menyentuh. "Cuma gangnya agak sempit. Darmawan sampai takut mobilnya kegores. Maklum, mobil baru."
Om Darmawan tertawa pendek. "Tidak apa-apa, Mas. Sesekali mobil masuk kampung juga perlu. Biar ingat akar."
Ratna menunduk, rahangnya mengeras.
Bu Sri keluar dengan senyum yang terlalu rapi. "Mbak Lina, masuk dulu. Sudah saya siapkan minum."
"Aduh, repot-repot." Tante Lina melangkah masuk sambil mengangkat sedikit ujung celananya, seakan lantai rumah itu berlumpur. "Sri masih rajin ya. Kalau di rumah saya sekarang, biasanya sudah ada mbak yang urus. Tapi bagus juga sih, tangan sendiri lebih... hemat."
Kata terakhir jatuh pelan, tapi cukup keras untuk didengar semua orang.
Bima berdiri di sisi ruang tamu, tidak langsung menyapa.
Panel SBE muncul di sudut pandangnya.
[Pemerasan Moral Terdeteksi: Mode Keluarga.]
[Target awal: Tante Lina.]
[Indikator: penghinaan terselubung, perbandingan ekonomi, tekanan status keluarga.]
[Poin pengamatan aktif.]
Bima tidak bergerak. Ia membiarkan Tante Lina masuk lebih jauh.
Dalam konfrontasi publik, ia bisa memotong cepat. Keluarga berbeda. Di sini, satu kalimat terlalu cepat bisa berubah menjadi "anak tidak sopan", lalu justru menyakiti Pak Harto dan Bu Sri. Ia perlu membiarkan racun itu keluar cukup banyak sampai semua orang melihat warnanya.
"Ini Bima?" Tante Lina akhirnya menoleh kepadanya. "Aduh, sudah besar. Terakhir Tante lihat, kamu masih kurus dan pendiam. Sekarang... masih pendiam juga ya?"
Bima tersenyum sopan. "Selamat datang, Tante Lina."
"Sopan juga." Tante Lina menatap Bu Sri. "Bagus, Sri. Anak laki-laki memang harus diajari sopan. Di luar sana, anak muda suka merasa paling benar."
Ratna langsung melihat Bima. Ia tahu kalimat itu mengenai video bus.
Bima tetap tersenyum. "Betul, Tante. Sopan itu penting. Terutama kalau dipakai bersama niat baik."
Senyum Tante Lina berhenti sepersekian detik.
[Poin +11]
Om Darmawan meletakkan kotak besar berbungkus kertas emas di meja. "Ini sedikit bingkisan Lebaran. Jangan dilihat nilainya, Mas Harto. Yang penting niat."
Kertasnya mewah. Pita merahnya besar. Bu Sri tampak sungkan saat membukanya.
Di dalamnya ada sirup murah, biskuit kaleng kecil, dan satu sarung tipis yang harganya mudah ditebak dari label yang belum dilepas.
Ratna menatap isi kotak itu, lalu menatap tas Tante Lina yang mungkin harganya berkali-kali lipat dari seluruh bingkisan.
"Aduh, terima kasih banyak," kata Bu Sri cepat, menutup kembali kotak itu sebelum suasana sempat menjadi terlalu telanjang.
Tante Lina duduk di kursi ruang tamu, menyilangkan kaki. "Maaf ya, Sri, kami bawa seadanya. Kemarin mau beli yang lebih bagus, tapi Darmawan bilang, buat keluarga sendiri tidak perlu gengsi. Yang sederhana saja, biar cocok."
Pak Harto tertawa pelan, tawanya kosong. "Sudah lebih dari cukup, Lina."
Bima melihat tangan ayahnya di atas lutut. Jari-jari itu menekan kain celana, lalu dilepaskan lagi. Gerakan kecil, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa Pak Harto sedang menelan sesuatu.
[Poin +17]
Siska yang sejak tadi diam akhirnya duduk di samping Ratna. Ia melihat ruang tamu kecil itu, lalu berkata, "Rat, kamu masih tidur sekamar sama Mama?"
Ratna mengangkat alis. "Tidak. Kenapa?"
"Oh, kirain. Rumahnya kan kecil. Aku cuma mikir, kalau mau bikin konten, background-nya susah ya. Di rumahku saja aku harus pilih sudut yang bagus."
Ratna tersenyum tajam. "Tenang. Aku kalau bikin konten, yang penting mukaku. Background cuma bonus."
Siska tertawa kecil. "Percaya diri banget. Bagus."
"Daripada percaya diri pakai filter, Sis."
Suasana ruang tamu langsung menegang.
Bu Sri cepat memotong, "Siska mau minum apa? Es jeruk? Teh?"
Siska melirik Ratna, lalu tersenyum manis pada Bu Sri. "Apa saja, Tante. Yang ada saja."
Yang ada saja.
Lagi-lagi kalimat kecil yang terlihat sopan tapi disusun untuk membuat rumah itu terasa kurang.
Bima mengambil gelas dari nampan Bu Sri sebelum ibunya harus berjalan bolak-balik. "Biar saya, Bu."
Tante Lina memperhatikan. "Wah, Bima sekarang rajin. Di Bandung kerja apa memangnya? Masih kontrak-kontrak begitu?"
Pak Harto buru-buru menjawab, "Bima baru pulang, Lina. Nanti soal kerja pelan-pelan."
"Lho, saya kan tanya karena peduli." Tante Lina mengangkat tangan, seolah difitnah. "Anak laki-laki umur segini harus jelas arahnya. Jangan sampai orang tua terus yang mikir. Kasihan Mas Harto. Warung juga tidak seberapa, kan?"
Kalimat itu membuat ruangan berhenti bernapas.
Bu Sri menunduk ke nampan. Pak Harto tersenyum lagi, lebih lemah dari sebelumnya. Ratna membuka mulut, tapi Bima mendahuluinya dengan meletakkan gelas teh tepat di depan Tante Lina.
Tidak keras.
Cukup presisi sampai suara dasar gelas menyentuh meja terdengar jelas.
"Tehnya, Tante. Hati-hati panas."
Tante Lina menatapnya. "Terima kasih."
"Sama-sama," kata Bima. "Kalau terlalu pahit, bilang saja. Nanti saya tambahkan gula."
Om Darmawan tertawa. "Anak muda sekarang memang pintar ngomong. Tapi ngomong saja tidak cukup, Bima. Laki-laki itu dinilai dari hasil. Rumah, mobil, tabungan. Betul tidak, Mas Harto?"
Pak Harto dipaksa masuk ke arena.
Bima melihat itu dan mencatatnya.
Darmawan mengikuti serangan istrinya dengan cara sendiri. Ia menyerang lewat perbandingan, lalu meminta korban mengangguk agar penghinaan itu terlihat seperti nasihat.
"Betul," jawab Pak Harto pelan. "Hasil itu penting."
Om Darmawan puas. "Nah. Makanya Bima harus belajar. Kalau mau, nanti Om kenalkan orang proyek. Kerja lapangan dulu. Panas-panasan tidak apa-apa. Daripada di Bandung tidak jelas."
"Terima kasih, Om," kata Bima. "Kalau nanti saya butuh pekerjaan yang mengajarkan cara menilai orang dari mobil, saya hubungi Om."
Ratna hampir tersedak es teh.
Siska menatap Bima, matanya menyipit.
Tante Lina memiringkan kepala. "Maksud kamu apa, Bima?"
"Maksud saya, pengalaman Om luas. Tidak semua orang bisa langsung tahu nilai seseorang hanya dari kendaraan dan tabungan. Itu bakat."
Kalimat itu terdengar seperti pujian jika dibaca tanpa nada. Semua orang di ruangan itu tahu ada pisau tipis di bawahnya.
[Poin +23]
Om Darmawan menurunkan gelas. Senyumnya tidak hilang, tapi matanya berubah dingin.
Pak Harto cepat berdiri. "Sudah, sudah. Lina pasti capek. Kamar belakang sudah disiapkan. Nanti sore kita ke restoran, ya? Hartono juga bilang keluarga besar kumpul di Rejeki Makmur."
Tante Lina langsung tersenyum lagi. "Iya, soal itu. Aku sudah bantu atur jamnya. Kita berangkat agak sore saja dari sini. Yang lain mungkin sudah datang duluan, tapi tidak apa-apa. Mas Harto kan biasanya juga santai."
Bima menangkap jeda kecil di kalimat itu.
"Jam berapa acaranya, Tante?" tanyanya.
"Jam lima," jawab Tante Lina terlalu cepat. "Kita dari sini setengah lima cukup."
Siska menunduk ke ponsel, ibu jarinya berhenti bergerak sedetik. Om Darmawan mengambil teh. Tante Lina tersenyum terlalu stabil.
Pembaca Mikro-ekspresi belum ia miliki. Bima tidak membutuhkan skill untuk melihat orang yang baru saja berbohong.
Ia hanya menyimpan kalimat itu.
Sore harinya, rumah terasa lebih sempit setelah keluarga Lina masuk ke kamar tamu. Bu Sri mencuci gelas di dapur dengan gerakan cepat. Bima berdiri di sampingnya, mengeringkan piring satu per satu.
"Tidak usah, Nak," kata Bu Sri pelan. "Biar Ibu saja. Kamu istirahat."
"Saya bantu."
Bu Sri diam sebentar. Air mengalir dari keran kecil. Dari ruang tengah terdengar suara Tante Lina tertawa saat menelepon seseorang, menyebut kata "kampung" dua kali dalam satu menit.
Tangan Bu Sri berhenti.
"Sabar ya, Nak," bisiknya. "Namanya juga keluarga."
Kalimat itu lembut, tapi di telinga Bima terdengar seperti pintu yang sudah terlalu lama dipaksa menahan angin.
Panel SBE menyala.
[Misi baru tersedia.]
[Hadapi Pemerasan Moral Keluarga di Gathering Lebaran.]
[Hadiah berdasarkan performa.]
Bima meletakkan piring kering ke rak. Ia menatap bayangan Bu Sri di kaca jendela dapur: senyum yang dipaksa, mata yang lelah, bahu yang tetap tegak karena seorang ibu tidak boleh terlihat kalah di depan anak-anaknya.
"Tenang, Bu," kata Bima.
Bu Sri menoleh. "Apa?"
Bima tersenyum.
"Besok di restoran, biar semua orang lihat siapa yang sebenarnya perlu dikasihani."