Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Rahasia yang Disimpan Lapar
Suara mobil Sebastian menghilang di balik gerbang ketika Lia mengikat celemek di dapur keluarga Wijaya.
Ia tidak tahu pria itu sempat menanyakan dirinya. Yang ia tahu, masa depannya untuk tiga hari ke depan ditentukan oleh tiga tungku kompor, sekeranjang bahan segar, dan perempuan-perempuan Wijaya yang sedang menunggu di ruang makan.
“Babi kecapnya jangan terlalu manis,” pesan Popo dari ambang pintu. “Cornelia sekarang sedikit-sedikit takut gula.”
“Mama, saya bukan takut gula. Dokter hanya menyuruh mengurangi,” sahut Nyonya Cornelia dari luar.
Popo mendengus. “Sama saja.”
Lia menahan senyum. Tangannya mulai bergerak lebih tenang. Jahe digeprek, bawang putih dicincang, lalu masuk ke minyak panas dengan bunyi berdesis. Aroma gurih segera memenuhi dapur.
Di tempat inilah ia paling mengerti apa yang harus dilakukan.
Ia menumis ayam bersama jahe dan minyak wijen, mengentalkan kuah babi kecap sampai mengilap, lalu menambahkan sawi asin ke dalam sup bening. Jarinya bekerja cepat tanpa membuang bahan sedikit pun. Setiap potongan daging memiliki ukuran hampir sama. Setiap ceceran saus langsung ia bersihkan.
Ketika hidangan dibawa ke meja, Engkong Tek Sun sudah duduk dengan sendok di tangan.
“Yang pedas mana?” tanyanya.
“Tidak ada yang pedas, Engkong,” jawab Popo.
“Apa? Kurang pedas?” Engkong menoleh kepada Lia. “Tambah cabai.”
“Jangan,” kata Popo dan Cornelia bersamaan.
Lia menunduk agar mereka tidak melihat tawanya.
Cornelia mencicipi ayam jahe lebih dulu. Wajahnya tetap tenang, tetapi sumpitnya kembali mengambil potongan kedua. Popo menyendok sup, meniupnya pelan, lalu berhenti setelah suapan pertama.
Mata tuanya berkilat.
“Rasa seperti ini sudah lama tidak ada di meja ini,” ucapnya. “Jahe, sawi asin, sedikit lada putih. Persis masakan di rumah lama.”
Lia menggenggam ujung celemek. “Popo Hwa yang mengajari saya.”
“Bagus. Jangan ubah resepnya.”
Tangis bayi terdengar dari ruang keluarga. Seorang pengasuh membawa Bryan yang masih merah dan kecil mendekat ke meja. Bayi itu menggeliat di dalam bedong, mulutnya terbuka, kedua tinjunya mengepal.
Saat Lia mencondongkan tubuh untuk melihat, tangisan Bryan melemah sesaat. Hidung kecilnya bergerak seperti mencari sesuatu.
“Aneh,” gumam Cornelia. “Tadi dari pagi tidak berhenti.”
Lia langsung mundur satu langkah. Perutnya masih kosong, tetapi ia telah berkeringat karena panas kompor. Jangan sampai aroma itu muncul sekarang.
Cornelia kembali menatap meja. “Masakanmu baik. Selama tiga hari percobaan, kamu tinggal di kamar belakang dan makan di sini. Kalau pekerjaanmu cocok, gajinya tiga juta delapan ratus ribu sebulan, termasuk tempat tinggal dan makan.”
Angka itu membuat jari Lia bergetar.
Ia bisa membayar tunggakan kos, menyimpan sedikit uang, mungkin membeli tiket jika suatu hari harus pergi lebih jauh lagi.
“Terima kasih, Tante Cornelia. Saya tidak akan mengecewakan.”
“Buktikan lewat kerja.”
Popo meletakkan sepotong ayam ke mangkuk kecil. “Sekarang kamu makan.”
“Nanti saja, Popo. Saya masih harus membersihkan dapur.”
“Kerja tidak akan lari.”
Lia tersenyum tipis, tetapi tidak menyentuh mangkuk itu.
***
Malam sudah larut ketika Lia akhirnya masuk ke kamar belakang. Ruangannya sederhana, hanya berisi ranjang tunggal, lemari dua pintu, meja kecil, dan kipas dinding. Namun seprai bersih serta pintu yang bisa dikunci membuat dadanya terasa lebih longgar daripada selama berbulan-bulan terakhir.
Di atas meja ada nasi dan lauk yang disisihkan dapur.
Lia makan tiga suap, lalu berhenti.
Perutnya memprotes. Lidahnya masih mengingat babi kecap yang dimasaknya sendiri. Akan tetapi, kulit di tengkuknya mulai menghangat. Tanda pertama selalu sama.
Ia menutup kotak makan.
Sejak kecil tubuhnya lemah dan sering demam. Popo Hwa memberinya ramuan warisan dari akar, buah kering, dan rempah yang dimasak berjam-jam. Bukan sihir, bukan penyakit. Hanya jamu keluarga yang pada tubuh Lia meninggalkan akibat aneh setelah diminum bertahun-tahun.
Setiap kali kenyang, suhu tubuhnya naik. Kulitnya menjadi lebih lembut, pipinya memerah, dan wangi buah manis menguar dari pori-porinya.
Semakin banyak ia makan, semakin kuat wanginya.
Saat remaja, aroma itu membuat tatapan para lelaki di sekitar rumah berubah. Herman malah melihatnya sebagai barang yang bisa ditukar dengan uang. Sejak itu Lia belajar menahan lapar sebelum tubuhnya sempat mengundang perhatian.
Ia menyimpan kotak makan di bawah meja, lalu membawa pakaian ganti ke ruang bilas belakang.
Air hangat jatuh di atas rambut dan bahunya. Lia menggigit bibir ketika panas segera berkumpul di bawah kulit. Tiga suap nasi ternyata cukup untuk membangunkan aroma yang sedari pagi ia tekan.
Wangi manis memenuhi ruang kecil itu.
Lia mempercepat bilasan. Baru saja ia mengenakan pakaian dan membuka pintu, langkah sepatu terdengar dari lorong belakang.
Sebastian berdiri beberapa meter darinya.
Kemeja putih yang siang tadi rapi kini terbuka satu kancing di leher. Wajahnya menunjukkan lelah setelah bekerja, tetapi matanya langsung tajam saat aroma hangat menyentuhnya.
Lia memeluk pakaian basah ke dada. Ujung rambutnya menetes ke leher.
“Ko Sebas belum tidur?” tanyanya, lalu ingin menarik kembali pertanyaan bodoh itu.
“Baru pulang.”
Tatapan Sebastian turun ke tetes air di lehernya, lalu kembali ke wajah. Tenggorokannya bergerak perlahan.
“Wangi apa itu?”
Jantung Lia menabrak tulang rusuk.
“Wangi sabun.”
“Bukan.”
Satu kata itu membuat lorong terasa semakin sempit.
Sebastian maju satu langkah. Aroma buah matang menjadi lebih jelas, bercampur dengan uap air dan wangi rambut basah. Jarak di antara mereka masih sopan, tetapi Lia merasa seolah pria itu sudah berdiri terlalu dekat.
“Tadi siang juga ada,” katanya.
Lia mencengkeram pakaian di tangannya. “Mungkin dari jamu, Ko Sebas. Dulu Popo Hwa sering membuatkan jamu untuk saya. Kadang wanginya masih keluar kalau tubuh saya kepanasan.”
Itu bukan dusta sepenuhnya. Hanya bagian terpenting yang ia sembunyikan.
Sebastian menatapnya beberapa detik. Lia tidak berani bernapas lega.
“Jamu apa?”
“Ramuan keluarga. Saya tidak tahu semua isinya.”
Tetes air meluncur dari ujung rambut Lia ke tulang selangka. Mata Sebastian mengikuti gerak itu sepersekian detik sebelum rahangnya mengeras.
Ia mundur.
“Keringkan rambutmu. Jangan sakit saat baru mulai kerja.”
“Iya, Ko Sebas.”
Lia berjalan cepat menuju kamar. Ia baru berani menarik napas setelah pintu terkunci.
Di lorong, Sebastian masih berdiri di tempatnya. Wangi manis itu tertinggal lebih lama daripada pemiliknya.
***
Pukul dua lewat tujuh belas menit, Sebastian terbangun dengan napas berat.
Kamar tidurnya gelap dan dingin. Selimut terpelintir di kakinya. Di dalam mimpi tadi, rambut basah Lia menyapu lengannya, tubuh hangat itu terkurung di antara dirinya dan dinding, dan aroma manis memenuhi setiap tarikan napas sampai ia lupa bagaimana caranya menjaga jarak.
Sebastian duduk, mengusap wajah dengan kasar.
Ia tidak pernah kehilangan kendali hanya karena seorang perempuan.
Terlebih perempuan yang bahkan baru dikenalnya sehari.
Namun tubuhnya masih menyimpan panas dari mimpi itu, sementara di ujung napasnya, wangi Lia terasa seolah belum pernah pergi.
Untuk pertama kalinya, Sebastian membenci retakan kecil dalam kendali dirinya sendiri.