NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — “AKU TIDAK BUTUH DISELAMATKAN”

Keesokan harinya, matahari terbit membawa hawa dingin yang tak biasa di sekitar Pesantren Al-Faruqi. Udara pagi terasa terlalu tebal untuk dihirup dengan tenang, setidaknya bagi Aurel.

Sejak pukul enam pagi, Aurel sudah berada di area dapur. Ini rekor baru baginya. Tidak ada heboh tawa Salma atau godaan keci dari Nur Aini yang biasanya mencairkan suasana; pagi ini rumah terasa hening karena Kiai Abdul dan Nur Aini sedang bertolak ke luar kota untuk menghadiri silaturahmi antar-pesantren. Salma sendiri sedang ada jadwal piket santri sejak subuh.

Di depan kompor, Aurel menatap wajan berisi nasi goreng buatan tangannya sendiri. Penampilannya tidak bisa dibilang buruk, tetapi aromanya yang dominan dengan bawang putih menampakkan betapa ia terburu-buru dan tidak terbiasa berurusan dengan bumbu dapur.

Di samping piring nasi goreng itu, berdiri segelas teh hangat.

Aurel sengaja menambahkan dua setengah sendok gula batu ke dalamnya. Ia mengingat jelas betapa Rasyid menyukai teh manis pekat, meski tenggorokannya sendiri menolak rasa itu. Ini adalah bentuk permohonan maaf terbaik yang sanggup difikirkan oleh kepalanya yang masih kacau.

Dengan nampan kayu di genggaman tangannya, Aurel melangkah perlahan menuju ruang baca di lantai dasar—tempat Rasyid menghabiskan malamnya.

Pintu ruang baca itu sedikit terbuka. Aurel mengintip pelan lewat celah kayu.

Rasyid sedang duduk bersila di atas karpet tipis di hadapan meja lipat rendah. Pria itu mengenakan baju koko hijau zamrud polos dan peci hitam. Wajahnya tertunduk menatap draf setoran hafalan para santri. Raut mukanya datar, tenang seperti air telaga yang tak berangin, namun lingkaran hitam halus di bawah matanya mempertegas bahwa pria itu sama sekali tidak tidur nyenyak semalam.

Aurel mendorong pintu lebih lebar dengan sikunya. Suara derit engsel kayu memecah keheningan ruangan.

Rasyid mendongak. Matanya bertemu dengan mata Aurel.

Tidak ada ledakan amarah di netra cokelat gelap itu. Tidak ada pula kehangatan yang biasanya menyapa. Hanya ada ketenangan yang kaku—sebuah benteng tak kasat mata yang kini didirikan Rasyid di antara mereka.

"Aurel," panggil Rasyid pelan, suaranya tetap sopan. "Ada apa?"

Aurel menelan ludah seraya melangkah masuk. Ia meletakkan nampan kayu itu di tepi meja lipat Rasyid dengan sangat hati-hati, seolah piring dan gelas di atasnya terbuat dari kaca yang amat rapuh.

"Ini... aku buatkan sarapan," suara Aurel terdengar canggung dan serak. "Nasi goreng sama teh manis. Gulanya dua sendok lebih. Kamu... bisa makan sekarang?"

Rasyid menatap piring nasi goreng dan teh yang masih mengepulkan uap tipis itu. Ia diam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada lembaran kertas di depannya.

"Terima kasih, Aurel," jawab Rasyid tanpa menyentuh makanan tersebut. "Tapi saya sudah sarapan di kantin pesantren tadi setelah mengajar subuh."

Kalimat itu meluncur rata, namun rasanya seperti tamparan tak kasat mata di wajah Aurel.

Aurel mengepalkan jemarinya di samping paha. Rasa bersalah yang merayap sejak semalam mendadak bercampur dengan kejengkolan pada dirinya sendiri dan rasa gengsi yang terus memberontak.

"Rasyid, aku..." Aurel menggantungkan kalimatnya. Bibirnya gemetar pelan. "Soal semalam... aku minta maaf. HP-ku beneran mati dan aku nggak bermaksud bikin kamu nunggu sampai larut."

Rasyid meletakkan pulpennya di atas meja. Pria itu menghela napas panjang, menatap Aurel lurus-lurus.

"Kamu tidak perlu meminta maaf hanya karena merasa bersalah atas makanan ini, Aurel," kata Rasyid pelan. "Saya sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta. Tapi masalah kita bukan soal baterai ponsel atau jam pulang. Masalahnya adalah kamu masih melihat saya sebagai musuh yang siap merenggut kebebasanmu."

"Aku nggak gitu!" sanggah Aurel cepat.

"Lalu kenapa kamu menyebut saya sama seperti Pak Hamdan?" sergap Rasyid halus, namun pertanyaannya menohok tepat di titik paling sensitif dalam dada Aurel. "Kenapa setiap kali saya menunjukkan kepedulian, kamu selalu menganggapnya sebagai bentuk pengekangan?"

Aurel bungkam. Pertanyaan itu menggantung tebal di udara, tak sanggup dibalas oleh sepatah kata pun dari bibirnya.

Sebelum Aurel sempat menyusun alasan, Rasyid berdiri. Pria itu merapikan tumpukan kertasnya, memasukkannya ke dalam tas kulit cokelat.

"Saya ada jadwal mengajar di madrasah aliyah sampai sore," ujar Rasyid seraya meraih pecinya. "Makanannya biarkan di sini saja, nanti saya makan kalau sempat. Kamu istirahatlah di kamar."

Tanpa menunggu balasan Aurel, Rasyid melangkah keluar dari ruang baca, meninggalkan Aurel yang berdiri kaku menatap cangkir teh manis yang perlahan mendingin.

Siang harinya, perasaan sesak di dada Aurel sudah tak tertampung lagi. Rumah keluarga Faruqi yang sepi serasa menghimpitnya dari segala arah.

Aurel menyambar kunci mobilnya, mengenakan celana jins hitam, kaus longgar abu-abu, dan jaket denim yang biasa ia pakai. Ia menolak berada di rumah itu lebih lama lagi. Ia butuh melarikan diri, bukan untuk nongkrong bersama teman-temannya, melainkan untuk mencari tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun.

Tujuan mobilnya bergerak bukan menuju kafe atau pusat kota, melainkan ke TPU Arunika Asri—pemakaman umum bernuansa asri di pinggiran kota.

Di sinilah tempat almarhumah ibunya bersemayam.

Aurel melangkah menyusuri jalan setapak di antara hamparan rumput hijau yang terawat. Udara siang itu agak mendung, angin bertiup cukup kencang menerbangkan dedaunan kering.

Ia berhenti di depan sebuah nisan marmer putih bertuliskan nama ibunya: Rina Nathania.

Aurel berlutut di atas rumput. Air mata yang sejak semalam ia tahan di depan Rasyid dan ayahnya akhirnya pecah begitu saja tanpa bisa dibendung.

"Ibu..." bisik Aurel seraya mengelus permukaan dingin nisan marmer itu. Suaranya pecah oleh isak tangis. "Kenapa Ayah jahat banget sama aku? Kenapa Ayah selalu mikir aku ini masalah yang harus dibuang ke orang lain?"

Angin berembus kencang, menyapu air mata yang menetes di pipinya.

Aurel menunduk dalam-dalam, dadanya naik turun menahan rasa sakit yang menumpuk bertahun-tahun.

"Aku capek, Bu... Aku capek harus selalu defensif. Aku capek harus selalu pasang benteng biar nggak ada yang bisa nyakitin aku. Ayah maksa aku nikah, terus sekarang... sekarang Ustadz itu juga bikin aku merasa bersalah..."

Aurel menangis sesenggukan di samping makam ibunya. Seluruh kebebasan yang selama ini ia banggakan, seluruh sikap keras kepala yang ia tampilkan di depan dunia, hanyalah topeng rapuh untuk menutupi kenyataan bahwa ia adalah seorang gadis yang merasa ditinggalkan dan tidak pernah dimengerti oleh ayahnya sendiri.

Ia merasa semua orang ingin mengubahnya. Ayahnya ingin ia jadi anak penurut. Lingkungan ingin ia jadi istri ustadz yang sempurna. Dan ketakutannya terbesar adalah: bagaimana jika pada akhirnya ia kehilangan dirinya sendiri?

Di saat tangis Aurel mereda menjadi helaan napas yang patah-patah, sebuah bayangan pelan memanjang di atas rumput di samping nisan.

Aurel tersentak. Ia mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan lengan jaket denimnya, lalu menoleh mendadak ke belakang.

Beberapa meter berdiri di belakangnya—di bawah naungan pohon kamboja besar—sesosok pria sedang berdiri tenang.

Muhammad Rasyid Al-Faruqi.

Pria itu mengenakan baju koko abu-abu yang sama seperti tadi pagi, kain sarung gelap, dan memegang sebuah payung hitam di tangan kanannya meski hujan belum turun.

Aurel terbelalak kaget seraya berdiri dengan cepat. Wajahnya memerah, matanya sembap. "Kamu... ngapain di sini?! Kamu ngikutin aku?!"

Rasyid tidak mendekat. Pria itu tetap berdiri di jarak aman, sekitar tiga meter dari posisi Aurel. Matanya menatap wajah sembap Aurel dengan ketenangan yang dalam—bukan ketenangan kaku seperti tadi pagi, melainkan ketenangan yang dipenuhi kelembutan yang amat tulus.

"Salma bilang kamu pergi dari rumah dengan terburu-buru," kata Rasyid pelan, suaranya dibawa angin siang menuju telinga Aurel. "Saya hanya ingin memastikan kamu aman."

Aurel mengepalkan tangannya di samping tubuh. amarah dan ketelanjangan emosinya yang baru saja terlihat membuat rasa gengsinya terluka hebat.

"Aku nggak butuh diikuti!" seru Aurel dengan suara bergetar. "Aku nggak butuh kasihan dari kamu! Dan aku nggak butuh kamu atau siapa pun datang ke hidupku cuma buat menyelamatkan aku dari diriku sendiri!"

Aurel menunjuk dadanya sendiri dengan jari gemetar, air matanya kembali menetes di pipi.

"Aku bukan cewek malang yang butuh diselamatkan sama ustadz kayak kamu, Rasyid! Aku nggak butuh diubah! Kalau kamu pikir dengan nikahin aku kamu bisa jadi pahlawan yang bimbing aku ke jalan yang bener, kamu salah besar!"

Jeritan hati Aurel bergema di antara deretan nisan yang sunyi.

Rasyid mendengarkan setiap patah kata yang terlontar dari bibir istrinya. Tidak ada sedikit pun raut tersinggung atau emosi di wajah pria itu.

Rasyid menarik napas panjang, menghembuskannya pelan. Lalu, ia melangkah satu tindak maju—tetap menjaga jarak yang menghormati batas Aurel.

"Saya tahu, Aurel," ujar Rasyid. Suaranya begitu halus, seperti sapuan kain sutra di atas luka yang menganga.

Aurel tertegun, napasnya naik turun. "Apa?"

"Saya tahu kamu tidak butuh diselamatkan," kata Rasyid seraya menatap lurus ke dalam netra cokelat terang milik Aurel yang tergenang air mata. "Dan saya tidak pernah berniat menjadi pahlawan atau menyelamatkanmu dari hidupmu sendiri."

Aurel mengerutkan dahi, bibirnya terkatup kaku.

Rasyid menatap nisan ibunda Aurel sejenak dengan pandangan penuh rasa hormat, sebelum kembali memandang Aurel.

"Saya tidak menikahimu untuk mengubahmu menjadi orang lain, Aurel. Saya juga tidak berdiri di sini untuk mengajarimu bagaimana cara menjalani hidupmu," Rasyid jeda sejenak, matanya memancarkan keteguhan yang belum pernah Aurel lihat sebelumnya.

"Saya cuma ingin kamu tahu..." Rasyid melanjutkan dengan intonasi yang begitu rendah dan dalam, "...kalau suatu hari kamu merasa lelah berperang dengan duniamu... kalau suatu hari kamu butuh tempat untuk pulang tanpa harus berpura-pura menjadi kuat... saya akan tetap ada di sana."

Aurel terpaku di atas rumput pemakaman.

Rintik hujan pertama mulai menetes pelan dari langit mendung Arunika, membasahi daun-daun kamboja dan bahu mereka berdua.

Namun Aurel tidak merasakan dinginnya air hujan. Seluruh inderanya seolah terkunci pada pria berbaju koko abu-abu yang berdiri beberapa meter di depannya itu. Pria yang baru saja meruntuhkan seluruh asumsinya tentang niat pernikahan mereka dengan satu pernyataan paling polos, jujur, dan bermartabat.

Rasyid tidak pernah bermaksud menjadi pengekangnya. Rasyid hanya menawarkan sebuah pintu yang selalu terbuka—sebuah rumah untuk pulang kapan pun Aurel lelah berlari.

Rasyid perlahan membuka payung hitam di tangannya, melangkah mendekat dua tindak, lalu mengulurkan pegangan payung itu ke arah Aurel tanpa menyentuh jemarinya.

"Pakai payungnya. Hujan mulai deras," kata Rasyid pelan. "Saya tunggu di mobil."

Rasyid membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri jalan setapak pemakaman di bawah rintik hujan yang mulai membesar, membiarkan Aurel berdiri sendirian memegang gagang payung hitam tersebut.

Aurel menatap punggung tegap Rasyid yang perlahan menghilang di balik belokan gerbang TPU.

Di tengah guyuran hujan siang itu, dengan gagang payung hangat di genggamannya, Aurel menyadarkan kepalanya pada satu kenyataan yang membingungkan:

Ia tidak tahu lagi harus membenci pria itu karena telah mengusik dunianya... atau justru mulai mempercayainya sebagai satu-satunya tempat aman di mana ia boleh menjadi dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!