Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Hitung-hitungan Bu Ratna
Bu Ratna tidak lagi meletakkan puntung rokok di depan pintu. Kali ini ia membawa kertas dan pulpen dari rumah ke rumah.
“Ini bukan serangan kepada Laras,” katanya di ruang tamu Bu Darmi. “Ini soal citra istri prajurit. Kalau seorang janda muda bisa tinggal di rumah perwira lajang tanpa keberatan, nanti aturan apa lagi yang dianggap tidak penting?”
Bu Darmi membaca lembar pernyataan. “Tapi ada Iwan dan petugas yang keluar masuk.”
“Tidak setiap malam.”
“Satya butuh menyusu.”
“Bisa dicari solusi lain. Yang kami minta hanya pembahasan resmi di rapat Persit.”
Kata `resmi` membuat tuduhan terdengar lebih terhormat. Bu Darmi akhirnya menandatangani.
Di rumah Bu Lestari, Bu Ratna menambahkan cerita Iwan pergi ke Girisari atas perintah yang tidak jelas. Ia menyiratkan Laras menggunakan kedekatan dengan Bima untuk kepentingan keluarganya.
“Kita tidak menuduh uang satuan dipakai,” katanya. “Kita hanya minta transparansi.”
Menjelang sore, enam nama dan tanda tangan terkumpul.
Bu Ratna masih mencoba mendapat tanda tangan ketujuh dari Bu Wati.
Perempuan itu membaca isi pernyataan sampai selesai, lalu meletakkan pulpen.
“Kalimat ini bilang keberadaan Laras menurunkan citra istri prajurit. Apa buktinya?”
“Omongan sudah menyebar.”
“Omongan yang disebarkan siapa?”
“Bukan itu masalahnya.”
“Justru itu masalahnya. Kalau kita sendiri membuat gosip, lalu memakai gosip sebagai bukti, kertas ini tidak pernah bisa selesai.”
Bu Ratna menarik lembar tersebut. “Kalau kamu tidak setuju, tidak perlu menggurui.”
“Saya tidak tanda tangan.” Bu Wati mengambil ponsel dan memotret bagian atas kertas. “Tapi saya ingin tahu apa yang akan dibahas atas nama kami.”
“Jangan sebarkan dokumen internal.”
“Kalau internal, kenapa dibawa berkeliling ke ruang tamu?”
Bu Ratna pergi tanpa jawaban.
Bu Wati mengirim foto itu kepada Bu Titin, lalu menghubungi kantor Bima melalui jalur keluarga prajurit. Ia tidak meminta rapat dibatalkan. Ia hanya memastikan pihak yang dituduh mengetahui bunyi kalimat sebenarnya.
Itulah sebabnya Bima sudah membaca enam tuntutan sebelum menemui Laras malam hari. Ia menandai bagian yang mencampur kepentingan Satya, perjalanan Iwan ke Girisari, dan dugaan kedekatan pribadi tanpa satu pun bukti.
Ia juga memeriksa surat tugas Laras, catatan kesehatan Satya, dan jadwal piket rumah. Semua fakta justru menunjukkan pengaturan itu perlu dan terbuka.
“Mereka menyerang celah yang tidak ada,” kata Iwan di kantor.
“Mereka tidak butuh celah. Mereka hanya butuh cukup orang mengulang kalimat yang sama,” jawab Bima.
“Rapatnya dibatalkan?”
“Kalau saya batalkan, mereka akan mengaku dibungkam. Saya datang dan dengar.”
Bima menyimpan foto dokumen. Ia mengenal Sudibyo cukup lama untuk tahu bahwa izin “asal berdasarkan fakta” bukan sikap netral. Itu cara membiarkan orang lain menyerang sambil menjaga tangan sendiri tetap bersih.
Bu Ratna membawa kertas itu ke kantor Sudibyo. Pertemuan berlangsung dengan pintu terbuka dan staf berada di luar, tetapi nada mereka rendah.
Sudibyo membaca setiap baris.
“Bima sudah membuat surat penugasan ibu susuan,” katanya.
“Surat kerja tidak menyelesaikan soal kepatutan.”
“Apa yang kamu inginkan?”
“Rapat Persit membahasnya. Kalau perlu, Laras dipindah dari rumah.”
Sudibyo meletakkan kertas. “Boleh diangkat saat rapat, asal berdasarkan fakta. Jangan ulangi masalah puntung.”
Wajah Bu Ratna menegang. “Saya tidak terlibat.”
“Saya tidak bilang kamu terlibat.”
Senyum Sudibyo membuatnya tidak nyaman. Namun izin telah didapat. Ia pulang dengan langkah cepat.
Setelah ruangan kosong, Sudibyo membuka salinan daftar pelatih dapur. Nama Laras tertulis di bagian teknis. Ia teringat pergelangan tangan perempuan itu saat mengaduk santan, suara tenang ketika menolak makan, dan cara Bima selalu muncul sebagai dinding.
Rasa ingin tahunya bukan lagi sekadar tentang masakan.
Ia menutup map ketika staf masuk, tetapi bayangan Laras tidak ikut tertutup.
Di dapur umum, Laras tidak tahu namanya sedang dihitung melalui enam tanda tangan. Ia berdiri di sisi panci rendang uji. Santan masih pucat, bumbu belum mengeluarkan minyak.
Parjo hendak menambah api.
“Jangan,” kata Laras. “Rendang tidak bisa dipaksa.”
“Kalau sampai malam belum gelap?”
“Berarti bumbunya belum matang atau panci terlalu penuh. Bagi dua, bukan bakar.”
Mereka memindahkan setengah isi ke panci lain. Perlahan warna berubah, minyak muncul di tepi, dan aroma lengkuas serta serai menjadi dalam.
Bu Titin datang membawa Satya dan kabar tentang Bu Ratna berkeliling.
“Katanya sudah enam tanda tangan,” bisiknya.
Parjo membanting lap ke meja. “Mau saya datangi?”
“Tidak,” jawab Laras. “Kalau kita membuat ribut sebelum rapat, dia mendapat bukti bahwa dapur tidak tertib.”
“Kamu mau diam?”
“Saya mau tahu apa yang mereka tulis.”
Bu Titin berjanji mencari salinan melalui Bu Wati.
Malam itu, Bima datang ke kamar belakang pada jam biasa. Pintu setengah terbuka, Iwan berjaga di ruang depan. Satya sedang menggigit kain bedong, sedangkan Laras menyalin jadwal syukuran.
“Rapat Persit dua hari lagi,” kata Bima.
Laras mengangkat kepala. “Komandan tahu soal tanda tangan?”
“Tahu.”
“Dari siapa?”
“Bukan hal penting.”
“Bagi saya penting.”
Bima melihat kertas menu, lalu wajah Laras. “Jangan datang ke rapat itu.”
“Kenapa?”
“Mereka ingin kamu berdiri sebagai sasaran. Kalau kamu tidak ada, saya bisa menghentikan pembahasannya.”
“Kalau saya tidak ada, mereka bebas mengatakan apa saja.”
“Saya akan ada.”
“Komandan tidak selalu bisa menjawab atas nama saya.”
Rahang Bima mengeras. “Saya sedang mencegahmu dipermalukan.”
“Dan saya sedang mencegah mereka menjadikan diam saya sebagai pengakuan.”
Untuk beberapa detik, keduanya saling menatap. Satya mengeluarkan suara dan menepuk kertas dengan telapak tangannya.
Bima mengambil kertas itu sebelum diremas bayi.
“Ras,” katanya lebih rendah. “Rapat itu bukan tempat yang adil.”
“Kalau begitu seseorang harus membawa fakta ke sana.”
Bima tidak bisa membantah kalimat tersebut. Ia mengembalikan jadwal dan berdiri.
“Setidaknya jangan pergi sendiri. Bu Titin dan Bu Wati harus duduk dekatmu. Iwan di luar.”
“Baik.”
“Kalau Sudibyo mengubah arah pembicaraan, keluar.”
Laras mengerutkan dahi. “Kenapa Pak Sudibyo?”
Bima berhenti di ambang pintu. “Karena dia membiarkan rapat itu berjalan.”
“Komandan tahu apa lagi?”
Bima tidak menjawab. Ia hanya mengulang, “Jangan berdiri di sana sendirian.”
Setelah langkahnya hilang, Laras menatap pintu yang masih setengah terbuka.
Bima mengetahui enam tanda tangan, izin Sudibyo, bahkan arah serangan sebelum rapat dimulai.
Pertanyaan yang membuat Laras sulit kembali membaca menu bukan lagi apa yang direncanakan Bu Ratna.
Melainkan seberapa banyak yang telah dilakukan Bima untuk melindunginya tanpa pernah berkata.
Di pangkuannya, Satya tertidur dengan jari masih menyentuh ujung jadwal. Laras menutup map pelan, tetapi pikirannya tetap terbuka dan berisik sampai jauh malam.
Rapat itu kini terasa seperti medan yang sengaja disiapkan.