NovelToon NovelToon
Pelangi Di Awan Seseorang

Pelangi Di Awan Seseorang

Status: tamat
Genre:Obsesi / Bad Boy / Keluarga & Kasih Sayang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:106.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Aku menjadi akrab dengan penculik yang tidak sengaja menculikku. Ia mampu menghormatiku, menjagaku dan membuatku nyaman. Kondisi ini membuatku memiliki ikatan emosional dengannya, tapi ternyata aku mengidap sindrom stockholm.

Orang tuaku ingin aku memiliki pasangan hidup yang jelas, berpendidikan dan bertanggung jawab. Menurut mereka, laki-laki seperti keponakan merekalah yang terbaik untukku.


Aku mengenal keponakan orang tuaku sejak kecil, bahkan kami hidup bertetangga. Tapi apakah aku bisa menjadi alasannya tertawa dan bahagia? Apakah aku mampu menjadi seseorang yang selalu tulus, meski aku harus belajar untuk menjadi pendampingnya? Lalu, bagaimana dengan perasaanku sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PdAS18. Sindrom stockholm

"Kemungkinan kau terkena sindrom stockholm." Kaf memandangku dengan wajah serius. 

"Apalagi itu? Aku ingat keluarga aku kok." Aku belum pernah mendengar sindrom itu. 

"Sindrom stockholm adalah mekanisme coping mechanism, yang biasanya terjadi pada orang yang mengalami penculikan. Korban akan mengembangkan perasaan positif terhadap penculik atau pelaku dari waktu ke waktu. Ciri-ciri yang pertama, perasaan positif terhadap para penculik atau pelaku kekerasan. Yang kedua, simpati untuk keyakinan dan perilaku penculiknya. Yang ketiga, perasaan negatif terhadap polisi atau figur otoritas penegak hukum lainnya. Yang keempat, mengalami gejala lain mirip dengan gangguan stres pasca trauma. Termasuk, kilas balik, merasa tidak percaya, jengkel, gelisah atau cemas, tidak dapat bersantai atau menikmati hal-hal yang sebelumnya dinikmati dan kesulitan berkonsentrasi. Dari semua pertanyaan yang aku lempar ke kau tadi, itu termasuk pertanyaan dasar tentang kilas balik, merasa tidak percaya, jengkel, gelisah dan cemas. Tapi dari pertanyaan singkat itu, jawaban kau seolah membela Rai atau berpikir positif tentang Rai. Nah, itu masalahnya. Kau korban dan kau malah simpati ke pelaku, kau pun tak punya trauma untuk menemui pelaku. Aku heran pas kau ada di dalam ruang inap Rai cuma sama Rai, tanpa mama Aca. Kau berani ngobrol sama Rai dan kau tak takut, itu yang buat aku ngerasa ada yang aneh. Karena tak umum loh korban masih berani berada satu ruangan dengan pelaku tuh, Dek. Aku tak tau interaksi kau sama Rai sebelumnya, karena aku baru taunya tadi pas di ruang inap."

Aku melongo bodoh, untungnya tertutup penutup wajahku. Hal kecil seperti itu bisa disimpulkan dari ilmu dan wawasan seorang dokter, tapi apakah benar dugaan Kaf jika aku demikian? Karena sepengetahuanku pendidikan Kaf bukan mengarah tentang ilmu psikis. 

"Besok ikut aku ya? Tenang, nanti aku bawa mama Aca. Aku nanti geser-geser waktu dulu hari ini, biar besok kita bisa pergi." Kaf menilik jam tangannya. 

"Kenapa sih aku harus ikut?" Aku memandang wajahnya dari samping. 

Ia berwibawa dan berkharisma. Apa sih kurangnya Kaf sampai aku seperti keberatan untuk menjadi kebahagiaannya? 

"Biar ada pengobatannya kalau memang demikian. Kalau kata terapisnya tak ada dugaan serius ke sindrom stockholm, ya udah kita pulang lagi. Bukan karena aku dokter, terus apa-apa harus diperiksakan. Tapi aku mau kau sehat badan dan mental, biar tuanya kita bisa tetap baik-baik aja. Seumur hidup itu lama, Dek. Aku tak mau karena kondisi mental kau yang dibiarkan, terus kau ngerasa tersiksa hidup sama aku. Kalau dibenahi dari sekarang, kau akan menikmati kebahagiaan seumur hidup bersama aku. Bukan malah ngerasa tersiksa seumur hidup bersama aku. Aku tak tau isi hati kau ke aku, tapi setidaknya aku mencegah biar kau tak tersiksa seumur hidup bersama aku." 

Aku tidak sanggup menatap bola mata coklat tua yang terlihat amat tulus itu, aku terharu melihat ketulusannya. Sepatutnya aku bersyukur. 

"Ya, Kaf." Aku menurunkan pandanganku. 

"Masuk gih ke kamar, aku mau lanjut kerja." Ia bangkit dan menunjuk pintu kamarku yang terlihat dari sini. 

"Kau pulanglah dulu." Jika bukan ia orangnya, jika bukan karena ia keponakan ayah, ia mungkin tidak bisa keluar masuk rumahku semaunya. 

"Masuklah dulu." Ia menunjuk pintu kamarku dengan dagunya.

Aku mengangguk, kemudian berjalan ke arah kamar. Sebelum aku menutup pintu kamarku, aku menempatkan diri untuk menoleh ke arahnya. Ia mengangguk, kemudian berjalan ke arah pintu keluar. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang tertutup rapat. 

Jika nantinya bukan ia pendampingku, apa aku bisa mendapatkan perlakuan yang demikian? Aku jadi merasa, bahwa memang ialah yang paling tepat untukku. 

Melihatnya sampai menyiapkan makanan yang ia bawa untukku, bahkan ia terlihat tidak canggung untuk melayani kebutuhan perutku di sela waktu makan siangnya. Aku semakin dibuat tersadar oleh sosok Kaf. 

Ia lebih tua, ia lahir lebih dulu. Tapi mulut ini terlanjur memanggilnya dengan namanya saja karena pengaruh kakak-kakakku, sedangkan ia pantasnya dihormati dengan cara panggilannya lebih dulu.

"Dimakan, Yah." Kaf pun membantu menyiapkan makanan untuk ayahku yang ternyata sudah sampai di rumah. 

"Ya, Kaf. Kau makanlah juga." Ayah terlihat kelelahan, dengan keringat yang masih bercucuran. 

"Aku tak makan mie, aku tak makan bakso dan aku tak makan makanan berkuah. Aku udah makan makanan buatan mama Aca, terus baru ke sini." Kaf menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya. 

"Serius sampai sekarang? Biyung kira, setelah kau besar kau tak begitu lagi." Biyung sudah mengaduk-aduk makanannya. 

"Iya, Biyung. Mungkin karena waktu kecil dibiarkan terus, jadi sampai besar aku masih trauma makan makanan berkuah. Makan sayur asem, lodeh, sup dan lain-lain, aku ambil isiannya aja, kuahnya tak aku ambil. Kalau bakso tak sama sekali malah, mie instan setahun sekali pun keknya tak juga." Kaf membuka toples berisi biskuit cokelat. 

"Memang dia kenapa?" Aku mendekati lingkungan orang tuaku yang duduk menghadap mie ayam bakso ceker tersebut. 

"Ada kisahnya di Istri Sambung," jawab ayah kemudian. 

"Kenapa, Kaf?" Aku langsung bertanya pada orangnya saja, agar mendapat jawaban. 

"Aku kejatuhan mangkok isi bakso plus kuahnya." Ia menunjukkan punggung kakinya dan terlihat bekas luka berwarna putih di sana. 

Aku terdiam, jadi akan seperti itu jika sesuatu yang menyangkut mental tidak disembuhkan dari akarnya? Ini bukan tentang bekas luka yang Kaf miliki, tapi tentang trauma Kaf yang tidak ditangani dengan baik. Ia menjadi laki-laki gagah yang anti dengan bakso dan kuah-kuahan. 

Jika memang aku mengidap sindrom yang Kaf katakan, mungkin mentalku ini akan berkembang ke arah yang salah sampai tua nanti. Seperti trauma yang ada pada Kaf. Apalagi ini tentang aku berdampingan dengannya, secara tidak langsung Kaf tidak ingin aku memiliki pemikiran yang positif terus dengan penculikku itu. Apalagi, jika perasaanku terus berkembang pada Rai. Hal itu sudah pasti akan membuat aku seolah menderita hidup bersama Kaf. 

Sampai di sini aku mengerti maksud baik Kaf. 

"Yah, besok izin bawa Cani keluar. Nanti aku narik mama Aca, kek biasanya aja." Kaf menonton televisi. 

Sedangkan orang tuaku sudah asyik makan. 

"Heem, sama tolong uruskan kuliahnya. Kalau bisa tunggu keterangan KKNnya udah selesai, udah rampung PKL atau magangnya, sama tunggu dia lulus seminar proposal, baru atur pernikahan. Sekarang akad, besok wisuda pun tak masalah kalau beban kuliahnya udah selesai." 

Aih, ayah langsung berbelok membicarakan tentang pernikahan kami. Tapi ngomong-ngomong, ayah begitu percayanya pada Kaf sampai langsung mengizinkan tanpa menanyakan tujuan Kaf membawaku ke mana. 

"Bulan-bulan ini aja gimana, Yah?" 

Semua mata langsung tertuju pada Kaf. 

...****************...

1
Yulia Aziz
mampir Thor
Ihda Rozi
emang gokil ya pemikiran outhor ini aku JD ikut mikir
IG : anissah_31: ayo kak baca koleksi novel author lainnya juga 🥰
total 1 replies
Novalia Fatmawati
serasa real dikehidupan
Yunia Spm
krik krik ... krik krik...
Yunia Spm
astaga... Yayah Ipan ih...
Ersa
ini beneran dah tamat.....


🌹🌹🌹🌹🌹 utk kak Othor
AwanMendung26: Assalamu'alaikum. 🌻
Halo, kak. Jika berkenan mampir di cerita aku juga, yuk! Judulnya Kekasih Halal Untuk Aiyla. 🌻

Terima kasih. 🌻
total 2 replies
Ersa
dayana kah yg ganggu
Ersa
😂😂😂ampyuunn
Lasthree
jangan2 waktu ra minta tolong lagi di ruda paksa sama si dia(Han), terus hamil,itulah yang bikin ra benci ke Agam.agam bukan anak hema...haha otak ku
Ersa
Luar biasa
Ersa
Stockholm syndrom ?
Ersa
🤣🤣🤣
Ersa
klo gak Bunga ya si Han
Ersa
Hema
Yuki
sangat keren
Komsatun Komsatun
semangat kak Nisa aku tu u ngefans banget Ama novel2 kakak
Cahaya Perantauan
mantap mantap
Edelweiss🍀
ada ayah yg gak terima anaknya mau dihamili lakinya😆
Edelweiss🍀
Cani, masih seperti putri kecil bagi ayah
Edelweiss🍀
biyung emang gak papa yah ditinggal dirumah🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!