NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Ketika Takdir Memaksaku Menjadi Dia

Dina menutup halaman terakhir novel itu dengan keras.

“Belvina Laurent benar-benar bodoh,” gumamnya.

Buku itu ia lempar ke samping ranjang.

“Sudah punya segalanya…” ia mendengus pelan. “Masih saja mengejar pria yang jelas tidak menginginkannya.”

Nama itu terlintas begitu saja.

Alden Virel.

Dingin. Jelas. Tanpa usaha menyembunyikan penolakan.

Dina menyandarkan punggungnya.

“Kalau aku di posisinya, aku sudah pergi sejak awal.”

Lampu dimatikan. Malam menelan semuanya.

-

Keesokan harinya, saat Dina hendak pergi mencari kerja, kenyataan menampar lebih keras.

“Dina, mau lamar kerja lagi?” suara seorang ibu menyapanya dengan nada meremehkan. “Mending kerja di rumah Ibu saja. Daripada cari kerja, tapi tidak dapat-dapat.”

Dina menahan napas sejenak.

“Terima kasih, Bu,” ucapnya sopan. “Saya masih ingin mencoba di tempat lain.”

Ia berlalu.

"Dia pikir aku tidak tahu…" gumamnya dalam hati. "Dia ingin aku kembali supaya bisa tenang dengan wajahku yang seperti ini."

Dina pernah bekerja di rumah wanita itu. Suaminya dikenal tidak bisa menjaga jarak.

Para pembantu sering jadi sasaran. Beberapa bahkan pergi dengan masalah yang tidak pernah mereka ceritakan lagi.

Gajinya kecil. Alasannya selalu sama-- lebih baik daripada tidak punya apa-apa.

Dina memilih pergi.

Ia berjalan lagi hari ini. Dari satu tempat ke tempat lain.

Sejak keluar dari panti, tidak ada yang benar-benar menunggunya. Beasiswa membawanya sampai kuliah, tapi tidak cukup untuk membuat hidupnya lebih mudah.

Ia mengandalkan apa yang ia punya. Namun itu saja tidak pernah cukup.

Tatapan orang-orang selalu sama. Menilai. Meremehkan. Menolak, bahkan sebelum ia sempat membuktikan diri.

Hingga akhirnya—

“Maaf, kami mencari kandidat yang lebih… representatif.”

Kalimat itu lagi.

Dina hanya mengangguk. Tersenyum tipis, seolah sudah terbiasa.

Ia keluar tanpa berkata apa-apa. Langkahnya cepat. Terlalu cepat.

Tiiinnnn—

TERLAMBAT.

Matanya melebar. Sebuah mobil melaju kencang, dan—

BRUK!

Tubuhnya terpental, melayang sesaat sebelum jatuh keras di aspal.

Gelap.

Namun kesadarannya tidak benar-benar hilang.

Tanpa ia sadari, jiwanya telah berpindah… ke dalam tubuh wanita lain.

Belvina Laurent.

Suara gaduh menyusup perlahan. Bisik-bisik. Langkah kaki. Cahaya yang terlalu terang.

“Bukankah itu Belvina…?”

“Istri Alden, 'kan?”

“Ya ampun, dia jatuh…”

“Memalukan sekali.”

“Sejak dulu memang ceroboh.”

“Dia benar-benar tidak cocok berdiri di samping Alden.”

Dina mengerjap pelan.

Suara-suara itu terasa asing… namun entah kenapa menekan. Seolah-olah semua orang di ruangan itu, menertawakannya.

Dina menatap sekelilingnya.

Langit-langit tinggi. Lampu kristal berkilauan. Lantai marmer dingin menempel di pipinya.

"Ini ... lobby hotel?" pikirnya. "Bukankah tadi aku di jalan? Ditabrak mobil?"

Orang-orang mengelilinginya.

“Belvina!”

Suara itu tajam. Seseorang menarik tangannya kasar.

“Bisa tidak berhenti mempermalukan diri sendiri?” suara pria itu dingin menusuk. “Atau memang itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan?”

Dina tertegun. Ia menoleh. Wajah itu… Terlalu tampan. Terlalu dingin.

Alden Virel.

Napasnya tercekat.

“Siapa… kau?” tanyanya pelan, bingung.

Alden tersenyum sinis. “Setelah jatuh, sekarang pura-pura amnesia?”

“Lepas.” Dina menarik tangannya. Tatapannya lurus. Tidak mundur. “Jangan sentuh aku sembarangan.”

Alden menatapnya. Ada jeda singkat.

“Setelah jatuh, sekarang pura-pura tidak mengenal siapa pun?”

Dina mengernyit.

“Aku tidak peduli siapa kamu.” Suaranya tidak tinggi. Tapi cukup jelas. “Aku bukan sesuatu yang bisa kamu perlakukan sesukamu.”

Alden terdiam sepersekian detik.

Berbeda. Wanita ini… berbeda. Biasanya, Belvina akan merengek, berpura-pura lemah, mencari simpatinya. Bukan melawan seperti ini.

Rahangnya mengeras saat menyadari makin banyak orang yang memerhatikan.

“Ayo pulang. Jangan bikin masalah lagi,” ucapnya datar.

Ia menunduk sedikit, suaranya merendah di telinga wanita itu.

“Jangan paksa aku berbuat kasar, Belvina.”

Nada itu dingin. Berat. Membuat tubuh Dina refleks menegang.

Alden meraih tangannya lagi dan menariknya pergi.

"Tunggu…"

Dina membeku.

"Kenapa dia memanggilku Belvina?"

Jantungnya berdegup tak teratur.

“Apa… ini…”

Kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat. Sakit yang tajam menjalar tanpa ampun.

Potongan-potongan ingatan menghantam kesadarannya—

Ballroom dipenuhi cahaya lampu kristal. Musik mengalun pelan, menahan percakapan dalam nada sopan yang terukur.

Malam itu adalah pesta pernikahan rekan bisnis penting Alden.

Alden berdiri tegap di tengah kerumunan. Setelan gelapnya rapi, sikapnya tenang seperti biasa. Terlalu tenang untuk suasana seperti ini.

Di sampingnya, Belvina tidak bergerak jauh. Gaun merah yang ia kenakan mencuri perhatian. Namun sorot matanya sesekali bergeser, menangkap sesuatu di antara keramaian.

Lalu pintu terbuka. Beberapa kepala langsung menoleh.

Seraphina melangkah masuk. Gaun putihnya sederhana, tapi kehadirannya seolah meredam seisi ruangan. Satu per satu orang mendekat, menyapanya dengan hangat.

Bisik-bisik mulai muncul, cukup pelan untuk dianggap sopan, cukup jelas untuk tetap terdengar.

Belvina tidak ikut menoleh lagi. Tangannya turun di sisi tubuh, lalu perlahan meraih lengan Alden. Genggamannya sedikit lebih kuat dari seharusnya.

Alden melirik sekilas. Tidak melepaskan, tapi juga tidak menanggapi.

Langkah Seraphina berhenti tepat di depan mereka.

“Alden,” sapanya lembut.

Alden mengangguk tipis. “Seraphina.”

Tak ada yang lebih dari itu. Namun jeda di antara keduanya terasa cukup panjang untuk menarik perhatian.

Seraphina kemudian mengalihkan pandangannya.

“Belvina,” ucapnya, tersenyum ringan. “Kamu terlihat sangat anggun malam ini.”

Belvina menatapnya sejenak, lalu mengangkat dagu sedikit.

“Terima kasih.”

Nada suaranya datar. Sopan, tapi jelas menjaga jarak.

Seraphina tidak berubah. Senyumnya tetap sama.

“Aku senang melihat kalian hadir.”

Belvina tidak langsung menjawab. Jarinya menggeser sedikit posisi di lengan Alden. Cukup untuk menunjukkan bahwa ia masih di sana.

Beberapa detik berlalu.

Seraphina melangkah setengah langkah lebih dekat.

“Ah—”

Tubuhnya condong ke depan.

Alden menangkap bahunya sebelum benar-benar jatuh. Gerakan yang cepat. Refleks. Namun posisi mereka terlalu dekat.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Alden singkat.

“Iya,” jawab Seraphina pelan, tersenyum tipis. “Sepertinya aku kurang fokus.”

Belvina melepaskan lengan Alden. Satu langkah maju.

“Kalau kehilangan keseimbangan,” ucapnya tenang, “sebaiknya cari tempat lain untuk jatuh.”

Beberapa orang berhenti bicara.

Seraphina tampak terdiam sesaat. “Aku tidak bermaksud—”

“Semua orang melihat,” potong Belvina, masih dengan nada yang sama. “Akan lebih baik kalau tidak memberi ruang untuk salah paham.”

Tatapannya tidak terangkat tinggi. Justru itu yang membuat ucapannya terasa lebih dingin.

Alden menoleh ke arah Belvina. Sekilas. Lalu kembali ke depan.

“Cukup,” katanya datar. “Kita tidak di sini untuk ini.”

...✨"Tidak semua kehidupan kedua adalah keberuntungan, kadang itu ujian untuk tidak mengulang kesalahan yang sama."...

..."Cinta yang dipaksakan bukan kebahagiaan, melainkan cara paling pelan untuk menghancurkan diri sendiri."...

..."Ia kehilangan segalanya di hidup lama, hanya untuk diberi kesempatan menolak hal yang sama di hidup baru"✨...

.

To be continued

1
Eva Novianti
hahahahahaja lucuuuu
anonim
Seraphina berulah, Alden mengambil langkah cepat dengan pemutusan seluruh kerja sama yang masih berjalan.

Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.

Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.

Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.

Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
anonim
Belvina lebih baik tidak usah keluar rumah sebelum Alden menemukan bukti-bukti kuat kejahatan Seraphina di perusahaan keluarga Alden.

Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
anonim
Alden mendapatkan laporan dari Dimas tentang sepak terjang Seraphina yang menjadi pahlawan perusahaannya.

Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.

Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.

Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.

Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
anonim
Orang suruhan Seraphina ini apa tidak punya istri dan anak. Mau-maunya menerima pekerjaan mencelakakan Ibu hamil.

Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
anonim
Seraphina penjahat terselubung, melakukan kejahatan dengan membayar seseorang.

Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.

Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
SediaKala
Bukannya ponselnya di tinggal d rumah ya?🤏
anonim
Alden benar-benar marah kepada Seraphina yang telah mencoba menghancurkan rumah tangganya.

Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.

Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.

Dimas takut Seraphina berbuat nekat.

Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
anonim
Seraphina datang ke gedung Astera Group memenuhi panggilan dari Alden.

Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.

Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.

Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.

Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.

Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.

Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
anonim
Seraphina menghancurkan gelas wine yang isinya sudah tandas dia teguk dengan emosi tinggi

Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.

Seraphina menahan amarah.

Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.

Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
anonim
Belvina tidak mau membantu Alden lepasin baju.

Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.

Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.

Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.

Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.
beybi T.Halim
setelah mood yg up & down baca cerita ini akhirnya kelar juga,happy ending buat semuanya,semangat buat penulisnya,sehat2 sll💝
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Keren juga Belvina dalam menghadapi Seraphina yang dengan sengaja bicara tentang perlakuan Alden yang sudah berlalu.

Sayangnya Belvina tak terpengaruh dengan Seraphina. Tidak terpancing untuk marah.

Kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Belvina membuat Seraphina tak berkutik.

Kebanggaannya diperlakukan istimewa oleh Alden, tak ditanggapi Belvina sesuai harapannya.

Belvina tak bisa diremehkan. Pasti akan mekawan dengan cara yang elegan. Seperti saat ini.

Tidak perlu marah pakai teriak-teriak.
anonim
Seraphina sengaja mengikuti Belvina kah ?

Belvina mesti hati-hati kalau dekat Seraphina. Mesti waspada terhadap gerak-gerik Seraphina. Jangan sampai membahayakan kehamilannya.
Nurlaila Hidayah
gmna Lo mau tahu sama istri Lo aja cuek lbih perhatian sama cwek lain, mka'a aneh kan sama istri sndri, kerasa kan skrg keadaan'a di balik, emg enak, sangka thor
RusNa ANtox DEwi
baguss
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
keren2... bakal saya lahap habis ini karya2mu...
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
home sweet home...
Bakulgeblek
nha... senyum2 besoknya pasti ini pak COD koplak...
Bakulgeblek
titik terendah harga diri laki2 di depan istri, sekaligus puncak kelaki2an utk menahan dan hanya melepas kepada istri...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!