NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Bukti Di Atas Mimbar Dan Kehancuran Fitnah

Gema suara Reno Adhyastha yang menyatakan bahwa Aura adalah istri sahnya seketika membuat seluruh Ballroom Adhyastha Tower hening mencekam. Ratusan jurnalis dari berbagai media massa nasional, wartawan siaran langsung infotainment, hingga kameramen stasiun TV berita terpaku di tempatnya. Beberapa dari mereka bahkan sampai lupa menekan tombol jepretan kamera karena saking syoknya.

Namun, kejutan dari sang CEO dingin bernuansa dominan itu sama sekali belum berakhir.

"Saya tahu media di luar sana selalu menuntut bukti," ujar Reno dengan suara bariton yang tenang, tegas, namun sarat akan wibawa yang mengintimidasi.

Reno memberikan isyarat tangan singkat kepada Pak Aslan yang berdiri sigap di samping podium. Seketika itu juga, lampu utama Ballroom sedikit diredupkan, dan layar proyektor raksasa berukuran belasan meter di belakang mimbar utama menyala terang.

Sebuah video beresolusi tinggi mulai berputar.

Layar proyektor menampilkan rekaman prosesi pernikahan yang sangat sakral dan khidmat. Di dalam video tersebut, terlihat jelas sosok Reno Adhyastha yang mengenakan beskap putih elegan sedang menjabat erat tangan sang penghulu, mengucapkan kalimat ijab kabul dengan satu tarikan napas yang mantap dan tegas. Di sampingnya, duduk sosok Aura yang tampil begitu anggun dengan kebaya dan hijab pink pastel, meneteskan air mata haru sewaktu para saksi menyerukan kata "SAHHH!".

Video berdurasi singkat itu juga memperlihatkan momen manis saat Reno menyerahkan mas kawin dan memasangkan cincin pernikahan di jemari lentur Aura.

*Sretttt!*

Tak berhenti sampai di situ, Reno merogoh saku dalam jas hitam mewahnya dan mengeluarkan dua buah buku kecil bersampul cokelat dan hijau Buku Nikah Resmi yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Reno mengangkat kedua buku nikah tersebut tinggi-tinggi di hadapan ratusan lensa kamera siaran langsung nasional.

"Kami telah menikah secara sah di hadapan hukum dan agama!" pangkas Reno dengan tatapan mata yang mendominasi penuh. "Pernikahan kami memang sengaja digelar secara privat demi menjaga ketenangan keluarga, bukan karena ada hal kotor yang disembunyikan. Namun, diamnya kami justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan narasi fitnah keji!"

Suasana Ballroom seketika pecah! Dentuman jepretan kamera dan kilatan lampu flash menyambar bertubi-tubi tanpa henti. Para wartawan berebut mengambil gambar bukti otentik yang disajikan Reno tanpa celah sedikit pun.

"Melalui konferensi pers ini," lanjut Reno, suaranya mendadak berubah menjadi amat dingin bagai es yang membekukan, "tim hukum Adhyastha Group resmi melayangkan gugatan pidana dan perdata atas pasal Pencemaran Nama Baik dan UU ITE kepada seluruh pihak, media, akun gosip, serta *oknum utama* di balik penyebaran foto dan berita bohong ini!"

Reno menatap lurus ke arah lensa kamera siaran langsung utama seolah-olah ia sedang menatap langsung wajah Clara Hermawan di balik layar televisi.

"Siapa pun yang sudah berani menyentuh dan melukai kehormatan istri saya... pastikan kalian bersiap menanggung konsekuensinya di balik jeruji besi!"

Tak lama setelah konferensi pers tersebut usai, pihak manajemen stasiun TV tempat Aura bekerja memberikan pernyataan resmi mengejutkan di layar siaran utama mereka.

Dengan raut wajah tegang dan membungkuk hormat di depan kamera, Direktur Utama stasiun TV menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Aura dan Adhyastha Group atas keteledoran sistem keamanan internal mereka. Pihak TV juga merilis berita resmi mengenai pengambil alihan saham mayoritas perusahaan mereka oleh Adhyastha Group. Oknum staf internal yang terbukti bekerja sama dengan Clara dalam mencuri dan memanipulasi foto-foto pribadi Aura pun langsung dipecat secara tidak hormat dan diserahkan ke kepolisian.

Sementara itu, di dalam sebuah penthouse mewah di kawasan Jakarta Selatan, atmosfer terasa bagai neraka yang runtuh.

Clara Hermawan masih terduduk mematung di atas lantai marmer yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat, sementara pandangan matanya kosong menatap layar televisi yang menayangkan ulang momen Reno memamerkan buku nikah mereka dan mengancam memenjarakan dalang fitnah tersebut.

Pecahan gelas kaca yang hancur di sekitarnya sama sekali tidak ia pedulikan.

"N-nggak... ini tidak mungkin terjadi..." histeris Clara dengan suara bergetar seraya meremas rambut cantiknya yang kini berantakan. "Reno tidak mungkin menikah dengan wanita itu! Ini pasti mimpi buruk! Ini rekayasa!"

Ponsel Clara di atas meja tak berhenti berdering. Dengan sisa kekuatan yang ada, Clara menggeser tombol hijau panggilan dari manajernya.

"Clara! Kamu ada di mana sekarang?!" suara sang manajer terdengar sangat panik dan histeris di ujung telepon. "Karier kamu benar-benar tamat, Clara! Tiga merek kosmetik internasional baru saja membatalkan kontrak kerja sama secara sepihak! Mereka menuntut ganti rugi puluhan miliar rupiah karena tindakan konyolmu merusak citra merek mereka!"

"A-apa?!" Clara melonjak berdiri dengan napas memburu, wajah ayunya kini pucat pasi bagai mayat. "Tapi aku ini korban, Mbak! Reno yang sudah membodohi kita semua!"

"Jangan konyol, Clara!" bentak sang manajer frustrasi. "Tim hukum Adhyastha Group baru saja menyerahkan berkas digital dan bukti transfer uang dari rekeningmu kepada oknum staf TV itu ke Polda Metro Jaya! Polisinya sudah mengeluarkan surat pemanggilan resmi untukmu! Ayahmu sampai jatuh sakit mendengar nama keluarga Hermawan terseret skandal pidana ini!"

*Brak!*

Ponsel di tangan Clara terlepas dan jatuh menghantam lantai hingga layarnya hancur. Clara terkulai lemas di atas lututnya, menutupi wajahnya seraya menangis histeris. Keangkuhan, kekayaan, dan pesona sosialita yang selama ini ia banggakan runtuh seketika tanpa sisa.

Di kediaman megah Menteng, suasana justru berbanding balik seratus delapan puluh derajat.

Di dalam kamar utama lantai dua yang tenang, Aura duduk di tepi peraduan empuk seraya memandangi layar tablet digital yang menayangkan ulang siaran langsung konferensi pers Reno. Air mata haru dan tak percaya mengalir deras membasahi pipi mulusnya.

Mendengar ketegasan suara Reno saat mengumumkan nama Aura sebagai istri sahnya serta memamerkan video akad nikah mereka ke seluruh Indonesia, dada Aura bergetar hebat. Ada rasa hangat, lega, dan getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya merayapi relung hatinya. Rasa sakit akibat tuduhan kejam yang menghantamnya sejak kemarin sirna sepenuhnya, digantikan oleh rasa terlindungi yang amat sempurna.

Suara derak pintu kamar yang terbuka perlahan membuat Aura tersentak.

Reno melangkah masuk. Pria itu sudah melepas jas formalnya, menyisakan kemeja putih bernuansa elegan dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku dan dasi yang sedikit dilonggarkan. Raut wajahnya yang tadinya sangat dingin sewaktu berhadapan dengan wartawan, kini melunak sepenuhnya saat manik mata kelamnya menatap sosok Aura.

Aura meletakkan tabletnya, lalu berdiri perlahan. Matanya yang masih basah menatap lurus ke arah sang suami.

Reno berjalan mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga berhenti tepat dua langkah di hadapan Aura.

"Bagaimana?" tanya Reno dengan suara baritonnya yang rendah, hangat, dan menenangkan. "Apakah badai di luar sana sudah cukup tenang di hatimu?"

Aura menundukkan kepalanya sebentar, meremas jemari tangannya di atas kain gamis pink lembutnya untuk menahan isakan haru yang hendak lolos dari bibirnya.

"Reno... kenapa kamu melakukan sejauh itu?" bisik Aura dengan suara bergetar. "Memamerkan video akad nikah, menunjukkan buku nikah kita ke seluruh media... bukankah itu melanggar rencana awal perjanjian kontrak kita?"

Reno menatap wajah lembut Aura yang merona. Tangan tegapnya terangkat pelan, secara alami mengusap bulir air mata di pipi Aura dengan ibu jarinya sebuah gestur kehangatan spontan yang makin biasa ia lakukan tanpa ragu.

"Saya sudah pernah bilang, Aura," tutur Reno pelan namun sangat dalam, menatap lurus ke dalam manik mata jernih istrinya. "Tidak ada satu pun poin dalam kertas perjanjian itu yang lebih berharga daripada kehormatan dan kebahagiaan kamu. Di mata hukum, agama, dan di hadapan seluruh dunia hari ini... kamu adalah istri sah dari Reno Adhyastha. Dan tugas seorang suami adalah berdiri paling depan membentengi istrinya dari bahaya apa pun."

Mendengar ketulusan dan ketegasan dari ucapan Reno, seluruh dinding pertahanan dan keraguan di hati Aura runtuh sepenuhnya. Tanpa mampu menahan dorongan emosi dan rasa terima kasih yang membuncah, Aura maju satu langkah dan langsung merengkuh pinggang tegap Reno, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.

Reno tersentak pelan. Kehadiran tubuh mungil Aura yang mendekapnya erat membuat dadanya berdesir hebat. Namun, hanya butuh waktu satu detik bagi sang CEO dingin untuk merespons. Tangannya yang kokoh melingkar hangat di punggung Aura, menarik tubuh wanita itu makin rapat ke dalam pelukannya, seraya mendaratkan usapan lembut di puncaknya yang terbalut hijab pink pastel.

"Terima kasih, Reno... terima kasih banyak..." bisik Aura lirih di balik dada bidang Reno, menyerap kehangatan dan aroma kayu cendana yang begitu menenangkan dari tubuh suaminya.

Reno tersenyum tipis sebuah senyuman tulus yang amat langka. Ia merapatkan pelukannya, menghirup aroma harum dari tubuh Aura.

"Sama-sama, Aura," bisik Reno lembut di dekat telinga istrinya. "Mulai hari ini... tidak akan ada lagi yang berani menyentuh atau menyakitimu."

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!