Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Suasana ruang makan terasa hangat dan percakapan pun mengalir ringan. Sherly beberapa kali menceritakan kebiasaan Gavin saat kecil yang ternyata sangat pendiam, tetapi suka melakukan banyak hal sendirian, karena tidak punya saudara. Dara mendengarkannya dengan penuh perhatian.
Di sela-sela obrolan, tanpa sengaja pandangan Sherly jatuh ke kaki kiri Dara yang sedikit diseret ketika berjalan mengambil teko teh. Sherly terdiam beberapa saat.
"Dara."
"Iya, Ma?"
"Maaf kalau pertanyaan Mama terlalu pribadi."
Dara menoleh sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, Ma. Tanyakan saja."
"Kakimu, apa memang sejak lahir seperti itu?"
Dara spontan menggeleng. "Tidak, Ma."
Suasana meja makan mendadak sedikit lebih hening. Juragan Darmawan ikut mengangkat kepala.Gavin yang sejak tadi fokus menikmati sarapannya kini memperhatikan Dara.
Dara tersenyum tipis, meski sorot matanya perlahan berubah sendu. "Dulu aku mengalami kecelakaan waktu berusia sekitar tujuh tahun."
Sherly menatapnya penuh perhatian. "Bagaimana bisa?"
Dara menundukkan pandangan sejenak, seolah sedang membuka kembali lembaran kenangan yang selama ini tersimpan rapi.
"Waktu itu aku baru pulang dari kuburan kakek, saat hendak menyeberang jalan, aku melihat ada sebuah mobil yang tiba-tiba saja berpindah jalur dan lajunya sangat kencang. Sedangkan di sisi jalan itu ada seorang pria yang sedang berjalan. Aku teriak kencang sama pria itu, tapi sepertinya tidak kedengaran oleh dia.
Dara tersenyum pahit. "Aku takut pria itu tertabrak, jadi aku lari kencang dan mendorongnya ke pinggir jalan."
"Lalu?" tanya Sherly pelan.
"Aku tidak sempat menghindar. Mobil itu menabrakku." Suara Dara mulai mengecil.
Ruangan mendadak sunyi. Tak ada lagi suara sendok yang beradu dengan piring.
Dara menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Aku sempat tidak sadar beberapa jam. Waktu bangun, aku sudah berada di rumah dan banyak sekali orang."
Air mata bercucuran membasahi pipi Dara. Walau begitu, dia tetap melanjutkan kisahnya dengan suara bergetar. "Ternyata orang-orang berkumpul untuk mengurus jenazah nenek."
Mata Sherly ikut berkaca-kaca. Dia bisa membayangkan hal yang menimpa sang menantu di saat usianya masih anak-anak.
"Nenek mengalami serangan jantung, karena terkejut dan ketakutan yang berlebihan ketika mendengar aku tertabrak mobil." Dara mengusap air matanya dengan tisu di meja makan.
"Waktu itu aku tidak dibawa langsung ke rumah sakit, karena tidak punya uang. Hanya memanggil tukang urut dan mengikat kakiku yang patah. Lalu, mengobati luka-luka hanya dengan menggunakan obat tradisional," lanjut Dara.
"Aku baru dibawa ke dokter ketika ada orang asing yang mengaku suruhan keluarga orang yang aku tolong. Rupanya pria itu terluka di kepalanya dan di rawat di rumah sakit."
Gavin yang sejak tadi menyimak, tiba-tiba saja teringat dengan kisahnya belasan tahun silam. Dia pernah ditolong oleh seorang anak kecil ketika dirinya tertabrak mobil.
"Apakah Dara adalah orang yang sudah menolong aku?" batin Gavin.
"Dokter bilang tulang kakiku mengalami cedera yang cukup parah."
Dara tersenyum kecil meski matanya mulai berkaca-kaca. Ia menatap kaki kirinya.
"Sejak itu cara berjalan aku tidak pernah kembali normal. Padahal aku jago sekali lari. Tiap ikut lomba, aku selalu juara satu." Dara tersenyum tipis.
Sherly tanpa sadar menggenggam tangan Dara yang berada di atas meja.
Dara menunduk. "Walau aku tidak bisa berlari lagi, aku tidak pernah menyesal."
Semua orang menoleh kepadanya.
"Kamu masih sangat kecil. Tapi, jiwa penolong kamu sudah begitu kuat tertanam di dalam diri kamu," ucap Sherly dengan suara bergetar.
Mendengar cerita Dara, Gavin merasa perempuan itu adalah orang yang sudah menolongnya, dahulu. Waktu itu dia sedang berjalan seorang diri. Sayangnya dia tidak sadarkan diri, sehingga tidak tahu siapa yang sudah menolongnya.
Dara tersenyum tulus. "Aku hanya kehilangan cara berjalan yang normal, tapi orang itu masih bisa berkumpul bersama keluarganya."
Kalimat sederhana itu membuat dada Sherly terasa sesak.
Juragan Darmawan mengembuskan napas panjang. "Anak seumur tujuh tahun sudah punya hati sebesar itu."
Gavin diam. Tatapannya tidak lepas dari wajah Dara. Ia kembali teringat laporan Pak Rahmat beberapa hari lalu. Kalau Dara itu bukan hanya pekerja keras, Dara juga rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan orang lain.
Sherly mengusap perlahan punggung tangan Dara. "Kamu anak yang luar biasa."
Dara tersenyum malu. "Aku hanya melakukan apa yang menurut aku benar, Ma."
Melihat suasana mulai sendu, Sherly mengembuskan napas pelan. "Luka karena kecelakaan memang meninggalkan bekas yang panjang." Ia melirik ke arah putranya.
"Gavin juga begitu."
Dara menoleh cepat. "Aa Gavin?"
Tiba-tiba saja secara spontan Dara memanggil Gavin dengan sebutan "Aa". Tadi, suaminya minta jangan memanggil dengan "Den Gavin".
Sherly mengangguk. "Iya. Gavin terlahir normal."