NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Hari itu keadaan ruang keluarga rumah Deva semakin menegang. Karena tak satu pun orang di ruangan itu benar-benar nyaman setelah ledakan emosi Kartika sebelumnya. Siapa sangka istri yang selama ini tidak banyak protes, kini berani melakukan perlawanan.

Kaivan duduk anteng di lantai dengan piyama dinosaurusnya sambil memainkan mobil-mobilan plastik. Sesekali anak kecil itu melirik wajah orang-orang dewasa di sekitarnya dengan bingung, seolah ikut merasakan ketegangan yang memenuhi ruang keluarga.

Sementara itu, Deva duduk kaku di sofa, rahangnya mengeras. Kartika menatap sebentar dengan sinis, lalu membawa Kaivan ke kamar Kalingga karena merasa pembicaraan kali ini sangat panas.

Begitu kembali Kartika duduk dengan posisi tegak seakan siap berdebat. Itu membuat Deva tidak nyaman. Biasanya setelah bertengkar, Kartika akan pergi di dapur menyibukan diri dengan pekerjaan atau memilih diam mengalah lebih dulu. Namun, hari ini berbeda. Wanita itu seperti batu karang yang siap menahan amukan ombak.

“Mengurus rumah dan semua pekerjaan rumah itu tugas seorang istri. Termasuk memasak ...,” ucap Pak Dimas memecah keheningan di antara mereka. Matanya melirik ke arah Bu Hania.

Kartika hendak membuka mulut, Deva memberi isyarat untuk diam. Dan lagi-lagi hatinya terasa diremas. Sang suami selalu menekan dirinya harus mengerti dengan keadaan keluarganya.

“Sudah ... sudah!” seru Bu Hania tiba-tiba, memecah keheningan. Dia paling tidak suka jika suaminya menyinggung dirinya.

“Mana uang bagian Ibu?” Nada suaranya terdengar biasa saja. 

Seperti biasa Bu Hania akan minta jatahnya jika Deva sudah gajian. Seolah pertengkaran tadi hanyalah angin lalu. Bahkan setelah melihat rumah tangga anaknya retak di depan mata, hal pertama yang dipikirkan wanita itu tetap uang.

Deva mengusap wajah kasar sebelum mengambil beberapa amplop dari tas kerjanya. Satu amplop cokelat diberikan pada Bu Hania. Satu untuk Iriana. Satu lagi untuk Kenzie.

Seperti ritual bulanan yang selalu sama. Bu Hania langsung membuka amplopnya cepat-cepat, menghitung lembar demi lembar uang dengan ujung jari yang sudah dipenuhi cincin emas.

Iriana pun melakukan hal yang sama. Takut kurang. “Sebentar ... kok, enggak pas,” gumamnya sambil menghitung ulang. “Satu, dua, tiga ....”

Kartika memperhatikan tanpa suara. Tak ada satu pun dari mereka yang bertanya apakah uang belanja rumah cukup. Tak ada yang bertanya apakah anak-anak Deva makan dengan layak. Bagi mereka itu yang penting jatah uangnya lengkap.

Beberapa detik kemudian, wajah ketiganya berubah cerah. Senyum puas merekah seperti baru memenangkan undian.

“Jumlahnya sudah pas,” ucap Bu Hania lega.

Kartika menunduk pelan. Dadanya terasa sesak. Bukan karena uang itu, tetapi karena baru malam ini dia benar-benar melihat dirinya selama ini hanya seperti bayangan di rumah tangganya sendiri.

“Kalau begitu aku pulang dulu,” ujar Iriana sambil memasukkan amplop ke tas cantik yang baru dibelinya bulan lalu. 

Kartika menatap tas itu beberapa detik.Tas yang harganya hampir sama dengan uang belanja dapurnya sebulan. Ironis sekali.

“Takut kemalaman di jalan,” lanjut Iriana.

Rumah Iriana jaraknya agak jauh dari rumah Deva. Dahulu, Kartika sengaja beli rumah agak jauh dari mertuanya, walau masih satu kecamatan. Siapa sangka, orang tua Deva memberikan rumah mereka setelah Iriana menikah lima tahun lalu. Gantinya, membeli perumahan yang dekat dengan rumah Deva. Dan, Deva lah yang membayarnya tiap bulan.

“Ayo, Pak. Kita pulang juga,” ajak Bu Hania sambil berdiri santai.

Tak ada permintaan maaf kepada tuan rumah. Tak ada rasa bersalah. Mereka pergi begitu saja.

Pintu rumah tertutup dan mendadak rumah itu terasa sunyi sekali. Deva menghela napas panjang lalu mengambil satu amplop terakhir dari tasnya.

“Ini uang bulanan buat kamu, Yang.” Amplop itu diletakkan di meja.

Kartika melirik sekilas. Amplop itu terlihat lebih tipis dari biasanya. Ia tidak perlu menghitung untuk tahu jumlahnya berkurang banyak.

“Mulai sekarang jatahnya empat juta setengah,” ucap Deva datar.

Kartika tersenyum kecut. “Sebaiknya Mas saja yang pegang uang itu.”

Deva mengernyit. “Apa maksud kamu, Yang?”

Kartika mulai menghitung dengan jari. “Jangan lupa nanti bayaran sekolah Kalingga. Bayar listrik. Bayar air. Beli susu Kaivan. Pampers. Belanja dapur. Gas habis minggu depan. A, lupa ... iuran tambahan sekolah Kalingga karena ada kegiatan bulan ini.”

Kartika menatap lurus mata suaminya. “Jangan lupa belanja stok sebulan.”

Wajah Deva berubah kaku. “Kartika.” Nada suaranya mulai berat. “Tadi aku sudah bilang kebutuhan rumah sekarang ditanggung berdua. Jadi—”

Kartika tertawa pelan. Tawa yang membuat dada Deva terasa tidak nyaman.

“Itu kebutuhan anak-anak Mas.” Tatapan Kartika tajam. “Dan anak-anak itu tanggung jawab Mas.”

Kalimat itu menghantam ego Deva telak. “Oke!” bentaknya sambil berdiri kasar. “Kalau begitu biar aku saja yang belanja!”

Kartika tidak menjawab. Ia memilih sikap diam. Justru itu terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.

Keesokan paginya rumah terasa asing. Biasanya sejak subuh aroma bumbu masakan sudah memenuhi dapur. Suara piring dan gelas saling beradu. Kartika mondar-mandir menyiapkan sarapan sambil membangunkan anak-anak. Namun, pagi ini suasana sangat sunyi.

Deva keluar kamar dengan kemeja kerja yang rapi dan dasi setengah terpasang. Langkahnya melambat ketika melihat meja makan kosong. Tak ada nasi goreng. Tak ada kopi panas. Tak ada kotak bekal. Hanya ada botol susu Kaivan di atas meja.

Kartika berdiri di dapur merebus air dengan ekspresi tenang.

“Sayang,” panggil Deva sambil mengernyit. “Sarapan aku mana?”

Kartika menoleh pelan. Tatapan mereka bertemu.

Deva merasa ada jarak dingin di mata istrinya.

“Kalau Mas mau aku buatkan sarapan,” ucap Kartika tenang, “Mas harus bayar.”

Deva melongo. “Apa?”

Kartika mematikan kompor. “Bukannya memasak itu bukan pekerjaan?” tanyanya lirih. “Katanya aku cuma ongkang-ongkang kaki di rumah.”

Nada suaranya tenang. “Jadi mulai sekarang,” lanjut Kartika sambil menyandarkan tubuh di meja dapur, “aku tidak akan melakukan pekerjaan rumah apa pun kalau tidak dibayar.”

Ekspresi Deva berubah keras dan tatapan matanya tajam. “Jadi sekarang kamu mau hitung-hitungan sama aku?”

Kartika tersenyum tipis. “Bukannya Mas dan keluarga Mas yang mulai?”

“Kamu keterlaluan.”

“Keterlaluan?” ulang Kartika pelan. Ia berjalan mendekat. “Aku bangun jam empat pagi setiap hari. Lalu, aku tidur paling akhir. Karena melakukan banyak pekerjaan di rumah ini.”

Mata Kartika mulai memerah. “Tapi semua itu dianggap tidak ada nilainya di mata kalian.”

Selama ini Kartika tidak banyak menuntut kepada Deva. Karena pria itu bisa berperan baik sebagai suami dan ayah untuk kedua anaknya. 

Hal yang tidak disukai Kartika dari Deva adalah terlalu memanjakan dan selalu menuruti keinginan keluarganya. Dengan dalih berbakti kepada orang tua dan menjaga hubungan baik dengan saudara. Masalahnya, semua keluarga Deva selalu manfaatkan dirinya dan bergantung kepadanya.

“Mereka tidak hitungan-hitungan seperti yang kamu tuduhkan. Mereka ingin kamu membantu keuangan keluarga dengan bekerja,” bantah Deva yang selalu saja membela keluarganya.

“Aku tanya sama Mas. Apa pekerjaan Iriana? Apa pekerjaan Ibu?” Kartika yang biasanya nurut suami, kini terus saja membalas ucapan Deva.

“Iriana punya anak kecil yang tidak bisa ditinggal-tinggal. Ibu sudah tua untuk bekerja,” balas Deva dengan nada tegas.

“Mas, Delisa itu sudah berusia empat tahun dan bisa bermain sendiri. Sedangkan aku mengurus Kaivan yang berusia dua tahun. Lalu, Ibu tidak bisa bekerja, tapi tiap hari kerjanya shoping, jalan-jalan, dan senam dengan ibu-ibu komplek.”

Untuk pertama kalinya, Deva tidak langsung bisa membalas.

Kartika melangkah lebih dekat lagi. “Mas tahu kenapa aku marah?” Suara wanita itu mulai bergetar. Air matanya mulai menggenang.

1
Vivi
cerita yang bagus,
Nuryati Yati
baby girl otw😄
Nuryati Yati
itu pak Dimas apa g capek punya istri modelan Hania yg slalu nuntut ini itu
Nuryati Yati
makanya perbaiki jngn mau di setir sm ibumu hiduplah sesuai kemampuan
Nuryati Yati
gara2 emak nya rumah tangga anak2 nya pada berantakan mendingan emaknya di pindahkan ke tempat yg jauh dr mereka
fii 🤩
😂😂
Nuryati Yati
kaget ya Deva tau siapa istrimu sebenarnya
Nuryati Yati
😭😭
Nuryati Yati
lah itu Bpk nya msih hidup ngapain kerjaan nya hanya ongkang2 kaki tok
Nuryati Yati
buang aja ibu, adik2 mu yg tak tau diri kelaut beras kan🤪
Nuryati Yati
nah loh Deva tinggal pilih istri dan anak2 mu ato pilih adikmu
Nuryati Yati
lawan Kartika biar mereka sadar
Nuryati Yati
ya begitulah kalo mertua selalu ikut campur rumah tangga anak nya psti jd berantakan
Nuryati Yati
😭😭😭
Nuryati Yati
bener2 ya bu Hania minta di cekek 🤪
Nuryati Yati
wis tinggal minggat ae Kartika
Nuryati Yati
dan makan tu cinta Kartika
Nuryati Yati
gaya elit ekonomi sulit
Nuryati Yati
Deva kudu tegas sama ibu, dan adik2 nya
Evy
Mantap...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!