Sebuah musibah merenggut keluarganya dan dia ditolong oleh seorang pendekar yang pernah jaya dimasanya. Yuk kita sama sama melihat jalan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tio Bukilsum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hua San
"Eh, kek! Kenapa. Apa yang terjadi dengan dirimu?" Tio Buki terkejut dengan sosok kakek tua yang ada didepannya itu. Ternyata dia masih hidup.
Sosok kakek itu mengangkat kepalanya melihat kearah Tio Buki, tetapi dia tidak punya mata. Hanya terlihat dua buah lobang kecil.
"Apakah kau buta kek?" Tanya Tio Buki dan sosok itu hanya menganggukkan kepalanya lemah.
"Mendekatlah kesini Anak muda. Akhiri saja penderitaan hidupku ini, supaya hidupku tidak akan sia sia" Ucap sosok itu begitu pelan.
"Kek tenang saja, aku akan menyelamatkanmu dengan cara apapun" Ucap Tio Buki.
"Anak muda, aku sudah tidak punya harapan lagi. Kedua rantai ini telah menyerap hampir habis tenagaku. Semua yang ku alami ini perbuatan murid murtad yang pernah aku didik sejak empat puluh tahun yang lalu" Ucap sosok itu menunduk sedih.
"Aku akan segera membebaskanmu kek!" Ucap Tio Buki seraya mengeluarkan pedangnya. Saat pedang itu ditarik keluar, terpancarkan cahaya Ungu ditempat itu.
"Tunggu dulu Anak muda! Apakah itu sebuah pedang. Ach, aku rasanya mengenal dari aura pedang itu. Pasti mengeluarkan aura ungu kan?" Ucap kakek itu.
"Kek, dari mana kau tau bahwa pedang ini mengeluarkan aura ungu. Bukankah kau buta?" Tanyanya.
"Hehehe. Aku memang buta Anak muda. Tapi hatiku tidak buta. Apa hubungannya kau dengan Dewa Aneh itu. Thio Sam Hong?" Tanyanya.
,"Aku anak angkatnya Kek! Hehehe" Jawab Tio Buki cengengesan.
"Aku sungguh sangat bahagia, diakhir hidupku bisa bertemu dengan penerus ilmu silat dari kakak seperguruan ku. Hahaha" Sosok itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha. Sekarang potong kedua rantai itu anak muda" Kakek itu masih aja tertawa entah karena bahagia.
Sembari mengerutkan alisnya, Tio Buki menebas pedangnya kearah kedua rantai itu.
Tranggg.....
Tranggg...
Terdengar suara pedang bertemu dengan kedua rantai dan
Klang.......Klang...
Kedua rantai itu akhirnya putus dan jatuh Keatas batu yang ada dibelakang sosok itu.
Tio Buki menyimpan kembali pedangnya, lalu menarik ujung rantai yang membelenggu tulang rusuk kakek itu.
"Terimakasih anak muda, kau bisa memanggilku kakek guru Hua San. Aku tidak ada harapan lagi hidup. Umurku tidak lama lagi" Ucapnya.
"Kakek Hua San jangan bicara seperti itu, masalah umur tidak ada yang mengetahui, hanya Thian yang tau" Ucap Tio Buki.
Hahaha. Kakek begitu bahagia bertemu dengan Anak angkat dari kakak seperguruan ku yang begitu baik. Siapa namamu?" Tanya Hua San tertawa.
"Aku Tio Buki kek! Kenapa kau jadi seperti ini, bukankah ilmu kakek jauh lebih kuat dari kakek guru Thio Sam Hong? Ucap Tio Buki penasaran.
"Hehehe. Dimasa mudaku aku tidak terlalu suka menonjolkan nama dan gelarku, aku selalu tertutup dan hanya dikenal dengan Dewa petir. Aku mempunyai dua kakak seperguruan Thio Sam Hong dan Lo jin. Aku juga mengangkat seorang murid dan murid itu bersekutu dengan makhluk dari dunia lain dan membuatku jadi begini. Untung Inti petir selalu melindungi tubuhku ini. Jika tidak, aku dari dulu sudah jadi bangkai" Ucapnya sedikit menceritakan.
"Sekarang dengarkan kakek, ada beberapa ilmu yang hendak aku ajarkan kepadamu. Persiapkan dirimu" Ucapnya.
Bukan aku tidak mau kek, aku sudah banyak ilmu kek, kalau ditambah lagi. Berat kek, tubuhku tidak sanggup memikul banyak ilmu. Bisa bisa kurus badanku kek" Ucap Tio Buki menolak.
"Hahaha. Hahaha" Hua San tertawa terbahak bahak.
"Kenapa kakek jadi aneh gitu, kok ketawa sendiri. Heran aku lihatnya?" Tanya Tio Buki mengerutkan keningnya.
"Aneh, aneh gimana. Justru kamu yang aneh!"
Bersambung k episode selanjutnya....