SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUTAN YANG TERLALU SUNYI
Tian Xue dan Lu Shi berdiri berdampingan di hadapan tangga batu jalan keluar dari Istana Naga.
Mereka saling berpandangan sesaat.
Tanpa banyak bicara, keduanya melangkahkan kaki menuju anak tangga pertama.
Namun tepat saat telapak kaki mereka menyentuh permukaan batu...
Wuuusshhh!
Ruang di sekitar mereka bergetar.
Pilar-pilar kuno, dinding istana, hingga langit-langit batu perlahan berubah menjadi butiran cahaya yang beterbangan.
Dalam sekejap, dunia di hadapan mereka lenyap.
Tubuh mereka terasa ringan, seolah dibawa arus ruang yang tidak terlihat.
Lalu...
Segalanya kembali tenang.
Aroma tanah basah memenuhi udara.
Angin sejuk berembus pelan melewati pepohonan raksasa yang menjulang tinggi.
Tian Xue perlahan membuka mata.
Hamparan Hutan Purba kembali terbentang di hadapan mereka.
Lu Shi memandang ke sekeliling dengan sedikit terkejut.
"Kita kembali dengan sangat cepat."
Tian Xue mengamati keadaan sekitar beberapa saat.
Tidak ada tangga, tidak ada gerbang.
Bahkan keberadaan Istana Naga seolah benar-benar telah menghilang.
"Ya."
"Kita dipindahkan keluar."
"Tidak perlu melewati kembali Jalan Ujian."
Lu Shi menganggukkan kepala pelan.
"Sepertinya memang begitu."
Suasana kembali hening.
Yang terdengar hanyalah suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin.
Setelah beberapa saat, Tian Xue menoleh ke arah Lu Shi.
"Lalu sekarang?"
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Ke mana tujuanmu selanjutnya?"
Lu Shi memiringkan kepala.
Ia mulai berjalan mondar-mandir sambil melipat tangan di dada.
Tangan lainnya menopang dagunya.
"Hmmmm..."
"Aku belum tahu."
Ia berhenti melangkah.
"Tujuan awalku memang datang ke tempat ini."
"Tapi setelah semuanya selesai... aku malah tidak punya tujuan."
Lu Shi mengangkat bahu dengan santai.
Seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu dalam.
Kemudian ia kembali menatap Tian Xue.
"Kalau kau sendiri?"
"Kompetisi Empat Klan masih dua bulan lagi."
"Apa yang akan kau lakukan?"
Tatapan Tian Xue perlahan beralih ke arah pepohonan rimbun di depan.
Hutan Purba begitu luas, tidak terlihat ujungnya.
Di tempat seperti ini, Beast kuat pasti masih berkeliaran.
Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Sebenarnya... aku juga sama sepertimu."
"Aku belum memiliki tujuan lain."
Ia melangkah perlahan ke depan.
Tatapannya tetap mengarah ke dalam hutan.
"Tapi sepertinya... aku tidak akan keluar dari Hutan Purba."
Lu Shi berkedip.
"Hm?"
Tian Xue melanjutkan.
"Tempat ini sangat cocok untuk berlatih."
"Masih banyak Beast kuat yang bisa kujadikan lawan."
"Dua bulan bukan waktu yang lama."
"Semakin kuat aku sebelum kompetisi dimulai," katanya perlahan.
"Semakin besar peluangku."
Lu Shi mengangguk pelan.
Lalu senyum lebar perlahan muncul di wajahnya.
"Ah. Ternyata kau tidak bodoh."
Tian Xue hanya tersenyum tipis.
Ejekan seperti itu sudah terlalu sering keluar dari mulut gadis tersebut.
"Aku ikut denganmu."
Lu Shi berkata tanpa ragu.
"Dibanding berjalan tanpa tujuan, lebih baik berlatih bersama."
Tian Xue memandangnya beberapa saat.
Selama perjalanan menuju Istana Naga, mereka telah menghadapi berbagai kesulitan bersama.
Mulai dari melewati Hutan Purba hingga memperoleh warisan leluhur.
Tanpa disadari, mereka telah menjadi rekan yang saling percaya.
Akhirnya Tian Xue menganggukkan kepala.
"Baik."
"Kita sudah melalui banyak hal bersama."
"Kalau begitu..."
"...mari kita menjelajahi Hutan Purba lebih dalam."
Lu Shi tersenyum cerah.
"Setuju!"
Keduanya pun mulai melangkah memasuki rimbunnya Hutan Purba.
Sinar matahari hanya mampu menembus sedikit celah di antara dedaunan.
Udara terasa sejuk.
Sesekali angin membawa aroma pepohonan tua.
Langkah keduanya berjalan santai.
Tidak ada yang terburu-buru.
Kini, tujuan mereka hanya satu.
Memanfaatkan dua bulan yang tersisa.
Menjadi lebih kuat sebelum Kompetisi Empat Klan dimulai.
Tian Xue dan Lu Shi terus melangkah semakin dalam memasuki Hutan Purba.
Pepohonan di sekitar mereka tumbuh semakin rapat.
Batang-batang pohon kuno menjulang tinggi ke atas.
Dedaunan yang saling bertumpuk membuat suasana terasa sedikit redup.
Meski hari masih siang.
Angin berembus perlahan.
Membawa aroma tanah lembap yang khas.
Tak satu pun dari mereka berbicara.
Keheningan itu membuat langkah kaki mereka terdengar semakin jelas.
Tiba-tiba...
Kruuuukkk...
Suara lirih memecahkan kesunyian.
Tian Xue menghentikan langkahnya.
Ia menoleh ke samping.
Lu Shi sedang memegang perutnya dengan wajah sedikit cemberut.
"Aah..."
"Aku lapar."
Tian Xue memandang gadis itu beberapa saat.
Tatapannya dipenuhi kebingungan.
Baru tiga belas hari mereka menjalani perubahan garis darah.
Tubuh mereka baru saja mengalami peningkatan besar.
Namun...
Lu Shi masih bisa merasa lapar.
Melihat Tian Xue hanya diam menatapnya, Lu Shi mengembungkan pipinya.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Lapar memang salah?"
Tian Xue menggeleng pelan.
"Bukan."
"Hanya saja... aku sedikit heran."
Lu Shi mendengus pelan.
"Lapar tetap lapar."
"Mau garis darah naik ataupun tidak, perutku tetap harus diisi."
Mendengar jawaban itu, Tian Xue hanya bisa menghela napas.
Sifat Lu Shi memang tidak pernah berubah.
"Baiklah. Kita cari makan dulu."
Tatapan Tian Xue perlahan menyapu rimbunnya hutan di depan.
"Mungkin..."
"...ada Beast yang sudah bosan hidup."
Seketika senyum Lu Shi kembali merekah.
"Itu baru ide yang bagus!"
"Kau sekarang jauh lebih enak diajak bicara, lelaki bodoh."
Tawa kecilnya bergema di antara pepohonan.
Tian Xue hanya menggelengkan kepala.
Sambil tersenyum tipis.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
Namun...
Semakin jauh mereka memasuki Hutan Purba.
Tian Xue mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Hutan ini...
Terlalu sunyi.
Tidak terdengar raungan Beast.
Tidak ada suara pertempuran antarmakhluk buas.
Bahkan suara burung pun hampir tidak terdengar.
Yang ada hanyalah desir angin yang meniup dedaunan.
Alis Tian Xue perlahan berkerut.
Ia menghentikan langkah sejenak.
Tatapannya menyapu keadaan di sekeliling.
"Aneh..."
Lu Shi yang berada di sampingnya ikut memperhatikan sekitar.
"Iya."
"Biasanya Hutan Purba tidak sesunyi ini."
Tian Xue mengangguk pelan.
Nalurinya mengatakan bahwa sesuatu sedang terjadi.
Mereka kembali melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin dalam, semakin sunyi.
Keheningan itu terasa semakin pekat.
Seolah seluruh hutan sedang menahan napas.
Tiba-tiba...
BOOOOOOM!
Suara ledakan keras mengguncang bumi.
Tanah di bawah kaki mereka bergetar.
Belum sempat gema ledakan itu menghilang—
BOOOM!
BOOOM!
Ledakan demi ledakan kembali terdengar dari kejauhan.
Di sela-sela suara itu...
Terdengar tawa beberapa orang.
"Hahaha!"
"Rasakan itu, Beast bodoh!"
"Aku akan menyerap kalian!"
Tatapan Tian Xue langsung berubah tajam.
Tanpa ragu ia mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
"Lihat. Kita ke sana."
Di sampingnya, Lu Shi perlahan mengepalkan tangan.
"Bajingan..."
Tian Xue sempat melirik gadis itu.
Dalam hati ia mengira Lu Shi marah melihat begitu banyak Beast diburu.
Namun...
Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu.
Wuussh!
Lu Shi langsung melesat ke depan.
Suaranya menggema di tengah hutan.
"Hei!"
"Kalian mengambil mangsaku!"
Tian Xue yang melihat pemandangan itu langsung terdiam.
Beberapa saat yang lalu ia sempat mengagumi Lu Shi.
Ia mengira gadis itu tidak tahan melihat para Beast dibantai.
Ternyata...
Yang dipikirkan Lu Shi hanyalah makanannya.
Tian Xue mengusap dahinya pelan.
"Lelaki bodoh..."
gumamnya pelan sambil menghela napas.
Tanpa membuang waktu lagi, ia segera mempercepat langkah.
Mengejar Lu Shi yang sudah jauh di depannya.
Keduanya terus berlari menuju sumber ledakan yang semakin jelas.
Lalu...
Siapakah orang-orang itu?
Apakah mereka para jenius dari Empat Klan...
Ataukah ada kelompok lain yang telah lebih dahulu memasuki Hutan Purba?