NovelToon NovelToon
Sebuah Janji Di Balik Rindu

Sebuah Janji Di Balik Rindu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:596
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.

​Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.

​Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.

​"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.

​"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.

​Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memori Yang Tertinggal

​Motor matic Zayan perlahan berhenti tepat di depan gerbang rumah Anggi. Di teras depan, Ayah dan Ibu Anggi tampak sedang berdiri menikmati udara sore, terkejut melihat anak perempuan mereka pulang dibonceng oleh seorang cowok berseragam santai.

​Anggi turun dari motor dengan hati-hati, lalu melepas helm dan menyerahkannya kembali kepada Zayan.

​"Makasih banyak ya, Kak Zayan, udah mau antar aku sampai rumah," ucap Anggi penuh rasa terima kasih.

​"Sama-sama, Gi," jawab Zayan ramah.

​Zayan lalu melepas helmnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Namun, tatkala pandangannya beralih menatap dua sosok orang dewasa di teras rumah Anggi, mata Zayan seketika berbinar terang. Raut terkejut bercampur bahagia terpancar jelas dari wajahnya.

​Ia mengenali pria paruh baya yang berdiri di samping Ibu Anggi!

​Tanpa ragu, Zayan langsung menuntun motornya memasuki gerbang rumah Anggi yang terbuka lebar, lalu mempercepat langkahnya menghampiri teras.

​"Om agung!" teriak Zayan gembira.

​Ayah Anggi mengerutkan dahi sejenak, namun ketika Zayan makin dekat dan tersenyum lebar, mata Ayah Anggi membelalak tak percaya.

​"Loh... Zayan?!" seru Ayah Anggi heboh.

​Zayan segera mengulurkan kedua tangannya dan bersalaman dengan penuh hormat, lalu mencium tangan Ayah Anggi serta Ibu Anggi secara bergantian.

​Anggi yang berdiri tak jauh di belakang mereka hanya bisa terpaku dengan mulut sedikit terbuka. Matanya berkedip bingung menatap pemandangan ajaib di depannya. Gimana bisa Kak Zayan kenal sama Ayah? batin Anggi penuh rasa penasaran.

​Pak Agung langsung menepuk-nepuk bahu Zayan dengan akrab, menyunggingkan senyum lebar yang dipenuhi rasa rindu. "Kamu anak Pak Hendra, kan? Ya ampun, Zayan! Udah gede banget kamu sekarang, makin gagah aja!"

​"Iya, Om Agung! Apa kabar, Om? Tante?" sapa Zayan sopan sambil menyalami Ibu Anggi yang juga tersenyum hangat. "Tadi Zayan kaget banget pas ngelepas helm, kok kayak muka Om Agung. Ternyata beneran Om!"

​Ibu Anggi tertawa pelan. "Kabar baik, Zayan. Wah, dunia sempit banget ya. Jadi kamu yang nganterin Anggi pulang?"

​"Iya, Tante. Tadi Anggi bingung pulangnya soalnya udah sore dan Om Agung belum sempat jemput, jadi Zayan inisiatif anterin aja," jelas Zayan jujur dan santun.

​Anggi yang masih berdiri mematung di samping motor Zayan akhirnya memberanikan diri membuka suara. "Tunggu... Ayah sama Kak Zayan kok bisa saling kenal?"

​Pak Agung tertawa membahana melihat raut kebingungan di wajah putri semata pembaginya itu.

​"Gi, Ayahnya Zayan itu sahabat lama Ayah waktu masih dinas di luar kota dulu! Kita udah temanan belasan tahun," terang Pak Agung sembari merangkul pundak Zayan. "Dulu waktu kalian masih kecil banget sering main bareng, tapi habis itu keluarga Zayan pindah. Ayah nggak nyangka kalian bakal ketemu lagi di sekolah yang sama!"

​Mendengar penjelasan sang Ayah, dada Anggi berdesir hebat. Senyum manisnya tak bisa lagi ditahan. Takdir seolah punya cara yang sangat indah untuk menghubungkan kembali benang-benang kehidupan mereka yang sempat terputus.

​Zayan melirik Anggi dengan binar mata yang begitu hangat, menyunggingkan senyum khas yang selalu berhasil membuat jantung Anggi berdebar kencang.

​Pak Agung dan Ibu Anggi terkekeh mendengar kebingungan putri mereka. Anggi mengerutkan dahi, mencoba memutar kembali memori masa kecilnya, namun tak ada satu pun bayangan Zayan kecil yang melintas di ingatannya.

​"Kok aku nggak inget ya pernah main sama Kak Zayan?" ucap Anggi sambil menatap Ayahnya dan Zayan bergantian.

​Pak Agung mengacak pelan rambut Anggi dengan penuh kasih sayang. "Ya jelas kamu nggak ingat, Nak. Waktu itu umur kamu baru sekitar empat atau lima tahun. Kamu itu dulu penakut banget, kalau diajak main sama Zayan pasti sembunyi di balik rok Ibu."

​"Iya, Gi," timbal Ibu Anggi sambil tersenyum geli. "Dulu Zayan ini suka banget ngajak kamu main mainan mobil-mobilan sama robotnya, tapi kamu malah nangis karena maunya main boneka. Pokoknya kalau Zayan datang, kamu pasti langsung milih ngurung diri di kamar atau nempel terus sama Ayah."

​Wajah Anggi seketika memerah merona menahan malu. "Ibu... kok malah dibuka sih kartunya!" bisiknya pelan, berpaling sebentar karena tak berani menatap Zayan.

​Zayan yang melihat reaksi malu-malu Anggi tak bisa menahan tawa halusnya. Matanya menatap Anggi dengan pandangan yang kian hangat dan penuh gemas.

​"Pantesan pas pertama kali ngeliat kamu di sekolah, aku ngerasa muka kamu nggak asing banget, Gi," sahut Zayan santai namun bermakna mendalam. "Ternyata anak kecil yang dulu suka nangis kalau aku ajak main itu sekarang udah tumbuh jadi cewek yang mandiri... dan makin cantik."

​Pujian Zayan yang meluncur begitu alami di depan kedua orang tuanya sukses membuat jantung Anggi makin berdegup kencang tak beraturan.

​"Tuh kan, Zayan aja ingat!" goda Pak Agung sambil menepuk bahu Zayan. "Yaudah yuk, Zayan, masuk dulu ke dalam. Kita minum teh hangat sambil ngobrol-ngobrol, sekalian Om mau telepon Ayah kamu."

​"Wah, makasih banyak Om Agung, Tante," balas Zayan sopan. "Tapi kayaknya Zayan izin pamit pulang dulu, takut dicariin Mama di rumah karena udah mau magrib. Nanti kapan-kapan Zayan main ke sini lagi bareng Ayah."

​"Oalah, ya sudah kalau gitu. Hati-hati di jalan ya, Zayan. Titip salam buat Hendra dan istri!" puji Pak Agung.

​Sebelum naik ke atas motornya, Zayan menoleh ke arah Anggi yang masih berdiri manis di samping teras. "Aku pulang dulu ya, Gi. Makasih buat hari ini... dan restu orang tua kamu," bisik Zayan jahil dengan nada pelan yang hanya bisa didengar oleh Anggi.

​Anggi membelalak kaget, sementara Zayan hanya terkekeh pelan, memasang helmnya, lalu melambaikan tangan pamit pada keluarga Pak Agung sebelum motornya berlalu membelah senja.

1
Lisa
Udh ending y Kak ? ceritanya bagus banget..👍
Lisa: 😊 gitu y Kak..kita tunggu karya selanjutnya y Kak..
total 2 replies
Lisa
Bahagia selalu y Anggi..
Lisa
Congratz y Anggi..semangat & sukses yaa 🙏
Lisa
👍 semangat Anggi utk menyongsong masa depan..
Lisa
Semangat y Anggi 💪
Lisa
Kayaknya Anggi bakal balik sama Azka lg nih .
Lisa
Ternyata Zayan selingkuh nih 🤭
Lisa
Congratz y Anggi..sukses y utk langkah selanjutnya 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Waaaaaa_: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!