Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Malam Pengkhianatan
Trek. Trek. Trek.
Suara hak tinggi Keira Hartono memecah lorong marmer Highland Resort yang terlalu sunyi untuk malam sebelum pernikahan.
Lampu koridor menyala kekuningan. Di luar jendela panjang, kabut Puncak turun pelan, menempel di kaca seperti napas dingin seseorang. Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 23.48 WIB. Besok siang, di halaman rumput resort ini, namanya seharusnya berdampingan dengan Brandon Liem di depan pendeta, keluarga, kamera, dan para tamu yang datang untuk melihat dua keluarga besar saling mengikat nama baik.
Namun malam ini, calon pengantin pria itu tidak berada di ruang rapat bersama vendor.
Ia berada di kamar nomor 1708.
Dua meter dari pintu, langkah Keira sempat melambat. Bukan karena takut. Bukan juga karena ragu. Ada sesuatu yang begitu akrab dalam dadanya, seperti luka lama yang tiba-tiba dibuka lagi oleh udara pegunungan yang dingin.
Di kehidupan yang dulu, ia juga pernah berdiri di depan pintu seperti ini. Bedanya, saat itu ia datang terlambat, terlalu percaya, terlalu bodoh. Ia menikah dengan pria yang salah, membiarkan perempuan yang salah memanggilnya Kakak, lalu membayar semua itu dengan harga yang bahkan tidak sempat ia teriakkan.
Kali ini tidak.
Keira menggenggam kartu akses yang ia dapat dari resepsionis dengan senyum tenang dan nama Hartono yang masih cukup berguna. Ujung jarinya tidak gemetar. Kukunya yang berwarna nude mengetuk kartu itu sekali ke sensor.
Bip.
Pintu terbuka.
Bau parfum laki-laki bercampur aroma wine langsung menyergap. Lampu kamar hanya menyala setengah, membuat bayangan di dinding tampak patah-patah. Lantai karpet berwarna krem berantakan. Kemeja putih Brandon tergeletak dekat sofa. Sepasang sepatu hak tinggi perak ada di bawah meja kecil. Di dekat kaki Keira, gaun malam putih Celine Hartono jatuh kusut seperti kain pel yang terlalu mahal.
Keira menunduk sebentar.
Gaun itu adalah gaun yang tadi sore dipakai Celine saat memeluknya di depan semua orang, tersenyum lembut dan berkata, "Kak, besok pasti jadi hari paling bahagia dalam hidup Kakak."
Manis sekali.
Keira melangkah masuk dan sengaja menginjak ujung gaun putih itu.
Dari arah ranjang, terdengar suara tertahan. Dua orang yang baru menyadari pintu terbuka bergerak panik. Selimut ditarik asal. Gelas wine di meja samping bergetar ketika Brandon menyenggolnya.
"Keira?" Suara Brandon pecah.
Ia tampak seperti seseorang yang baru sadar seluruh hidupnya bisa runtuh dalam satu malam. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan mata yang biasanya penuh percaya diri kini melebar seperti anak kecil yang tertangkap mencuri.
Di sampingnya, Celine menarik selimut sampai ke dada. Wajah cantiknya langsung basah oleh air mata yang terlalu cepat muncul. Ia selalu pandai dalam hal itu. Menangis sebelum dituduh. Terlihat hancur sebelum orang lain sempat menyebutnya salah.
"Kak..." Celine berbisik. "Kak, ini tidak seperti yang Kakak pikirkan."
Keira tertawa pelan.
Suara itu tidak keras, tetapi cukup membuat Brandon dan Celine membeku.
"Kalimat pertama kalian selalu mengecewakan," ucap Keira. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. "Aku bahkan belum bicara."
"Keira, dengarkan aku dulu." Brandon turun dari ranjang dengan gerakan kacau, lalu mengambil celana panjangnya dari kursi. "Ini cuma salah paham. Celine tadi pusing, aku antar dia ke kamar, lalu..."
Klik.
Lampu kilat kamera menyambar wajahnya.
Brandon berhenti.
Keira memiringkan ponsel, mengambil satu foto lagi. Kemeja di lantai. Sepatu Celine. Gelas wine. Selimut yang terlalu rapi ditarik menutupi dua orang yang mengaku hanya salah paham.
Klik.
"Keira!" Brandon mendesis. "Apa yang kamu lakukan?"
"Mengumpulkan kenangan," jawab Keira ringan. "Besok kan hari pernikahan kita. Sayang kalau tidak ada dokumentasi."
Wajah Brandon berubah merah. Ia melangkah maju, hendak merebut ponsel itu. Keira mundur setengah langkah, cukup untuk membuat tangannya kosong di udara.
"Jangan sentuh aku."
Tiga kata itu jatuh dingin.
Brandon berhenti. Mungkin karena nada Keira terlalu asing. Mungkin karena perempuan di depannya tidak menangis, tidak berteriak, tidak bertanya kenapa. Ia hanya berdiri di sana, rapi dengan dress hitam sederhana, rambut tersanggul rendah, dan mata yang tidak memberi ruang untuk belas kasihan.
"Kamu mau mempermalukan aku?" tanya Brandon. "Besok keluarga Liem dan Hartono akan berkumpul. Media juga datang. Kalau foto itu tersebar, bukan cuma aku yang hancur. Kamu juga."
"Akhirnya kamu bicara soal akibat." Keira menatapnya dari ujung rambut sampai kaki. "Sayang sekali, Brandon. Kamu baru ingat nama baik setelah melepasnya di lantai kamar hotel."
Celine menangis lebih keras. "Kak, aku salah. Aku benar-benar salah. Tapi aku mencintai Brandon. Kami tidak pernah berencana menyakiti Kakak."
Keira menoleh ke arahnya.
Ponsel di tangannya masih merekam.
Brandon menyadari itu lebih dulu. Matanya turun ke layar, lalu wajahnya berubah semakin pucat. "Matikan."
"Kenapa?" Keira bertanya tenang. "Tadi katanya cinta. Bukankah cinta harus berani disaksikan?"
"Keira, jangan memancing."
"Aku tidak memancing. Aku hanya memberi ruang untuk kalian jujur." Keira menggeser layar sedikit, memastikan video tetap berjalan. "Celine, jawab aku. Sejak kapan?"
Celine membeku. Air matanya menggantung di dagu, tetapi mulutnya tidak segera terbuka. Ia melirik Brandon, mencari pertolongan.
Keira tersenyum tipis. "Kalau perlu waktu mengarang, bilang saja. Aku bisa tunggu."
"Tiga bulan," bisik Celine akhirnya.
Brandon memejamkan mata.
Keira mengangguk, seolah baru saja mendengar laporan vendor yang terlambat mengirim bunga. "Tiga bulan sebelum pernikahanku, kamu sudah tidur dengan calon suamiku."
"Kak, jangan sebut seperti itu!" Celine terisak. "Aku tidak kuat melihat kalian akan menikah. Setiap kali Mama membicarakan seserahan, gaun pengantin, foto prewedding, aku merasa..."
"Merasa apa?"
"Merasa semua yang seharusnya jadi milikku diambil Kakak."
Kamar itu mendadak hening.
Kalimat Celine menggantung di antara bau wine, selimut kusut, dan gaun putih yang diinjak Keira. Untuk pertama kalinya malam itu, topeng adik manisnya retak bukan karena tangis, melainkan karena iri yang keluar terlalu jujur.
"Bagus," kata Keira pelan. "Akhirnya ada satu kalimat yang tidak palsu."
Selama beberapa detik, ia hanya menatap adik perempuannya itu. Celine Hartono, putri kesayangan Papa. Perempuan yang selalu mendapat pembelaan lebih dulu, kesempatan lebih banyak, dan pelukan lebih hangat di rumah Hartono. Di kehidupan lalu, air mata seperti itu pernah membuat semua orang memarahi Keira. Mereka berkata Celine masih muda. Celine tidak sengaja. Celine hanya terlalu mencintai.
Ternyata kata "cinta" bisa dipakai untuk membungkus pencurian.
"Kamu mencintai calon suami kakakmu sendiri," kata Keira. "Hebat. Romantis sekali kalau ditulis di caption Instagram."
Celine tersentak. "Kak..."
"Jangan panggil aku Kakak dengan mulut yang baru saja kamu pakai untuk berbohong."
Tangis Celine berhenti sejenak, seolah seseorang menamparnya tanpa menyentuh kulit.
Brandon maju lagi. Kali ini suaranya dibuat rendah, seakan masih punya hak menenangkan Keira. "Kita bisa bicara baik-baik. Aku mengaku salah. Tapi jangan bawa Papa dan Pak Hendrick ke masalah ini."
"Terlambat."
Keira mengangkat ponselnya. Di layar, percakapan WhatsApp terbuka. Ada dua nama yang baru saja menerima pesan darinya: Papa dan Pak Hendrick.
Brandon terpaku.
Celine menutup mulutnya.
"Aku sudah kirim foto dan video pendeknya," kata Keira. "Bukan ke grup keluarga, tenang saja. Aku masih punya sopan santun yang kalian buang entah di mana."
"Kamu gila?" Brandon meraih rambutnya sendiri. "Papa bisa membunuhku."
"Tidak sampai begitu. Keluarga Liem terlalu menyukai prosedur." Keira memasukkan ponsel kembali ke tas, lalu melangkah ke meja kecil. Ia mengambil undangan pernikahan yang entah kenapa ada di sana, masih terbungkus plastik, dengan namanya dan nama Brandon tercetak emas. "Mereka hanya akan menghitung kerugian."
Celine turun dari ranjang dengan selimut melilit tubuh. Kakinya hampir tersandung gaun putih yang masih berada di bawah sepatu Keira. "Kak, tolong. Jangan lakukan ini ke aku. Karierku baru mulai. Kalau Papa tahu, kalau media tahu..."
"Kamu memikirkan kariermu?" Keira menatapnya pelan. "Aku pikir kamu sedang memikirkan cinta."
Celine menggigit bibir. Air matanya jatuh lagi, kali ini lebih banyak, tetapi wajah Keira tidak berubah.
Di luar kamar, lift berdenting jauh di ujung lorong. Bunyi itu tipis, tetapi cukup membuat Brandon menoleh cepat. Ia seperti membayangkan Hendrick Liem muncul dengan wajah dingin, atau Gunawan Hartono datang membawa amarah yang lebih peduli pada saham daripada putrinya.
Keira juga mendengarnya. Sudut bibirnya naik sedikit.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhirnya sebagai perempuan yang mudah ditukar demi kepentingan keluarga. Mereka mengira ia akan menangis, memohon, atau setidaknya menutupi aib agar pernikahan tetap berjalan.
Mereka lupa, orang yang pernah mati karena terlalu percaya tidak akan kembali hanya untuk mengulang kebodohan yang sama.
"Keira," panggil Brandon, kali ini lebih pelan. "Aku masih bisa memperbaiki semuanya."
Keira menatap undangan di tangannya. Nama Brandon Liem tampak begitu rapi, begitu mahal, begitu palsu.
Ia merobek plastik pembungkusnya, lalu meletakkan undangan itu di atas meja, tepat di antara dua gelas wine.
"Tidak perlu," katanya. "Aku yang akan memperbaiki semuanya."
"Maksudmu apa?"
Keira tidak menjawab. Ia berjalan menuju pintu. Setiap langkahnya kembali terdengar jelas di lantai, melewati kemeja Brandon, melewati sepatu Celine, melewati gaun putih yang sudah kotor di bagian ujung karena diinjaknya.
Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.
Celine masih berdiri dengan wajah pucat. Brandon membeku di sisi ranjang, untuk pertama kalinya tidak punya kalimat yang cukup meyakinkan.
Keira tersenyum.
"Tunggu Papa dan Pak Hendrick sampai di sini," ucapnya lembut. "Kita bicara pelan-pelan."
Lalu ia keluar, meninggalkan pintu kamar terbuka, agar dingin dari lorong masuk dan menyentuh semua kebohongan yang tersisa di dalam.