Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Ibu
Tiga minggu berlalu sejak Ophelia mengetahui masa lalu kelam Bleiz. Hubungan mereka berubah drastis.
Dari hubungan yang tegang dan dingin menjadi hangat yang perlahan mencairkan kebekuan kastil.
Bleiz tidak lagi memasang wajah dinginnya di depan Ophelia, dan Ophelia tidak lagi membalas setiap ucapannya dengan kebencian.
Mereka menghabiskan waktu bersama hampir setiap hari. Bleiz menemani Ophelia membaca di perpustakaan, Ophelia menemani Bleiz bekerja di ruang kerjanya, dan di malam hari, mereka sering duduk di balkon kamar, menikmati angin malam sambil berbincang tentang hal-hal kecil.
Ophelia menyadari bahwa Bleiz memiliki sisi lembut yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun.
Pria itu suka ketika Ophelia menyentuh rambutnya, suka ketika dia tertawa, dan suka ketika dia memanggil namanya dengan lembut.
Dan Bleiz juga membuat Ophelia merasa aman dengan caranya sendiri, dengan melindunginya dari dunia luar, memastikan semua kebutuhannya terpenuhi, dan tidak pernah memaksanya melakukan sesuatu yang dia tidak mau.
Suatu pagi, ketika mereka sarapan bersama seperti biasa, Ophelia mengangkat kepalanya dari piringnya dan menatap Bleiz dengan ekspresi ragu.
"Bleiz," panggilnya pelan.
Bleiz mengangkat alisnya, menunggu Ophelia melanjutkan. “Hm?”
"Aku ... aku ingin mengunjungi ibuku," kata Ophelia akhirnya. "Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Sejak pernikahan ini, aku belum pernah bertemu dengannya. Untuk kali ini aku mohon izinkan aku bertemu ibuku."
Bleiz terdiam. Matanya menyipit, dan Ophelia bisa melihat kegelisahan di balik tatapan itu. "Kau ingin pergi bertemu ibumu?"
"Ya," jawab Ophelia, berusaha terdengar meyakinkan. "Hanya untuk beberapa jam. Aku hanya ingin melihatnya, memastikan dia baik-baik saja. Kau sudah mengatakan semuanya tapi aku juga harus bertemu dengannya. Biar bagaimana pun dia tetap ibuku.”
Bleiz menghela napas panjang. Selama ini, dia selalu menjaga Ophelia di kastil, menjauhkannya dari dunia luar yang dia anggap berbahaya.
Tapi dia juga tahu bahwa Ophelia bukan tahanan. Dia adalah istrinya, dan dia berhak melihat keluarganya.
"Baiklah," kata Bleiz akhirnya. "Tapi dengan satu syarat."
Ophelia menatapnya waspada. "Syarat apa?"
"Kau harus ditemani oleh pengawal," kata Bleiz tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Aku takut ada orang yang ingin menyakitimu untuk menyakitiku."
Ophelia mengangguk, lega karena Bleiz setuju. "Aku tidak keberatan. Aku hanya ingin melihat ibuku."
Bleiz mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa tombol. Beberapa menit kemudian, dua pria bertubuh kekar masuk ke ruang makan.
"Ini adalah John dan Jack," kata Bleiz, menunjuk ke arah kedua pria itu. "Mereka akan menemanimu. Mereka adalah pengawal terbaik yang kumiliki. Dengarkan mereka, dan jangan pergi ke mana pun tanpa mereka."
Ophelia mengangguk, tersenyum pada kedua pria itu. "Terima kasih,."
Bleiz mengangguk, tapi tatapannya masih penuh kekhawatiran. "Kau akan kembali malam ini?"
"Tentu," kata Ophelia. "Aku janji."
Bleiz berdiri dan berjalan mendekatinya. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Ophelia dengan lembut. "Jika ada sesuatu yang tidak beres, telepon aku. Aku akan segera datang."
Ophelia mengangguk. Dia meraih tangan Bleiz dan menggenggamnya erat. "Aku akan baik-baik saja. Aku janji."
Bleiz menatapnya lama, lalu mencium kening dan bibirnya dengan lembut. "Pergilah. Tapi ingat, kau adalah milikku. Dan aku akan selalu menjagamu."
Ophelia tersenyum, lalu berbalik dan berjalan keluar ruang makan, bersiap-siap untuk pergi.
*
*
Di dalam mobil, Ophelia duduk di kursi belakang, menatap pemandangan di luar jendela dengan perasaan campur aduk.
Dia senang bisa melihat ibunya, tapi dia juga khawatir. Hubungannya dengan ibunya tidak pernah sempurna. Miranda, ibunya, selalu lebih memilih Giorgio daripada dirinya.
Mobil berhenti di depan sebuah apartemen di pusat kota. Ophelia turun, diikuti oleh John dan Jack yang selalu waspada.
"Kami akan menunggu di sini, Nyonya," kata Jack dengan sopan. "Jika ada masalah, telepon saja."
Ophelia mengangguk, lalu berjalan memasuki gedung apartemen. Di dalam lift, dia merasa sedikit gugup.
Dia tidak tahu bagaimana reaksi ibunya ketika melihatnya, terutama karena Ophelia menikah paksa karena Giorgio.