Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan seorang Ayah
Deru langkah kaki Ages terdengar memenuhi lorong rumah sakit.Ia berlari tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.Begitu tiba di depan kamar rawat, ia langsung membuka pintu.
"Kala!"
Kalandra yang sedang menatap ke arah jendela perlahan menoleh."Iya, Pap." Suaranya terdengar pelan bahkan terlalu pelan dari biasanya.
Ages mendekati ranjang. "Kata perawat tadi kamu sempat syok."
Kalandra hanya menggeleng."Aku nggak apa-apa kok,pap."
Ages menghela napas lega, tetapi hanya sesaat.Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda.Tatapan Kalandra kembali kosong.Remaja itu tidak lagi menggenggam tangan Ages seperti biasanya.
Saat Ages mencoba mengusap rambutnya, Kalandra justru sedikit memalingkan wajah.Gerakan yang sangat kecil.Namun cukup membuat dada Ages kembali sesak.
"Dek..."
"Hm?"
"Kamu marah sama Papa?"
Kalandra terdiam cukup lama. "Enggak."
"Kalau enggak marah, kenapa menghindari Papa?"
"Aku sedikit capek." Jawabnya singkat.
Ages mengenal putranya.Setiap kali Kalandra mengatakan "aku capek",biasanya ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
"Kala."
"Iya."
"Ada yang ngomong sesuatu sama kamu?"
Kalandra tersenyum tipis. "Enggak ada."
"Jujur sama Papa,dek."
Kalandra kembali memalingkan wajah. "Enggak ada."
Setelah itu, ia memejamkan mata seolah ingin tidur.Percakapan pun terhenti.Namun Ages tahu putranya sedang berbohong.
Ages tak ingin memaksa,Ages memastikan dulu Kalandra tenang.Kemudian ia keluar kamar. untuk menemui perawat yang tadi menghubunginya.
"Mbak."
"Iya, Pak."
"Sebenarnya tadi siapa yang datangu?"
Perawat tampak ragu. "Saya hanya melihat seorang perempuan dan seorang pria yang lebih tua."
"Perempuan yang waktu itu ribut sama saya?"
Perawat mengangguk pelan. "Sepertinya beliau."
Ages diam sebentar,ia curiga wanita itu adalah Nadira.
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Saya tidak mendengar dari awal.Tapi saat saya masuk...Mas Kalandra terlihat sangat terpukul.Detak jantungnya naik cukup cepat."
Ages mengepalkan tangannya. "Terima kasih."
Tanpa membuang waktu, Ages menuju meja informasi rumah sakit."Permisi."
"Iya, Pak."
"Saya ingin meminta bantuan."
"Silakan."
"Saya ingin melihat rekaman CCTV di koridor dan, jika memang tersedia sesuai kebijakan rumah sakit, rekaman yang dapat membantu mengetahui siapa saja yang masuk ke kamar anak saya."
Petugas mengangguk sopan. "Baik, Pak. Kami akan menghubungi bagian keamanan terlebih dahulu. Untuk area tertentu, terutama di dalam ruang perawatan pasien, kami harus mengikuti aturan privasi yang berlaku."
"Saya mengerti."
"Saya hanya ingin tahu apa yang terjadi pada anak saya."
Melihat wajah Ages yang dipenuhi kecemasan, petugas segera menghubungi kepala keamanan.
Beberapa menit kemudian Ages berada di ruang keamanan rumah sakit.Seorang petugas keamanan memutar rekaman CCTV dari lorong tempat kamar Kalandra berada.
"Lihat, Pak."
Petugas menunjuk layar.Terlihat Nadira dan ayahnya datang sekitar pukul sebelas siang.Mereka masuk ke kamar Kalandra.Beberapa menit kemudian, perawat masuk.Tak lama setelah itu, Nadira dan ayahnya keluar.
Di rekaman lorong memang tidak terdengar suara percakapan, tetapi petugas memperlihatkan satu hal.
"Perhatikan saat mereka keluar."
Di layar terlihat Kalandra memanggil perawat beberapa saat setelah tamu itu pergi.
Kemudian, perawat tampak bergegas keluar kamar dan langsung menggunakan telepon.
"Itu saat saya menghubungi Bapak," kata perawat yang ikut berada di ruangan.
Ages menatap layar tanpa berkedip.Wajahnya semakin tegang."Berarti...memang ada sesuatu yang terjadi di dalam kamar."
Petugas keamanan mengangguk. "Sayangnya, Pak, sesuai aturan rumah sakit, kami tidak memasang kamera di dalam kamar rawat pasien demi menjaga privasi."
Ages mengangguk pelan.Ia memahami alasan tersebut.Namun rekaman lorong saja sudah cukup membuktikan satu hal.Perubahan sikap Kalandra terjadi tepat setelah kedatangan Nadira dan ayahnya.
Ages kembali berjalan menuju kamar rawat.Setiap langkahnya terasa semakin berat.Ia membuka pintu perlahan.Kalandra masih memejamkan mata tapi Ages tahu Kala belum tidur.
Ia duduk di samping ranjang. "Dek."
Tidak ada jawaban. "Papa enggak akan memaksa kamu cerita sekarang.Tapi Papa ingin kamu tahu satu hal."
Kalandra perlahan membuka matanya.
"Papa enggak peduli siapa yang bilang apa atau bagaimana,bagi papa..kamu itu jantung Papa,hidup Papa."
"Jangan peduli dengan omongan orang lain,karena hidup Papa cuma buat kamu." Air mata di sudut mata Kalandra mulai menetes.
"Kamu adalah anak yang Allah titipkan untuk Papa.Dan selama Papa masih bernapas Papa akan tetap memilih kamu." Lanjutnya dengan suara yang bergetar.
Kalandra menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis.
"Percaya sama Papa,kalau ada yang menyakiti hati kamu Papa akan selesaikan saat ini juga."
Kalandra akhirnya menoleh.Tatapan mereka bertemu.Meski belum mengucapkan sepatah kata pun tentang kedatangan Nadira,Ages kini yakin.Ada seseorang yang telah kembali melukai hati putranya.
Dan kali ini ia tidak akan membiarkan siapa pun merusak hubungan yang sedang susah payah ia bangun kembali bersama Kalandra.
.
.
Malam menjelang,setelah memastikan Kalandra tertidur akibat pengaruh obat,Ages keluar dari kamar rawat.
Pintu ditutupnya perlahan agar tidak membangunkan putranya.Tapi, begitu berada di lorong rumah sakit, wajahnya berubah.Tidak ada lagi raut lembut yang selalu ia tunjukkan di depan Kalandra.Yang tersisa hanyalah kemarahan.
Arsen yang sedari tadi menunggu langsung menghampiri. "Gimana keadaan Kala?"
Ages mengepalkan tangannya. "Gue tau Kala lagi bohong."
Arsen mengernyit. "Maksudnya?"
"Dia bilang gak terjadi apa-apa padahal jelas ada sesuatu."
Sean yang baru datang dari kantin ikut mendekat. "Pi,Om..."
Ages mengangkat kepalanya. "Dari rekaman CCTV lorong sudah jelas.Nadira dan ayahnya masuk.Beberapa menit kemudian, kondisi Kala langsung berubah."
Suara Ages terdengar berat."Dan sekarang...Kala kembali menganggap dirinya beban."
Kalimat terakhir itu membuat Sean dan Arsen terdiam.Ia tahu betul, sejak kecil Kalandra selalu berusaha menjadi anak yang tidak merepotkan siapa pun.
Mendengar ia menyebut dirinya beban,Sean ikut merasa marah.
"Om sekarang mau ke mana?" tanya Arsen.
Ages menatap lurus ke depan. "Menyelesaikan semuanya."
Arsen dan Sean mengangguk,memang benar semuanya harus segera di selesaikan.
Sedangkan di ruang tunggu VIP.Nadira sedang duduk bersama ayahnya.Ia terkejut saat melihat Ages datang.
"Pak Ages..."
Belum sempat ia berdiri, Ages menghentikannya dengan satu isyarat tangan.
"Cukup." Nada suaranya datar.Justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam.
Ayah Nadira berdiri. "Ages, saya sebenarnya ingin menjelaskan..."
"Tidak perlu!"
Ages menatap keduanya bergantian. "Yang akan bicara sekarang adalah saya."
Ruangan mendadak sunyi.
"Saya menghormati Anda sebagai orang yang lebih tua.Karena itu saya datang untuk berbicara baik-baik."
Tatapan Ages beralih kepada Nadira. "Dan saya juga menghargai semua kepedulian yang pernah kalian berikan.Tapi tidak seorang pun berhak datang kepada anak saya yang sedang berjuang pulih, lalu membuatnya merasa dirinya adalah beban."
Nadira langsung menggeleng. "Saya tidak mengatakan itu."
Ages menatap ayah Nadira."Kalau begitu...Anda yang mengatakannya."
Pria itu terdiam. "Saya hanya ingin Kalandra mengerti bahwa—"
"Cukup!" bentaknya, Ages langsung memotongnya."Anda tahu keadaan anak saya?"
"Tahu."
"Anda tahu dia baru sadar dari kondisi kritis?"
"Tahu."
"Anda tahu dia baru mengetahui bahwa untuk sementara dia belum bisa berjalan?"
Pria itu tidak menjawab.
"Lalu mengapa Bapak memilih mengatakan bahwa dia adalah beban?"
Ruangan kembali sunyi.
Ayah Nadira menghela napas. "Saya tidak bermaksud menyakitinya."
"Mungkin tidak menurut anda." Jawab Ages dingin. "Tapi menurut saya ucapan anda sudah menyakitinya."
Ages menarik napas panjang. "Saya yang membuat anak saya terluka.Saya yang mengabaikannya.Saya yang gagal menepati janji.Dan sekarang...ketika saya sedang berusaha memperbaiki semuanya..."
Ages diam sesaat,dadanya kembali sesak saat mengingatnya
"...anak saya kembali dihancurkan oleh kata-kata yang seharusnya tidak pernah dia dengar." Lanjutnya.
Nadira mulai menangis. "Pak Ages, saya benar-benar tidak tahu Ayah akan mengatakan itu."
Ages memandangnya beberapa saat. "Kamu mungkin tidak mengucapkannya.Tapi kamu memilih datang di saat anak saya belum siap menerima pembicaraan seperti itu." nada dingin dan tajam yang jarang Nadira dengar dari mulut Ages.
Nadira menundukkan kepala.Air matanya jatuh tanpa henti.
"Dengarkan saya baik-baik.Saya tidak pernah menganggap Kalandra sebagai beban.Tidak dulu, sekarang,atau pun nanti.Tidak akan pernah." Lanjut Ages
Ia mengepalkan tangannya. "Selama bertahun-tahun justru dialah alasan saya bertahan hidup.Dialah alasan saya bekerja.Dialah alasan saya bangun setiap pagi." Suara Ages mulai bergetar.
"Kalau suatu hari nanti saya memutuskan menikah lagi itu bukan karena saya ingin mengganti posisi anak saya.Dan bukan berarti cinta saya kepadanya berkurang sedikit pun.Karena di dalam sini hanya ada tempat untuk anak saya." Ucap Ages sambil menunjuk dadanya.
Tatapan Ages berubah semakin tegas. "Tapi setelah semua yang terjadi...saya tidak akan membiarkan siapa pun datang membawa luka baru ke dalam hidup anak saya."
Ia menatap Nadira untuk terakhir kalinya. "Mulai hari ini tolong jangan datang menemui Kalandra tanpa seizin saya.Dia membutuhkan ketenangan bukan tekanan."
Nadira menangis sambil mengangguk. "Saya mengerti."
Ages kemudian menoleh kepada ayah Nadira.
"Saya juga menghormati Bapak.Tetapi saya mohon jangan pernah lagi menyebut anak saya sebagai beban.Bagi dunia mungkin dia hanyalah seorang remaja.Tapi bagi saya,dia adalah seluruh dunia saya."
Ages menatap Nadira dan Ayahnya bergantian.
"Dan yang paling penting saya tidak ada niatan sedikitpun untuk menjalin hubungan dengan anda.Jangankan cinta,suka pun saya tidak pernah."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Ages berbalik meninggalkan ruangan.Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.Baginya, satu hal sudah pasti.Mulai hari itu, tidak akan ada siapa pun yang diizinkan melukai hati Kalandra lagi.
Bahkan jika ada,maka orang yang harus berdiri paling depan untuk melindunginya adalah dirinya sendiri.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋