SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 – Kapal yang Tak Dikenal
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Empat sorot lampu menyapu ruangan raksasa itu.
Pesawat berwarna hitam tersebut berdiri di atas sebuah landasan melingkar.
Panjangnya sekitar seratus meter.
Bentuknya ramping.
Tidak memiliki jendela seperti kapal manusia.
Permukaannya mulus tanpa sambungan logam yang terlihat.
Lyra berjalan beberapa langkah mendekat.
"Ini bukan teknologi PPM."
Kael mengangguk.
"Bahkan bukan teknologi yang pernah kulihat."
---
Di Zona Inti, Adrian menerima siaran gambar dari kamera helm mereka.
Ia menatap layar cukup lama.
Sofia memperhatikan ekspresinya.
"Kau tahu benda itu?"
Adrian menggeleng.
"Tidak."
"Aku hanya tahu ruangan itu ada."
"Tapi aksesnya selalu tertutup."
---
Di dalam hanggar, Reza mengitari kapal dengan hati-hati.
"Tidak ada bekas kerusakan."
"Tidak ada debu."
"Tidak ada karat."
Ia menyentuh permukaan kapal.
Logam hitam itu terasa hangat.
"Mustahil."
"Apa?" tanya Kael.
"Kalau kapal ini sudah ada lebih dari seratus tahun..."
"...seharusnya permukaannya tidak seperti ini."
---
AURA mulai memindai seluruh ruangan.
"Hasil pemindaian selesai."
"Kapal tidak menggunakan material yang dikenal dalam basis data PPM."
"Komposisi unsur tidak dapat diidentifikasi."
Lyra tersenyum kecil.
"Berarti kita benar-benar menemukan sesuatu yang baru."
---
Di sisi depan kapal terdapat sebuah lambang.
Bentuknya sama persis dengan simbol yang terus muncul pada sinyal misterius.
Kapten Idris berhenti di depannya.
Simbol itu perlahan memancarkan cahaya putih.
Tanpa ada yang menyentuh...
sebuah pintu di sisi kapal terbuka.
Udara hangat keluar dari dalam.
Reza langsung mengangkat tangan.
"Tunggu."
"Kita belum tahu apa yang ada di dalam."
Idris mengangguk.
"Kael."
"Lakukan pemindaian."
Kael mengaktifkan alat sensor.
Beberapa detik kemudian AURA memberikan hasilnya.
"Tidak ditemukan zat beracun."
"Gravitasi normal."
"Atmosfer dapat dihirup manusia."
---
"Seolah-olah kapal ini memang menunggu kita," gumam Lyra.
Tidak ada yang membantah.
Karena semua yang mereka alami sejak memasuki Pos Observasi Tujuh seakan mengarah ke tempat ini.
---
Keempatnya menaiki jalur masuk.
Lorong di dalam kapal diterangi cahaya putih lembut.
Tidak ada kursi.
Tidak ada kabel.
Tidak ada panel kendali.
Dindingnya benar-benar polos.
Reza melihat ke kanan dan kiri.
"Kalau ini kapal..."
"...di mana ruang kendalinya?"
---
Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah ruangan berbentuk lingkaran.
Di tengah ruangan terdapat sebuah pilar kristal setinggi dada orang dewasa.
Begitu Kapten Idris melangkah mendekat...
pilar itu menyala.
Suara yang sangat jernih terdengar.
"Pengguna terdeteksi."
Semua langsung menghentikan langkah.
Suara itu berbeda dari AURA.
Lebih tenang.
Lebih alami.
"Memulai identifikasi."
Beberapa garis cahaya bergerak mengelilingi tubuh Idris.
Proses itu hanya berlangsung beberapa detik.
Kemudian suara tersebut kembali terdengar.
"Identitas tidak sesuai."
Semua saling berpandangan.
Reza mengembuskan napas lega.
"Syukurlah."
Namun kalimat berikutnya membuat mereka kembali terdiam.
"Kesamaan genetik terdeteksi."
"Tingkat kecocokan..."
"...sembilan puluh sembilan koma delapan persen."
Kael menatap Kapten Idris.
"Apa maksudnya?"
Idris menggeleng.
"Aku tidak tahu."
---
Di ESS Horizon, Rina langsung berdiri dari kursinya.
"Leo."
"Kau mendengar itu?"
"Iya."
"Sembilan puluh sembilan koma delapan persen?"
Darius menggeleng pelan.
"Itu bukan angka kebetulan."
---
Suara dari pilar kembali terdengar.
"Pengguna bukan Direktur Elias Voss."
"Tetapi merupakan keturunan biologis langsung."
Ruangan mendadak sunyi.
Lyra menatap Idris dengan wajah terkejut.
"Keturunan..."
Idris sendiri tampak tidak percaya.
"Itu tidak mungkin."
"Aku tidak pernah mendengar nama Elias Voss di keluargaku."
---
Belum sempat mereka mencerna informasi itu...
seluruh kapal tiba-tiba bergetar pelan.
AURA segera memberi laporan.
"Perhatian."
"Sumber energi kapal aktif."
Pilar kristal memancarkan cahaya yang semakin terang.
Lalu sebuah peta bintang muncul di udara.
Puluhan galaksi terlihat sebagai titik-titik cahaya.
Namun hanya satu yang menyala merah.
Galaksi Asterion.
Di sisi peta muncul sebuah hitungan.
Jarak menuju target:
1.842 tahun cahaya.
Kemudian suara itu mengucapkan kalimat terakhir.
"Navigator telah ditemukan."
"Protokol perjalanan dapat dimulai."
Keempat orang itu hanya bisa saling memandang.
Mereka belum mengetahui siapa yang membangun kapal tersebut.
Namun satu hal kini menjadi jelas.
Kapal itu...
tidak menunggu siapa saja.
Kapal itu telah menunggu seseorang dari garis keturunan Elias Voss selama lebih dari satu abad.