NovelToon NovelToon
Mantan Komandan Muda

Mantan Komandan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Penyelamat / Fantasi
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kecemasan ditengah malam

Viona masih berdiri terpaku di ambang pintu villa, memandangi jalanan aspal yang kini sunyi setelah sedan hitam Bima menghilang ditelan kegelapan malam. Rasa bersalah dan cemas mulai menggerogoti dinding hatinya. Pikiran buruk mulai bermunculan di kepalanya. Tanpa berpikir panjang lagi, dengan tangan yang sedikit gemetar, dia langsung meraih ponselnya dan menelpon sang nenek untuk memberitahukan tindakan nekat yang baru saja dilakukan oleh Bima.

Mendengar kabar tersebut, Nyonya Besar tidak tinggal diam. Beliau tahu persis seberapa kejam dan berbahayanya kelompok yang memegang hutang tersebut. Menggunakan sopir dan pengawal pribadinya, Nyonya Besar langsung melesat membelah malam menuju villa tepi danau.

Begitu menginjakkan kaki di ruang tamu villa, Nyonya Besar langsung menumpahkan kemarahannya kepada cucu semata wayangnya. Wajah sepuhnya tampak memerah menahan panik. "Viona! Kamu tahu kan seberapa berbahayanya mereka?! Kenapa kamu malah menyuruh Bima untuk mendatangi tempat itu?!" semprot Nyonya Besar dengan nada suara yang bergetar karena murka.

Viona yang terpukul oleh amukan neneknya langsung menggelengkan kepala dengan wajah pucat. "S-saya tidak menyuruhnya, Nenek! Sungguh!" bela Viona dengan suara parau.

"Saya... saya hanya bertanya kepada Bima, apakah dia kenal preman pasar atau siapa saja yang bisa disuruh untuk menagih hutang itu. Nah, setelah membaca berkasnya, Bima langsung pergi begitu saja tanpa pamit," jelas Viona terbata-bata. Dia mencoba menenangkan diri dan menambahkan, "Lagi pula... Bima kan juga jago bertarung, nek. Dia juara satu di kompetisi kemarin."

Nyonya Besar menghela napas panjang, menatap cucunya dengan pandangan yang dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam. "Viona, Viona... Walau Bima itu jago bertarung, tapi apa kamu tidak berpikir kalau orang-orang di sana tidak akan segan-segan memakai pistol?! Ini bukan kompetisi pasar dengan tangan kosong!"

Deg!

Seketika itu juga, seluruh tubuh Viona mendadak membeku mendengar penjelasan telak dari neneknya. Kata 'pistol' berputar-putar di otaknya bagai lonceng kematian. Nyalinya langsung ciut, membayangkan tubuh atletis dan karismatik Bima harus bersimbah darah tertembak peluru di luar sana.

"Cepat kamu telpon Bima sekarang! Suruh dia pulang!" perintah Nyonya Besar dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.

Dengan gerakan panik, Viona langsung menyambar ponselnya di atas meja. Dia mencari kontak Bima dan menekan tombol panggil.

Tut... tut... tut...

Nada sambung itu terasa berjalan sangat lambat, menyiksa batin Viona hingga akhirnya panggilan itu tersambung. Begitu mendengar suara napas tenang dari seberang telepon, Viona langsung berteriak tanpa memberi celah bagi suaminya untuk bicara.

"Bima! Cepat kamu pulang sekarang juga! Lupakan map dokumen itu! Pokoknya kamu harus balik ke villa sekarang!" seru Viona dengan oktaf suara yang sedikit tinggi, menyiratkan kepanikan dan ketakutan yang luar biasa.

Di seberang telepon, di tengah ruangan suara mesin sedan yang melaju kencang, Bima hanya mendengarkan suara panik istrinya dengan tenang. Tanpa memberikan jawaban verbal ya atau tidak, Bima langsung mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.

Klik.

Suara putusnya panggilan itu seketika membuat suasana di dalam ruang tamu villa berubah menjadi semakin mencekam dan sunyi. Viona menurunkan ponselnya dengan lemas, wajahnya benar-benar kehilangan warna. Dia terduduk lesu di sofa, tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi di hadapan tatapan cemas neneknya. Namun, di dalam benak terdalam sang gadis tsundere, ego tingginya sudah runtuh sepenuhnya digantikan oleh ketakutan yang nyata.

Bima... kumohon jangan kenapa-napa... Saya tidak mau menjadi janda di usia muda ini...' batin Viona menjerit pilu, meremas jemarinya sendiri sembari meratapi kenekatan suaminya yang kini sedang meluncur ke jantung bahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!